Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 52 ~ Drama Queen


__ADS_3

Aurin duduk tidak tenang di hadapan orang tua Tommy, terlebih mamah dan papahnya tidak ada di rumah. Ingin rasanya gadis itu melempar wajah mengesalkanTommy dengan wajan panas, sakin emosinya.


"Umi kira kalian udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Nak. Tapi pas Tommy datang ke Umi dan meminta untuk meminang kamu, Umi dan Abi senang banget," ucap mamah Tommy.


"Orang tua kamu nggak ada di rumah?" tanya Abi Tommy.


"Mamah sama papah lagi diluar kota, Abi. Tapi katanya tadi udah di pesawat, mungkin bentar lagi sampai. Kalau memang nggak sibuk bisa ditunggu."


"Tentu, Nak. Niat kami datang baik, nggak mungkin pergi tanpa orang tua kamu," sahut umi Tommy, sementara mempelai pria tampak bersandar sambil menatap Aurin yang tengah kesal.


Jika dilihat dari kelakuan dan sikap Tommy, tidak ada yang akan menyangka bahwa pria itu adalah anak dari Kyai yang mempunyai pondok pesantren, bisa dibilang Tommy adalah Gus. Sayangnya pria itu tidak pernah ingin berurusan dengan pekerjaan Abinya, bahkan tidak ingin dipanggil gus oleh siapapun. Panggilan itu hanya membebaninya setiap saat.


Di mata para remaja yang hobi halu, seorang Gus sangatlah idaman dan paham akan agama, tetapi Tommy pengecualian. Dia malah bersikap sebaliknya dan sering kali membuat sang abi marah sampai darah tinggi.


***


Tepat saat mobil berhenti di depan rumah mertuanya, Keisha menoleh pada sang suami yang sibuk menerima telpon entah dari siapa. Intinya suara di seberang sana adalah pria, jadi Keisha tidak perlu terlalu curiga.


"Mamah bentar lagi pulang. Sambil nunggu kamu bisa ngelakuin apapun di rumah," ucap Ricky setelah selesai dengan urusannya.


Keisha mengangguk atusias. "Pulangnya jangan terlalu malam atau Mas tidur di kamar tamu," ancamnya.


"Nggak Bubu sayang." Ricky mengacak-acak rambut Keisha sebelum gadis itu turun dari mobilnya. Tidak lupa mengecup kening dan telapak tangan yang berhasil membuat gadis itu tersipu malu. Ricky membunyikan klakson sebelum meninggalkan rumah, sementara Keisha melambai tanda perpisahan.


Gadis itu berjalan santai memasuki rumah mertuanya yang tampak sepi. Kening Keisha mengerut lantaran mendengar suara dari kolam renang.


"Ada tamu, Bi? Apa mamah udah pulang?" tanya Keisha pada pelayan yang kebetulan melintas.


"An-anu neng, di pinggir kolam ada neng Amel. Saya udah cegah masuk, tapi katanya disuruh sama bu Ratna," jawab pelayan itu tidak enak.


"Oh gitu." Keisha membungkuk sebelum akhirnya menemui Amelia yang tengah berdiri di pinggir kolam sambil berbicara dengan seseorang di seberang telpon.


"Sopankah seorang mantan bertamu di rumah suami orang? Terlebih nggak ada undangan," celetuk Keisha, berjalan menghampiri Amelia.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Amelia lantas mematikan telpon, tersenyum pada Keisha yang wajahnya tampak tenang. Aneh sekali, padahal dia adalah saingan terbesar untuk gadis itu.


"Cepat atau lambat aku bakal jadi menantu ...."


"Aduh kayaknya kuntilanak satu ini masih tidur deh. Ya kali Mas gue mau balik sama sampah," ledek Keisha dengan tawa kecilnya, membuat Amelia geram sampai mengepalkan tangan erat-erat. Berbeda dengan Keisha yang bersedekap dada dan terlihat arogant.


"Ricky masih cinta sama aku!"


"Cinta nggak bisa jamin sesuatu bakal menyatu! Rasa nyaman jauh lebih penting, dan dia hanya nyaman ada di dekat gue! Dan satu lagi ...." Keisha berjalan semakin mendekati Amelia tanpa rasa takut. "Gue bisa memuaskannya di atas ranjang," bisik Keisha tepat di telingan Amelia.


"Keisha!" bentak Amel.


"Apa?"


"Ku harap kamu nggak menyesal mancing emosi aku! Aku akan ...."


"Lakukan apapun yang kamu mau, karena sampai kapan pun istri sah bakal jadi pemenangnya."


"Beraninya kau!" Amelia melayangkan sebelah tangannya dan hendak mendaratkan di pipi mulus Keisha, tetapi dengan sigap gadis itu menahan. Tersenyum licik pada Amelia yang hanya punya nyali secuil.


"Lepasin!" perintah Amelia dengan gigi bergemulutuk. Niat hati datang untuk memanas-manasi Keisha tentang besar cinta Ricky padanya, dia malah diremehkan oleh gadis ingusan bodoh.


"Baiklah!" Keisha melepaskan cekalan tangannya, tetapi sengaja mendorong tubuh Amelia sehingga tercebur ke kolam renang sedalam dua meter. "Aduh, sorry gue nggak sengaja. Habisnya lo sih pakai acara mau nampar," ledeknya memandangi Amelia yang berusaha untuk menepi.


"Bubu, dompet aku ketinggalan di ...."


Byur


Keisha menceburkan tubuhnya ke kolam renang lantaran mendengar suara Ricky dari kejauhan. Dia mengayung-ngayungkan tangannya agar tidak tenggelam seperti yang dilakukan oleh Amelia.


"Keisha?" pekik Ricky.


"Ma-mas tolongin, bubu!" ucap Keisha.

__ADS_1


"Iky tolongin aku!"


Tanpa memikirkan apapun, Ricky ikut melompat ke kolam renang. Menghampiri salah satu perempuan yang harus dia selamatnya lebih dulu. Pria itu mendorong tubuh istrinya ke tepi, lalu mengendong dan menidurkannya ke kolam renang.


"Bubu, bangun!" pinta Ricky menepuk-nepuk pipi Keisha, tanpa memperdulikan Amelia yang mulai sesak napas. Untung saja ada pelayan yang bersedia basah untuk menolong wanita licik tersebut.


"Pak, Neng Amel pingsan!"


"Kamu nggak liat istri saya juga pingsan? Beri aja napas buatan," omel Ricky yang panik Keisha tidak kunjung sadarkan diri.


Tanpa mempedulikan sekitar, Ricky langsung memberi napas buatan untuk istrinya hingga gadis itu terbatuk dan mengeluarkan air.


"Kenapa harus main di pinggir kolam sih?" omel Ricky.


"Dingin." Keisha langsung memeluk Ricky. Sebenarnya gadis itu tidak pingsan, hanya saja membuat sedikit drama untuk mengetes siapa yang akan Ricky selamatkan. Bahkan jika Ricky menolong Amelia lebih dulu, Keisha tidak akan tenggelam, sebab dia bisa berenang, bahkan pernah ikut lomba tetapi tidak menang.


"Dingilah, air juga." Ricky membopong tubuh Keisha ke kamar. Membantu gadis itu berganti baju dan menyelimuti hingga dada.


"Istirahatlah sebentar, aku mau ngecek ...."


"Nggak mau." Keisha menarik tangan Ricky agar tidak kemana-mana, sementara Amelia di kamar lain tidak kunjung sadarkan diri karena tidak pandai berenang.


Pelayan telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi tidak sadar andai dokter tidak datang untuk memeriksakan kondisinya.


"Syukurlah Neng Amel bangun. Saya takut Neng Amel meninggal dan gentayangan di rumah ini," celetuk pelayan yang menolong Amelia di kolam renang.


Amelia yang diajak bicara tampak acuh, bahkan sedekar mengucapkan terimakasih juga eggan.


"Di mana Ricky?"


"Pak Ricky lagi ngurus istrinya, Neng. Mungkin di kamar mereka."


"Sial! Harusnya yang Ricky tolong aku, bukan anak ingusan itu." Amelia diam-diam mengepalkan tangannya. Andai tadi Ricky menyelamatkannya, maka dia berhasil membuat Keisha cemburu.

__ADS_1


"Udah sadar? Sukurlah, tadi gue takut banget," ucap Keisha yang baru saja datang bersama Ricky. Tangan gadis itu tidak pernah lepas dari lengan sang suami sejak meninggalkan kamar. Keisha mendongak untuk menatap Ricky. "Mas tau? Tadi aku udah berusaha nolongin Amel pas jatuh, tau-taunya aku sediri yang tenggelam. Maaf, nggak bisa nolongin mantan terindah, Mas Iky."


__ADS_2