Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 51 ~ Tiba-tiba Dilamar


__ADS_3

Keisha mengerjap-erjapkan matanya, berusaha mengendalikan keterkejutan setelah melihat siapa yang ada di dalam jeruji besi tersebut. Siapa yang menyangka, suami yang selama ini dia anggap baik dan polos, kenal dengan geng motor yang marak dibicarakan anak-anak seusiannya. Bukan karena kenakalan Avegas dikenal, melainkan suka menolong seseorang dan menjadi raja jalanan sebab memberantas hal-hal yang tidak perlu.


"Ini bukan ketemu lagi, tapi mas Iky nyekap!" protes Keisha.


"Terserah apa kata kamu, sekarang beri dia pelajaran sepuas yang kamu mau," sahut Ricky. Pria itu bersandar di dinding, memperhatikan Keisha membuka pintu jeruji besi tersebut. Orang yang ada di dalam sana tengah tertidur sehingga tidak menyadari keberadaan Keisha.


Rasa iba? Ayolah, Keisha bukan gadis sebaik itu sampai harus mengasihani Mahesa setelah membuat dirinya ketakutan. Bahkan, jika Azka tidak datang tepat waktu, pria itu akan mencicipi tubuhnya secara paksa.


"Mahesa!" bentak Keisha menendang kecil kaki Mahesa, membuat pria itu terbangun.


"K-kei? Lo datang mau nyelematin gue kan? Gue minta maaf karena udah nyakitin lo. Tolong bujuk pak Ricky buat biarin gue pergi, lo masih ...."


Kalimat Mahesa berhenti lantaran mendapatkan tamparan keras dari gadis yang coba dia lecehkan.


"Kayaknya urat malu lo udah putus, sampai minta tolong sama gue!" ucap Keisha dengan tangan mengepal hebat. Tatapan tajam gadis itu layangkan, seakan ingin memakan Mahesa hidup-hidup.


"Udah syukur lo masih hidup, Mahes! Kalau kata gue mah, lo ke neraka aja!" bentaknya.


"Keisha, gue mohon." Mahesa hendak mendekat dan ingin meraih tangan Keisha, tetapi dengan sigap Ricky bergerak, lalu menepis tangan pucat tersebut.


"Jangan setuh istri saya meski seujung kuku kotor kamu itu!" tegas Ricky. Menarik Keisha agar berdiri di belakangnya. "Udah puas?" tanyanya pada sang istri.


Keisha mengangguk pelan, ada rasa lega di hatinya setelah memberikan tamparan pada Mahesa. Gadis itu meninggalkan ruang bawah tanah tanpa menunggu Ricky. Duduk di ayun-ayunan yang berada tepat di dekat pintu ruangan tertutup tersebut. Keisha memegangi jantungnya yang berpacu sangat hebat. Keringat dingin menguasai tubuhnya.


"Lo nggak boleh takut, dia nggak nyentuh lo kok," ucap Keisha pada dirinya sendiri. Saat di dalam sana, perasaan gadis itu cukup kalut, lantaran takut dan ingin membalas perlakuan Mahesa. Andai saja Mahesa berhasil menyentuh tangannya, mungkin gadis itu akan hilang keseimbangan sebab rasa takut lebih mendominasi.


"Bub, kita mau kenana lagi?" tanya Ricky, menumpu dagunya di pundak Keisha.


"Nggak tau," sahut Keisha.


"Pulang ke rumah mamah?"

__ADS_1


"Boleh deh, aku ngantuk." Keisha beranjak, mengenggam tangan Ricky untuk keluar dari halaman samping. Dia memelankan langkahnya saat akan melewati aula yang dipenuhi banyak pemuda tampan nan keren.


"Lain kali nobar lagi kita." Salah satu anggota Avegas berteriak. Keisha hanya membalas dengan manaikkan jempolnya, berbeda dengan Ricky yang tampak penasaran.


"Sedekat itu sampai nonton bareng? Pernah nonton apa aja sama mereka? Keliatannya beberapa anggota Avegas kenal sama kamu, Bub." Rentetan pertanyaan mulai Ricky keluarkan setelah berada di dalam mobil.


Sementara Keisha yang mendapatkan pertanyaan hanya bisa menunduk. Pipi gadis itu memerah karena mengingat apa saja yang pernah dia nonton bersama anggota Avegas. Tidak mungkin bukan Keisha menceritakan pada Ricky? Yang ada dia mempermalukan diri sendiri.


"Bubu?" panggil Ricky saat pertanyaan tidak digubris.


"No-nonton Laksmi sama Jodha akbar," sahut Keisha.


"Nggak yakin. Mereka bukan penggemar india. Mereka tuh sesat, bahkan sering kali ngirim link aneh-aneh di grub. Jangan-jangan ...."


"Masku sayang, gimana kalau kita jalan-jalan sebelum pulang? Oh iya, ajak Tommy dan Aurin juga, biar double date. Eh nggak deh, aku belum restuin mereka berdua."


"Restuin aja kenapa sih? Lagian nggak baik ngalang-ngalangin jodoh orang," sahut Ricky. Jika Aurin dan Tommy mendapatkan restu dari Keisha, maka besar kemungkinan Aurin juga akan memberikannya restu bersama Keisha. Bukankah kali ini dia dan Tommy saling menguntungkan?


"Nanti aku pikirin deh, Mas. Soalnya aku belum yakin Tommy udah berubah. Kasian tau uang aku."


"Hah?" Ricky mengerutkan keningnya bingung.


"Ish, Aurin kalau sakit hati buat aku rugi. Ngajak jalan mulu aku yang bayar, karena uang dari papahnya habis foya-foya. Aurin kalau marah dan sedih suka ngamburin duit," celetuk Keisha.


Ricky tertawa mendengar celotehan istri kecilnya. Baik Aurin ataupun Keisha tidak ada yang beres. Sama-sama mata duitan, tetapi tidak ingin mengakui, malahan saling menuduh satu sama lain.


***


Biasanya hari libur adalah tempat untuk remaja jalan-jalan dengan teman ataupun pacar, tetapi karena Aurin tidak mempunyai keduanya, ralat. Aurin hanya tidak punya pacar, teman ada, sayangnya sudah mempunyai suami sehingga tidak bebas jalan berdua. Lantaran tidak punya kegiatan, Aurin menggunakan waktunya menghasilkan pundi-pundi rupiah di rumahnya sendiri.


"Bibi, kalau masak, upahnya berapa sebulan?" tanya Aurin pada pembantu yang bertugas memasak.

__ADS_1


"Sekitar 3 jutaan, Neng. Kenapa?"


"Tiga juta bagi 30 hari," gumam Aurin. Gadis itu mulai menghitung di kalkulatornya. "100 ribu sehari .... Mayanlah dapat jajan." Dia mencatat hal yang perlu dilakukan.


Bertanya pada beberapa pelayan yang ada di rumahnya lalu membagi menjadi 30 hari, setelahnya menghubungi orang tuanya untuk meminta upah.


"Biar saya aja, Neng! Mending Neng Aurin duduk aja," ucap palayan yang bertugas membersihkan rumah.


"Diam, Bi! Mending dikerjain berdua biar dapat uang sama-sama," sahut Aurin. Gadis itu mengusap peluh di wajahnya menggunakan ujung hijab.


"Neng, di luar ada temannya," ucap petugas kebun yang memanggil Aurin.


"Tunggu bentar, Pak!" Aurin meletakkan sapunya asal dan berlari kedepan untuk memeriksa siapa yang datang di hari libur seperti ini.


"Tommy!" pekik Aurin, terkejut melihat Tommy datang dengan pakian formal, padahal dia sedang lusuh-lusuhnya. "Ngapain lo ...." Aurin mengigit bibir bawahnya tatkala melihat dua paruh baya baru saja turun dari mobil.


"Bu-bu haja?" sapa Aurin gugup, mencium punggung tangan orang tua Tommy secara bergantian.


"Sekarang tambah cantik ya anak Umi? Apalagi udah hijaban gini," puji mamah Tommy mengelus kepala Aurin.


"It-itu anu, bu haja .... Eh masuk dulu!" ucap Aurin gugup. Mempersilahkan orang tua Tommy masuk ke rumah, sementara dia sengaja berjalan di belakang. Gadis itu menarik kemeja bagian belakang Tommy agar berhenti melangkah.


"Lo ngapain pakai bawa-bawa orang tua lo?" tanya Aurin kesal.


"Kan gue udah bilang mau lamar lo tiba-tiba," jawab Tommy.


"Tapi nggak gini goblok! Orang tua gue ada diluar kota sekarang! Lagian kita baru baikan dan ...."


"Kita udah pernah pacaran tiga tahun, lebih tempatnya pas kelas 2 SMP," bisik Tommy kemudian berlalu.


"Ah sial! Dikasih hati malah minta jantung," gerutu Aurin.

__ADS_1


__ADS_2