Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 35 - Hari libur yang Menyenangkan


__ADS_3

Dalam diam, Keisha terus memperhatikan Ricky yang tengah menyantap bubur ayam di pinggir jalan. Gadis itu meneliti penampilan Ricky yang baru dia sadari ternyata sangat rapi. Kening Keisha mengerut, bertanya-tanya kemana gerangan suaminya akan pergi di hari libur seperti ini.


"Kenapa liatin terus? Memangnya kamu nggak lapar?" tanya Ricky ketika menyadari tatapan intens sang istri.


"Pak Iky tau nggak, berapa harga tiket konser?" tanya balik Keisha, dan dijawab gelengan kepala oleh Ricky. "3 juta 500 ribu tepat di depan panggung, dan bapak harus beli dua buat saya dan Aurin," lanjut Keisha.


"Nggak masalah." Ricky segera beranjak setelah menghabiskan bubur ayamnya, membuang cup tersebut ke tempat sampah. Tidak lupa mengambil dua botol air minum untuknya dan sang istri.


"Kok bapak bisa banyak uang sih? Memangnya gaji guru honor banyak banget ya?"


"Persugihan. Setiap bulan purnama saya selalu numbalin mantan biar dapat uang banyak."


Senyuman Keisha seketika merekah mendengar ucapan suaminya. "Berarti kalau bulan purnama nanti, Kuntilanak itu bakal jadi tumbal dong? Terus kita makin kaya dan terbebas dari bayangan-bayangan kuntilanak nggak ada akhlak," sahut Keisha.


Ricky hanya bisa menganga melihat respon istrinya tentang pembahasan di luar nalar yang dia jadikan candaan. Keisha benar-benar perempuan sesat, pantas saja tidak pernah kesurupan, karena gadis itu sepertinya berteman dengan setang.


"Kok mangap, masih lapar?" tanya Keisha dengan polosnya.


Ricky berdecak kesal, langsung mengecup bibir Keisha padahal mereka sedang berada di pinggir jalan. "Dasar aneh. Mana mungkin saya dapat uang jalur setan. Saya kerja Keisha, ini mau berangkat. Habisin makanan kamu!"


Pria itu kembali duduk di samping Keisha yang tampak terdiam setelah dia mencuri kecupan sekali. Hanya mata yang terus mengerjap perlahan, menandakan nyawa Keisha sedang melayang entah kemana. Setelah sarapan bubur ayam, keduanya pulang ke rumah dengan hati sama-sama gembira.


"Oh jadi bapak punya kerja sampingan. Pakai jas rapi gitu, kerjanya apa? Pasti gajinya mahal banget." celetuk Keisha yang masih membahas tentang pekerjaan dan gaji.


Ayolah, tanpa uang kita tidak bisa hidup di dunia. Jadi sebelum jatuh cinta terlalu dalam, Keisha ingin mengetahui pekerjaan suaminya.


"Perusahaan Industri."


"Manager ya?"


"Ceo."


"Oh CEO .... Apa CEO?" Mata Keisha membulat sempurna. "Serius pak Iky Ceo? Kok nggak pernah ngomong sih. Kalau tau dari awal, saya nggak mungkin nentang pernikahan ini. Selain cita-cita saya mau jadi menantu Sahru Khan, saya pengen jadi istri ceo kaya raya."

__ADS_1


Senyuman Ricky semakin merekah mendengar celotehan Keisha yang terus mengalir layaknya sungai. Ricky menyukai kecerewatan dan kejujuran itu, Keisha berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya. Hanya gadis itu yang tidak pernah menyembunyian jika menyukai sesuatu, termasuk uang.


Ricky menghentikan mobilnya setelah sampai di rumah. Menyuruh Keisha turun, sebab dia harus berkunjung ke perusahaan papahnya.


"Beneran mau kerja, Pak? Nggak bisa gitu bapak tinggal di rumah aja, temenin saya di hari libur. Lagian kan bapak bosnya, ya kali nggak bisa libur," bujuk Keisha. Gadis itu menarik-narik ujung jas yang Ricky kenakan.


Sementara yang dibujuk tanpa acuh dan hanya memainkan ponselnya. Keisha mendelik melihat hal tersebut, dia hendak kembali berucap, tetapi suara Ricky lebih dulu terdengar. Bukan mengajaknya bicara, melainkan orang lain yang berada di seberang telpon.


"Hari ini saya tidak bisa ke kantor. Jika ada hal penting, kirim saja ke email saya!" Setelah mengatakan kalimat tersebut, Ricky memutuskan sambungan telpon, memasukkan benda pipih itu ke saku jas putihnya.


"Urusan penting apa?" tanya Keisha.


"Nemenin kamu di rumah, apa lagi?" sahut Ricky.


Pria itu turun dari mobil diikuti oleh Keisha. Dia melepas jasnya dan melempar ke sofa ruang tamu. "Sekarang apa yang bakal kita lakuin?" tanya Ricky.


Keisha tampak memikirkan sesuatu. "Bersih-bersih rumah berdua. Mau nggak Pak?"


"Kok nurut?


"Lah terus saya harus apa Keisha? Nurut salah, nolak apa lagi," keluh Ricky.


"Canda suamiku." Keisha memeluk lengan Ricky penuh senyuman. Hari liburnya kini akan lebih menyenangkan, terlebih pak Ricky sepertinya akan menuruti apa yang dia inginkan.


***


Sudah dua jam berlalu setelah mereka berdiskusi harus melakukan apa di hari libur, dan selama itu pula sudah banyak hal yang mereka telah bersihkan. Keringat mulai memenuhi tubuh masing-masing karena telah mengerjakan pekerjaan yang telah disepakati.


Keisha bagian menyapu dan melap benda-benda yang berdebu, cuci piring, dan cuci baju. Sementara Ricky mengepel, memindahkan barang, mencuci mobil, motor, dan menyiram tanaman. Napas kedunya memburu, Keisha berbaring di karpet, sementara Ricky duduk di sofa sambil memejamkan mata.


Jika boleh jujur, Ricky ingin mengeluhkan pinggangnya yang sakit, terlebih saat harus mengendong Keisha, di saat membersihkan sesuatu yang tidak bisa digapai.


"Baring sini, Pak! Dijamin pinggang bapak bakal rileks," ucap Keisha menepuk tempat di sampingnya.

__ADS_1


Tanpa disuruh dua kali, Ricky segera berbaring di samping Keisha, memeluk pinggang gadis itu tanpa peduli tubuhnya tengah berkeringat.


"Kok meluk? Saya kan cuma nyuruh bapak baring!" protes Keisha, tetapi Ricky acuh tanpa ingin melepaskan pelukannya.


"Ternyata semenyenangkan ini nikah sama bocil? Saya nyesal nggak ngelakuin dari dulu." Menatap wajah Keisha yang cantik natural.


"Kalau nikahnya kecepatan, jodoh bapak bukan saya dong. Gimana sih."


"Iya juga." Ricky dan Keisha tertawa bersama. Menikmati rasa bahagia yang mereka dapatkan setelah mengalami percekcokan saat pertamakali menikah.


"Jangan lupa tiket konsernya. Harus war dari sekarang kalau nggak mau kehabisan." Keisha mengingatkan.


"Kirim link webnya, biar saya bantu war sampai mampus."


"Siap!" Keisha dengan sigap mengirim link pembelian tiket pada sang suami, tetapi saat Ricky hendak mengklink link dari Keisha, ponsel pria itu berdering cukup nyaring. Dia melirik Keisha yang tampak kepo.


"Mamah mertua kamu," ucap Ricky memberitahukan. Segera menjawab panggilan dari wanita paruh baya yang telah melahirkannya.


"Iya Mah, kenapa?"


"Kamu di mana? Ada di rumahkankan sama Keisha?"


"Hm."


"Ntar sore kalian ke rumah mamah ya! Mamah mau bicarain hal serius sama kalian berdua, jangan sampai telat. Oh iya, salam sama istri kamu."


"Waalaikumsalam, Mah!" sahut Keisha yang mendengar suara ibu mertunya di seberang telpon, karena Ricky segaja mengeraskan volumenya.


"Kita mau kerumah, Mamah?" tanya Keisha setelah sambungan telpon terputus. Gadis itu langsung bangun ketika Ricky mengangguk. "Kalau gitu, ayo ke toko bahan-bahan kue. Saya mau buat kue untuk mamah," seru Keisha menarik tangan Ricky.


Gadis itu seakan tidak punya lelah dan sangat aktif bergerak. Ricky yang tulang-tulangnya mulai rapuh sepertinya tidak akan mampu mengimbangi tingkah Keisha jika terjadi setiap hari. Ricky menghela napas panjang, ikut bangun karena tarikan sang istri.


"Mandi dulu sana, udah jam 11 siang loh," celetuknya, tetapi Keisha hanya menyengir.

__ADS_1


__ADS_2