Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 50 ~ Siksaan


__ADS_3

Rasa panas di siang hari dan rasa dingin di malam hari sungguh menyiksa Mahesa yang terkurung di dalam ruangan bawah tanah tersebut. Bahkan pria itu sudah tidak bisa menikmati cahaya matahari dan segarnya udara di luar sana. Tubuh Mahesa terkulai lemas di atas lantai dingin nan menyeramkan tersebut.


Dia tidak pernah menyangka akan berakhir di ruangan seperti ini ketika berani main-main dengan Keisha. Dendam yang ada dalam hatinya membuat pria itu hancur dengan sendirinya. Wajah lebam dan rasa lapar selalu menjadi santapan Mahesa setiap hari. Jika sekarang ada yang ingin membunuhnya, pria itu lebih rela dibandingkan terus merasakan penderitaan tiada henti.


"Aaakkkhhh, sialan! Siapapun bunuh gue sekarang!" teriak Mahesa, dia bahkan tidak tahu di luar sana sedang siang atau malam. "Siapa pak Ricky sebenarnya? Kenapa dia bisa kenal sama Avegas?" gumamnya.


Mata yang terbuka lebar, tetapi seakan tertutup karena tidak bisa melihat apapun, itulah yang terjadi pada Mahesa saat ini. Retina pria tersebut merespon seketika saat sebuah cahaya terlihat secara perlahan.


"Makanan buat lo, jangan sampai mati," ucap ketua Avegas yang sekarang.


Tanpa menolak, Mahesa langsung menarik bungkusan nasi tersebut. Melahapnya rakus karena sangat lapar. Sementara yang membawa makanan bergeming di tempatnya. Pria itu sering bertemu Mahesa di tempat balapan.


"Harusnya lo berpikir sebelum bertindah, Mahes. Tetua Avegas bukan tandingan lo, bahkan gue yang menjabat sebagai ketua Avegas aja takut sama mereka," ucapnya.


Pria itu meninggalkan ruang bawah tanah, terkejut ketika berpapasan dengan Azka, tetua Avegas yang sebenarnya. "Ba-bang Azka?"


"Dia memohon untuk dibunuh?" tanya Azka dengan wajah datarnya.


"Nggak, Bang. Mahes cuma ngambil makanan dan nggak ngomong apapun lagi."


Azka mengangguk mengerti, membalik tubuhnya dan berjalan beriringan keluar dari ruang bawah tanah tersebut. "Hubungi saya atau Ricky, kalau dia memohon untuk dibunuh."


"Siap Bang!"


Merasa tidak ada yang diperlukan lagi, Azka lantas meninggalkan markas. Pria itu mengurus masalah Mahesa karena banyak hal. Pertama, dia adalah pemilik SMA Angkasa, Keisha diculik di kawasan sekolahnya. Kedua, Keisha istri sahabatnya. Ketiga, Azka benci pria yang merendahkan derajat perempuan, sebab bagi Azka, perempuan adalah makhluk paling suci di muka bumi ini. Tanpa perempuan, manusia tidak akan sebanyak sekarang.


"Ada apa di markas? Kenapa akhir-akhir ini kamu sering berkunjung?" tanya Salsa, setelah Azka berada di dalam mobil.


"Cuma ngecek perkembangan."


"Aku nggak mau ya kamu ikut-ikutan geng motor lagi! Kamu udah janji keluar dari sana!"


"Iya, Sal, nggak kok. Aku nggak mungkin ingkar janji sama kamu ataupun anak-anak kita. Iya nggak bro?" tanya Azka pada putranya yang ada di jok belakang.


Pria tampan itu rencananya akan berkunjung ke rumah orang tuanya, tetapi mampir sebentar ke markas.

__ADS_1


"Kara dipihak mamah!"


"Ck, ya udah Chei dipihak papah." Menguyel-uyel pipi putri bungsunnya yang berada di pangkuan Salsa.


***


Jika semua orang mulai beraktivitas di luar sana, maka berbeda dengan Ricky yang masih terlelap damai sambil memeluk pinggang ramping Keisha. Sementara gadis itu sendiri sudah terbangun beberapa menit yang lalu, tetapi urung bergerak lantaran ingin menikmati wajah damai Ricky.


"Tidur sampai siang ya? Biar aku bebas mandangin wajah tampan kamu. Soalnya kalau matanya udah melek nyebelin," gumam Keisha. Masih memandangi wajah Ricky tanpa ada keinginan untuk menyentuh wajah mulus itu meski seujung kuku. Alasannya cukup sederhana, Keisha tidak mau suaminya terbangun.


Suara ketukan pintu yang terdengar beberapa kali membuat Keisha kesal, terlebih saat suara seseorang terdengar.


"Kei, Iky! Udah jam 8 nak. Kalian nggak lapar?" tanya bu Ratna di ambang pintu.


"Ya ampun, sampai lupa ada di rumah mertua," gumam Keisha. Gadis itu buru-buru turun dari ranjang untuk membuka pintu kamarnya. "Iya Mah, Kei bentar lagi nyusul ...."


Kalimat gadis itu tertahan tatkala Ricky menarik tangannya sehingga kembali berbaring di ranjang.


"Mau kemana, hm? Aku udah rela nutup mata demi kamu," bisik Ricky dengan suara seraknya.


"Mamah sarapan duluan aja, Ricky ada urusan bentar!" teriak Ricky.


"Pak Ricky!"


"Katanya nggak boleh formal, gimana sih?" Ricky menatap Keisha dengan mata sayunya. Memajukan wajah demi mengecup bibir yang terbuka itu. "Bubu, kepala aku sakit. Luka dibibir aku juga masih nyeri. Cium, Bubu!" pinta Ricky manja, membuat bulu kuduk Keisha seketika meremang.


Gadis itu berusaha lepas dari kungkungan Ricky, tetapi yang dia lakukan hanyalah hal sia-sia. Terlebih kaki panjang itu sudah mengunci pergerakannya.


"Sayang, aku mau mandi dulu." Huek, Keisha seakan ingin menghilang detik ini juga setelah mengatakan kalimat keramat tersebut. "Ganti aja deh, lebay banget. Aku panggil pak aja kayak biasa." Memanyungkan bibirnya. Ricky tidak menyia-nyiakan hal tersebut untuk mengecup bibir istrinya, bahkan menyesap cukup lama.


"Mas, aa, abang, daddy, papoy, baby?" Ricky mulai mengabsen beberapa panggilan sayang untuk dirinya sendiri, tetapi Keisha tidak kunjung menjawab.


"Bubu, ayo pilih salah satunya!"


"M-mas aja deh, soalnya lebih manusiawi," jawab Keisha.

__ADS_1


"Daddy aja, Sayang." Ricky menaik turunkan alisnya, sehingga mendapatkan sentilan di kening oleh sang kekasih.


Drama di dalam kamar setelah bangun tidur membuat keduanya sangat bahagia. Memilih nama panggilan dan sedikit sarapan manis di bibir, mengawali hari mereka. Keduanya keluar dari kamar dan berencana untuk sarapan bersama, tetapi bu Ratna telah pergi ke kantor untuk menggantikan Ricky selama beberapa hari ke depan.


"Mau makan apa, Bub?"


"Ini ada di atas meja, ngapain nanya lagi? Basi banget," cibir Keisha duduk di kursi, langsung menyantap hidangan di atas meja, tanpa mengrtahui niat Ricky yang ingin bersikap romantis padanya.


"Oh iya, katanya pak eum maksud aku, Mas, semalam habis ketemu Mahesa. Di mana?"


"Kamu nggak perlu tau."


"Aku pengen tau, aku mau beri dia pelajaran karena udah maksa dan culik aku, Mas!"


"Ck."


"Ck," cibir Keisha tidak suka, tetapi hanya dibalas senyuman oleh Ricky.


"Makanlah, setelah ini mas bakal bawa kamu ketemu Mahesa. Tapi janji, kamu nggak boleh sedih apalagi nagis-nangis."


"Janji." Keisha mengulurkan jari kelingkingnya. Tidak lupa senyuman lebar gadis itu perlihatnya.


Usai sarapan bersama, Ricky benar-benar membawa Keisha ke markas, tempat di mana Mahesa disekap. Tatapan Keisha sejak tadi tertuju pada segerombolan anak muda yang berada di depan markas atau aula sangat luas. Gadis itu mengenali beberapa dari mereka, bahkan pernah nonton film pemersatu bangsa bersama.


"Kei!" sapa salah satu dari mereka, membuatnya mendapat gamparan dari sang ketua.


"Istri bang Iky, Bangsat! Lo mau dikurung juga?"


"Serius?" Mata pria itu membola tidak percaya. Ricky yang notabenenya seorang guru, dipertemukan dengan gadis jadi-jadian seperti Keisha.


"Woi, ternyata lo di sini? Pantesan nggak pernah ke warkop!" sapa Keisha.


"Bubu?" Ricky menatap tajam Keisha yang menyapa teman-temannya.


"Pis damai Masku sayang. Tadi cuma sok akrab aja kok." Cengirnya, mengenggam tangan Ricky, mengikuti langkah pria itu menuju ruangan bawah tanah.

__ADS_1



__ADS_2