
Amelia menatap tajam Keisha saat gadis itu terus mengoceh seakan-akan perempuan polos yang tidak mengerti apapun. Keisha sangat licik dan pandai bermain drama, Amelia mengakui kehebatan gadis bodoh itu.
"Jelas-jelas kamu yang dorong aku, Keisha! Ricky, dia bohong! Dia tahu aku nggak bisa berenang makanya ...."
"Lo nuduh gue?" tanya Keisha menunjuk dirinya. "Mas, percaya?" Kini Keisha beralih menatap Ricky, tidak lupa menampilkan wajah sepolos mungkin. Sedangkan yang ditanya tampak terdiam menghadapi dua perempuan yang sama-sama sulit untuk dikendalikan.
"Kalau aku beneran dorong Amel ke kolam, ngapain aku repot-repot mau nolongin? Kalau Mas memang nggak percaya, cek CCTV! Tapi Mas nggak boleh tidur di ...."
"Mas percaya Keisha," jawab Ricky cepat. "Bubu nggak mungkin ngelakuin hal licik kayak gitu." Ricky mengacak-acak rambut Keisha tepat di depan Amelia, membuat wanita itu sangat geram. Berbeda dengan Keisha yang senyum penuh kemenangan.
"Keisha kok dilawan," batin gadis itu, menjulurkan lidahnya pada Amelia tanpa sepengetahuan Ricky.
"Ngapain kamu ada di rumah ini? Apa kamu nggak punya urat malu sampai bertamu padahal ...."
"Ak-aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Ky. Penting banget," lirih Amelia, hendak meraih tangan kanan Ricky, tetapi ditepis oleh Keisha dengan cepat.
"Ngomong aja, nggak usah sentuh-sentuh!" tegur Keisha.
Pelayan yang melihat tingkah Keisha tersenyum, suka dengan sigap gadis itu melindungi Ricky dari perempuan yang berusaha merusak rumah tangga mereka.
"Apapun masalah kamu, itu bukan urusan aku lagi Amelia! Aku sudah jadi suami orang, jadi aku harap kamu nggak berharap lebih," ucap Ricky.
"Su-suami aku ...."
"Apa-apaan ini? Kenapa Amelia ada di rumah mamah?" tanya Ratna dengan suara tegasnya. Wanita paruh baya itu baru saja datang dan malah mendengar kabar dari pelayan, bahwa Amelia dan Keisha jatuh ke kolam renang.
Tatapan bu Ratna menghunus tajam pada Amelia yang setengah berbaring di atas ranjang. "Kamu dorong menantu saya?"
"Kirain mamah yang ngundang Amel, tadi kata pelayan gitu," celetuk Keisha.
"Mana mungkin mamah ngundang wanita yang berani nyakitin perasaan anak mamah." Bu Ratna berjalan menuju ranjang, menarik Amelia agar turun dari sana. "Pergi sekarang juga! Kamu nggak punya hak ada di rumah ini! Saya nggak mau, Keisha nggak nyaman karena keberadaan kamu di sini!" usir bu Ratna.
Keisha yang melihatnya lantas merangkul Amelia yang kini telah berganti baju. "Kei nggak papa kok, Mah. Amel baru aja sadar, masa langsung diusir, dia harus istirahat dan ...."
"Dia punya rumah dan keluarga!" ucap Ratna tegas.
***
__ADS_1
Sore yang mendung, ditambah semilir angin yang berhembus dingin membuat Keisha merasa nyaman duduk di balkon kamar dengan secangkir susu di atas meja. Suasana hati gadis itu sangat baik setelah berhasil mengusir dan mempermalukan Amelia berkat kelicikannya.
"Nggak sia-sia gue suka nonton," gumam Keisha.
Gadis itu tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga yang dia bangun bersama Ricky. Dia akan menjaganya sekuat yang dia bisa, selama Ricky ikut berjuang. Namun, jika pria itu telah merusaknya, Keisha akan merobohkannya sekalian agar hancur tanpa tersisa.
Deringan telpon yang terdengar beberapa kali, membuat Keisha mau tidak mau meninggalkan balkon kamar. Kaki kecil gadis itu memasuki kamarnya dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Tanpa membuang waktu, Keisha menjawab panggilan dari Aurin.
"Keisha, gue dilamar anjir!" pekik Aurin, membuat Keisha refleks menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
"Bangsat lo, Rin! Gendang telinga gue hampir pecah."
"Bodoh amat," sahut Aurin di seberang telpon. "Lo harus tau ini Keisha, gue dilamar sama Tommy anjir!" ulangnya.
Keisha terdiam, berusaha mencerna kalimat sahabat sesatnya. Mata gadis itu membola setelah sadar apa yang Aurin katakan.
"Sumpah demi apa?"
"Demi mantannya suami lo!"
"Tadi kan ya, Tommy datang kerumah sama orang tuanya, terus mereka nunggu orang tua gue pulang, dong. Lebih parahnya lagi, mereka langsung bicarain hari pernikahan, Kei!"
Keisha tertawa mendengar cerita Aurin yang sangat antusias. "Jangan-jangan orang tua lo dah bosan nafkahin, makanya langsung diserahin gitu aja." Tawa Keisha semakin menjadi, berbeda dengan Aurin yang merengut di seberang telpon.
Gadis berhijab itu belum siap menikah muda, terlebih dengan Tommy yang pernah menyelingkuhinya 2 kali. Lebih parahnya lagi, Aurin akan menjadi manantu dari Kyai.
"Selamat ya."
"Kok selamat? Lo bukannya nggak suka sama Tommy?" tanya Aurin.
"Nggak kalau masih pacaran, tapi kalau langsung nikah mah, gas aja. Oh iya tau nggak? Nikah muda itu nyenengin banget Rin, gue udah rasain loh. Pokoknya mah mantap."
"Iya deh yang lagi bucin."
"Iya dong," sahut Keisha cepat. Gadis itu menoleh sekilas lantaran seseorang menumpu dagunya di pundak.
"Siapa, Bub?" tanya Ricky yang memeluk leher Keisha dari belakang sofa.
__ADS_1
"Aurin, katanya tadi dilamar sama Tommy dan bakal nikah secepatnya," jawab Keisha.
Ricky mengangguk-anggukkan kepalanya, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Keisha menyudahi panggilan dengan Aurin meski sahabatnya di seberang telpon masih ingin bicara. Keisha paling anti membicarakan hal bahagia atau sedih lewat telpon, rasanya kurang greget.
"Bub, aku lupa bawa handuk!" teriak Ricky dari kamar mandi.
"Bukan modus kan?" tanya Keisha.
"Bukan, Bubu! Aku beneran lupa."
Keisha lantas berjalan menuju lemari untuk mengambil handuk bersih. Mengetuk pintu kamar mandi sehingga yang ada di dalam sana membukanya dengan cepat. Dia mengulurkan tangan tanpa ingin melihat.
"Setelah mandi, anter aku ke rumah Aurin ya?" pinta Keisha.
"Bayarannya?"
"Ish, kok sama istri sendiri perhitungan?" Keisha mendengus kesal. Setiap kali dia meminta tolong pada Ricky, pasti pria itu selalu meminta sebuah bayaran non uang. "Aku pergi sendiri aja kalau gitu."
Keisha lantas menjauhi pintu kamar mandi setelah Ricky mengambil handuk tanpa banyak drama. Dia kembali menuju balkon untuk menghabiskan susu yang sudah dingin karena lupa dia minum. Sambil menikmati susu itu, Keisha memandangi rumah-rumah yang berada di sekitar rumah bu Ratna. Tidak ada orang yang berkeliaran di depan rumah masing-masing.
"Gila sih, kalau dikejar kunti nggak bakal ada yang nolongin," guman Keisha. Dibandingkan rumah bu Ratna, rumah mereka lebih manusia. Para tetangga akan keluar untuk membeli sayur atau semacamnya, berbeda di rumah mamah mertuanya yang seakan rumah mewah tidak berpenghuni.
"Liatin apa sih, Bub?" tanya Ricky, memeluk Keisha dari belakang.
"Nyari cogan buat jadi selingkuhan, soalnya punya suami apa-apa disuruh bayar."
"Ck, kan bayarannya bukan uang."
"Tetap aja nggak mau! Pak Iky doang yang dapat enaknya, aku cuma diam aja. Liat ntar kalau aku udah mandi wajib."
"Bubu?"
"Apa Masku sayang?" Keisha lantas membalik tubuhnya, mengalungkan lengan di leher sang suami.
"Ketemu sama Aurin besok aja di sekolah. Sekarang kita berduan aja dulu. Gimana? Ntar aku Tf uang bulanan tambahan."
"Deal?" Tanpa banyak bacot, Keisha menyetujui ajakan suaminya satu ini. Uang adalah segalanya untuk Keisha.
__ADS_1