HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Cincin Pernikahan


__ADS_3

Efek tindakan Anton kemarin sejujurnya masih melemahkan mental Hanna untuk datang bekerja. Sekaligus perasaan penasaran mengenai keadaan sang ayah, Hanna semakin berat untuk datang ke toko. Namun mengingat bahwa sudah dua hari ia hanya bekerja setengah hari, Hanna terpaksa datang.


Kemarahan Rayhan sudah bisa diprediksi oleh Hanna. Gadis itu hanya bisa menunduk dalam sembari mendengarkan setiap kalimat yang Rayhan lontarkan atas sikap tidak profesionalisme Hanna.


"Saya masih pertahankan kamu karena Bu Salina, Hanna. Tapi tolong, jangan bertindak seenaknya seperti ini lain kali. Usaha saya bisa terganggu karena sikap kamu ini."


Hanna semakin memperdalam tundukkan kepalanya. Ia memainkan jemarinya di depan perut, mencoba melawan gugup yang melanda dirinya.


"Oke." Rayhan mengatakan satu kata itu sembari mengembuskan napas panjang. "Keisya akan saya istirahatkan besok, full. Kamu yang harus tangani semua sendiri, dan kalau ada masalah besok, kamu yang akan tanggung jawab semuanya. Paham, Hanna?"


Gadis itu segera mengangguk, mengiyakan ucapan pria itu. Ia berpikir, bahwa semuanya sudah selesai. Daripada membuang waktu lebih lama di sini, Hanna berniat untuk pamit undur diri. Namun, Rayhan lebih cepat bersuara dibanding dirinya.


"Laki-laki kemarin, siapa? Yang jemput kamu secara paksa itu?" tanya Rayhan dengan nada menuntut..


Ketika Hanna menatap sang atasan demi mempertimbangkan keseriusan lelaki itu untuk bertanya—apakah ia harus menjawab atau tidak—ia menemukan bahwa Rayhan benar-benar menunggu jawaban darinya.


Hanna sekarang kebingungan harus menjawab. Seharusnya mengatakan 'suami' tetapi pernikahan ini tidak akan lama. Jadi, ia memilih menggunakan hubungan status yang sudah lama terjalin antara dirinya dan Gerald.


"Sepupu saya, Pak. Anaknya Tante Salina."


"Ah ... ternyata itu anaknya Bu Salina." Rayhan berseru lega, dengan senyum lebar di bibirnya. "Ya sudah. Kamu silakan ke t3mpat kamu."


"Baik, Pak. Permisi." Hanna mengangguk ramah sekali, lalu meninggalkan tempat tersebut. Menuju tempatnya bekerja.


Hanna sempat melirik Keisya sekilas, hanya ingin menilai sikap perempuan itu. Setelah mendapatkan tatapan sinis dari Keisya, Hanna langsung fokus pada pekerjaannya saat ini.


Sebagai bentuk sadar diri atas kesalahannya dua hari kemarin, Hanna menjadi paling aktif dibandingkan Keisya dalam melayani pelanggan. Ia hampir lupa untuk beristirahat, sampai azan Zuhur terdengar.


"Aku duluan ya, Kei. Nanti balik lagi." Hanna berpamitan dengan ramah, sekadar memperbaiki hubungan antara mereka.


Namun, ia hanya mendapatkan balasan tajam dari Keisya.


"Ya, kalau masih inget balik lagi."


Hanna menghela napas panjang. Pasrah atas ucapan sinis tersebut. Ia sempat terlihat sendu, sampai akhirnya muncul seseorang langsung menabraknya dan memeluk lengannya.


"Kamu dari mana aja kemarin, Han? Astaga, kirain udah kapok kerja." Alifah bertanya dengan nada cemas. "Kemarin ada laki-laki yang nyariin kamu sampai ke sela-sela sepatu, tau nggak?! Kayaknya khawatir banget kamu nggak masuk. Itu siapa, sih? Pacar ya?"


Hanna segera menggeleng, menolak tebakan Alifah. Karena ia sendiri tidak paham dengan hubungannya dengan Gerald saat ini.

__ADS_1


"Sepupu aku." Hanna menjawab lagi, serupa dengan jawaban yang ia katakan pada Rayhan sebelumnya.


"Eh, cuman sepupu doang? Perhatian amat, keknya."


"Namanya juga keluarga." Hanna menimpali. Ia masih ingin mengatakan sesuatu tentang apa saja yang terjadi selama dirinya tidak ada kemarin, tetapi Rayhan muncul entah dari lorong mana, tepat di depan Hanna.


Dua perempuan itu langsung membisu, dengan Alifah yang bersemu merah di belakang punggung pria idolanya itu.


Sementara Hanna, kembali kebingungan memikirkan cara mendapatkan maaf dari Gerald. Ia menghela napas panjang.


...🥀


...


Gladysta Ardinata


Jadi, kapan kamu luang, Han? Aku mau banget bicara sama kamu:( kangen banget:(


Setelah penolakan yang Hanna lakukan pagi tadi akibat tuntutan pekerjaan, sore ini gadis itu menemukan pesan lain dari Gladys untuk rencana pertemuan mereka. Namun, Hanna teringat bahwa dirinya harus membayar absen kemarin—karena tidak mau potong gaji.


^^^^^^Sorry, Dis. Aku beneran nggak sempet karena dua hari kemarin sempet bolos di jam kerja, jadi mesti ganti biar nggak potong gaji.


^^^^^^


Gladysta Ardinata


Kamu kayak orang yang nggak dinafkahin suami aja:v


Emang Gerald nggak ngasih kamu uang bulanan, Han? Kalau iya, ceraiin aja laki-laki kayak dia.


Demi menjaga nama baik Gerald, Hanna segera mengetikkan balasan tanpa memedulikan jalanan.


^^^^^^Nggak kok. Enggak. Gerald ngasih nafkah kok. Cuman akunya suka kerja aja. Jadi, ya ... aku suka kerja.


^^^^^^


Gladysta Ardinata


Dasar! Aku kangen kamu padahal:(

__ADS_1


Hanna masih ingin membalas, tetapi sebuah seruan klakson terdengar. Ia tersentak kaget, dan menemukan mobil putih telah terhenti di depannya.


"Mau sekalian ikutan, Han?" tawar pemilik mobil: Rayhan.


"Makasih sebelumnya, Pak, tapi nggak dulu kayaknya. Soalnya rumah saya lumayan jauh." Hanna menolak dengan cara paling halus, tidak lupa memamerkan senyum terbaiknya.


"Daerah mana memang?" tanya Rayhan, yang membuat Hanna kebingungan.


Pasalnya, gadis itu menolak karena dua hal: takut Gerald melihatnya sekaligus ngeri melihat ia hanya berdua dengan Rayhan. Meski Hanna tahu Rayhan adalah pria baik, ia tetap sulit menghalau perasaan khawatir dalam dirinya.


"Saya ...." Hanna sekarang kebingungan mencari alasan penolakan. Namun, otaknya terlalu lemah untuk berbohong.


"Ayo naik. Saya juga lagi santai kok. Saya antar sampai rumah. Sesekali aja, Han."


Gadis itu masih sulit menerima tawaran Rayhan. Ia menunduk, mencoba mencari penolakan lain, tetapi tidak ada.


Suara klakson lain terdengar di belakang mobil Rayhan. Membuat keduanya langsung memandang ke sumber suara.


Secara spontan, Hanna melotot lebar sembari mundur dua langkah untuk menciptakan jarak antara dirinya dan Rayhan. Walau tadinya, jarak antara mereka sudah jauh.


"Gerald ...." Hanna menyebut nama sepupunya itu dengan suara lirih terbata.


Semakin ketakutan ketika sepupunya itu turun dari mobil. Ia secara spontan mundur perlahan ketakutan ketika Gerald semakin mendekat padanya.


"Sorry telat, Hanna." Gerald meraih tanganku dalam genggaman lembutnya. "Ayo pulang, Sayang."


Hanna melotot lebar atas panggilan Gerald yang gadis itu yakini sengaja dilakukan di depan Rayhan. Gadis itu mencoba mengelak. Ketika sisa jemari dalam jangkauan Gerald hampir terlepas, pria itu malah menguatkan genggamannya.


"Ck, kebiasaan!" kata Gerald, yang membuat Hanna kebingungan. "Cincin kamu kenapa dilepas lagi?"


Hanna kebingungan, ketika Gerald tanpa mengatakan apa pun langsung meninggalkan dirinya seorang diri. Perempuan itu beralih pandang pada Rayhan yang juga kebingungan.


"Hanna?" Rayhan memanggil dengan nada kebingungan.


Gerald datang tidak lama kemudian di d3pan Hanna. Ia mengambil tangan kiri perempuan itu, dan memilah jari tengah Hanna. Hanya butuh sekali dorong, sebuah cincin berwarna perak dengan berlian mungil di atasnya, sudah menghiasi jemari gadis itu.


Hanna tertegun memandangnya. Terpukau oleh keindahan cincin tersebut, sekaligus meresapi debar kuat dalam dadanya.


Ini cincin pengikat hubungannya dengan Gerald.

__ADS_1


"Jangan lupa pakai cincin lagi ya. Biar semua orang tahu, kalau kamu sudah jadi milik saya. Jadi ... nggak ada yang bakalan deketin kamu."



__ADS_2