
"ham, ini ada titipan dari kakak ipar nya Azzahra" ucap si pengetuk pintu yang tak lain adalah Gus Ilyas
ia memang tak langsung pulang karena sedang menunggu kakak-kakak nya menyelesaikan dekorasi pada seserahan yang akan diberikan kepada Humairah besok...
"oh iyaa makasih Yas" jawab Gus Irham setelah menerima titipan itu
setelah Gus Ilyas beranjak dari tempatnya, Gus Irham kembali masuk ke dalam kamar membuka titipan dari calon kakak iparnya tersebut...
yang dititipkan ialah secarik kertas surat...
....................
"Azzahra pernah berkata jika ia ingin saat akad nanti menggunakan bahasa Arab, jadi saya memberikan ini untuk Gus. siapa tahu Gus nanti lupa dan ya Azzahra ingin calon suaminya mengucap akad secara lantang seperti Gus Ali saat menikahi saya dulu. Terimakasih sudah memberikan kepastian kepada adik kami, jangan pernah membuat ia menangis lagi" kira-kira begitulah isi surat tersebut
di bawahnya bertuliskan lafadz akad nikah dalam bahasa Arab
قبلت نكاحها وتزويجها على المهر المذكور ورضيت بهى والله ولي التوفيق
Latin:
Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq.
................
"kenapa jadi gugup begini" ucap Gus Irham sembari menyeka keringat di dahi nya
dia bertekad untuk menghafalkan semuanya dengan yakin, meskipun sebetulnya ia sudah paham lafadz nya namun ia takut gerogi dan lupa apalagi pesan Humairah yang ingin calon suaminya mengucap akad seperti Gus Ali saat menikah...
pasalnya Gus Ali sangat mantap mengucap akad saat itu sampai membuat para tamu undangan tersenyum lega...
"bismillahirrahmanirrahim" ucapnya
setelah berulang kali mengucap lafadz tersebut akhirnya Gus Irham memilih untuk tidur terlebih dahulu, karena akan sangat memalukan jika besok dia mengantuk saat disana...
........
disisi lain Humairah yang sudah sampai 30 menit yang lalu akan segera turun untuk menemui keluarganya yang sudah berkumpul di bawah...
"tumben sekali Abi meminta ku untuk turun ke bawah setelah menempuh perjalanan sangat jauh" gumam Humairah
namun ia tetap melaksanakan perintah Abi nya, ia segera turun setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai...
"Assalamualaikum kakak" sapa nya kepada kakak-kakak nya yang sudah duduk di ruang keluarga sedangkan Abi dan umi nya belum juga turun
__ADS_1
"wa'alaikummussalam" jawab semuanya bersamaan
"kak Nisa sama kak Zahwa kemana?" tanya Humairah
"oh mereka masih ada acara, mungkin sebentar lagi pulang" jawab Gus Ali
"oh iya iya" jawab Humairah hanya ber oh ria
tak lama Kyai Hasan dan Umi Fatimah turun dan berkumpul bersama anak-anak nya...
"Ning Azzahra" panggil Kyai Hasan kepada sang anak gadis satu-satunya
"iya Abi" jawab Humairah
"Abi ingin berbicara hal penting tentang masa depan Ning Azzahra" ucap Kyai Hasan
"masa depan Azzahra Abi?" tanya Humairah
"bila ada yang datang untuk menikahi Ning Azzahra, apa yang Ning Azzahra lakukan?" tanya Kyai Hasan
"Azzahra pastinya akan mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu Abi, karena Azzahra tidak tahu siapa yang akan datang kepada Azzahra" jawab Humairah
"namun bagaimana jikalau Abi sudah menerima pinangan dari orang tersebut?" tanya Kyai Hasan
"baiklah kalau begitu sekarang tidurlah Ning, besok pagi Gus Irham akan datang kesini" ucap Kyai Hasan
Humairah memilih untuk kembali ke kamarnya untuk tidur, sebenarnya dia heran mengapa Abi nya menanyakan persoalan itu namun ia tak ambil pusing mengingat kalimat yang terakhir di ucapkan oleh Abi nya yaitu Gus Irham akan datang besok pagi membuatnya sangat senang ...
......................
seperti biasa Humairah terbangun saat shalat subuh, ia bergegas mengambil wudhu dan pergi ke masjid untuk ikut shalat berjamaah. hal itu menjadi kebiasaannya di pondok karena jika dia pulang, dia akan menjadi imam di masjid tempat santriwati shalat bergantian dengan kakak ipar dan Umi nya...
saat turun ia kaget karena melihat dekorasi yang ada di dalam rumah, setahu dia hari ini akan ada pengajian Akbar namun mengapa ada dekorasi di dalam rumah seperti akan ada acara pernikahan...
"Ning Azzahra kenapa melamun?" tanya Umi Fatimah sembari menepuk bahu Humairah
"tidak Umi, mengapa ada dekorasi sedemikian rupa di dalam rumah?" tanya Humairah
"nanti kamu juga akan tahu" jawab Umi Fatimah
sedangkan para kakak ipar nya yang berdiri di belakang Umi Fatimah hanya tersenyum melihat raut kebingungan sang adik..
"sudah ayo ke masjid, kamu hari ini jadi imam kan" ucap Ning Nisa melihat Humairah tak kunjung melangkahkan kaki
__ADS_1
mereka ber empat berjalan menuju masjid, tampak beberapa santri sudah berkumpul di dalam masjid tersebut. Humairah memang sudah biasa menjadi imam sehingga shalat kali ini pun terlaksana tanpa halangan apa pun, setelahnya ia, Umi, dan kakak iparnya kembali ke rumah...
seperti biasa Humairah akan masuk ke dalam kamar lagi setelah selesai shalat subuh, karena bibi lah yang memasak di rumah sehingga pekerjaannya di rumah hanya lah membantu mengajar dan membersihkan apa yang ia pakai sendiri...
namun belum lama ia masuk ke dalam kamar, tiba-tiba pintu kamar nya di ketuk..
tok ..
tok..
tok ..
"siapa se pagi ini" gumam nya
"sebentar" ucapnya
ternyata sang pengetuk pintu adalah kedua kakak iparnya, mereka datang membawa sebuah koper dan satu set tas make up besar ...
"ada apa kak?" tanya Humairah
"duduklah disini Azzahra" jawab Ning Nisa sembari memegang kursi yang ada di depan meja rias Humairah
Humairah menurut saja apa yang dikatakan oleh kakak ipar nya
Ning Zahwa bersiap untuk me make up i Humairah sedangkan Ning Nisa membuka koper yang ia bawa tadi, koper tersebut berisi gaun yang akan dipakai Humairah untuk akad...
meskipun akad nikah Humairah dan Gus Irham kali ini dibuat kilat dan hanya keluarga yang tahu namun mereka tidak ingin menyia-nyiakan momen haru ini maka semuanya harus tetap totalitas...
"buat apa itu semua kak?" tanya Humairah
"seperti kata umi, nanti kamu juga akan tahu" jawab Ning Nisa
"oh iya Ning Azzahra, dimana baju titipan kami semua?" tanya Ning Zahwa
"di dalam koper itu kak" jawab Humairah menunjuk koper yang ada di samping lemari
"kak Nisa ganti pakaian dulu saja, setelah selesai make up ini gantian aku yang ganti pakaian" ucap Ning Zahwa
"baiklah kalau begitu, aku akan membagikan bajunya kepada yang lain dahulu. untuk bajumu aku tinggal disini Zahwa" jawab Ning Nisa
"baik kak"
Humairah melihat dirinya yang sedang di rias oleh Ning Zahwa melalui pantulan cermin, terlihat sangatlah cantik. Dia berpikir riasan ini hanya lah untuk pengajian Akbar nanti karena dia diberi tugas untuk menjadi vokal shalawat...
__ADS_1