HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Ketakutan Dua Pihak


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya tadi pagi, Gerald benar-benar datang ke tempat kerja Hanna siang ini. Ia segera menghentikan salah satu karyawan di toko untuk membantunya menemukan Hanna. Namun, belum sempat meminta tolong, pria itu segera diinterupsi oleh suara dari kasir.


“Kamu lanjut kerja, Siska. Tugas kamu melayani pelanggan, bukan pencarian orang lain.”


Si karyawan langsung meninggalkan Gerald dengan wajah bersalah. Sementara Gerald hanya mengembuskan napas kasar, sembari melirik malas pada Rayhan.


Gerald tidak mengatakan apa pun lagi. Ia masuk lebih dalam ke toko, mengecek setiap bagian untuk mencari keberadaan Hanna. Dari bagian sepatu, tas, dan semua tempat.


Namun, hingga di bagian toko paling jauh, Gerald tidak juga menemukan gadis itu. Pria itu mengusap wajahnya secara kasar, mengingat apa yang menjadi obrolan mereka pagi tadi.


Bahwa Hanna ingin kembali menemui ayahnya.


Gerald berlari-lari kecil, mengecek sekali lagi, dengan sangat teliti di setiap bagian toko untuk mencari Hanna. Namun, sebanyak apa pun ia mencari, gadis itu sungguhan tidak ada.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Keisya bertanya, saat menemukan salah seorang pengunjung mencari sesuatu tanpa memilah-milah pakaian.


“Saya cari Hanna. Hanna Taklif Derana. Saya kurang tahu dia di bagian mana, tapi dia bekerja di sini.” Gerald menjelaskan dengan sangat terburu-buru, bahkan sudah mau beranjak dari tempat itu.


Namun, Keisya segera memberitahunya. “Hanna tadi keluar di jam istirahat, Pak. Tapi sampai sekarang, belum kembali. Kalau boleh tahu, ada masalah apa, Pak? Kalau ada pesan, saya bisa sampaikan ke Hanna nanti.”


“Saya butuh Hanna, bukan pesan.” Gerald menjawab cepat. Ia kini sudah sangat yakin dengan keberadaan gadis itu.


Gerald berlari-lari cepat meninggalkan ruangan menuju mobilnya yang berada di parkiran. Ia harus menemui Hanna sesegera mungkin.


Karena ancaman bahaya dari Anton, tidak bisa Gerald prediksi.


🥀


“Nomor pribadi s7ami kamu, Hanna. Berapa! Sebut! Atau kamu beneran ayah jual ke laki-laki lain!”


Hanna semakin merapatkan bibirnya seiring banyaknya pesan yang diajukan oleh Anton. Isi perintahnya sama: meminta nomor Gerald sehingga ia bisa meminta uang tebusan agar membebaskan Hanna.


Namun, gadis itu jelas tidak mau melakukannya.


Sehingga memicu kemarahan Anton untuk naik sampai puncak. Pria itu mencengkeram erat dagu Hanna dengan pandangan menyipit tajam.


“Kamu mau uji kesabaran ayah, Hanna? Kamu mau tahu seberapa besar kemarahan ayah saat ini?” tanya Anton dengan suara penuh penekanan. Kuku-kukunya sampai memutih saking kuatnya ia mencengkeram. Sementara giginya terus menekan kuat. “Hanna ... sebutkan nomor telepon suami kamu!”


Namun, seperti sebelumnya, Hanna tetap diam dengan bibir yang tidak bisa dimasuki sedikit pun udara. Ia balas menatap ayahnya dengan tajam—sesuatu yang sangat sulit dilakukan tetapi harus dilakukan demi menegaskan sikapnya pada sang ayah.

__ADS_1


Cengkeraman di dagu Hanna sudah hilang, tetapi sedetik berikutnya, rasa panas menjalar di pipi Hanna sesaat setelah suara keras terdengar dari peraduan kulitnya dan telapak tangan sang ayah.


Wajah Hanna terpaling akibat tamparan tersebut. Ia kembali dipaksa menoleh oleh Anton agar pandangan dan wajah mereka saling berhadapan.


“Cepat beritahu ayah!”


“250 juta kurang sebulan habis tanpa bekas,” kata Hanna dengan lirih. “Ayah sudah membuat aku malu di hari pernikahan. Karena dua alasan itu, apa ayah pikir aku bisa bebani Gerald lagi?”


“Iya! Bisa! 100 juta mudah dicari Gerald! Mereka orang kaya! Kalau untuk menikahi kamu saja dia bisa berikan 250 juga, maka gampang untuk minta 100 juta buat beli nyawa kamu!”


“Ayah ....” Hanna mencoba memanggil dengan suara lirih demi memanggil nurani sang ayah. “Ayah beneran bisa bunuh anak ayah cuman buat ... uang?”


“Nggak.” Anton menjawab tanpa beban, lalu mendorong wajah Hanna sampai kursi yang menjadi tempatnya diikat, sempat oleng.


Anton menegakkan punggung, disusul suara embusan napas panjangnya.


“Dulu ayah pikir, istri dan anak adalah hal paling utama dalam hidup. Sampai ayah bangkrut dan sadar, bahwa ... tidak ada yang lebih penting dari uang.” Anton mengatakan hal itu dengan suara dingin tanpa ekspresi. “Ayah berikan kamu waktu untuk berpikir. Kalau sampai ayah kembali kamu belum berikan nomor Gerald, ayah akan langsung lelang kamu.”


Hanna menatap sinis sang ayah dengan bibir terkatup rapat, tampak tidak peduli dengan ancaman itu.


“Atau ....” Anton mendadak berubah pikiran setelah melihat bagaimana putrinya berubah menjadi tegas kurang dari sebulan setelah menikah. “Ayah jadikan saja kamu sebagai ... perempuan pemuas. Dibandingkan dijual yang cuman bisa berikan keuntungan satu kali, lebih baik ... biarkan banyak laki-laki nikmati kamu untuk dapat keuntungan terus-menerus.”


“A—yah ....” Hanna memanggil dengan suara terbata serta mata melotot syok. “Aku ....” Hanna berbicara dengan suara lirih. “.... Anak Ayah.”


“Ayah!”


...🥀


...


Hanya sebuah suara ceklek dari kenop pintu, beserta deritnya ... Hanna menjadi sangat tertekan. Ia langsung mundur, walau pada kenyataan, ia bahkan tidak bisa bergeser sedikit pun dari posisi duduknya.


Anton sudah muncul di depannya. Membawa sebuah kantong plastik dan dilemparkan pada Hanna, seketika mengirimkan sinyal ketakutan pada gadis itu. Kantong plastik jatuh berguling, dan membuat ikatannya terlepas. Sebuah kain tipis berwarna merah menyala sedikit keluar di sana, semakin membuat Hanna berdetak keras dengan sangat kuat di dalam dadanya.


“Ayah ....” Hanna memanggil penuh permohonan ketika Anton mendekat. Berniat membuka ikatannya. “Jangan kayak gini, Ayah .... plis, Yah .... Aku mohon ....” Gadis itu terisak sampai sulit bernapas.


Namun, Anton sama sekali tidak bergeming. Pria itu tetap membuka semua ikatan Hanna, lalu menarik lengan gadis itu dengan sangat kuat. Jilbab berantakannya ditarik sekali, dan langsung terlepas dari tempatnya.


“Berbalik. Ayah bantu kamu ganti baju.”

__ADS_1


“Ayah ....” Hanna menjatuhkan dirinya di lantai, berlutut memohon pada pria itu. “Tolong ... aku bakalan kasih ayah uang gaji aku. Aku kerja di toko—“


“Ayah cuman mau terima uang dari dua hal: Gerald, atau pel@curan ini.” Anton menarik tangan Hanna dengan kuat, sampai gadis itu harus berdiri secara paksa. “Berbalik, atau kamu mau Ayah robek pakaian kamu, Hanna?”


Gadis itu mencoba berontak ketika ia dipaksa berbalik. Melompat-lompat, mengelak, dan mencoba lepas—tetapi ia jauh kalah kekuatan dari sang ayah.


Ujung pakaian Hanna sudah dipegang oleh Anton, membuat perempuan itu langsung panik.


“Stop—Aku telepon Gerald! Ayah telepon Gerald!” Hanna berteriak keras demi mencegah tindakan lanjutan dari sang ayah.


Anton tersenyum puas. Ia tetap mencengkeram erat lengan putrinya ketika mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Sebutkan nomor Gerald!” Anton memerintah dengan suara tegas.


Hanna—masih dalam kondisi terisak dan gemetar—mulai menyebutkan nomor Gerald yang sudah ia hafal luar kepala. Setelah selesai, ia menundukkan kepala sangat dalam sebagai bentuk penyesalannya karena sudah membebani Gerald lagi. Hanna terus-menerus memainkan jemarinya di atas pangkuan demi mengusir gugup.


“Halo, Gerald.” Sambungan telepon dengan cepat diterima oleh Gerald. Anton juga me-loud speaker, sehingga Hanna bisa mendengar semuanya. “Kamu ternyata ganti nomor tanpa kasih tahu Paman, Gerald. Tega banget kamu.”


“Paman?” Gerald mengonfirmasi.


“Iya. Ini saya, Gerald. Anton. Ayahnya Hanna. Kamu pasti tunggu Hanna pulang, ‘kan?” tanya Anton.


Namun, Gerald tidak menjawab apa pun.


“Gerald ... orang-orang mengatakan ... untuk mendapatkan hasil yang besar, kita harus membayar lebih besar juga. Uang kemarin ternyata belum cukup, Gerald. Kurang 100 juta lagi. Kamu bisa kirim malam ini, ‘kan? Karena saya harus kirim uang itu besok.”


“Nggak bisa, Paman.” Gerald menjawab dingin.


Seketika, membuat Anton semakin mengencangkan cengkeramannya di lengan Hanna. Ia tersenyum geli, dan mencoba untuk tenang walau matanya masih sangat tajam.


“Saya sedang tidak mau bernegosiasi, Gerald. Saya memerintah! Berikan uang 100 juta itu sekarang! Sekarang, Gerald! Bukan nanti! Atau—“


“Atau apa?” Gerald memotong semena-mena, masih dengan suara tenang.


“Hanna akan saya jual, malam ini.”


Gadis yang dimaksud, sedang tertegun ketakutan di tempatnya. Hanna tidak berani bergerak, karena tegang sempurna akibat perdebatan saat ini.


“Terserah.”

__ADS_1


Tuut ....



__ADS_2