Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 58 ~ Mood Buruk


__ADS_3

"Bubu, nangis?" tanya Ricky lantaran merasakan kemeja yang dia kenakan tiba-tiba basah.


"Gimana aku nggak nangis coba? Mas buat aku khawatir semalaman. Pergi pagi, pulang pagi tanpa kabar, istri mana aja pasti bakal gelisah, Mas," gumam Keisha masih memeluk Keisha cukup erat. Air mata terus berjatuhan tanpa diminta. Rasa kesal ingin memaki sang suami kemarin, sirna lantaran rasa takut.


"Khawatir? Kamu nggak curiga sama aku?" tanya Ricky lagi.


Keisha langsung mengelengkan kepalanya. Melerai pelukan lalu mendongak untuk menatap wajah tampan Ricky.


"Kenapa aku harus curiga sama, Mas? Aku pernah ngalamin pas diculik sama Mahesa. Ponsel aku nggak bisa dihubungi kayak mas Iky. Aku takut kalau aja mobil Mas rusak di jalan atau kecelakaan," ucap Keisha dengan bibir manyun.


"Maaf buat Bubu khawatir." Ricky mengacak-acak rambut Keisha. Menunduk untuk mengecup kening sang istri cukup lama. Dia merasa bersalah karena harus membuat Keisha menunggu tanpa memberikan kabar lebih dulu.


"Aku marah, aku nggak mau ke sekolah hari ini."


"Ya udah nggak usah, sama mas aja di rumah." Ricky langsung mengendong Keisha menuju ke kamar. Dia tidak ingin istrinya marah-marah dan berakhir dicuekin beberapa hari.


Ricky membaringkan Keisha di ranjang, sementara dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya menghampiri sang istri yang rambutnya tengah acak-acakan.


"Mas kemana? Kok nggak pulang semalam? Tau sendiri aku tekut gelap," ujar Keisha. Menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Akhir-akhir ini dia selalu ingin dimanja oleh suami tampannya.


"Di kantor, nggak pulang karena banjir, terus banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Ini yang terakhir aku buat kamu nunggu."


"Janji?" Keisha menatap Ricky.


"Janji Bubu sayang."


***


Suara pekikan atau sekedar bincang-bincang terus terdengar di koridor sekolah, lantaran bel istirahat baru berbunyi beberapa menit yang lalu. Aurin yang berada di kelas ikut keluar dan duduk di teras seorang diri. Dia kesepian tanpa kehadiran Keisha yang tidak datang ke sekolah, padahal mereka sepakat akan jalan-jalan saat pulang nanti.


Aurin terkejut saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Senyuman gadis itu mengembang melihat siapa pelaku tersebut.

__ADS_1


"Sendirian aja, kenapa nggak ke kantin?" tanya Tommy, ikut duduk dengan jarak satu meter dari Aurin. Sangat beda bukan? Dulu pria itu akan menempel layaknya lem pada kekasihnya, sekarang malah menjaga jarak, padahal hari pernikahan telah ditentukan oleh orang tua masing-masing.


"Malas, nggak ada Keisha."


"Uumm, gue sebenarnya ada tau sesuatu tentang pak Ricky, tapi takut Keisha malah salah paham dan bertengkar sama suaminya," ucap Tommy tidak enak.


Keceplosan tentang masa lalu Ricky, sudah membuat Tommy merasa bersalah, apalagi jika melaporkan apa yang dia lihat semalam.


"Kenapa?"


"Nggak jadi deh, gimana kalau kita ke kantin? Gue yang bayarin?" ajak Tommy mengalihkan perhatian Aurin. Untung saja gadis itu tidak curiga dan mengikuti langkah Tommy menuju kantin.


"Pegangan tangan boleh nggak sih?" celetuk Tommy.


"Huh?"


"Pegangan tangan," ulang pria itu. Tanpa berucap ketiga kalinya, dia meraih tangan Aurin setelah melapisinya dengan sapu tangan.


Keduanya sedang di landa cinta, sehingga apapun yang mereka lakukan selalu terasa sangat manis, berbeda dengan Keisha dan Ricky yang berada di dalam kamar. Setelah berbaikan bersama sang suami, rasa kesal Keisha muncul di permukaan lantaran mengingat kata-kata Tommy tentang masa lalu Ricky.


"Katanya dulu mas Ricky playboy ya? Suka ganti-ganti pasangan? Apa jangan-jangan bukan aku yang pertama icip tubuh, Mas!" todong Keisha pada suaminya yang sedang menikmati segelas kopi.


"It-itu ...."


"Jawab jujur!" tegas Keisha.


"Iya, tapi itu dulu, Bub. Sekarang aku cintanya cuma sama kamu, serius deh."


"Bohong!"


"Beneran, Sayang. Mana pernah aku bohongin kamu?"

__ADS_1


Keisha menatap penuh selidik pada sang suami. "Awas aja kalau masih suka ganti-ganti sampai sekarang. Aku potong pedang mas, terus aku sate dan ...."


"Cukup Sayang! Aku ngeri dengarnya," ucap Ricky cepat. Membekap mulut Keisha agar tidak melontarkan ancaman-ancaman yang sangat mengerikan.


"Tangan mas Iky bau banget, jangan pegang-pegang ih." Menyentak tangan Ricky cepat. Keluar dari kamar karena merasa sangat gerah. Rasanya dia ingin menampar wajah suaminya, tetapi tidak tahu apa kesahalan Ricky. Intinya Keisha kesal setiap kali melihat wajah sang suami.


"Ish, kok mood aku buruk ya setiap kali ngomong sama pak Iky?" gerutu Keisha yang berada di depan rumahnya.


Tatapan gadis itu tertuju pada mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Ada bercak darah di bagian kap mobil di sebelah kanan.


"Mas Iky! Cepat ke sini!" teriak Keisha, membuat Ricky yang baru saja keluar dari kamar mandi, lantas menuju balkon dan menatap istrinya yang berada di depan rumah berkacak pinggang, layaknya nyonya yang akan mengamuk pada pengawalnya.


"Kenapa, Bub?" tanya Ricky dari balkon kamar.


"Bab-bub-bab-bub. Turun sini cepetan Mas!" Keisha melambaikan tangannya, membuat Ricky bergegas turun ke bawah tanpa mengenakan penutup pada tubuh bagian atasnya, sehingga otot-otot menggoda terlihat begitu indah orang yang menikmatinya.


"Marah-marah mulu dari tadi, nggak capek hm? Atau mau jalan-jalan?" Ricky langsung memeluk Keisha dari belakang, menumpu dagunya di pundak sang istri tanpa peduli gadis itu tengah kesal.


"Itu kenapa kap mobilnya ada darah? Mas nambrak orang atau gimana?"


Mata Ricky seketika memicing, mencari noda darah yang dimaksud oleh Keisha. Ah sial, dia melewatkan sesuatu sehingga harus menjawab pertanyaan istrinya yang curigaan.


"An-anu, Bub, se-semalam ak-aku, itu noda cat bukan darah. Kenapa sih Bubu akhir-akhir ini sensitif banget? Kayaknya nyari-nyari kesalahan mulu setiap detik."


"Lah?" Keisha membalik tubuhnya. "Kok mas nuduh-nuduh gitu sih? Memangnya salah kalau aku nanya-nanya sama Mas? Udahlah, emang masnya aja nggak mau jujur."


"Keisha?"


"Aku mau ke rumah mamah, sama pak Iky kesal mulu." Gadis itu berjalan memasuki rumah, hanya mengambil ponsel dan cardigan lalu kembali ke teras. Melewati suaminya tanpa berpamitan lebih dulu.


Mungkin ada baiknya Keisha tidak berdekatan dengan Ricky untuk sementara, lantaran mood yang selalu buruk setiap kali bicara dengan suami tercinta. Sepanjang perjalanan ke rumah mertuanya, Keisha berdiam diri di dalam taksi. Dia tidak mengerti tentang perasaanya, dan dia sulit mengendalikan amarah.

__ADS_1


"Pasti aku buat mas Iky kesal. Maaf," gumamnya, menatap foto Ricky yang menjadi walpaper ponselnya. "Tampan banget sih Mas? Tapi nyebelin."


__ADS_2