
Saat kejadian dimana haris mencium manda... Sikap manda berubah derastis, entah malu, kesal, dan tak percaya akan kejadian malam itu, dimana haris bersikap berbeda dengannya.
"Aku bisa gila karna memikirkan boss jahat itu" manda menggelengkam kepalanya agar pikiran tentang haris menghilang.
Manda memasuki lift dan menutupnya... Tapi saat pintu lift akan tertutup.. Tiba tiba seseorang menahannya agar tetap terbuka untuk masuk, dan ternyata harislah yang menahan lift tersebut dan ikut bergabung dengan lift karyawan.
"Kenapa pak haris ikut lift karyawan?" tanya manda memberanikan diri
"Memang kenapa?, siapa yang berani melarangku pake lift ini?" tanya haris
"Kan bapak sudah punya lift pribadi" ucap manda
"Ini juga lift punyaku.. Semua yang ada dikantor ini adalah milikku.. Termasuk kau" ucap haris
"Apa.." teriak manda
Haris langsung mengunci pergerakan manda...
"A...apa yang bapak lakukan.." gugup manda menundukkan kepalanya
"Kau sangat cerewet honey" bisik haris tepat di telinga manda Dan itu berhasil membuat manda menatap manik mata haris.
Merka saling menatap satu sama lain, hembusan nafas keduanya begitu terasa, apa lagi di dalam lift hanya ada mereka berdua.
"Pak haris.." panggil manda pelan
"Hmmm.." jawab haris masih dengan tatapan aneh
"Menjauhlah pak... Tidak enak jika ada yang melihat" ucap manda mendorong dada haris
"Jika tidak ada yang melihat.. Apa kita bisa mesra seperti ini" lagi lagi manda dibuat kicep oleh perkataan haris
terlintas sebuah ide di otak manda..
"Inget pak disini ada cctv" haris seketika menjauh dan menetralkan dirinya.
__ADS_1
Sial... Aku lupa ada cctv batin haris
Manda menahan tawanya melihat tingkah haris. Padahal cctv lift karyawan sedang bermasalah.
Huhh.. Untung saja bisa dikibulin...
Pintu liftpun terbuka manda dengan cepat keluar dan berjalan menuju ruangan tempat ia bekerja, disana sudah ada dion yang datang lebih dulu.
"Pagi dion" sapa manda
"Pagi..."
Tak lama haris datang memasuki runag kerjanya..
"Besok kau pindah ruangan" ucap haris.
"Aku..?" tunjuk manda pada dirinya sendiri
"Bukan... Tapi karyawan baru itu" tunjuk haris pada dion adiknya
"Kau masih jadi sekretaris manda... Tapi ruanganmu berbeda, ini ruanganku" kata haris dingin
"Kenapa manda tidak ikut pindah?" tanya dion
"Dia asisten peribadiku, dan akan diam di ruanganku" sahut haris
"Pak.. Apa saya bisa pindah juga" pinta manda
"Tidak boleh" balas haris cepat
aku sangat menyesal bertanya padanya...batin manda
"Sekarang kau bisa pergi keruangan yang akan ditunjukan sarah sekretarisku di depan" ucap haris pada dion
Dion akhirnya mengikuti apa yang kakanya perintahkan...
__ADS_1
"Dasar.. Sama adik sendiripun galak" gumam manda
"Aku tidak pernah memandang siapapun... Walau dia adikku sekalipun" ucap haris yang mendengar gumaman manda
"Telinganya jeli sekali" batin manda
"Sekarang kau kerjakan apa yang harus kau kerjakan" perintah haris
"Baik pak" ucap manda
Tadi di lift mesum banget... Sekarang kembali ke sifat asalnya.. Dingin terus galak huhhhh.. Dasar bermuka 2
"morning haris" ucap maya yang tiba tiba datang membuka pintu ruangan haris.
"Siapa yang menginjinkanmu masuk?" tanya haris
"Diluar sekretarismu tidak ada... Jadi aku langsung saja masuk, aku membawakanmu makanan enak... Pasti kau belum makan bukan" maya tersenyum
"Aku tidak lapar... Kau boleh pergi" ucap haris tajam
"Tapi aku sudah bersusah payah membelinya untukmu ris" keluh maya menampilkan wajah sedih
"Aku sudah pernah bilang padamu jangan pernah menemui ku lagi... Apa kau belum puas.... Apa pelajaran bagi perusahaan ayahmu belum cukup?"
"Aa...aku mencintaimu haris, tolong beri aku kesempatan" ucap maya
Manda hanya diam terpaku mendengar pengakuan maya yang mencintai bosnya hingga memohon untuk mendapatkan balasan.
cinta itu tidak bisa dipaksa .. mau bagaimana lagi..batin manda
"Kasian juga wanita itu... Setiap datang selalu di tolak mentah mentah oleh pak haris" batin manda
"Pak haris.. Sebaiknya berbicaralah berdua.. Aku akan keluar agar kalian leluasa" ucap manda yang langsung mendapatkan tatapan tajam haris
"Diam..." Bentak haris
__ADS_1
"Sekarang kau pergi dari hadapanku nona maya, sebelum kesabaranku habis" desis haris