HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Mahar Pengganti Suami


__ADS_3

Pernikahan sederhana yang dilangsungkan hanya dengan beberapa belas orang sebagai tamu dan saksi ini berubah menjadi tegang ketika ayah si pengantin wanita tidak kunjung mengucapkan kalimat ijab padahal sudah saling berjabat tangan dengan sang calon pengantin pria. Sontak saja—terutama keluarga terdekat—menjadi tegang tak terkendali, mengingat bahwa pria itu bukan termasuk pria baik nan bertanggung jawab pada anak sendiri.


Benar saja, tidak lama kemudian, tatap pria bernama Anton itu berubah tajam ketika mempererat genggaman tangannya pada si calon pengantin pria. Membuat semua orang mulai menegakkan punggung, bersiap siaga andai ada sesuatu hal buruk terjadi di sini.


"Maharnya berapa ini?" tanya Anton, sembari melirik anggota keluarga si pengantin pria. Ia masih enggan melepaskan genggaman tangannya sebentar pun.


"Maharnya sudah saya berikan saat datang melamar ke sini pekan lalu." Pemuda dalam balutan tuksedo hitam rapi itu menjawab dengan nada tegas. Mulai tidak nyaman dengan sikap calon pengantin prianya.


"Dua puluh lima juta tidak cukup! Uangnya sudah habis duluan, dipake bayar utang! Tambahin lagi, baru saya nikahin kalian berdua!" balas Anton.


Kedua calon pengantin saling bertukar pandang. Terutama Hanna—putri tunggal Anton—yang menunduk malu atas sikap ayahnya. Ia mencoba memelas, berniat memohon pada sang ayah agar tidak bertindak buruk setidaknya hari ini saja, tetapi Anton sudah mengibaskan tangan dengan kasar.


"Diam kamu! Anak tidak berguna! Bukannya cari uang, malah nikah!" Anton berujar keras pada putrinya sendiri. Ia beralih pada si pengantin pria. "Anak saya setelah kamu nikahi bakalan mengabdi jadi babu dan pelayan nafsu kamu! Cuman 25 juta, nggak sebanding sama apa yang bakalan anak saya berikan ke kamu!"


"Ayah ...." Hanna mengeluarkan suara lirihnya yang bercampur gemetar. Ia menampilkan ekspresi memohon amat sangat agar pria itu terketuk hatinya untuk iba, tetapi tidak ada.


Adik Anton—Salina—maju, berniat menenangkan sang kakak. "Mas, kemarin kan keluarga Pak Hardika sudah bayar. Berarti sudah seharusnya dinikahkan sekarang—"


"TAMBAH ATAU SAYA NGGAK NIKAHKAN!" teriak Anton dengan keras.


Si pengantin pria secara paksa mengentakkan tangannya dengan keras sampai jabatan tangannya bersama calon mertua terlepas. Ia menghela napas kasar, lalu menatap Hanna dengan pandangan tegas.


"Maaf, Hanna, tapi kita kayaknya nggak bisa berjodoh. Pernikahan ini saya batalkan. Saya pikir bisa tahan sama sikap ayah kamu sebentar, tapi ternyata—"


"Cuih, miskin!" hardik Anton dengan keras, menghina. Bahkan meludah sembarangan ke arah keluarga pengantin pria. "Jangan niat nikah kalau nggak mampu beli anak gadis perasan orang! Miskin! Mau dilayani seumur hidup tapi cuman bayar—"

__ADS_1


Bugh!


Pengantin pria segera melayangkan pukulannya pada Anton, bukan hanya sekali, tetapi berulang kali sampai si pria berusia 40 tahunan itu jatuh tersungkur. Ia baru berhenti ketika Hanna berlutut memohon padanya.


"Tolong, berhenti ... tolong ...." Gadis itu tidak lagi bisa menahan tangisnya saat melihat kekacauan di sini. Air mata terus bercucuran, membuat pandangannya menjadi buram.


Hanna bantu ayahnya bangun agar bisa duduk. Bahkan, meski ia sangat membenci pria ini sekarang, tetap saja, Anton adalah satu-satunya orang tua yang Hanna punya. Gadis itu tidak bisa melihat pria ini terluka sedikit saja.


"Sangat disayangkan, kamu yang perempuan Sholehah ini bahkan nggak bisa warasin orang tua, Hanna! Sebaiknya, sebelum kamu goda laki-laki buat nikahi kamu, ajari dulu ayah kamu itu supaya sadar diri! Sudah diberikan mahar 25 juta di awal, tapi mau minta lagi? Hah! Saya nggak akan ikhlaskan uang itu, apalagi buat dibayar utang judi ayah kamu itu!" Si pengantin pria benar-benar tersulut amarah, dan empat anggota keluarga turut berdiri untuk mendukung. "Atau, Hanna, kita bisa lanjutkan pernikahan setelah kamu bunuh ayah kamu in—"


"Mas!" Hanna berteriak lantang, lalu mengetatkan giginya karena menahan amarah. Di sela isakannya, mata gadis itu menatap nyalang pada pria yang hampir menjadi imannya itu.


"Apa, hah? Kamu mau melawan, hah? Urus ayah kamu itu dulu sebelum protes tindakan saya! Karena dia yang mulai duluan!" balas si pengantin pria.


"Pergi kalian, orang miskin!" hardik Anton, yang langsung membuat Hanna segera membekap mulut sang ayah.


Di ambang pintu, seorang pria dalam balutan kaus hitam dan dilapisi jaket kulit cokelat tengah berdiri. Napasnya menderu cepat, lalu mulai melangkahkan kakinya yang dibungkus celana jeans hitam dengan robekan di beberapa bagian lutut ke bawah itu masuk ke dalam rumah. Ia menenteng sebuah helm hitam dengan beberapa paduan warna merah memasuki rumah.


Kehadiran pria itu sontak mengundang banyak pasang mata mengarah padanya, terutama orang tua lelaki itu. Salina hendak maju menghentikan putranya agar tidak memperkeruh suasana, tetapi suaminya menghentikan setelah melihat tatap nyalang penuh amarah di mata putra sulungnya itu.


Pertengkaran berhenti begitu saja, karena semua orang fokus pada lelaki baru itu. Apalagi saat ia menunduk untuk mengambil pulpen, dan mencoretkan tintanya ke selembar kertas kecil panjang sebelum diserahkan pada Anton.


"Uang dua ratus lima puluh juta, apa cukup buat jadi mahar menikahi Hanna?" tanya pria itu dengan nada dingin.


Anton segera menerima uang dengan senyum lebarnya. Si pengantin pria ikut menarik kedua sudut bibir, berpikir bahwa keluarga Hanna membantunya, jadi ia berniat mengulurkan tangan lanjutkan pernikahan.

__ADS_1


Namun, pria berpakaian kasual itu sudah lebih dahulu mendahuluinya menjabat tangan Anton. Membuat semua orang memandang syok padanya. Salina bahkan maju untuk menghentikan, tetapi si pria sudah lebih dulu menyebutkan nama lengkapnya.


"Gerald Ardinata bin Fauzan Hamid Ardinata."


"Gerald ...." Salina memanggil dengan suara lirih bergetar. "Nak ...."


Anton jelas tidak memikirkan apa pun selain uang. Jadi, ia dengan lantang mengutarakannya.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Gerald Ardinata bin Fauzan Hamid Ardinata dengan putri saya Hanna Taklif Derana dengan maskawin dua ratus lima puluh juta rupiah dibayar tunai!"


Salina langsung memegang lengan putranya untuk menyadarkan pria itu, tetapi Gerald seolah tidak peduli siapapun kecuali Anton dan kalimat qabul yang ia katakan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hanna Taklif Derana dengan maskawin tersebut, tunai!" balas Gerald dengan mantap dan tegas.


Salina menegang, suaminya hanya bisa membeku. Sementara Hanna harus menggunakan keempat jarinya untuk menutup mulut karena syok. Semua orang tampak terkejut, tetapi segelintir lagi menyahuti akad yang baru saja terjadi.


"Sah."


"Hanna sepupu kamu, Gerald!" pekik Salina setelah beberapa saat jatuh dalam kebingungan. "Kenapa bisa kamu ...." Salina benar-benar kehabisan kata atas tindakan putranya ini.


Namun, Gerald tampaknya tidak peduli. Setelah jabatan tangan terpisah, ia langsung menggenggam lengan Hanna untuk diajak berdiri. Serta memberikan isyarat pada sang papa agar membawa mamanya keluar lebih dulu.


"Sekarang, Hanna istri saya, dan Paman tidak bisa melakukan apa pun pada Hanna!" kata Gerald dengan tegas, tetapi tidak terlalu dianggap serius. Pria itu tidak peduli, ia beralih pada si mantan calon pengantin pria tadi. "Uang mahar dua puluh lima juta kamu, akan saya kirimkan lewat rekening. Kirim nomornya ke kontak Hanna."


Tamu lainnya—selain Anton—tampak tidak suka dengan arogansi Gerald, tetapi sekali lagi, pria dengan tampilan urakan itu tidak peduli. Ia beralih pada gadis berjilbab putih di sampingnya, yang masih terlihat syok dengan wajah tidak suka.

__ADS_1


"Kamu ke kamar kamu, ambil ponsel dan baju seperlunya. Setelah itu, ikut ke rumah saya," kata Gerald pada sepupunya yang kini sudah menjadi istri dadakannya. Ia tampak menyukai tatap melotot kaget dari Hanna, sehingga Gerald turut menambahkan kata lain sembari menarik sudut bibir kanannya membentuk seringai tipis, "Sayang."


...🥀...


__ADS_2