
"lantas jika saya yang memohon kepada Gus di depan banyak orang, apakah Gus meng iya kan permohonan saya?" tanya Humairah
"sudah berkali-kali saya bertanya mengenai hubungan kita sebelumnya, namun Gus tidak memberikan jawaban apapun" sambungnya
"Huma, aku sudah berniat melamar mu saat itu. namun kedua orang tua Nafa ternyata lebih dahulu memohon kepada Abi dan Umi untuk menerima Nafa sebagai calon istri ku" jawab Gus Irham
"apakah Gus mempercayai begitu saja apa yang dikatakan oleh Nafa tanpa adanya bukti? Gus bukan orang yang gampang percaya kan" tanya Humairah
"aku tidak percaya akan hal itu, namun karena desakan dari para santri yang tak lain teman Nafa dan juga para pengurus pondok yang kasihan melihat kondisi Nafa. akhirnya aku meng iya kan hal itu" jawab Gus Irham
"aku bahkan tidak pernah merespon apapun yang dikatakan oleh nafa, jika kamu tidak mempercayai ku, kamu bisa melihat handphone ku atau bahkan nanti saat kita kembali ke Indonesia kamu bisa melihat sendiri" sambungnya
"aku memaafkan panjenengan Gus"
"namun, jika nanti kebenaran ada di pihak Nafa, insyaallah saya akan ikhlas menerima apa pun keputusan yang Gus ambil. jika suatu saat Nafa lah yang menjadi pendamping hidup panjenengan, maka tolong jangan temui saya lagi saat itu" jawab Humairah
"tetap lah berada di sisi ku Huma, maafkan aku yang tidak bisa berbuat apapun saat ini" ucap Gus Irham sembari meneteskan air mata
"aneh sekali, seseorang yang meminta saya pergi kemarin. hari ini orang itu meminta saya untuk tetap tinggal menemaninya" ucap Humairah sambil tertawa
"maafkan aku" jawab Gus Irham parau
"mengapa Gus Irham yang saya kenal tidak pernah banyak berbicara menjadi sangat cerewet dan mudah menangis seperti ini? saya akan tetap berada di sisi Gus. namun jika suatu saat Nafa yang menang, izinkan saya pergi" ucap Humairah
"kamu lah yang akan jadi pemenang nya nanti"
"maafkan aku yang sangat mudah percaya hanya dengan kata-kata, temani aku untuk membuktikan kebenarannya" pinta Gus Irham
"insyaallah" jawab Humairah
beberapa saat kemudian keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut. disisi Humairah dia yakin bahwa keputusan yang dia ambil kali ini benar, jika Nafa terbukti salah maka kebahagiaan akan berpihak kepadanya namun jika sebaliknya maka ia akan siap-siap menerima luka yang amat sakit ketika melihat sang pujaan hati bersama orang lain...
Gus Irham yang melihat Humairah melamun pun lantas membuka pembicaraan di antara keduanya...
"apakah kamu tidak lapar?" tanya Gus Irham
"tidak Gus" jawab Humairah
"makan dulu ya" pinta Gus Irham sembari membawakan makanan yang sudah satu jam tidak tersentuh karena Humairah yang menolak makan
__ADS_1
"saya tidak lapar Gus" jawab Humairah
"meskipun tidak lapar, kamu juga harus makan agar tubuhmu cepat pulih" ucap Gus Irham
"memikirkan suatu hal sampai berlarut-larut memang membuat kita tidak berselera makan, rasa lapar pun tidak akan terasa jika fokus kita lebih pada pikiran. kamu pasti tahu kan akan hal itu? jangan sampai nanti saat pulang ke Indonesia tubuhmu semakin kurus, nanti yang disalahkan pasti aku" sambung Gus Irham dengan nada cerewetnya
"memang ini karena Gus" batin Humairah
"jangan terbiasa berbicara dalam hati untuk mengomeli kesalahan orang lain, orangnya sekarang ada disini jadi bicaralah secara langsung Huma" ucap Gus Irham yang sudah duduk di kursi samping tempat tidur Humairah
"hmm iyaa" jawab Humairah
"Humairah Aisyah Fatimatuzzahra Abdurrahman" ucap Gus Irham sembari melihat ke arah Humairah
"iyaa saya akan makan" jawab Humairah
"makan yang banyak ya" ucap Gus Irham sembari tersenyum
"sudah lama aku tidak melihat senyuman itu" batin Humairah
"mulai sekarang aku akan terus tersenyum di hadapanmu, tersenyum bersamamu, dan selalu ada untukmu" ucap Gus Irham
"jika aku bisa, aku akan mendahului takdir Allah Huma. aku akan menikahi mu sekarang juga jika bisa, namun aku tidak akan melakukan hal itu jika urusan yang sebelumnya belum selesai" ucap Gus Irham
"saya juga tidak ingin di cap sebagai wanita perebut calon suami orang karena tiba-tiba menikah dengan panjenengan, meskipun tanpa sepengetahuan mereka bahkan kita berdua sudah bersama bertahun-tahun. Jika saya egois, saat mendengar kabar pertunangan panjenengan saat itu saya akan upload foto kita berdua dan menyebarkan ke semua sosial media" terang Humairah
"tapi untungnya saya masih memiliki hati nurani, saya ingin marah namun bagaimana bisa saya marah jika hubungan kita saja tidak ada yang tahu. lantas apa yang di pikirkan orang-orang jika tiba-tiba saya mengaku-ngaku sebagai pasangan panjenengan, dan marah-marah karena panjenengan meninggalkan saya untuk bertunangan dengan gadis yang bahkan baru beberapa bulan panjenengan kenal" sambungnya dengan air mata yang sudah mengalir deras
dengan tiba-tiba Gus Irham memeluk Humairah. hal yang tidak pernah Gus Irham lakukan sebelumnya meskipun Humairah menangis dengan deraian air mata, biasanya Gus Irham memilih untuk pergi saat Humairah menangis namun kali ini Gus Irham memeluknya...
"saya tidak ingin dicintai karena panjenengan kasihan pada saya Gus" ucap Humairah tiba-tiba
"Humairah, apa yang kamu katakan?" tanya Gus Irham
"bagaimana bisa kamu berfikir seperti itu?" tanya Gus Irham Kembali
"maafkan saya Gus" jawab Humairah
"menangis lah jika ini membuatmu tenang, maafkan aku karena sudah menyakiti hatimu selama ini" ucap Gus Irham
__ADS_1
"terima kasih anda masih bersama saya sekarang" ucap Humairah
"sama sama Humairah" jawab Gus Irham
"lanjutkan makan mu ya, aku akan ke masjid lebih dahulu. handphone ku aku tinggal disini, nanti jika ada yang menghubungi sampaikan bahwa aku masih shalat" pinta Gus Irham
"baik Gus" jawab Humairah
Gus Irham pergi meninggalkan Humairah sendirian di ruangannya. untuk mengatasi kesunyian, Humairah memilih untuk menyalakan televisi yang ada di ruangannya sembari melanjutkan makannya. memang benar sebenarnya perutnya itu lapar namun rasa lapar itu kalah dengan gejolak pikirannya...
Ting....
Ting....
terdengar nada dering pesan dari handphone Gus Irham
"siapa ya yang mengirim pesan ke Gus Irham, apa aku harus membukanya? tapi tadi Gus Irham sudah berpesan untuk membukanya" gumam Humairah
dia takut saat akan menyentuh handphone Gus Irham karena takut jika hal itu penting...
"hmm aku buka saja lah"
saat meraih handphone Gus Irham, tiba-tiba ada telepon masuk. sang penelepon tak lain adalah Nafa...
memang benar apa yang dikatakan Gus Irham sebelum bahwa tidak ada yang spesial dari pesan-pesan nya dengan Nafa...
Humairah mengangkat telepon tersebut dengan tangan gemetar, kali ini dia akan berbicara langsung dengan wanita yang hampir merebut sang pujaan hati...
"assalamualaikum Gus" terdengar suara wanita di seberang telepon
"wa'alaikummussalam" jawab Humairah
"maaf ini handphone Gus Irham kan?" tanya Nafa memastikan jika yang ia telepon benar Gus Irham
"iya betul" jawab Humairah
"maaf anda siapa ya kok bisa pegang handphone calon suami saya" ucap Nafa
kata calon suami yang di ucapkan oleh Nafa mampu membuat Humairah goyah, namun dengan segala keyakinannya dia mampu menjawab Nafa...
__ADS_1
"Humairah" jawab Humairah