Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 14 ~ Hampa tanpa pertengkaran


__ADS_3

Mata Keisha seketika membulat sempurna mendengar ucapan frontal dari suaminya. Bibir gadis itu berkedut, hendak melayangkan protes, tapi Ricky malah lebih dulu berucap.


"Santai aja ekspresinya, saya cuma bercanda!" Ricky mengulum senyum, berbeda dengan Keisha. Gadis itu menampilkan wajah ditekuk.


"Garing banget! Ayo buruan ngomong! Filmnya Laksmi udah main ini!" desak Keisha.


"Jadi gini, mulai besok uang jajan kamu saya yang pegang. Uang jajan ke sekolah 200 rb, dan keperluan yang lainnya kamu bisa ngomong sama saya!"


"Lah kok ngatur? Bapak nggak bisa gitu dong. Jadi suami pelitnya minta ampun. Uang segitu bisa buat apa? Ok kalau cuma jajan, kalau jalan sama teman-teman, terus pengen beli sesuatu gimana?"


"Kamu nggak dengar saya ngomong apa tadi?" Alis Ricky terangkat. Dia menunggu jawaban dari istrinya. Sudut bibir pria itu tertarik setelah melihat istri kecilnya mengangguk.


"Telpon saya kalau kamu butuh sesuatu, uang jajannya terserah mau kamu apakan di sekolah. Nggak bakal ada uang bulanan lagi dari pak Wilson. Itu saja." Ricky beranjak dari duduknya tanpa menunggu persetujuan gadis itu.


Sejak awal Ricky memang tidak menunggu persetujuan dari Keisha, karena itu hanya akan sia-sia. Lagi pula dia yakin gadis itu tidak akan setuju.


"Pak Ricky pelit!"


Teriakan itu masih Ricky dengar, tapi urung berhenti melangkah. Dia lelah setelah melatih siswanya dan waktunya untuk istirahat lebih dulu. Pria itu membaringkan tubuhnya setelah sampai di kamar, menghela nafas panjang ketika ponselnya berdering.


"Amelia? Kenapa dia nelpon gue?" gumam Ricky yang baru saja memeriksa panggilan masuk.


Pria itu tidak percaya mendapatkan beberapa panggilan dari gadis yang setengah tahun ini menghilang usai pernikahannya berlangsung. Tidak ingin gagal move on, Ricky mengabaikan panggilan tersebut. Memejamkan mata hingga akhirnya benar-benar terlelap.


***


Rutinitas Keisha dan Ricky selama pindah ke rumah baru tidak jauh-jauh dari pertengkaran. Rasanya tidak bertengkar dalam sehari terasa sangat hampa untuk keduanya. Namun, sepertinya hari ini mereka akan mengalami hal tersebut, karena Ricky sedang ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


Pria itu sedang membawa Mahesa dan tim lainnya untuk melakukan pertandingan basket di luar kota. Jika boleh jujur Keisha merasa kesepian di rumahnya sendiri, apalagi Aurin juga tidak ada di rumah.


"Gaje banget njir, ini orang pada kemana sih?" gumam Keisha selonjoran di dalam kamarnya.

__ADS_1


Sejak pulang sekolah gadis itu tidak kemana-mana karena tidak mempunyai teman.


"Di mana sih? Katanya pulang jam 11 malam, ini udah jam 12 belum datang juga. Lama-lama gue minta cerai."


Keisha memandangi ponselnya. Mencoba berdialog dengan hati kecil dan egonya yang berbeda pendapat. Hatinya mengatakan agar segera menelpon Ricky, tapi egonya menyuruh dia bodoh amat. Lalu Keisha harus mendengarkan yang mana?


"Telpon aja kali ya? Nanya pulang jam berapa kan nggak masalah," gumam Keisha.


Detik selanjutnya gadis itu menggeleng. "Nggak, nggak boleh! Ntar pak Ricky besar kepala. Lagian gue kan bisa tidur sendirian di rumah tanpa dia."


Kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, mencoba memejamkan mata meski terasa sulit. Keisha adalah gadis penakut, apalagi jika di malam hari. Dia takut kegelepan, dan jika dia menutup mata maka kegelapan akan menghampirinya.


"Kalau misal gue didatengin kunti terus teriak, yang dengar siapa?"


"Ih kok mikir gitu sih!" Mengacak-acak rambutnya, takut.


Tanpa pikir panjang, gadis itu mengambil ponsel dan dan uang sakunya di atas meja. Meninggalkan rumah tanpa menguncinya. Keisha menyetop taksi asal dan memberikan alamat rumah sang papah. Pilihan satu-satunya adalah bermalam di rumah papahnya.


"Keisha? Kok malam banget?"


"Pak Ricky lagi nemenin tim basket SMA Angkasa. Katanya pulang cepat, tapi malah nggak pulang-pulang. Kei takut papah."


Pak Wilson tertawa, menjawil hidung putrinya gemas. Pria itu memeluk Keisha dan berjalan beriringan memasuki rumah. Kebetulan dia sangat merindukan putrinya. Setelah menikah, Keisha tidak pernah berkunjung meski sebentar saja. Sebenarnya pak Wilson sedih, tapi ini adalah jalan terbaik untuk merubah Keisha yang dulunya tidak mendapatkan bimbingan dengan baik.


***


Keisha berjalan di koridor sekolah sambil bersenandung ria. Gadis itu pagi ini berangkat diantar oleh sang papah, dia tidak tahu apakah pak Ricky sudah pulang atau tidak.


"Keisha!" pekik Aurin dari arah belakang.


Keisha dengan sigap membalik tubuhnya, terkejut melihat penampilan Aurin yang jauh dari biasanya. Sungguh, apakah benar gadis itu sahabatnya atau bukan. "Lo kesambet apa njir?" seru Keisha. Memperhatikan pakaian Aurin yang lumayan tertutup.

__ADS_1


Gadis itu memakai rok dan kemeja sekolah panjang. Belum lagi kepala Aurin telah tertutupi kain meski belum sempurna.


"Aneh ya?" tanya Aurin malu-malu.


"Iyalah, dari Aurin yang roknya setengah paha kini tertutup, siapa yang nggak aneh liat lo njir!"


"Ish jangan gitu lah, gue yakinin diri hampir seminggu loh."


"Jangan bilang lo libur karena ini?" Mata Keisha semakin membulat. Tidak pernah menyangka sahabatnya benar-benar berubah seperti perkataannya saat mereka dihukum membersihkan toilet.


Keisha memeluk tubuh sahabatnya ketika Aurin mengangguk. "Gue senang lo nutup diri kayak gini. Doain gue nyusul, tapi nggak dalam waktu dekat."


Keduanya kembali berjalan, kali ini perhatian tertuju pada Aurin yang bar-barnya tidak kalah dengan Keisha. Mungkin semua siswa yang tahu tabiat Aurin tidak akan percaya hal tersebut, tapi itulah kenyataanya.


"Jangan nunduk njir, mereka liatin lo karena cantik!" perintah Keisha.


"Canggung. Oh iya gue hampir lupa mau ngomong apa tadi."


Alis Keisha terangkat. "Ngomong apa?"


"Tim basket pak Ricky menang semalam. Harusnya selesai sebelum magrib, tapi karena poin seri dilanjut lagi. Tapi nggak sia-sia, soalnya sekolah kita menang lagi. Selain kak Mahesa yang jago basket, Pak Ricky juga pandai buat taktik." Aurin terus saja memuji Ricky dan Mahesa secara bergantian.


Gadis itu menonton pertandangin basket, berbeda dengan Keisha yang di hantui rasa sepi semalam. Mendengar tim basket mereka menang dan pujian-pujian yang keluar dari mulut Aurin, Keisha jadi bimbang harus memberi selamat pada siapa.


Apa pada Mahesa yang merupakan mantan kekasihnya? Atau suaminya? Entahlah, hati Keisha bingung. Terlebih orang yang mereka bicarakan telah menampakkan batang hidungnya. Mereka baru saja keluar dari ruang loker, saling membawa tas di punggung masing-masing terutama Ricky.


Refleks, Keisya langsung berlari dan menerjang tubuh seseorang. "Selamat, gue bangga sama lo, Kak," ucapnya pada Mahesa. Memeluk tubuh pria itu tepat di depan suaminya.


"Makasih."


"Karena kakak, nama SMA Angkasa semakin harum di luar sana."

__ADS_1


"Ini juga berkat pak Iky kok," celetuk Aurin, tapi yang dipuji berlalu tanpa mengatakan apapun.


__ADS_2