HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Undangan Masalah


__ADS_3

Pulang dengan disambut oleh tatap tajam dari Gerald adalah satu hal yang sudah diprediksi Hanna. Meski gadis itu sudah mempersiapkan diri dan jawaban gugupnya masih sulit untuk diatasi.


“Kamu dari mana?” tanya Gerald dengan suara dingin dan tatap tajam yang mengarah serius pada Hanna. Untuk memperkuat aura mengintimidasi darinya, Gerald juga melipat tangan depan dada.


Membuat Hanna harus meneguk ludah berulang kali, demi menenangkan diri.


“Aku ... abis keluar. Jalan-jalan.” Hanna menjawab sesuai yang Salina ajarkan, demi membuat Gerald semakin marah. “Kenapa kamu kayak atur-atur aku?”


Hanna berniat mengakhiri hal ini secepat mungkin, karena dirinya tidak bisa tahan memandang kemarahan Gerald lebih lama. Gadis itu tidak bisa.


Jadi, Hanna mencoba untuk melewati tubuh Gerald yang berdiri menghadapnya depan pintu. Ia hendak menerobos, tetapi Gerald dengan sangat mudah mencekal pergelangan tangan gadis itu.


Hanna belum diizinkan untuk mencerna tindakan suaminya, ketika tubuh gadis itu dibawa bergerak tanpa arah, lalu berhenti ketika punggungnya ditekan di dinding. Sementara Gerald segera menutup kesempatan pergerakan Hanna dengan berdiri tepat di samping sang istri. Jarak antara mereka dihapus sempurna seiring langkah maju Gerald sampai ujung sepatu kaki mereka bertemu.


“Hanna,” panggil Gerald dengan suara rendah sembari membungkuk hendak mempertemukan tatap dan arah wajah mereka.


Namun, Hanna terus menunduk demi menghindari Gerald. Selain demi terlihat mengacuhkan sang sepupu, Hanna juga harus mengamankan dirinya dari debar keras dalam dada akibat tindakan pemuda ini.


“Gerald, aku mau ke kamar.”


“Tunggu sebentar, karena saya mau bicara.” Gerald membalas dingin. “Kamu dari mana? Jawab, dengan, jujur!”


“Jalan-jalan. Aku udah jawab tadi,” jawab Hanna kukuh pendirian.


Gerald menaikkan sebelah alisnya, meragukan dengan jelas jawaban dari gadis itu.


“Tapi nggak jujur.” Gerald membalas dengan nada sinis.


“Kamu memang bisa baca pikiran orang? Nggak? Jadi, nggak usah sok tahu!” Hanna segera menggeser tubuh Gerald dari hadapannya.


Pemuda itu tampak pasrah membiarkan Hanna menemukan jalannya sendiri, dan meninggalkan kurungan tadi. Di tempatnya berdiri mematung, Gerald hanya sekadar memandangi kepergian punggung yang dibalut blus hijau army itu, sampai menghilang dari pandangan setelah tiba di lantai dua.


Gerald menghela napas, sembari mengusap wajah dengan kasar.


Lalu, dengan rahang menegas sempurna, Gerald turut berjalan cepat. Terlebih dahulu menutup dan mengunci pintu rumah, kemudian menyusul Hanna ke kamar.


Gerald menemukan kamar dalam kondisi kosong ketika ia tiba, membuatnya sempat ragu sejenak. Namun, mendengar suara shower dinyalakan dari kamar mandi, Gerald mulai tampak lega.


Pemuda itu menutup pintu kamar tanpa berbalik sedikit pun. Lalu menguncinya dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia berjalan hati-hati menuju nakas, tempat di mana ponsel Hanna berada.


Gerald tampak sangat santai ketika membawa benda itu duduk bersamanya. Ia memeriksa perpesanan, dan jemarinya sangat lincah mengetuk nama sang mama, demi membaca pesan di sana.


Seperti yang biasa Gerald lakukan, hampir setiap malam.

__ADS_1


Dan seketika, ia menemukan pesan terakhir dari Salina yang membuat mata Gerald menjadi tajam, menguarkan amarah besar.


Tante Salina :


Gimana menurut kamu tentang Rayhan, Hanna? Dia nanyain kamu ke Tante, dan Tante belum bilang masalah pernikahan kamu.


Mana tahu, dia adalah jodoh terbaik buat kamu, Hanna. Sesuai sama karakter kamu.


Lebih baik daripada Gerald.


Seharusnya, Gerald hanya membaca pesan tersebut. Seperti biasanya.


Namun, kali ini tidak.


Gerald tidak bisa mencegah tangannya sendiri untuk mengetikkan balasan.


^^^Hanna :


^^^


^^^Mama mending persiapkan diri jadi nenek mulai hari ini.


^^^


^^^


Setelah menekan ‘kirim’ untuk dua pesan tersebut, Gerald mematikan ponsel. Ia meletakkannya kembali di atas nakas, lalu memandang lurus pada pintu kamar mandi.


Tepat setelah pintu tersebut dibuka dari dalam, Gerald juga berdiri. Sehingga Hanna yang baru saja keluar, langsung membatu di tempat.


Bahkan, gadis itu mundur secara spontan ketika Gerald bergerak maju sembari menarik lepas kaus hitam dari tubuhnya.


“G—Gerald ....” Hanna mencicit ketakutan, tetapi tidak bisa menghentikan pergerakan sepupunya.


...🥀


...


“Gimana menurut Papa pendekatannya Kania sama Gerald di kantor?” Salina bertanya ketika ia sedang makan malam bersama suaminya di meja makan.


“Biasa-biasa aja, Ma.” Fauzan menjawab tidak acuh tanpa menghentikan kegiatan makannya sama sekali.


Kedua bahu Salina seketika lemas, sehingga tangannya tampak tidak bersemangat sama sekali untuk mengangkat sendok dan garpu.

__ADS_1


“Biarin aja lah, Ma, kalau memang Gerald berjodoh sama Hanna. Kita bisa apa?” Fauzan memberikan tawaran menyerah, yang seketika menaikkan semangat sang istri lagi.


“Enggak, Pa. Mereka nggak berjodoh sama sekali. Ini cuman gegara insiden kecil. Kalau Gerald bisa jauh dari Hanna, dia bisa PDKT sama Kania dan pasti bisa jatuh cinta sama Kania. Kania lebih memenuhi standar daripada Hanna,” jelas Salina mengenai pendapatnya akan jodoh sang putra. “Untuk itu, mereka harus didekatkan, tanpa ada Hanna di antara mereka. Mama udah usaha biar Hanna menjauh dari Gerald. Mama rencana mau deketin dia sama Rayhan, anaknya Pak Kamil. Semoga aja—“


“Ma ....” Fauzan segera memanggil dengan nada serius demi memperingatkan sang istri. “Rayhan sudah punya tunangan, Ma. Kenapa Mama malah bikin hidup Hanna semakin rumit, dengan deketin dia segala macam sama Rayhan? Papa padahal nerima dia kalau dia mau kerja di perusahaan Papa. Mama kenapa malah pindahin orang lain, daripada minta Hanna kerja di perusahaan Papa?”


“Baru juga tunangan, Pa, nggak masalah kalau Hanna ternyata berjodoh sama Rayhan. Walaupun Mama nggak bisa restui Hanna dan Gerald, Mama tetap mau memilihkan yang terbaik untuk Hanna. Rayhan pilihan yang tepat,” ucap Salina penuh keyakinan, serta senyum misterius di bibirnya. “Apalagi, Rayhan juga kelihatan tertarik sama Hanna. Ini bakalan lebih mudah dari yang Mama pikir.”


Fauzan hanya bisa berdecak beberapa kali mendengar ucapan sang istri.


“Mama mau memilihkan yang terbaik, atau mau menyeret Hanna ke masalah yang lebih sulit?” tanya Fauzan dengan suara pelan seolah hanya berbicara pada diri sendiri.


“Papa nggak bakalan paham!” Salina balas tajam. “Ah, Papa bikin males!”


Salina beranjak dari tempatnya duduk setelah meminum dua teguk air. Ia meninggalkan ruang makan, menuju kamar. Mengambil ponselnya, dan menemukan pesan mengejutkan dari kontak keponakannya. Namun, mengenali cara penulisan di sana yang berbeda dari biasanya, Salina langsung yakin.


Bahwa pesannya dibalas oleh sang anak.


Dibandingkan mengetik pesan jawaban, Salina berpindah ke kontak Kania. Mengirimkan pesan pada perempuan itu sebagai arahannya untuk esok hari.


Salina :


Besok, Tante bakalan buat Gerald sibuk kerja di kantor. Kamu temenin dia ya?


Namun, setelah pesan terkirim, Salina tampak tidak puas. Progres rencana standar ini akan sangat lama, sementara Salina juga bersaing dengan waktu. Jangan sampai, pernikahan paksa ini berubah menjadi kebiasaan antara Gerald dan Hanna, menciptakan kenyamanan, dan perlahan berubah menjadi perasaan saling sayang.


Jika itu terjadi, maka semua akan semakin sulit.


Maka, Salina mencoba mendobrak rencana yang agak berbahaya.


Salina :


Besok mampir ke rumah ya. Tante mau titip obat buat Gerald. Nanti kamu kasih ke dia secara diam-diam. Soalnya dia nggak suka makan obat.


Temenin dia nanti ya, jangan sampai jauhan.


Jika pernikahan Hanna dan Gerald terjalin atas kecelakaan, maka Salina juga bisa membuat hubungan Kania dan Gerald atas kecelakaan.


Laci dari lemari di bagian paling bawah dibuka, tempat beberapa obat-obatan berada. Salina mengacak isinya, dan mengambil sebuah kotak kecil, dan mengeluarkan satu papan dari sana yang berisi empat pil obat berwarna biru.


Salina meneguk ludah secara kasar, tampak ragu sesaat. Namun, ia tidak mau menghentikan rencananya ini.


...🥀...

__ADS_1


__ADS_2