
Seperti permintaan mamahnya, Ricky dan Keisha berkunjung ke rumah wanita paruh baya itu saat sore harinya. Di tangan Keisha ada sebuah kotak berisi kue kering yang telah dia buat sendiri tanpa bantuan siapapun. Gadis itu belum mencoba kue buatannya, tetapi pak Ricky mengatakan rasanya sangat enak.
Keisha memasuki rumah bu Ratna lebih dulu tanpa menungggu Ricky yang tengah menerima telpon dari seseorang. Senyumannya mengembang saat bu Ratna menyambutnya antusias.
"Akhirnya menantu mamah datang juga. Ayo duduk dulu, Nak! Kita tunggu suami dan tamu mamah satu lagi!" ajak ratna dan dijawab anggukan oleh Keisha. Sebenarnya gadis itu penasaran siapa gerangan tamu yang ditunggu oleh bu Ratna, tetapi dia urung bertanya dan akan bersabar menunggu.
"Kok kotaknya masih dipangku sih? Itu buat mamah bukan?" tanya Ratna.
"Ah iya Kei lupa, Mah. Ini Kei buat kue kering tadi, sekalian bawain buat, Mamah. Kata pak Iky kuenya enak banget, mamah mau coba?" Keisha meletakkan kotak yang dia bawa di atas meja, tidak lupa gadis itu membukanya agar bu Ratna bisa mencicipi.
Keisha menatap mertuanya penuh harap ketika wanita paruh baya itu mulai mengigit kue kering buatannya. Sakin deg-degannya, dia sampai membuka mulut.
"Kuenya enak banget kan, Mah? Iky sampai ketagihan," ucap Ricky mendahului bu Ratna bicara. Pria itu baru saja tiba setelah berbicara dengan kepercayaan papahnya di kantor.
"Iya kue buatan kamu enak, Sayang. Cuma lain kali kalau buat, gulanya ditambahin ya, garamnya cukup 3-5 biji aja, jangan banyak-banyak," jawab bu Ratna.
Ricky meringis, mamahnya selalu tidak bisa diajak kerjasama jika menyangkut tentang makanan. Sementara Keisha mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Nanti Kei perbaiki lagi. Kei baru ingat kebalik masukin bahahnnya," jawab gadis itu meyengir tanpa dosa. Gadis itu bergerak untuk mencicipi kue buatannya sediri. Sungguh, ingin rasanya dia memaki Ricky karena tidak jujur padanya. Andai saja pria itu berkata jujur, dia tidak akan membawanya. Kue buatan gadis itu tidak pantas dikatakan kue, melainkan asinan kering.
"Kenapa bapak nggak bilang sih? Bapak sengaja mau permaluin saya di depan mamah?" bisik Keisha, tidak lupa tangannya bergerak memelintir kulit perut sang suami.
"Sakit Kei, jangan gitu sama suami sendiri," ringis Ricky, untung saja bu Rata tidak ada di hadapan mereka, wanita paruh baya itu tengah membawa kue buatan Keisha ke dapur. Entah mau diapakan, intinya Keisha tidak akan marah sekalipun kue itu dibuang di hadapannya.
__ADS_1
"Suami macam apa yang ...."
Kalimat Keisha terhenti ketika melihat wanita yang sangat dia benci baru saja memasuki rumah dengan senyuman menyebalkan. Refleks, gadis itu semakin memepetkan tubuhnya pada Ricky, tidak lupa memeluk lengan sang suami. Seakan memperlihatkan bahwa Ricky hanya miliknya.
"Ternyata kamu ada di sini, Ky. Aku senang bisa liat wajah kamu lagi," ucap Amelia setelah duduk di hadapan Keisha dan Ricky.
"Nah akhirnya tamu mamah datang juga," cetus bu Ratna yang baru saja keluar dari dapur. wanita paruh baya itu ikut bergabung bersama tiga manusia yang entah isi hatinya seperti apa.
Ratna menatap mereka bertiga satu per satu sebelum akhirnya membuka suara. "Mamah sengaja ngundang kalian bertiga, soalnya mamah mau bicarain hal sangat serius. Bagaimanapun kita harus menyelesaikan masalah kalian bukan? Terlebih sepertinya Amelia masih mencintai kamu Ricky."
Penuturab yang baru saja keluar dari mulut bu Ratna langsung mengusik hati Keisha, terlebih pada kalimat terakhir. Di mana ada wanita yang mencintai suaminya dan bu Ratna tahu itu. Dia menatap Ricky yang tiba-tiba mengenggam tangannya.
"Bapak tau pembicaraan ini?" tanya Keisha berbisik dan dijawab gelengan oleh Ricky.
"Apapun yang terjadi pilihan saya tetap kamu," sahut Ricky. Kedunya kembali memperhatikan bu Ratna yang duduk di samping Amelia.
"Jangan tersinggung ya Nak! Mamah cuma mau nanya aja kok. Kei, apa sampai sekarang kamu belum bisa nerima pernikahan ini, Nak? Apa kamu ada perjanjian sama putra mamah? Misal tenggat waktu pernikahan yang telah disepakati."
Keisha mengangukkan kepalanya, tetapi detik berikutnya malah menggeleng. Gadis itu tampak bingung menjawab pertanyaan mertuanya.
"Jawab aja, nanti saya yang perbaiki."
"Kei sama pak Iky nggak pernah bicarain tetang perpisahan, Mah. Cuma kita pernah buat kesepakatan biar nggak jatuh cinta satu sana lain, tapi sekarang aturannya udah dirobek sama pak Iky. Kei sama pak Iky janji bakal saling suka dan nggak bakal cerai. Iya kan, Pak?" tanya Keisha dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Banar Mah. Kita udah janji bakal saling mencintai," jawab Ricky.
"Sekarang udah saling cinta?" tanya bu Rata.
"Udah, Mah."
"U-udah," jawab Keisha dan Ricky, membuat Amelia yang sejak tadi mendengarkan, kepanasan layaknya setan yang tengah dibacakan ayat kursi.
"Mamah senang dengarnya." Rata tersenyum, wanita itu beralih manatap Amelia. "Tante boleh tau kenapa kamu pernah menghilang, selain sibuk kuliah?"
"Umm ... A-Amel ... Ricky mutusin Amel karena punya pacar baru tante. Amel sedih dan marah karena dikhianati, makanya menjauh dari tante," jawab wanita itu, seiring air mata berjatuhan membasahi pipinya.
"Sepertinya ada hal yang perlu diluruskan, Mah," cetus Ricky yang tidak terima tuduhan dari Amelia. Pria itu melirik Keisha yang tampak terdiam sambil meremas jari-jarinya,
"Kei, tolong ambilin undangan pernikahan yang ada di laci nakas paling bawah ya."
Keisha mengangguk, gadis itu segera berdiri dan menuju kamar pak Ricky. Seperti arahan sebelumnya, dia membuka laci paling bawah dan menemukan undangan pernikahan yang dimaksud Ricky. Sambil berjalan kembali ke ruang tamu, Keisha membaca nama yang tertera sebagai mempelai pengantin.
"Kasian pak Iky, beneran ditinggal nikah, kirain dia bohong. Gue kira pak Iky ngarang cerita karena nggak mau namanya jelek," gumam Keisha.
Setelah mendengar cerita Ricky waktu itu, Keish percaya tidak percaya pada suaminya yang benar-benar dikhianati. Malah Keisha sempat berpikir bahwa Ricky lah yang selingkuh sehingga ditinggalkan oleh Amelia.
"Ini, Pak." Keisha menyerahkan undangan tersebut pada Ricky, sementara Ricky langsung memberikan pada mamahnya.
__ADS_1
"Apa ini, Iky?"
"Undangan pernikahan Amelia 8 bulan yang lalu. Itulah alasan sebenarnya kenapa dia nggak pernah nemuian mamah ataupun Iky. Iky nggak pernah cerita karena nggak mau mamah sedih, Iky juga sebenarnya malu. Iky ngerasa gagal jadi pria karena wanita yang berusaha Iky bahagiakan milih orang lain. Dulu Iky sedih, mikirin apa sebenarnya kekurangan Iky, tapi setelah ketemu Keisha, Iky sadar. Bukan Iky yang kurang, tapi wanita yang ninggalin Iky nggak punya rasa syukur, dan paling memalukannnya lagi, dia datang mau mengambil semua yang telah dia tinggalkan dulu, tanpa sadar, yang dia tinggalkan udah jadi milik orang lain."