
Keisha, gadis itu mengerutkan keningnya ketika berdiri di lapangan untuk melakukan pemanasan sebelum olahraga. Tatapannya tidak tertuju pada guru olahraga, melainkan kaum adam yang berada di lapangan basket.
Di sana ada Mahesa dan teman-temannya sedang latihan. Sungguh Mehesa sangat tampan jika sedang berkeringat. Ingin rasanya Keisha berlari untuk menemui Mehesa, mengusap keringat dengan penuh perhatian.
Namun, semua hayalan Keisha harus terhalang karena guru menyebalkan di hadapannya
"Fokus ke depan! Guru kamu di depan, bukan samping!" tegur Ricky.
Keisha merengut, kembali menatap ke depan. Sungguh ingin rasanya Keisha berteduh.
"Lari 3 putaran untuk pemanasan!" perintah Ricky.
"Buat laki-lakinya aja kan, Pak? Kita mah lari-lari kecil di sini aja," sahut Aurin dan di angguki oleh Keisha.
Berbeda dengan Ricky yang tampak tidak peduli. Baik perempuan ataupun laki-laki, semuanya sama di mata Ricky.
Meski mempunyai kepribadian cukup kocak jika bersama teman-temannya, Ricky adalah salah satu guru yang tidak suka jika aturannya dilanggar ataupun ditawar oleh siswanya.
"Semua, termasuk kalian berdua!"
Hembusan nafas terdengar dari Keisha mendengar hal tersebut. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke lapangan sambil memegang perut dan memperlihatian ekspresi kesakitan.
"Nahkan, drama lagi tuh anak," gumam Aurin yang sudah berlari.
"Ayo lari!" perintah Ricky, mendekati siswa yang juga merupakan istrinya.
"Aduh, Pak. Perut saya tiba-tiba sakit, saya lupa sarapan pagi tadi. Saya izin ya?" Mendongak masih dengan ekpresi kesakitannya.
Ricky senyum simpul, berjongkok dengan satu kaki ditekuk. "Beneran sakit?"
Keisha mengangguk cepat.
"Sini biar bapak elus, dijamin ...."
"Pak Ricky!" bentak Keisha, menepis tangan Ricky yang hendak meraba perutnya.
Apakah pria di hadapannya sangat mesum? Apa ada guru seperti dia yang menyentuh siswanya tanpa izin? Sepertinya hanya Ricky.
"Dosa pak, ngelus-ngelus perut gadis. Saya ke UKS aja dan ...."
"Saya suami kamu, kalau kamu lupa," bisik Ricky tepat di telingan Keisha. Menarik gadis itu sedikit kasar agar segera berdiri. Sementara yang ditarik membeku di tempatnya. "Ngelus perus nggak masalah tuh," lanjutnya.
"Dih modus! Suami modal paksaan aja bangga!" cengir Keisha, mendorong tubuh kekar Ricky agar menjauh darinya.
"Nggak jadi sakit perut, gurunya gila!" gerutu Keisha. Ikut bergabung dengan teman sekelasnya dengan wajah kesal.
Dulu sebelum menikah, Keisha sedikit menghormati gurunya. Tapi setelah dipaksa menikah dengan pria itu, rasa hormatnya seakan hilang.
Keisha terus berlari mengitari lapangan, memotong jalan agar segera beriringan dengan Aurin yang telah selesai satu putaran.
"Kok lari?"
"Pak Ricky keknya udah tau akan bulus gue," sahut Keisha terus berlari, sesekali tatapannya tertuju pada Mahesa.
"Semangat!" pekik Mahesa mengepalkan tangannya.
Deg, jantung Keisha berpacu sangat cepat, apalagi saat tatapannya dengan Mahesa bertemu.
__ADS_1
"Omg Kei, itu kak Mehesa ngasih semangat loh!" Histeris Aurin. Keduanya berhenti di sisi lapangan basket.
"Ini bukan mimpi kan, Rin? Kak Mehesa ngasih semangat? Aduh-aduh gue mau pinsang dulu."
Detik itu juga, Keisha kembali menjatuhkan tubuhnya karena tidak bisa mengendalikan detak jantung yang menggila karena Mahesa.
"Woi tolongin, teman gue pingsan!" pekik Aurin.
Mahesa yang berada di lapangan basket, Ricky yang berada di pinggir lapangan serentak menoleh ke sumber suara.
Terkejut melihat Keisha tergeletak di lapangan.
"Akting apa beneran sih?" gumam Ricky.
Meski begitu, tetap berlari untuk menghampiri Keisha. Namun, langkah Ricky berhenti di tengah lapangan saat melihat siswa andalannya mengendong tubuh Keisha tanpa beban.
Tidak ingin ambil pusing, Ricky kembali fokus pada siswanya. Berbeda dengan Keisha yang dibawa ke UKS oleh Mahesa.
Dibaringkan secara perlahan di atas brangkar.
"Kenapa?" tanya perawat yang betugas di UKS.
"Tiba-tiba pingsan kak, kayaknya kelelahan. Tadi habis lari-larian di lapangan," sahut Mehesa.
Perawat itu mengangguk, segera memeriksa kondiri Keisha yang tidak kenapa-napa. Hanya pingsang karena terlalu salting direspon okeh crushnya.
Entah apa reaksi Keisha saat tahu yang mengendongnya ke UKS adalah Mehesa, pria tampan yang mempunyai postur tubuh hampir sempurna, belum lagi kapten basket dan siswa kesayangan Ricky.
"Saya titip ya kak, mau kelapangan bentar."
***
Pipi Keisha terus saja bersemu merah dan itu telihat mengemaskan. Apalagi Keisha sedang mengunyah sesuatu di mulutnya.
Gadis itu sedang berada di kanting sekolah bersama Aurin. Mendengarkan cerita Aurin yang mengatakan yang menolongnya tadi adalah Mahesa.
"Demi apa, nggak sia-sia gue pingsan."
"Dih, gue punya foto buat lo. Tapi harganya 300 ribu, gimana?" tawar Aurin. Gadis yang selalu menjadikan apapun sebagai bisnis, padahal orang tuanya termasuk mampu.
"Mahal bet, foto apa sih?"
"Tada!" seru Aurin, memperlihatkan foto saat Mahesa mengendong Keisha ke UKS, satu foto lagi di mana Mehesa duduk di sisi brangkar sambil mengenggam tangan Keisha.
"500 ribu, kirim sekarang!"
"Deal!"
Aurin langsung mengirim foto itu ke ponsel Keisha, bertepatan transferan masuk ke rekeningnya.
"Nah ini baru teman gue."
***
Jam pulang sekolah telah usai, semua siswa berhamburan keluar dari lingkungan sekolah, begitupun dengan Keisha dan Aurin yang berjalan beriringan.
Keduanya baru berpisah setelah di pagar sekolah.
__ADS_1
Gadis itu merongoh tasnya ketika mendengar ponselnya berdering.
"Tante Ratna?" guman Keisha.
Dia langsung menjawab panggilan dari ibu mertuanya, takut kalau terjadi sesuatu pada papahnya yang masih berada di rumah sakit.
"Halo, tante. Papah baik-baik aja kan?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Papah kamu baik-baik aja, Nak. Pulang sekolah jangan langsung kerumah ya. Tapi jemput papah kamu sama Iky."
"Iy-iya tante."
"Oh iya, sekalian cari Iky, soalnya ponsel dia nggak aktif."
"Iya tante."
Keisha menghembuskan nafas panjang setelah sambungan telpon terputus. Apa tadi? Mencari Ricky? Ayolah, Keisha masih jengkel pada suaminya sebab kejadian tadi.
Tapi, mau tidak mau Keisha harus mencari om-om tua itu.
Keisha kembali memasuki lingkungan sekolah, tujuan pertamanya adalah lapangan indoor. Pak Ricky dan Mehesa sering ada di sana jika jam pulang sekolah.
Benar saja dua orang yang dia kenal sedang berlarih di lapangan itu. Dia mendekat dengan degup jantung tidak beraturan.
Bukan karena Ricky, melainkan Mahesa.
"Nyariin gue?" tanya Mehesa, orang pertama yang menyapa Keisha.
Sementara Ricky fokus memasukkan bola ke ring basket.
Keisha menganggukkan kepalanya. "Makasih ya udah nolongin pas gue pingsan tadi, mungkin kalau nggak ada lo entah nasib gue gimana. Bakal jadi bangkai kering kayaknya," cengir Keisha.
"Manis bet mulut kang drama," batin Ricky yang mendengar dan sesekali melirik keduanya.
Merasa bosan, Ricky melempar bola ke keranjang.
"Latihannya besok aja, Sa. Jam 4 sore," ucap Ricky dan berlalu pergi.
Melihat itu, Keisha ikut pamit pada Mahesa. Menunggu sepi sebelum menghampiri gurunya.
"Tadi mamah pak Ricky nelpon, disuruh ke rumah sakit bareng, naik mobil!"
"Iyalah, masa naik elang. Memangnya gentabuana."
*
*
*
*
*
Nih om-om tuanya, Ricky ganti Visual ya, lebih dapat feel yang ini soalnyaš¤
__ADS_1