
Seperti biasa, setiap jam istirahat, Keisha dan Aurin akan menghambiskan waktunya di kantin. Entah hanya sekedar makan, atau membicarakan keburukan dan kebaikan orang lain. Mengumpulkan dosa tanpa ada niatan untuk menguranginya adalah hobi dua gadis nakal tersebut.
Seperti saat ini, mata Keisha dan Aurin sedang meneliti gadis yang baru saja memasuki kantin sekolah.
"Dia bukan sih?"
"Kayaknya iya, tapi nggak papa soalnya gue lebih cantik," sahut Keisha yang masih meneliti penampilan gadis yang tadi dia lihat sedang ditolong oleh pak Ricky di anak tangga. Penampilan gadis itu biasa-biasa saja, dandanannya pun tidak terlalu berlebihan, pertanda perempuan tersebut siswa baik-baik dan tidak bermaksud menggoda Ricky.
"Keknya ada yang udah baikan nih. Sampai percaya gitu sama om-om kesayagannya," sindir Aurin. Dia menyesap es tehnya sesekali.
"Iya dong. Pak Iky kan takut kehilangan gue." Keisha mengerlingkan matanya. Meski tidak yakin Ricky benar-benar takut kehilangannya, setidaknya kalimat itu sudah keluar dari mulut sang suami.
Keisha memutar bola matanya malas ketika Mahesa kembali menghampirinya lagi dan lagi. Pahal gadis itu sudah meminta Mahesa untuk melupakan pembicaraan mereka kemarin saat di tengah lapangan.
"Haus nggak, Yang? Gue bawain minum nih." Mahesa memberikan teh kotak pada Keisha, sementara yang diajak bicara tampak menghela napas panjang. Sedangkan Aurin tengah mengambil ancang-ancang kalau saja Mahesa mulai berkata-kata manis pada Keisha.
"Maaf banget kak, bukanya gue mau permainin perasaaan kak Mahesa, tapi kemarin gue ada masalah, makannya nggak mikir sebelum bertindak," ucap Keisha dengan nada rendah, karena sadar dirinya bersalah. "Lupain ya kak? Kita temenan aja," lanjut Keisha.
Aurin mengerjap-erjapkan matanya, berusaha mencerna kalimat Keisha, sementara Mahesa mulai bergerak lebih jauh. Tangan pria itu mengenggam tangan Keisha yang sejak tadi meremas ponselnya.
"Ya! Tangan lo jauh-jauh dari tangan sahabat gue!" tegur Aurin langsung menepis tangan Mahesa, membuat pria itu mendelik tidak suka.
"Dia pacar gue, jadi gue bebas dong mau ngapain dia. Lo cuma sahabat, nggak punya hak apapun buat ...."
"Cukup kak Mahesa! Gue bilang lupain semuanya. Gue cuma iseng hari itu. Lagian sampai sekarang gue nggak mungkin lupa sama perbuatan kakak yang udah nipu gue habis-habisan. Gue anggap semuanya impas, lo mafaatin gue dan gue ngisengin lo!" Keisha meletakkan jari telunjuknya di dada Mahesa dengan tatapan menyorot tajam.
Tadi Keisha berusaha bersabar, tetapi ketika Mahesa berucap dengan nada tinggi pada sahabatnya, kesabaran itu tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
"Jual mahal lo?" tanya Mahesa penuh tekanan.
"Perempuan memang harus jual mahal biar dapat cowok mahal pula. Soalnya gue udah pengalaman. Pernah murahan ngejar-ngejar cinta cowok basket yang ternyata jauh murahan dari gue," sindir Keisha dan menarik Aurin pergi dari kantin.
Ini ketiga kalinya Keisha dan Aurin meninggalkan kantin karena Mahesa yang selau merecoki, dan itu sangat meresahkan bagi keduanya.
"Lo beneran balikan sama cowok nggak modal itu?" tanya Aurin setelah mereka berada di kelas.
"Iya,, tapi kemarin kan gue cuma ...."
"Goblok banget sih lo? Udah tau beberapa minggu ini dia ngejar-ngejar lo, malah dikasih harapan," omel Aurin.
"Rin, gue terpaksa karena ...."
"Emang lo bodoh! Kalau mau ngelakuin sesuatu tuh mikir dulu Keisha sayang." Gemes Aurin menguyel-uyel pipi Keisha. "Dari dulu lo nggak pernah berubah, kalau marah selalu aja buat kesalahan. Untung ada gue yang bisa lo andelin."
***
Suara pantulan bola yang saling bersahut-sahutan tengah memenuhi lapangan basket SMA Angkasa. Dua pemuda dengan kemampuan masing-masing itu, berusaha membuat lemparan tiga angka. Dua pemuda itu adalah Mahesa dan Tommy.
Lelah berlarian di lapangan, Tommy melempar bolanya kekeranjang dan membaringkan tubuhnya di lapangan yang tampak bersih tersebut.
"Sial, Aurin nggak mau maafin gue!" teriak Tommy dan berhasil mengambil perhatian Mahesa. Pria itu ikut berbaring di samping Tommy.
"Gue kesal banget sama Keisha. Tuh cewek jual mahal banget njir. Gue makin benci sama dia. Pertama dia udah permaluin gue di warkop, sekarang permainin perasaan gue," ucap Mahesa dengan nada kesal, bahkan wajah pria itu sampai memerah.
Tommy melirik Mahesa sekilas. "Gue heran sama lo. Lo benci sama Keisha, tapi lo ngejar-ngejar dia tanpa lelah."
__ADS_1
"Karena gue punya misi," sahut Mehesa. Pria itu merubah posisinya menjadi duduk setelah nafasnya mulai normal. Dia memeluk lututnya sambil menyeringai. "Kayaknya gue harus ngasih dia pelajaran. Setelah ini dia bakal trauma sama makhluk bergelar laki-lagi," lanjutnya.
"Maksud lo? Gue harap lo nggak ngelakuin hal gila Mahes. Udah cukup, gue muak sama muka dua lo itu. Lo nggak tau aja penyebab gue nggak bisa balikan sama Aurin itu lo," ucap Tommy yang tidak setuju dengan ide gila Mahesa.
"Kenapa? Lagian dia udah nggak perawan lagi."
Mahesa meniggalkan lapangan basket tersebut tanpa ingin mendengarkan apapun dari mulut Tommy. Dia akan melalukan apa yang dia inginkan, terlebih harga dirinya telah diinjak-inajk oleh Keisha.
"Kalau sampai lo beneran ngelakuin itu, persahabatan kita bakal berakhir Mahesa!" teriak Tommy, tetapi Mahesa telah menghilang dari pandangannya.
"Nggak, rencana Mahes nggak boleh berhasil. Kalau dia berhasil ngelecehin Keisha, Aurin makin benci sama gue," gumam Tommy.
Pria dengan seragam basket itu segera meningalkan sekolah yang telah sepi sejak beberapa jam yang lalu. Dia melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah Aurin. Sayangnya saat sampai di rumah gadis itu, Aurin malah mengusirnya.
"Rin, biarin gue ngomong dulu. Lo harus percaya sama gue, kali ini aja!"
"Pergi Tommy, jangan pernah muncul di hadapan gue lagi." Aurin mendorong tubuh Tommy sekuat yang dia bisa.
"Keisha dalam bahaya!" teriak Tommy.
Bukannya percaya, Aurin malah tertawa. "Lo mau gunain Keisha buat luluhin hati gue? Jangan berharap lebih, karena gue nggak bakal percaya apapun yang keluar dari mulut lo. Lagipula, siapa yang berani nyelakain Keisha? Dia bukan gadis lemah, terlebiih ada dua panggeran di sekitarnya."
Setelah berucap, Aurin menutup pintu rumahnya cukup keras, membuat Tommy frustasi. Pria itu mengacak-acak rambutnya, dia tidak tahu harus mengadu kepada siapa tentang rencana Mahesa. Menghampiri Keisha dan membicarakan semuanya adalah hal ke mustahilan, sebab gadis itu tidak akan percaya dengan perkataanya.
Ternyata buah dari kebohongan sangat lah dahsyat. Tidak ada yang akan mempercayai kita lagi, meski apa yang kita sampaikan adalah kebenaran. Sekarang Tommy menyesal karena sering berbohong pada orang-orang sekitarnya.
"Tenang, benar kata Aurin. Keisha bukan gadis lemah, jadi gue nggak perlu khawatir," gumam Tommy.
__ADS_1