
"baiklah kalau begitu, aku akan membagikan bajunya kepada yang lain dahulu. untuk bajumu aku tinggal disini Zahwa" jawab Ning Nisa
"baik kak"
Humairah melihat dirinya yang sedang di rias oleh Ning Zahwa melalui pantulan cermin, terlihat sangatlah cantik. Dia berpikir riasan ini hanya lah untuk pengajian Akbar nanti karena dia diberi tugas untuk menjadi vokal shalawat...
"kak mengapa riasan ini begitu tebal, tidak seperti biasanya?" tanya Humairah
"tidak Humaira, ini masih terlihat natural kok jadi kamu tidak perlu khawatir" jawab Ning Zahwa
"mari Humairah, kamu ganti baju dengan baju ini yaa" pinta Ning Zahwa
Humairah menuruti apa kata kakak iparnya itu, dia berganti pakaian dengan gaun putih yang sudah di siapkan oleh kakak iparnya. sebenarnya gaun tersebut adalah gaun yang dibelikan oleh Gus Irham namun Humairah tidak mengetahui nya...
"mengapa gaunnya seperti ini" ucap Humairah saat sudah memakai gaun tersebut
"seperti mau akad nikah saja" gumamnya namun ia tetap memakainya
setelah selesai berganti pakaian, Humairah keluar menuju tempat kakak iparnya. dia masih bertanya-tanya mengapa ia harus memakai gaun seperti ini...
"kak, mengapa gaunnya seperti gaun akad?" tanya Humairah
"kamu duduk lagi ya, aku akan memasangkan hijabnya" ucap Ning Nisa yang datang dari arah belakang
"kak, mengapa aku di rias seperti ini?" tanya Humairah lagi
belum sempat kedua kakak iparnya menjawab, Kyai Hasan sudah berada di ambang pintu dan akan masuk ke dalam kamar putri bungsunya itu
"Assalamualaikum" ucap Kyai Hasan
"wa'alaikummussalam Abi" jawab semuanya
"Ning, pasti kamu bertanya-tanya mengapa kamu di rias seperti pengantin" ucap Kyai Hasan
"iya Abi, mengapa Humairah dirias seperti ini?" tanya Humairah
karena merasa hal ini hanya perlu di bicara kan oleh Abi dan Humairah, kedua kakak ipar Humairah memilih untuk keluar dari kamar tersebut...
"Ning, beberapa hari yang lalu ada seorang yang meminta Ning untuk dijadikan istrinya" jawab kyai Hasan
"Abi?" ucap Humairah tidak menyangka
"Abi kemarin sudah bertanya kepada Ning Humairah jikalau ada seseorang yang meminang Ning dan Abi menerima nya, maka Ning akan menerima bukan?" tanya Kyai Hasan
"benar Abi" jawab Humairah
"Abi sangat yakin dengan orang ini Ning, dia akan menjaga Ning kapanpun dan dimana pun jadi tolong terima dia apa adanya ya Ning" pinta Kyai Hasan
__ADS_1
"jika ini sudah menjadi keputusan Abi, saya tidak bisa menolaknya. saya akan berusaha menerima semuanya Abi" jawab Humairah
"terimakasih Ning" ucap Kyai Hasan
"maafkan Abi mu ini yang tidak bisa berkata jujur tentang siapa orang yang akan meminang mu, ini semua atas permintaan orang yang kamu cinta sekaligus calon suami mu" batin kyai Hasan
"baiklah kalau begitu Abi tinggal terlebih dahulu ya. nanti saat selesai akad, suami mu akan datang kemari jadi persiapkan dirimu" pesan Kyai Hasan
"baik Abi" jawab kyai Hasan
setelah kyai Hasan keluar, tak lama Ning Nisa dan Ning Zahwa masuk kembali untuk melanjutkan memasang jilbab yang akan dipakai Humairah....
namun langkah mereka terhenti saat mendengar isak kan tangis sang adik ipar
"ada apa Humairah?" tanya Ning Nisa panik
"kakak, mengapa semua ini terjadi pada Huma?" tanya Humairah
"mengapa Huma harus menikah dengan orang yang tidak Huma cintai, bahkan Gus Irham dan Huma saat ini masih mencari kebenaran untuk kami kedepannya" sambungnya
"Humairah tenang lah, semua ini sudah kehendak Allah. kita hanya bisa menerima semuanya dengan ikhlas, kita tidak boleh memaksakan kehendak" ucap Ning Zahwa
"bahkan setelah Abi mengetahui hubungan kami, apakah Abi tidak menyetujuinya kak?" tanya Humairah
"Humairah, yakinlah bahwa pilihan Abi kali ini akan membuatmu bahagia dunia akhirat" jawab Ning Nisa
"sudah ya jangan menangis" pinta Ning Nisa sembari mengelap air mata Humairah dengan tissue
"untung saja make up nya waterproof jadi tidak luntur saat kamu menangis" ucap Ning Zahwa berusaha mencairkan suasana
"sudah kamu ganti baju dulu Zahwa, aku akan melanjutkan ini" ucap Ning Nisa
"baik kak" jawab Ning Zahwa kemudian masuk ke dalam kamar mandi Humairah
30 menit kemudian semua persiapan sudah selesai termasuk persiapan menghias kamar pengantin baru tersebut, semua itu dilakukan oleh kedua kakak iparnya...
sesuai pesan sang Abi, Ning Nisa dan Ning Zahwa diminta untuk menemani Ning Humairah sampai akad selesai dan sampai suami Ning Humairah datang untuk menjemput Humairah di dalam kamar...
"jangan melamun seperti itu Humairah, tidak baik" ucap Ning Zahwa
"kak, apakah Gus Irham tahu tentang pernikahanku ini?" tanya Humairah
"mungkin beliau tahu Humairah, beliau salah satu undangan dalam pengajian Akbar nanti" jawab Ning Nisa
Humairah menghela nafas panjang, sementara kedua kakaknya merasa kasihan karena Humairah tidak mengetahui siapa calon suaminya. Jika ia mengetahui pasti dia sekarang sudah lompat-lompat kegirangan...
disisi lain, Gus Irham yang baru sampai di kediaman kyai Hasan merasa sangat gugup. ia sudah berpakaian rapi memakai kemeja putih, jas hitam dan sarung hitam...
__ADS_1
saat akan masuk ke dalam rumah, Umi Fatimah mengalungkan kalung melati seperti pada calon mempelai laki-laki di luaran sana pada umumnya...
karena acara ini memang dilakukan secara sederhana maka dari itu hanya keluarga inti saja yang menghadiri acara tersebut dan beberapa mas-mas ndalem dari pondok kyai Ahmad yang membantu membawakan seserahan...
setelah semuanya siap, akad nikah dimulai...
"untuk mempelai laki-laki apakah sudah siap?"tanya penghulu
"sudah pak" Jawab Gus Irham
"baik Kyai Hasan selaku abi dari mempelai wanita yang akan menikah kan secara langsung" ucap sang penghulu
"baik"
"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Kyai Hasan mengawali
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Humairah Aisya Fatimatuzazzahrah alal mahri _______ hallan"
"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq" jawab Gus Irham
"bagaimana para saksi?" tanya penghulu
"sah"
"sah"
"Alhamdulillah"
kemudian kyai Ahmad yang juga berada di sana memimpin doa...
selesai doa, Gus Irham menyalami kedua orang tua nya juga mertua nya. ia tampak melihat ke sekeliling rumah karena sang pujaan hati yang baru menyandang gelar sebagai istrinya itu belum menampakkan diri...
Umi Fatimah yang menyadari hal itu langsung mendekat ke arah Gus Irham
"Humairah ada di kamarnya Gus, mari" ajak Umi Fatimah diikuti oleh Umi Salamah juga
mereka bertiga naik ke lantai 2 tempat kamar Humairah berada
Tok...
tok....
tok....
"Assalamualaikum" ucap Umi Fatimah
"Wa'alaikummussalam" jawab Ning Zahwa membuka pintu namun tidak terlalu lebar, setelah melihat siapa yang datang ia bergegas mempersilahkan masuk
__ADS_1