Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 9 ~ Misi melindungi istri


__ADS_3

"Semalam kemana?" tanya Ricky yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


Menghampiri Keisha yang duduk di pinggir ranjang dengan wajah bantalnya, gadis itu baru bangun setelah jarum jam menunjukkan angka setengah 7.


"Bukan urusan, Pak Ricky. Toh di dalam perjanjian nggak boleh ngurusin privasi satu sama lain." Acuhnya dan berlalu ke kamar mandi.


"Iya juga sih," guman Ricky.


Tanpa menunggu istrinya selesai mandi, Ricky lantas bersiap-siap ke sekolah. Hari ini tidak ada jadwal olahraga melainkan materi di kelas, sehingga Ricky menggunakan kemeja untuk melengkapi harinya.


"Mau bareng?"


"Kok baik banget sih pak? Hayo udah jatuh cinta ya sama saya? Sorry pak Ricky, saya suka sama orang lain." Melengos begitu saja.


Keisha adalah tipe gadis yang gampang melupakan masalah. Seperti hari ini, gadis itu terlihat baik-baik saja padahal semalam menangis karena kesal dibetak oleh ayahnya.


"Oh iya pak." Berbalik menatap Ricky, tanpa peduli dirinya hanya memakai kimono mandi.


"Saya nggak mau tau, secepatnya kita harus pindah rumah. Saya nggak mau tidur satu kamar sama pak Ricky. Saya terlalu cantik dan menggoda."


"Pede banget, kamu kira saya bakal tertarik?" Ricky mendelik tidak suka.


Keluar dari kamar setelah dirasa tidak ada lagi yang ketinggalan. Bukan hanya Keisha yang ingin pindah rumah, tetapi Ricky pun mau. Ini semua karena Ricky tidak mau jatuh cinta pada Keisha.


Sampai saat ini Ricky tidak mau mempercayakan hatinya pada seorang perempuan, sebab yang Ricky tahu, perempuan adalah pembawa luka.


Berangkat sendiri tanpa menunggu Keisha adalah hal yang Ricky lakukan kali ini untuk menghindari terjadinya darah tinggi.


Sambil menyetir, Ricky memainkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantunya mencari rumah dengan cepat.


Hanya dalam satu deringan, panggilan Ricky telah dijawab oleh sahabatnya.


"Napa, Bro? Tumben nelpon gue," sahut Dito di seberang telpon. Duda tampan yang mempunyai anak 1.


"Sibuk nggak? Cariin rumah dong, yang dekat jalan raya, harga nggak masalah."


"Acie-cie pengantin baru beli rumah. Takut desah*annya kedengaran ya? Anjirlah, setelah tobat ngerep-ngerep akhirnya dapat yang halal juga." Tawa Dito di seberang telpon terdengar membahana.


Meledek Ricky adalah salah satu kesenangan untuk inti Avegas.


"Siap dah, ntar gue kabarin kalau nemu. Kamarnya kedap suara."


Ricky mendengus, mematikan telpon tanpa berpamitan pada sahabatnya. Bukan karena kesal, melainkan telah sampai di lingkungan sekolah.

__ADS_1


Guru olahraga tersebut berjalan di koridor sekolah sambil memperhatikan anak-anak yang sangat rajin bermain basket di lapangan, terlebih Mahesa.


Langkah Ricky berhenti, memperhatikan Mahesa dengan seksama sambil bergumam.


"Muka pas-pas an, lebih tampan saya di mana-mana, dan pastinya udah mapan. Heran sama mata Kei, keknya katarak."


Itulah kalimat-kalimat hinaan yang keluar dari mulut Ricky sebelum akhirnya kembali melangkah.


Memutari lapangan, di mana akan semakin dekat pada lapangan basket, sehingga dapat mendengar obrolan-obrolan ringan Mahesa bersama teman-temannya.


***


Pantulan bola terus terdengar di atas lantai, sorakan dari para pemain terdengar ketika Mahesa berhasil memasukkan bola ke ring.


"Sa?" panggil Tommy, selaku teman dekat Mahesa. Pria yang juga hadir di tempat Karaoke semalam.


"Hm." Fokus melempar bola ke ring, setelah mematulkannya beberapa kali.


"Lo beneran pacaran sama Keisha? Gila sih, gue kira lo cuma manfaatin dia," bisik Tommy.


Tatapan Tommy tertuju pada Keisha dan Aurin yang baru saja terlihat dari area parkiran.


"Ya emang, gue pacarin biar uangnya makin ngalir. Gue suka sama Kei? Gue? Suka sama Kei? Dia bukan selera gue njir."


Mahesa tertawa meledek, dalam hati pria itu sama sekali tidak ada Keisha. Dia hanya memanfaatkan Keisha yang kebetulan menyukainya. Salahkan Keisha juga karena terlalu bodoh karena cinta.


"Biarin."


"Kak Mahesa!" panggil Keisha berhasil menghentikan pembicaraan Tommy dan Mahesa.


Senyuman gadis itu terlihat sangat indah, tatapan berbinar selalu terlihat ketika berada di dekat Mahesa.


"Kakak udah sarapan? Gue bawa bekal dan belum sarapan di rumah. Ayo makan bareng!"


"Boleh."


Melempar bola ke arah Tommy dan meraih tangan Keisha menuju kelas. Meninggalkan Aurin dan Tommy di tengah lapangan.


"Rin, gue ...."


"Pak Iky!" pekik Aurin tanpa ingin mendengar kalimat bualan yang akan keluar dari mulut mantannya.


Gadis itu berlari menghampiri Ricky yang sejak tadi berdiru tidak jauh dari lapangan, mendengar semua pembicaraan Tommy dan Mahesa.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Nggak papa, pengen jalan bareng pak Ricky aja ke kelas." Cengir Aurin. Berusaha mendekati guru tampan yang ramah pada semua siswa, terkecuali pada Keisha yang sering kali di suruh membersihkan Wc atau menghormat tiang bendera.


Pikira Ricky tengah melayang pada pembicaraa Mahesa tadi. Rasanya dia menyesal telah membangga-banggakan Mahesa sebagai siswa andalannya.


Jujur saja Ricky marah mengetahui fakta Keisha hanya dimanfaatkan oleh Mahesa. Ricky tidak akan membiarkan Keisha terluka, meski tidak ada rasa cinta tapi Keisah tetaplah istrinya.


"Jam istirahat nanti, suruh Keisha menghadap ke ruang guru," ucap Ricky pada Aurin dan berlalu pergi.


Sedangkan Aurin melanjutkan langkahya menuju kelas, berbeda dengan Keisha dan Mahesa yang berada di kelas pria itu sendiri.


Dengan penuh senyuman, Keisha menyuapi Mahesa sedikit demi sekit. Pipi gadis itu merona karena salah tingkah.


"Gue nggak pernah nyangka bakal pacaran sama kak Mahesa. Tau nggak kak? Gue udah suka dari kelas satu. Awalnya gue takut deketin karena banyak yang suka sama kak Mahes, tapi ...." Keisha mengigit bibirnya malu.


"Kenapa?"


"Kakak respon gue."


"Itu karena lo cantik." Menjawil hidung Keisha, di mana membuat gadis itu semakin salah tingkah.


Keisha baru meninggalkan kelas Mahesa setelah bel pelajaran pertama berbunyi. Berjalan menuju kelasnya sambil bersenandung kecil. Menepuk-nepuk pipinya yang terasa sangat panas.


Dia mendaratkan bongkoknya tepat di samping Aurin.


"Demi apa gue senang banget, Rin. Lo harus tau, gue sama kak Mahesa udah jadian!" ucapnya.


"Serius lo?" Mata Aurin membulat. "Demi ratu Jodha?"


"Demi raja jalal, Aurin. Semalam kak Mahesa ngakuin gue di depan teman-temannya. Ah rasanya bahagia banget dah."


"Yah, nggak dapat uang jalan lagi dong." Aurin memanyunkan bibirnya.


"Lah?"


"Ish, gue kan morotin lo gunain foto-foto dan informasi kak Mahesa. Sekarang lo udah dapat orangnya, nggak guna lagi dong gue. Dah lah, gue mau pelet pak Iky aja, mayan dapat om-om mapan."


"Jangan!" cegah Keisha dengan refleks. Hal itu membuat Aurin bingung.


"Kenapa?"


"Ya-ya karena pak Ricky itu galak, emosian dan pelit."

__ADS_1


"Tau dari mana?" Aurin semakin menatap sahabatnya penuh selidik.


"I-intinya jangan sama pak Iky!"


__ADS_2