
Hanna bukan tipe perempuan yang suka melanggar batas privasi seseorang, atau hobi mencari celah hanya demi mengetahui rahasia orang lain. Namun, kali ini, ia benar-benar penasaran mengenai sikap keras kepala Gerald terhadap dirinya setiap kali Hanna ingin bertemu Gladys. Andai Gerald biasa saja, tentu Hanna tidak akan ambil pusing.
Namun di sini, Hanna tidak bisa mengelak dari perasaan yang mengatakan bahwa apa yang ada di antara Gerald dan Gladys ... berhubungan dengan dirinya. Jadi, gadis itu berpikir, tidak ada salahnya tahu sesuatu yang berhubungan dengan dirinya sendiri.
Atas dorongan itulah, Hanna akhirnya berbelok dari jalan pulang seharusnya. Ia menggunakan angkutan umum yang akan membawanya ke rumah sang mertua. Sempat pesimis bahwa Hanna akan disambut dengan ocehan Salina mengenai kegagalan dari setiap rencana mereka dalam hal memisahkan Hanna dan Gerald.
Namun, ternyata tidak.
“Baru berkunjung sekarang, heh? Tante kirain kamu lupa sama rumah di sini sejak tinggal sama Gerald!” kata Salina dengan suara pura-pura marah. Hanna sempat berpikir bahwa ini sindiran, tetapi setelah mendapatkan senyuman hangat dari Salina, Hanna yakin bahwa wanita itu sungguh masih ramah dan menyayanginya.
“Ayo masuk. Gladys kangen banget sama kamu, pengen banget ketemu.”
Salina membawa Hanna masuk ke dalam rumah dengan sangat baik. Lalu mempersilakan sang keponakan untuk duduk di salah satu sofa, sementara dirinya tetap berdiri tegap.
“Mau minum apa, Hanna?” tanya Salina, ramah.
Seandainya Hanna belum menikah dengan Gerald, dan statusnya terhadap Salina hanya sekadar keponakan-tante, maka Hanna tidak akan keberatan sama sekali dengan kepedulian Salina. Namun, setelah apa yang terjadi, serta segala usaha Salina dalam memisahkan dirinya dari Gerald—yang tidak jarang membuat Hanna sering berat hati melakukannya—sehingga membuat gadis itu merasa sangat segan atas pelayanan yang kelewat ramah ini.
“Air putih aja, Tante. Aku tadi sempet jajan sebelum ke sini, tadi, jadi belum mau minum minuman yang manis,” jawab Hanna, setengah berbohong. Dirinya memang sempat membeli jajanan di luar, tetapi tetap mau disuguhkan teh manis.
Namun, ia tidak bisa melakukannya sekarang. Setidaknya sampai perceraian terjadi, Hanna tidak akan bisa bersikap normal terhadap mertuanya.
“Ya udah, tunggu di sini, ya.” Salina gegas masuk ke dapur, meninggalkan Hanna seorang diri di ruang tamu.
Hanna mengetukkan kakinya di lantai demi mengusir gugup, tetapi gagal. Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain, selama menunggu.
Hingga beberapa menit berlalu, yang terbilang sangat lama untuk sekadar penyuguhan air putih biasa.
Hanna merasa ada yang aneh, tetapi berusaha untuk tetap diam tenang di tempat. Ia mengusap paha demi menenangkan diri, sembari sesekali melongok ke bagian dalam dapur, dan hanya bisa menemukan sedikit bagian di tempat memasak itu tanpa menemukan keberadaan Salina di dalamnya.
__ADS_1
Ah, tidak. Salina lewat di bagian yang bisa dilihat Hanna pada bagian dapur tersebut. Perempuan itu tampak sibuk menelepon dengan senyuman lebar di bibirnya, yang malah memberikan ketidaknyamanan bagi Hanna. Walau, Hanna berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa Salina mungkin hanya sekadar mengobrol dengan Fauzan, dan itu adalah sesuatu hal yang wajar.
Memang di sini, perasaan Hanna yang selalu bermasalah.
Pintu rumah tiba-tuba dibuka, bersamaan dengan kedatangan Salina dari arah dapur. Sosok Gladys baru saja datang dari arah pintu, dan Hanna segera menyambutnya dalam pelukan hangat.
“Akhirnya, Hanna ... setelah sekian tahun, kita akhirnya ketemu juga,” kata Gladys dengan senyuman terbaiknya. “Gerald kampret, dia larang-larang aku buat ketemu kamu, dan malah kirim aku ke luar negeri biar aku nggak ketemu kamu lagi.”
Hanna sekarang tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingung bercampur dari wajahnya.
“Kenapa memangnya?” tanya Hanna.
Gladys lebih dahulu membawa Hanna untuk kembali duduk di tempat. Keduanya saling berhadapan, sementara Salina yang baru saja meletakkan gelas berisi minuman di atas meja, juga duduk di sebuah sofa tunggal.
“Oke,” kata Gladys. “Aku bakalan cerita.”
...🥀...
Pria itu mempercepat persiapan pulangnya dari kantor. Buru-buru merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Namun, ia belum sempat mengambil tas ketika pintu ruangannya diketuk beberapa kali.
Gerald berusaha menahan diri untuk tidak berdecak kesal. “Masuk!” Namun, gagal menjaga suara agar tidak terdengar masam.
Kania datang, masuk ke ruangannya dengan senyum terbaik miliknya. Namun, tidak berhasil mengalihkan fokus sang atasan agar tertarik padanya.
“Anda sudah mau pulang, Pak?” tanya Kania, penasaran. Ia melirik keadaan meja Gerald yang sudah rapi, lalu memandang tumpukan map yang ada di tangannya. “Saya mau serahin laporan, tapi mau minta tolong buat Pak Gerald periksa dulu sebentar. Biar kalau ada yang salah, saya bisa revisi malam ini.”
Gerald mendesis kesal tanpa suara. Ia melirik jam tangannya, dan menemukan fakta bahwa Hanna sudah pasti pulang dari toko. Hal lain yang membuat Gerald semakin ketakutan sekarang—selain pertemuan Hanna dan Gladys—adalah kedekatan bos Hanna yang terlalu kentara menunjukkan rasa tertarik. Hanya karena sang istri terlalu naif, sehingga mengabaikan hal tersebut.
Jadi, Gerald tidak bisa mengabaikan dua ketakutan tadi hanya untuk meladeni Kania yang bisa dibaca jelas hanya sekadar mencari perhatian. Perempuan ini selalu mengerjakan pekerjaan menjelang akhir waktu, hanya agar bisa mendesak dan konsultasi kepada Gerald.
__ADS_1
“Sorry, Kania. Tapi saya lagi beneran sibuk sekarang. Saya bakalan bawa laporan kamu ke rumah, nanti saya periksa,” kata Gerald memutuskan. “Saya akan hubungi kamu via email.”
Setelah mengatakan itu, Gerald pikir sudah selesai. Jadi, ia mengangguk kecil sebagai isyarat pamit ala kadarnya, kemudian gegas keluar dari ruangan.
Namun, langkahnya terhenti ketika baru saja melewati Kania dan perempuan itu memanggilnya.
“Di WA saja, boleh, Pak? Biar lebih leluasa tanya-jawabnya yang cepat,” kata Kania, menyarankan. Perempuan itu terlihat sangat berharap tanpa Gerald bisa sadari.
Gerald belum sempat menjawab ketika ponselnya berdering singkat tanda ada notifikasi pesan masuk. Ia lebih dahulu memeriksa, dan menemukan pengirimnya adalah Gladys. Hanya ada sebuah foto di sana, di mana Hanna terlihat sedang meminum air putih.
Lalu, pesan selanjutnya masuk.
Gladys :
30 juta, sekarang, atau aku bilangin sama Hanna apa yang kamu lakuin di malam kematian ibunya dia?
E-he-he ....
Gerald memejam kuat demi menahan amarah dalam dirinya. Tidak buang waktu lagi, ia membuka aplikasi m-bangking, dan mengirimkan apa yang adiknya itu minta.
“Pak Gerald?” Kania kini menuntut.
Sehingga Gerald yang sedang dalam kondisi kepala panas dan penuh, hanya bisa mengiyakan agar obrolan ini segera selesai.
“Oke.”
Gerald tidak menyadari, bahwa tiga hal sedang mendesaknya secara bersamaan ... untuk berpisah dari Hanna.
...🥀...
__ADS_1