Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 44 ~ Penyesalan


__ADS_3

Pagi yang biasanya dilalui dengan manis, kita telah berubah menjadi sepi tanpa ada sapaan satu sama lain. Jika dulu Ricky membuka mata akan mendapati senyuman Keisha, maka pagi ini terasa hampa. Pria itu tertidur di sofa ruang tamu menunggu kepulangan istrinya, tetapi yang ditunggu tidak kunjung pulang.


Ricky tahu dimana Keisha berada semalam, hanya saja tidak punya nyali untuk meminta maaf setelah apa yang dilakukan pada istri kecilnya. Dia yang seharusnya menjadi pelindung, malah menyakiti hati Keisha yang sedang membutuhkan kasih sayang dan dukungan pasca tragedi memalukan itu terjadi. Pria itu mengerjapkan matanya perlahan melihat bu Ratna yang baru saja melintasi pintu rumahnya.


"Kei udah pulang? Mamah khawatir banget, kamu ditunggu nelpon balik malah nggak telpon-telpon," omel bu Ratna.


"Ini salah Iky."


"Maksud kamu?" Kening bu Ratna mengerut.


"Nggak papah Mah. Iky mau berangkat ke sekolah dulu," ucap Ricky. Meninggalkan mamahnya di ruang tamu, berjalan menuju kamar untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Berharap di sana dia bisa bertemu Keisha agar bisa meminta maaf dengan benar.


Andai saja Ricky tidak termakan omongan Amelia, maka kesalahpahaman ini tidak akan terjadi. Andai saja dia lebih percaya pada istrinya, maka .... Ah sudahlah, tidak ada gunanya berandai-andai. Yang harus Ricky lakukan hanya meminta maaf sebesar-besarnya pada Keisha.


***


Suasana hati seorang gadis di tempat lain, sama halnya dengan suasana hati Ricky di rumah. Gadis itu merasakan hampa, takut dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengelak sentuhan Mahesa yang terus menyentuhnya tiada ampun. Keisha mengepalkan tangannya ketika kejadian semalam kembali terlintas. Kejadian dimana dia hampir bu*gil di tangan Mahesa. Mungkin jika Mahesa berhasil memperko*sanya, Keisha akan bunuh diri.


"Kei, gue berangkat ya. Kalau lo butuh apa-apa panggil bibi aja di bawah," ucap Aurin yang telah rapi dengan seragam sekolahnya. Berbeda dengan Keisha yang duduk di sofa. Suhu tubuh gadis itu cukup tinggi, mungkin karena hujan-hujanan semalam.


"Gue mau pulang aja deh," sahut Keisha.


"Ke ...?" Kening Aurin mengerut. Jika bisa, gadis itu akan melarang Keisha kembali pada Ricky karena berani membuat Keisha menangis. Padahal sebelum bertemu pria itu, Keisha sangat jarang atau hampir tidak pernah menangis dalam pelukannya.


"Ke rumah pak Wilson. Lo berangkat aja, gue bisa pulang sendiri."


"No!" Aurin mengelengkan kepalanya. "Ayo, kita barengan ke rumah lo naik taksi." Menarik tangan Keisha.


Gadis itu tersenyum, merasa beruntung mendapatkan sahabat sebaik Aurin. Sesuai kesepakatan, keduanya pulang kerumah Keisha menggunakan taksi, setelahnya Aurin akan ke sekolah sementara Keisha istirahat di rumah.


"Hati-hati di jalan, izinin gue!" ucap Keisha dan dibalas anggukan oleh Aurin.

__ADS_1


Gadis itu berjalan memasuki halaman rumah orang tuanya. Kepala Keisha terasa sangat pusing, tubuhnya lemas dan wajahnya pucat.


"Keisha? Kamu datang sama Iky, Nak? Papah dengar semalam kamu belum pulang. Iky nyariin kemana-mana."


"Pulang kok, Pah. Tapi pergi lagi," jawab Keisha. Tanpa kata, gadis itu memeluk papahnya, sehingga pak Wilson dapat merasakan suhu tubuh Keisha.


"Kamu demam?"


"Keisha kangen papah," lirih Keisha.


"Papah juga kangen. Ayo sayang, kamu harus istirahat."


Keisha menganggukkan kepalanya, berjalan sambil merangkul lengan sang papah menuju kamar. Gadis itu tersenyum ketika sebuah kecupan mendarat di keningnya. "Papah amblin sarapan dan obat. Harusnya Ricky nemenin kamu tadi," ucap pak Wilson.


Seketika senyuman Keisha memudar perlahan, mendengar nama itu seakan membuat Keisha muak. Gadis itu membenci pak Ricky karena tega menghinanya dan menuduhnya yang tidak-tidak, padahal dia baru saja selamat dari bahaya. Keisha menarik tangan pak Wilson yang hendak meninggalkan kamar.


"Kei nggak mau pisah sama papah lagi."


"Kei .... Kei lapar," ucap gadis itu mengalihkan pembicaraan.


Sambil menunggu pelayan membawakan sarapan dan obat, Keisha berbaring dengan pikiran kosongnya. Berbeda dengan Ricky yang tampak duduk di pos jaga SMA Angkasa, menunggu kedatangan Aurin dan Keisha. Pria itu lantas berdiri ketika melihat Keisha baru saja turun dari taksi. Dia menghampiri gadis berhijab tersebut.


"Keisha mana?"


"Lah bapak kok nanya saya? Situ suaminya," jawab Aurin, tanpa memperdulikan sikapnya yang sedikit kurang ajar pada gurunya.


"Saya tahu dia sama kamu Aurin. Apa dia baik-baik aja? Apa dia terluka atau ...."


"Harusnya bapak tanyakan itu kemarin malam di depan orangnya langsung. Bukan malah memaki dan menuduh sahabat saya yang nggak-nggak," jawab Aurin dengan nada ketusnya.


"Sa-saya ...."

__ADS_1


"Bapak nggak tau gimana ketakutannya Keisha semalam. Dia hampir diperk*osa kalau aja nggak ada yang datang. Sepanjang perjalan pulang, Keisha terus nyebuat nama bapak! Dia khawatir sama bapak yang katanya kecelakaan, tetapi bapak malah bentak dia." Suara Aurin bergetar di akhir kalimat, bertepatan Tommy datang dan langsung mengenggam tangannya.


"Ayo, bel udah bunyi!" ajak Tommy menarik Aurin pergi dari hadapan Ricky.


Sementara pria itu semakin merasa bersalah setelah mendengar kata demi kata yang keluar dari sahabat istrinya.


"Mahesa!" geram Ricky dengan gigi bergemulutuk. "Akan saya pastikan kamu nggak bakal masuk penjara," lanjutnya dengan kepalan tangan yang siap menghancurkan apa saja.


Pria itu meninggalkan lingkungan sekolah tanpa ingin mampir terlebih dahulu. Ricky baru saja mendapatkan pesan dari ayah mertuanya yang mengatakan Keisha ada di rumah dan sedang sakit. Pria itu melajukan motornya diatas kecepatan rata-rata, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah papah mertuanya.


Ricky langsung menuju kamar Keisha kerena pak Wilson sudah pergi beberapa menit yang lalu. Entahlah, pria paruh baya itu pergi karena benar-benar sibuk atau memberi waktu untuk keduanya menyelesaikan masalah yang sama sekali tidak Wilson ketahui. Perlahan-lahan Ricky membuka pintu kamar tanpa menimbulkan suara, memperhatikan Keisha yang tengah duduk diam tanpa melakukan apapun. Tatapan gadis itu kosong, cemilan di tangannya bahkan tidak disentuh setelah digigit sekali.


"Keisha?" panggil Ricky, tetapi Keisha bergeming.


"Keisha?" panggil pria itu sekali lagi. Kali ini Keisha merespon dengan lirikan mata, tetapi terlihat acuh dan tidak ingin menatap suaminya lama-lama.


"Maaf, saya nggak tau kalau semalam kamu ...."


"Saya pengen sendiri, Pak."


"Keisha? Hukum saya sepuas yang kamu mau!" Ricky berlutut di depan Keisha, meraih kedua tangan gadis itu untuk dia genggam, tetapi ditarik paksa oleh pemiliknya. "Bibir kamu luka, kamu pasti ...."


"Berhenti nyentuh saya, Pak! Pergilah dan jangan kembali lagi," ucap Keisha menepis kasar tangan Ricky. Gadis itu beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan kamar, tetapi Ricky langsung memeluk dari belakang.


"Saya minta maaf Keisha. Saya salah karena percaya begitu aja sama Amelia. Saya ...."


"Dia lebih baik dari saya."


"Keisha apa yang kamu ...."


"Bisa nggak sih bapak pergi aja? Saya benci liat wajah pak Ricky! Harusnya saya nggak cinta sama bapak dan khawatir berlebihan sampai percaya sama Mahesa! Andai saya nggak suka sama bapak, saya nggak mungkin ada di tempat mengerikan itu!" teriak Keisha.

__ADS_1


__ADS_2