
"Huma hanya bercerita jika dia dekat dengan seseorang saat dia menolak lamaran beberapa orang saat itu, namun dia tidak pernah menyebutkan siapa namanya. Seperti nya kita semua perlu bertanya kepada istri-istri dari anak kita Abi, karena saat pulang Huma sering menghabiskan waktu dengan menantu kita" ucap Umi Fatimah menjelaskan
"baiklah, nanti kita sekalian berkumpul untuk mendiskusikan hal ini" jawab Kyai Ahmad
setelah sampai di kediaman Kyai Hasan, mereka segera menuju tempat pertemuan karena pengurus pondok yang lain sudah menunggu mereka datang. sedangkan Umi Salamah yang tidak ikut acara tersebut di ajak oleh Umi Fatimah untuk singgah di rumahnya...
"Bu Nyai silahkan masuk" ucap Umi Fatimah kepada Umi Salamah
"jangan memanggil saya seperti itu Umi, kita saling panggil Umi saja. tidak perlu se formal itu" jawab Umi Salamah
"baiklah"
"mbak, tolong buatkan minum untuk tamu kita" ucap Umi Fatimah kepada art di rumahnya
"nggeh Umi" jawab mbak-mbak tersebut
"mbak, apakah Nisa dan Zahwa ada di rumah?" tanya Umi kembali
"Ning Nisa dan Ning Zahwa ada di halaman belakang Umi"
"sedang bermain dengan anak-anak?" tanya Umi lagi
"tidak umi, Gus kecil sedang tidur di kamarnya" jawab mbak tersebut
"baiklah, kalau begitu tolong panggilkan Nisa dan Zahwa ya mbak. diminta Umi untuk ke ruang tamu" pinta Umi Fatimah
"baik Umi" jawabnya
tak lama setelah mbak tersebut pergi, Ning Nisa dan Ning Zahwa datang menuju ruang tamu. mereka berdua kaget melihat siapa yang sedang berbincang dengan ibu mertuanya tersebut...
mereka saling melirik satu sama lain karena tidak biasanya saat Umi Salamah datang ke kediaman mertuanya, mereka berdua di panggil seperti ini...
"Assalamualaikum Umi" ucap Ning Nisa dan Ning Zahwa bersamaan
mereka berdua menyalami Umi Fatimah dan Umi Salamah secara bergantian
__ADS_1
"wa'alaikummussalam" jawab kedua Umi tersebut
"duduklah Nisa, Zahwa" pinta Umi Fatimah
Ning Nisa dan Ning Zahwa yang berniat duduk di bawah di cegah oleh Umi Fatimah
"duduklah di atas, masih banyak kursi yang kosong nak" pinta Umi Fatimah dan akhirnya mereka berdua menuruti ibu mertuanya
"ada hal yang ingin kami tanyakan nak" ucap Umi Fatimah setelah Ning Nisa dan Ning Zahwa duduk di kursi
"nggeh Umi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ning Nisa yang notabene lebih tua dari Ning Zahwa
"ini terkait Huma" jawab Umi Fatimah membuat kedua menantunya saling memandang satu sama lain
benar dugaan mereka jika dipanggil nya mereka tadi ada hubungannya dengan Humairah dan Irham..
"nggeh Umi?" tanya Ning Nisa
"mohon maaf menyela, ini minumannya Umi" ucap mbak-mbak yang diminta untuk membuatkan minum
"terimakasih mbak" ucap semuanya yang hanya di mendapat anggukan serta senyuman dari mbak tersebut
"silahkan diminum Umi Salamah" ucap Umi Fatimah
"terimakasih" jawab Umi Salamah
"Nisa, Zahwa, Umi tahu bahwa kalian lah yang paling dekat dengan Huma. kalian yang sering menghabiskan waktu dengan Huma saat Huma kembali dari liburannya, apakah ada hal yang tidak Umi ketahui yang Huma ceritakan ke kalian berdua?" tanya Umi Fatimah yang langsung to the poin membuat Nisa dan Zahwa saling memandang
"mohon maaf Umi, yang Umi maksud terkait hal apa nggeh?" tanya Ning Nisa memastikan
"terkait hubungan Ning Humairah dan Irham nak" jawab Umi Salamah
"mohon maaf Umi, untuk hal itu kami sudah berjanji kepada Huma untuk tidak menceritakan nya kepada siapapun" jawab Ning Zahwa memohon maaf
"Umi mohon nak, hanya kalian lah yang selalu mendengar cerita dari Huma. kami sudah mengetahui hubungan mereka, bahkan Gus Irham sendiri yang menceritakannya" ucap Umi Fatimah
__ADS_1
"hanya kalian yang bisa membantu kami mengambil keputusan untuk langkah selanjutnya" sambungnya
mereka berdua saling pandang karena pesan Humairah untuk tidak menceritakan kepada siapapun, namun saat mendengar Irham sudah bercerita mau tidak mau mereka juga menceritakan yang sebenarnya...
"Umi, Gus Irham dan Huma sudah memiliki hubungan tersebut dari lama. sebetulnya mereka sering bertemu saat masih sama-sama di Indonesia, mereka sering menghabiskan waktu bersama kami berdua saat kami berbelanja. namun mereka meminta agar hal itu dirahasiakan terlebih dahulu, karena mereka tidak ingin ada masalah di kemudian hari yang membuat nama pesantren kita yang tercoreng. Bahkan saat ulang tahun Huma, Gus Irham sempat memberikan cincin kepada Huma sebagai tanda komitmen antara mereka." jelas Ning Nisa
"satu hari setelah sampai di Maroko, Huma menelepon kami yang kebetulan saat itu sedang bersama. Dia bercerita mengenai sikap Gus Irham yang berubah tidak seperti biasanya dan hari ini pun Huma menelepon kami, dia memberikan kabar yang sangat mengejutkan terkait pertunangan Gus Irham dan Nafa. hal itu tentunya membuat Huma sangat sedih Umi, Huma berkata bahwa sekarang dia sedang berada di telaga namun saat tengah berbincang tiba-tiba dia berkata bahwa cincinnya jatuh ke danau. setelah itu kami hanya mendengar suara seperti ada sesuatu yang tercebur ke air, dan Huma sudah tidak mendengar panggilan kami lagi dan tiba-tiba telepon terputus. hal itu membuat kami panik Umi, sampai sekarang dia tidak menjawab telepon saya" jelas Ning Zahwa
"adik kalian sedang berada di rumah sakit" ucap Umi Fatimah membuat mereka berdua kaget
"maksud nya Umi, Huma sedang berada di rumah sakit?" tanya Ning Zahwa
"iya nak" jawab Umi Fatimah
"apa yang kami dengar itu..." ucap Ning Nisa terpotong
"Ning Humairah jatuh ke telaga Ning" jawab Umi Salamah
"bagaimana keadaannya sekarang Umi?" tanya Ning Zahwa
"sekarang Ning Humairah sudah berada di rumah sakit bersama Irham nak" jawab Umi Salamah
"setelah Ning Humairah pulih, mereka akan kembali bersama ke Indonesia nak" sambungnya
"Ya Allah, bagaimana bisa hal itu terjadi kepada Huma" gumam Ning Nisa
"semua sudah takdir kak, kita hanya bisa menerima semua itu karena sudah terjadi" ucap Ning Zahwa menguatkan Ning Nisa, diantara mereka berdua memanglah Ning Zahwa yang paling bijak
"setelah selesai musyarawah pesantren, kita akan membahas kelanjutan hubungan mereka Ning. jadi tolong ceritakan apapun yang Humairah kita katakan kepada kalian nak, nanti kita akan menyambungkan telepon dengan Gus Irham agar semakin jelas" kata Umi Fatimah
"baik Umi" jawab keduanya bersamaan
mereka ber empat menunggu Kyai Hasan dan Kyai Ahmad di ruang keluarga karena saat di ruang tamu dapat terlihat dari luar sehingga tidak dapat fokus pada pembicaraan...
ketiga kakak Humairah pun juga turut di undang dalam pembicaraan ini karena mereka lah yang selalu melindungi Humairah kapanpun dan dimaapun...
__ADS_1