
Gerald membuka pintu rumah orang tuanya dengan deru napas memburu, walau ia bahkan sama sekali tidak pernah berlari setelah turun dari mobil. Tatap pria itu teramat tajam, mengarah pada dua perempuan yang sibuk bercengkerama di ruang tamu.
Hanna meredupkan senyumnya setelah menemukan sosok sang suami yang tidak bersahabat. Sementara Gladys malah balas menantang sang kakak, dengan memamerkan senyum terbaiknya. Efeknya, Gerald memperlama pandangan tajam ke Gladys dibanding Hanna.
“Sudah selesai obrolannya?” tanya Gerald tanpa mengubah arah pandang sama sekali dari Gladys. Ia melangkah maju dengan gerakan hati-hati, penuh intimidasi. “Hanna, masuk ke mobil sekarang.” Gerald memberikan titah tanpa menoleh pada sang istri, pada awalnya.
Namun, karena Hanna hanya melirik kebingungan pada dirinya dan Gladys secara bergantian, Gerald kini memalingkan wajah ke arahnya. Memamerkan rahangnya yang menegas sempurna, tanda amarah sedang menguasainya secara penuh.
“Saya suami kamu sekarang, Hanna! Patuhi saya!” Gerald menaikkan nada bicaranya dengan ketajaman tinggi.
Membuat Hanna membeku di tempat, dan dalam keadaan otak yang masih terkejut, perempuan itu segera berjalan cepat meninggalkan ruang tamu menuju tempat yang sudah diperintahkan oleh sang suami.
Sementara itu, Gerald fokus pada sang adik yang kini berdiri dengan dua tangan terentang seolah menyambut kedatangan sang kakak.
“Aku udah di sini beberapa hari, kamu baru dateng sekara—“
Gladys belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Gerald mengambil alih lehernya, dan mengarahkan dengan langkah lebar nan panjang ke tembok terdekat. Gerald mendesak sang adik dengan penuh amarah di sana, sejenak melupakan hubungan darah di antara mereka.
“Harusnya dari awal saya lakukan ini, ketimbang kirim kamu ke luar negeri,” kata Gerald dengan penuh penekanan, lalu mengentak tubuh Gladys sampai kepalanya terbentur dinding.
Meski sempat mengaduh kesakitan, Gladys segera mengembalikan senyumnya yang sempat hilang.
“Berani kamu ancam saya lagi, saya pastikan kamu lupa nama kamu sendiri nanti!” ancam Gerald, dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
“Demi seorang Hanna, kamu ngancem adik sendiri sampai seburuk ini, Mas?” Gladys menyindir, lalu mendengkus geli setelahnya. “Sekarang, aku nggak heran lagi, kenapa Mas sampai hilang akal malam it—uhhuk.”
Sekali lagi, Gerald mendorong kasar leher Gladys sampai sang adik membentur dinding.
“Baru kena bentur sekali, kamu sudah lupa siapa saya, Gladys? Kamu lupa kalau saya tidak pernah mengingkari apa yang saya sudah katakan?”
Keduanya saling berpandangan tanpa ada yang berniat mengalah sedikit pun, meski Gladys tersiksa oleh jeratan Gerald yang lumayan memangkas pasokan oksigen ke paru-paru walau tidak secara total.
“GERALD!”
Sebuah pekikan berhasil mengalihkan perhatian keduanya secara bersamaan, di mana Salina sedang berdiri di samping keduanya, menatap syok pada kelakuan dua anaknya.
Salina harus turun tangan secara langsung untuk memisahkan keduanya. Gerald mengusap rambutnya secara kasar demi mengurangi kadar amarah dalam dirinya walau tidak berhasil sepenuhnya. Sementara Gladys hanya sekadar menarik ujung bajunya demi mengurangi kusut.
“Kalian ngapain sih?” tanya Salina, dengan nada yang masih tinggi, masih syok terhadap kejadian barusan. “Udah gede, masih ... aja! Suka bercanda berlebihan!”
Tidak ada yang menjawab ucapan sang mama, karena dua saudara itu saling menghindar. Salina menghela napas kasar, sembari mengibaskan tangan sebagai isyarat enggan peduli pada dua anaknya lagi.
__ADS_1
“Hanna mana?” tanya Salina.
“Di mobil. Kami mau pulang,” jawab Gerald dingin.
“Oh ya udah ....” Salina menyayangkan, lalu meninggalkan ruang tamu.
Gerald berniat melangkah pergi, tetapi ucapan Gladys membuatnya menghentikan pergerakan.
“Solusi masalah ini bukan cuman bikin aku amnesia, tapi tinggalin Hanna. Dia terlalu berharga buat dimiliki orang berengsek kayak kamu.”
Namun, Gerald enggan peduli. Ia hanya mengepalkan tangan di samping tubuh, lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan rumah.
...🥀...
Hanna sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bersuara selama perjalanan, sebelum Gerald yang memulai—entah dengan kemarahan atau hukuman. Namun, tidak ada. Sehingga, suasana canggung ini terasa sangat mengerikan.
Perempuan itu juga tidak mencoba untuk meminta maaf, karena berpikir tidak melakukan kesalahan. Hanna hanya ingin bertemu sepupunya, mengobrol seadanya, dan sekadar itu. Tidak ada masalah dengan hal itu, ‘kan?
Hanna memisahkan diri dari Gerald setelah melewati pintu utama. Ia memutuskan duduk sebentar di ruang tamu, sementara Gerald meneruskan perjalanan ke kamar. Perempuan itu memindahkan semua beban tubuhnya di sandaran sofa, sembari memandang langit-langit kamar dengan tatap kosong.
Tidak tahu berapa lama secara pasti, Hanna baru meninggalkan objek pandangannya saat aroma harum masakan tercium. Ia melirik sekitar, dan pandangannya langsung mengarah ke pintu dapur. Gerald sedang memasak, dan—Hanna merutuk diri sendiri—istrinya malah leha-leha mengabaikan rasa lapar di sini.
“Y—ya?” Hanna menjawab gugup. “Bentar.”
Hanna buru-buru mengenakan pakaiannya secara lengkap, menutupi seluruh bagian tubuh kecuali wajah dan pergelangan tangan saja. Ia berdiri gugup di depan lemari, saat bersuara lagi.
“Kamu bisa masuk, Gerald.”
Pintu dibuka, dan sosok Gerald dalam balutan kaus biru dan celana training hitam mulai memasuki ruangan. Tampak kerepotan, karena di tangannya terisi sebuah nampan. Gerald tidak mau peduli lagi pada kondisi pintu yang terbuka, dan berjalan lurus ke ranjang untuk duduk di pinggirnya.
“Jangan makan sama saya.” Gerald berbicara, yang langsung membuat Hanna mengernyit kebingungan.
Jadi, maksud pria itu membawa dua piring makanan, dua sendok, dan dua gelas air ... hanya sekadar pamer pada Hanna?
Perempuan itu masih kebingungan, ketika Gerald menatapnya sendu.
“Kamu bukannya selalu patuhi apa yang saya larang, Hanna. Kenapa sekarang enggak?” ucap Gerald.
Hanna semakin kebingungan, tetapi segera ia memahami. Bahwa pria ini sedang sarkasme terhadap tingkah Hanna kemarin-kemarin. Hal itu berhasil memunculkan perasaan bersalah dalam diri Hanna, sehingga secara hati-hati, ia duduk di samping Gerald.
“Untuk kunjungan aku ke rumah Ayah, aku beneran minta maaf, Gerald. Aku ... cuman nggak mau Ayah ganggu kamu, makanya aku pikir, aku harus kasih perintah tegas ke Ayah,” kata Hanna dengan suara lirih, sedikit terbata.
__ADS_1
Gerald mulai menyantap makanannya di sebuah piring, tanpa memedulikan Hanna sama sekali.
“Makasih banyak buat pertolongan kamu kemarin. Aku nggak tau, aku bakalan gimana kalau nggak kamu tolongin.”
“Kamu bakalan jadi pelacur orang sekampung,” balas Gerald tanpa rasa bersalah.
Namun, berhasil membuat Hanna diam sejenak. Sejujurnya membenarkan ucapan Gerald, tetapi perasaannya sedikit perih akibat kalimat pria itu.
Hanna menunduk dalam, demi menenangkan gejolak tidak nyaman dalam dirinya. Lalu mengangguk, walau si lawan bicara tidak melihatnya.
“Makasih banyak,” kata Hanna, lalu berdiri. “Aku sekarang berutang banyak sama kamu.”
Gerald tidak mengatakan apa pun, sehingga Hanna berniat untuk meninggalkan kamar. Namun, baru saja mengambil sebuah langkah, kelingkingnya digenggam lemah.
“Jangan ... makan ... sama ... saya.” Gerald memberikan penekanan di setiap katanya, lalu memberi isyarat melalui lirikan mata pada salah satu piring yang belum tersentuh.
“Gerald, jangan ngomong gitu. Aku pusing beneran pahaminnya,” kata Hanna mengeluh. Ia duduk di samping Gerald, dan pasrah—bercampur lega sekaligus syukur—ketika suaminya meletakkan piring di pangkuannya.
“Biar impas,” balas Gerald tanpa beban. “Sama kayak yang kamu lakuin ke saya akhir-akhir ini. Bikin pusing.”
Hanna tidak membalas. Ia mulai menyendok makanan di piringnya dengan sangat hati-hati. Pada awalnya sekadar memainkan sendok. Sampai Gerald memberikan seruan.
“Jangan dimakan!” kata Gerald dengan tegas.
Membuat Hanna sempat tegang sejenak dalam kebingungan. Saat ia mencoba mencerna maksudnya, Hanna mendapatkan pelototan dari Gerald, yang memberikan arahan untuk menunduk ke arah makanan.
Hanna secara ragu mulai menyuap diri sendiri, dan Gerald langsung tersenyum puas melihatnya. Lalu, pria itu fokus melanjutkan kegiatan makannya.
Hanna mengembuskan napasnya yang sempat tertahan akibat tegang. Ia menggeleng-gelengkan kepala karena takjub dengan sikap suaminya saat ini.
Aneh ... bin ajaib.
Namun, Hanna malah bersemu merah karena tidak menyangka Gerald akan seperti ini hanya karena menyesuaikan diri dengannya.
Walau dengan nada tajam yang menusuk bercampur sindiran, Hanna malah merasa ... kepedulian Gerald saat ini sangat ... manis.
Hanna menyukainya: sikap Gerald, dan orangnya sekaligus.
"Btw, Hanna, Gladys cerita tentang apa?"
__ADS_1