
"Aurin!" pekik Keisha ketika sampai di ambang pintu. Teriakan tersebut berhasil mengalihkan perhatian Aurin dan Tommy yang berada di kelas. Calon pengantin baru itu menatap Keisha dengan kening mengerkerut. Seakan-akan bertanya kenapa Keisha tiba-tiba berteriak.
Sementara yang ditatap tampak acuh, berlari menghampiri Aurin lalu memeluknya cukup erat.
"Selamat bestie sesat gue! Akhirnya lo bukan beban siapapun lagi!" seru Keisha, menguncang tubuh Aurin. "Gue senang banget karena akhirnya lo nyusul. Kita bisa double date, liburan sama pacar halal dan banyak lagi."
"Berisik goblok!" Aurin melepaskan lengan Keisha di lehernya. Telinga gadis itu hampir pecah karena ucapan selamat dari Keisha.
"Cie-cie." Keisha mulai menggoda, membuat Tommy menghela napas panjang.
"Ngapain ngedes*ah gitu? Nggak sabar banget perasaan," tegur Keisha pada Tommy.
"Mulut lo!"
"Cie elah belain calon suami."
"Apa sih." Aurin buru-buru memalingkan wajahnya ke jendela, berbeda dengan Keisha dan Tommy yang tersenyum menanggapi. Namun, senyuman di wajah Tommy hilang ketika tatapan menyelidik Keisha tertuju pada pria itu.
"Ngapain lo natap gue?" tanya Tommy.
"Gue tandai wajah lo! Kalau sampai lo nyakitin Aurin ke tiga kalinya, gue nggak bakal nendang masa depan lo kayak waktu itu, tapi gue bakal gergaji sampai akar-akarnya!" ancam Keisha membuat Tommy meringis pelan.
Pria itu tidak akan pernah melupakan bagaimana kejamnya Keisha ketika memergoki dia selingkuh dulu. Gadis itu seperti orang kesetanan, memaki Tommy dan memukulnya. Belum lagi menghina selingkuhan Tommy habis-habisan. Aurin yang diselingkuhi, tetapi Keisha yang kerasukan lantaran marah sahabat sesatnya disakiti.
"Nggak lagi, kali ini gue serius Kei. Jangan galak-galak napa," cengir Tommy.
"Ya udah, istirahat nanti lo harus traktir gue biar dapat restu," celetuk Keisha.
"Oke." Tommy menaikkan jempolnya, segera meninggalkan IPS satu ketika bel pelajaran telah berbunyi. Sementara dua gadis sesat itu saling memandang hingga akhirnya tawa terdengar.
"Gila kali lo!" tegur ketua kelas yang sibuk nonton film pemersatu bangsa.
***
"Siapapun yang di luar sana! Bebasin gue anjing! Penyiksaan kalian bukan buat manusia!" teriak Mahesa yang masih mendekam di penjara bawah tanah.
__ADS_1
Sudah terhitung tiga minggu dia disekap, tanpa ada tanda-tanda dilepaskan ataupun ingin dibunuh. Avegas seakan sengaja membuat Mahesa menderita. Hanya memberikan makanan sekali sehari.
"Dan sikap lo lebih menjijikkan dari hewan yang nggak punya akal," ucap Ricky yang mendengar teriakan Mahesa, sebab tadi baru saja membuka pintu ruang bawah tanah.
"Pak Ricky, lepasin atau bunuh gue!" pinta Mahesa. Menghampiri Ricky yang terhalang jeruji besi. Pancaran mata Mahesa menyiratkan kemarahan. Jika berhasil lolos, dendam pria itu semakin berbahaya.
"Selama kamu nggak jawab pertanyaan saya, maka jangan harap kamu bakal bebas," lanjut Ricky. "Kenapa? Kamu mau mukul saya?" tanyanya ketika menyadari sorot mata Mahesa.
Sampai kapan pun, Ricky tidak akan memaafkan Mahesa karena berani membuat istrinya ketakutan. Mungkin Keisha terlihat biasa saja, tapi tidak ada yang tahu isi hati gadis itu yang sebenarnya.
Ricky membuka jeruji besi tersebut dan masuk. Mencengkram kerah baju Mahesa. "Jawab saya! Siapa orang yang nyuruh kamu! Saya tahu kamu nggak sendiri, riwayat pesan terakhir di ponsel kamu seakan menyetujui perintah dari seseorang!" Pertanyaan itu sudah terlontar ratusan kali di mulut Ricky, tetapi Mahesa tidak pernah menjawabnya.
"Bunuh gue, Pak! Karena sampai kapanpun gue nggak bakal nyebut nama siapapun!" Mahesa tertawa, menbuatnya mendapatkan bogeman mentah di wajah.
"Bangsat! Dikurung hampir satu bulan kamu nggak ada penyesalan sama sekali!" bentak Ricky. Pria itu menghempaskan tubuh Mahesa hingga terjerambah ke lantai, membalik tubuhnya hendak keluar dari jeruji besi tersebut, tetapi tanpa Ricky sadari, Mahesa melempar gelas ke kepala Ricky.
"Aaakkhh," ringis Ricky lantaran rasa pusing akibat gelas kaca menghantam kepalanya cukup kuat, bahkan gelas itu terbelah dua sakin kerasnya.
Mata Ricky berkunang-kunang, tetapi masih dapat melihat Mahesa yang berusaha melarikan diri. Darah mulai mengalir di kepala pria itu, sehingga menganggu penglihatannya. Namun, Ricky berusaha menghiraukan demi menangkap pria yang telah melecehkan istrinya.
"Mati kamu!" Ricky memukul Mahesa membabi buta tepat di depan pintu ruang bawah tanah. Makian itu berhasil mengambil atensi anggota Avegas yang berkumpul di markas.
"Kita kerumah sakit, Bang!" ucap ketua Avegas.
Ricky mengangguk pelan, pria itu tidak bisa mengendalikan rasa pusing di kepalanya.
***
Jika Ricky sedang terluka di markas, maka berbeda dengan Keisha yang tampak asik di dalam kamarnya. Gadis itu tengah menonton sesuatu yang dia dapat dari salah satu temannya. Dia mendengus kesal tatkala ponselnya tiba-tiba berdering.
"Ck, pakai nelpon segala," gerutu Keisha, meski begitu tetap menjawab panggilan dari Ricky.
"Mas Iky ganggu aja deh, orang lagi nonton juga! Kalau mau pulang tinggal pulang aja!" omel Keisha.
"Keisha, saya Dito."
__ADS_1
"K-kak Dito?" Keisha seketika gugup.
"Saya ada di depan rumah kamu, turun gih ambil suami bodoh kamu!" perintah Dito.
"Ok-oke kak." Meski merasa bingung dengan ucapan sahabat suaminya, Keisha tetap turun ke bawah dan membuka pintu lebar-lebar. Mata gadis itu membola melihat suaminya duduk di kursi teras dengan kepala diperban.
"K-kok kepala pak Iky kayak mumi?" protes Keisha.
"Suami kamu habis dipukul sama bocah ingusan. Urusin gih, saya ada urusan," jawab Dito kemudian berlalu, sementara Keisha menatap suaminya tanpa ekspresi.
"Mas beneran luka? Kok bisa sih? Tadi pas pamit katanya mau jalan-jalan, kok malah berkelahi."
"Bubu, kepala aku sakit. Nggak bisa apa dibantu jalan ke kamar?" sahut Ricky dengan suara lirihnya.
"Hampir lupa, ayo!" Menarik tangan Ricky seperti orang sehat.
"Gendong!" pinta Ricky.
"Ck, bayi gede." Keisha berjongkok di depan Ricky, membuat Ricky yang sakit kepala mengerutkan kening. Benarkah Keisha akan mengendongnya?
"Serius, Bub?"
"Serius, Mas. Ayo buruan sebelum aku berubah pikiran!"
Ricky mengangguk, segera mengalungkan tangan di leher sang istri. Saat itulah Keisha berdiri, kemudian berjalan tanpa memegang belakang lutut Ricky. Bisa dibilang gadis itu bukan mengendong suaminya, tetapi menyeret hingga kamar.
Andai Ricky tahu akan seperti ini, pria itu lebih baik berjalan sendiri ke kamar. Menolak? Ayolah Ricky tidak punya tenaga hingga harus berdebat dengan Keisha yang marah sebab tawarannya ditolak. Sekarang bukan hanya kepala yang sakit, tetapi kaki pun sakit sebab diseret di anak tangga.
"Akhirnya sampai juga, Mas bobo dulu! Aku mau ambil obatnya di luar," ucap Keisha kemudian berlalu tanpa merasa pegal, padahal sudah menanggung berat badan Ricky meski hanya setengah.
Gadis itu berlari ke teras untuk mengambil obat Ricky, tetapi langkahnya berhenti di ambang pintu ketika melihat seorang wanita memasuki pagar rumahnya.
"Woi kuntilanak, ngapain lo ke rumah gue?" tanya Keisha pada Amelia.
"Katanya Ricky sakit, aku mau rawat. Kamu jadi istri nggak becus jagain suami sampai harus terluka!" omel Amelia.
__ADS_1
Keisha tertawa meledek. "Mau dia sakit atau mati, dia bukan urusan lo! Gue bisa urus suami sendiri. Jadi pergi dari rumah gue!" Keisha menarik tangan Amelia hingga pagar, mendorong paksa wanita itu kemudian mengunci pagar yang tadinya terbuka karena Dito.
"Dasar ulat bulu gatel!" bentak Keisha.