
"iya naf, tetep optimis kamu pasti bisa" sahut Rika
Gus Irham dan Humairah berhenti sedikit lama di belakang panggung karena ada telepon dari handphone Humairah, awalnya ia meminta Gus Irham untuk masuk terlebih dahulu namun Gus Irham menolak...
"siapa sayang?" tanya Gus Irham kepada sang istri
"Arafah, dia hadir dalam pengajian kali ini" jawab Humairah, ia tidak perlu menjelaskan siapa Arafah karena Arafah adalah salah satu sahabat yang dimiliki oleh Humairah semasa ia SMA
"oh bagus kalau begitu, kamu sudah lama tidak bertemu dengannya kan?" tanya Gus Irham
"iya sudah sangat lama" jawab Humairah
"baiklah ayo kita masuk, pasti acara sudah akan dimulai" ajak Gus Irham
Humairah berjalan di depan sesuai permintaan Gus Irham, tidak seperti pasangan yang baru menikah lainnya. Kebanyakan pasangan akan berjalan berdampingan, namun hal itu kali ini harus dihindari mereka berdua karena status mereka belum baru diketahui oleh keluarga inti saja...
Namun tanpa disengaja saat akan naik ke atas panggung tiba-tiba kain rok Humairah tersangkut menyebabkan ia terjatuh ke belakang dan di sambut oleh tangan Gus Irham, hal itu membuat banyak orang tercengang dengan kesigapan Gus idaman mereka itu...
"Astaghfirullah" ucap salah seorang santri yang duduk di baris paling depan membuat Humairah dan Gus Irham sadar jika disekelilingnya ada banyak pasang mata uang sedang memandang mereka berdua
Humairah buru-buru menyeimbangkan tubuhnya agar bisa berdiri kembali kemudian berjalan ke sisi kanan dimana tempat para pengurus wanita berkumpul sedangkan Gus Irham berjalan ke sisi kiri...
"lama sekali nduk?" tanya Umi Salamah
"tadi ada telepon Umi jadi kami berhenti sebentar" jawab Humairah
"oh Umi kita kalian sudah nyicil buatin Umi cucu, sampai Umi tadi sempat mau melarang saat Abi mu meminta mas-mas ndalem buat manggil kalian. takutnya kalian terganggu" ucap sang Umi
"Umiii" ucap Humairah dengan nada pelan karena malu
"nggak apa-apa nduk, hal itu wajar bagi pasangan pengantin baru. kami juga ingin segera menimang cucu ya besan " ucap Umi Salamah
Humairah semakin malu dibuatnya karena bingung haru menjawab apa perkataan kedua Umi nya memang benar bahkan mereka berdua hampir melakukan hal itu jika saja mas-mas ndalem tidak mengetuk pintu kamar mereka...
__ADS_1
"kenapa bengong nduk?" tanya Umi Salamah
"nggak Umi, saya sedang mengingat-ingat shalawat yang nanti akan saya lantunkan" jawab Humairah sopan
"oh begitu" ucap Umi Salamah
"untung saja ada alasan" batin Humairah
Ting..
terdengar bunyi pesan di handphone yang Humairah pegang
*Gus Irham*
"sayang, kenapa mukanya merah gitu?" tanya Gus Irham melalui pesan WhatsApp yang ia kirimkan
"Tak apa Gus, ini karena Umi menggoda saya" jawab Humairah
"Di goda bagaimana?" tanya Gus Irham
"Sepertinya itu sebuah permintaan sayang, agar kita cepat memberikan Umi cucu" ucap Gus Irham yang malah menggoda balik sang istri
"Sepertinya Gus dan Umi sama saja suka iseng kepada saya" keluh Humairah
"hehehe bercanda sayang, jangan cemberut gitu. nggak manis kalau dilihat orang" bujuk Gus Irham sembari melihat ke arah istrinya yang tertunduk
"baik Gus" jawab Humairah
"Gus lagi? kalau seperti ini rasanya saya seperti berbicara dengan anak-anak pesantren" ucap Gus Irham mengeluh
"maaf sayang" jawab Humairah
"ya sudah kita akhiri disini dulu, tidak baik jika dilihat orang kita main handphone terus" ucap Gus Irham
__ADS_1
"baik sayang" jawab Humairah
karena panggilan itu membuat wajah Gus Irham menjadi memerah, hal itu diperhatikan oleh sang Abi. Kedua Abi nya tahu jika Gus Irham dan Humairah sedang saling berbalas pesan melalui telepon karena beliau memerhatikan ekspresi kedua putra dan putrinya itu...
"Kamu ini nak, main handphone ketawa-ketawa sendiri. Kalau orang nggak tahu kamu main handphone nanti dikiranya obatmu habis" ucap Kyai Ahmad menggoda sang putra
"Biarkan saja Kyai, namanya juga pengantin baru. mau komunikasi saja harus lewat handphone karena masih malu-malu" tambah Kyai Hasan
"Betul juga Kyai, apalah daya di zaman kita dulu nggak ada yang nama nya handphone. Jadi kalau sedang ada acara ya nahan buat nggak komunikasi dulu, apalagi kalau ada ziarah wali karena harus profesional ya bisa berhari-hari nggak sayang-sayang an" imbuh Kyai Ahmad
Gus Irham hanya mampu menggaruk-garuk tangan nya yang tak gatal karena di goda oleh sang Abi
"Gus, lihatlah Huma juga sedang tersipu malu karena di goda oleh Umi nya" ucap Kyai Hasan
"Semoga saja saat nanti mereka tengah berduaan tidak malu-malu seperti ini, kalau tetap malu-malu nanti nya kita akan menunggu lama untuk mendapatkan cucu" ucap Kyai Ahmad
"Benar juga Kyai"
"Nak, kami semua disini menunggu cucu dari kalian berdua. karena Huma juga anak perempuan Abi satu-satunya jadi Abi dan Umi sangat berharap secepatnya melihat putra putri kalian" ucap Kyai Hasan
"Baik Abi, kami akan berusaha" jawab Gus Irham
entah apa yang akan ia katakan nanti kepada Humairah mengenai harapan Abi dan Umi mereka, ia berharap semoga saja sang Umi juga membicarakan hal itu kepada Humairah agar mereka berdua bisa membicarakan hal itu tanpa canggung karena sudah dibuka pembicaraan oleh orang tua mereka...
tak lama acara sudah dibuka, karena ini pengajian tahunan maka akan ada beberapa sambutan dari pengurus pondok dan juga dari beberapa Kyai atau Gus yang menjadi idola bagi para santri...
Setelah acara dibuka, tak lama Kyai Hasan sebagai tuan rumah memberikan sambutan dilanjutkan oleh Gus-Gus yang membantu mengajar di pondok...
Tak disangka-sangka oleh para santri ternyata Gus Irham yang turut hadir juga memberikan sambutan, hal itu membuat para santri yang kagum dengan Gus Irham tampak ramai berbincang-bincang mengenai Gus yang kini menjadi suami dari Ning pondok mereka....
"Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh" ucap Gus Irham
"Wa'alaikummussalam Warahmatullahi wabarakatuh" jawab semua dengan sangat kompak dan semangat terlebih pada santri yang sudah menunggu momen tersebut
__ADS_1
"Kepada yang terhormat Kyai Hasan selaku pimpinan pondok pesantren, kepada yang terhormat Kyai-kyai yang turut hadir, Gus dan juga Ning yang saya hormati, serta santriwan santriwati yang saya banggakan............" sambutan Gus Irham berlangsung beberapa menit, ia hanya menyampaikan beberapa poin penting saja, namun di penghujung sambutan salah seorang santri memberikan pertanyaan kepada sang Gus
setelah memberi salam dan memperkenalkan diri, ia mulai menyampaikan pokok pertanyaan sebelum akhirnya ia bertanya mengenai cincin yang bertengger di jari manis Gus Irham