
Kebiasaan bangun subuh menjadi alasan mengapa Hanna dengan mudah membuka matanya walau tidak menemukan hambatan apa pun. Gadis itu sempat melirik sekitar untuk mencari jam, tetapi pergerakannya seketika terhenti saat menemukan sebuah tekanan berat di pinggangnya.
Hanna turut menahan napas sejenak. Sembari itu, ia mengangkat kepalanya untuk mengecek, dan menemukan sebuah lengan tengah melingkar di pinggangnya. Ketika menelusuri lengan tersebut, Hanna terhenti pada sosok pria yang tidur sangat pulas di sampingnya.
Saat itulah, Hanna menghela napas panjang. Terdengar begitu kecewa, pada diri sendiri sebenarnya. Karena sekali lagi, ia menghindar dari Gerald semalam hanya karena ucapan Salina.
Padahal, Gerald suami Hanna sekarang. Lebih berdosa bagi Hanna menolak Gerald dibandingkan tidak patuh pada mertuanya.
Hanna yang mengembalikan posisi kepalanya seperti semula, enggan bangun untuk sesaat. Hanya demi memperhatikan Gerald lebih lama untuk subuh ini.
Teringat lagi bagaimana ia menghindar semalam. Ketika Gerald sudah berjarak kurang setengah meter darinya, Hanna langsung mundur cepat dan menutup pintu kamar mandi.
Sekarang, Hanna hanya bisa menarik-embuskan napas tanpa bisa melakukan apa pun sekarang. Ia memilih mengubah posisi secara perlahan menghadap ke arah sang suami. Sebelah telapak tangannya menempel di pipi Gerald, menyentuh dengan hati-hati.
Hanna bahkan bernapas dengan sangat perlahan hanya agar dirinya tidak mengganggu tidur Gerald.
Sekali lagi, Hanna merasa terhipnotis dengan fisik suaminya. Ia tidak pernah merasa seperti ini: mengagumi sepupunya sebesar ini. Namun, entah mengapa, setelah pernikahan ... Gerald terasa lebih ... menggoda.
Hanna terkekeh geli atas pikirannya sendiri. Senyumnya terlalu lebar sampai matanya menyipit, hingga ketika ia kembali melebarkan pandangan, gadis itu tersentak kaget dan secara spontan menjauhkan diri saat menemukan pria di depannya sudah membuka mata: menatap tajam ke arah Hanna.
Namun, usaha Hanna untuk menjauh tidak bisa berjalan sempurna ketika tangannya yang berada di pipi Gerald ditahan oleh pemuda itu. Hanna hanya bisa mengembuskan napas panjang dan gemetar karena gugup. Matanya masih melotot sempurna.
“Kenapa berhenti?” tanya Gerald dengan suara rendahnya. Ia mendekatkan wajahnya pada Hanna, membuat gadis itu semakin menjauhkan kepala sampai punggungnya meliuk. “Segitunya menjauh, Hanna?”
Gerald terkikik geli, yang tidak secara langsung membuat Hanna tersinggung sedih. Hanna tidak tahu mengapa, Gerald seperti ....
Hanna mencoba mencari tahu kata yang tepat untuk pemuda itu, tetapi di saat pikirannya sedang menerawang jauh, otaknya mendadak beku saat mendapat dorongan kuat yang terasa kenyal di bibirnya.
Secara otomatis, jemari Hanna menegang sempurna—seperti seluruh tubuhnya—dan tanpa sengaja meremas wajah suaminya dengan lembut. Pun tangan Gerald, ia mencengkeram erat pinggang Hanna, melampiaskan dorongan dalam dirinya.
“Gerald ....” Hanna memohon dengan suara mengiba, antara meminta Gerald menghentikan kegiatannya, atau sekadar melaporkan pada sang suami bahwa ada perasaan gelisah dalam dirinya.
__ADS_1
Hanna seharusnya merasa lega ketika Gerald menghentikan kegiatannya sesaat. Ia sudah bisa bernapas dengan baik, tetapi oksigen hanya bisa tertahan di tenggorokan saat lehernya dikecup dalam.
Gadis itu menjatuhkan pegangannya di pundak Gerald. Ia mendesis tertahan dengan gigi-gigi saling menekan kuat. Otaknya tidak lagi membeku, tetapi lupa caranya bekerja. Ia bahkan tidak tahu caranya memanggil sang suami dengan baik.
Hanna tidak bisa memikirkan apa pun. Tahu-tahu, setelah Gerald memberikan jeda, dirinya sudah ditindih oleh tubuh sang suami. Hanna baru saja mengaktifkan kinerja pikirannya, tetapi sudah terlambat. Ia hanya bisa melotot lebar ketika mengetahui posisi terkutuk mereka, dan menyadari tangannya yang kurang ajar sudah berpegangan di pundak pemuda itu.
Gadis itu tertegun di tempat, bingung harus bertindak. Ketika Gerald berniat untuk merendahkan posisi wajahnya, Hanna segera memejam kuat sembari merapatkan pundak dan lehernya agar menutup akses dari pemuda itu.
Namun, bukan ciuman penghilang akal sehat yang diterima oleh Hanna.
Gadis itu hanya mendengarkan suara kekehan ringan. Disusul guncangan hebat pada ranjang. Secara hati-hati, Hanna membuka matanya dan menemukan Gerald sudah berdiri membelakangi tempat tidur menuju kamar mandi, sembari bersenandung ringan.
Dalam kebingungan, Hanna mencoba untuk bangun demi bisa bersandar pada kepala ranjang. Ia masih mengerjap berulang kali, mencoba mencerna hal ini.
Kenapa ... di saat Hanna tergugah oleh perlakuan Gerald, pemuda itu malah menjauh?
Ketika Hanna masih bertanya-tanya, Gerald yang sudah mencapai ambang pintu kamar mandi tiba-tiba berhenti dan menoleh tanpa berbalik.
“Mau disentuh lebih serius, Hanna?” tanya Gerald dengan suara rendahnya. “Mohon dan berlutut di depan saya, kalau mau disentuh lebih jauh.”
“Mustahil ....” Hanna menjawab dengan suara yang lebih lirih.
Namun, dibalas dengkusan ringan yang terdengar geli dari Gerald.
Pemuda itu sangat percaya diri Hanna akan melakukannya. Karena memang, ia sudah merencanakan sesuatu di kepalanya.
...🥀...
Gerald meninggalkan ruangannya dengan ponsel yang menempel di telinganya. Pemuda itu menatap nyalang ke depan, sembari terus melangkah. Membuat siapapun yang berniat menyapanya, langsung mengurungkan niat.
“Pekerjaannya kan bisa diselesaikan di rumah, Pa. Ngapain saya harus di kantor lembur nggak jelas. Saya bukan Papa yang lebih suka ngabisin waktu di kantor daripada sama keluarga!” balas Gerald, menolak permintaan sang papa untuk membatalkan rencananya pulang terlambat.
__ADS_1
“Sejak kapan kamu suka ngabisin waktu di rumah, Gerald? Kamu pulang cepet juga cuman mau keluar lagi buat balapan! Kamu ... kapan dewasanya, Gerald?”
“Papa nggak perlu urusin ke mana saya pergi setelah dari kantor!” Gerald membalas dingin, ketika ia sudah masuk di dalam lift bersama empat karyawan lainnya. “Kerjaan selesai, itu yang Papa urusin. Sebelum jam sembilan besok pagi, saya bakalan bawa hasil kerja ke meja Papa.”
Gerald mengembuskan napasnya secara kasar usai mengatakan itu. Ia merasakan urat-urat lehernya sudah menonjol sempurna saat berbicara, walaupun ia berbicara dengan suara rendah dengan sang papa.
“Gerald ....” Fauzan memanggil dengan suara frustrasi. “Kamu janji buat dukung Papa buat kembangin perusahaan, sekaligus bayar utang mahar kamu.”
“Iya, Pa. Makanya ... saya bilang, saya bakalan kerjain nanti, di rumah. Papa tinggal tambah aja terus kerjaan saya. Saya pastikan semua selesai tepat waktu.”
“Terserah kamu, Gerald!”
Telepon dimatikan sepihak oleh sang papa, sementara Gerald yang mulai menjauhkan layar ponsel dari telinganya, memandang riwayat panggilan dalam kebingungan.
Merasa aneh dengan tindakan sang papa, sebab, Fauzan tidak biasanya ikut campur masalah penyelesaian pekerjaan yang dilakukan olehnya. Namun, entah mengapa, hari ini Fauzan begitu keras kepala mencegahnya pulang lebih awal.
Gerald dengan jelas merasakan ada sesuatu yang salah sekarang ini.
Ting!
Gerald masih dalam kebingungan ketika pintu lift sudah terbuka. Ia baru saja berniat melangkah keluar, tetapi pergerakan kakinya terhenti tatkala melihat seseorang juga berniat memasuki lift. Gerald langsung memandang curiga, karena perempuan asing itu terlalu sering masuk dalam hidupnya akhir-akhir ini. Entah mengantar makanan, menjadi tetangga, dan sekarang, bekerja di gedung yang sama.
“Selamat sore, Pak Gerald. Saya mau mengonfirmasi data bulan lalu, yang agak berbeda antara di buku dan di data pegawai lama. Anda sibuk, Pak?” tanya perempuan itu—Kania—sembari menunjukkan map di tangannya. “Saya mau memberitahu Anda besok pagi, tetapi laporan ini harus saya pastikan malam ini, karena akan menjadi pembahasan untuk meeting besok. Saya tidak bisa konfirmasi besok, lalu kerjakan di saat yang bersamaan, dan langsung meeting.”
Gerald terdiam sejenak, mempertimbangkan kondisi saat ini. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku, sebelum mengambil map dari tangan perempuan itu.
“Apa kita bisa bahas ini di ruangan Anda, Pak?” tanya Kania dengan tatap lurus mengarah pada pemuda tinggi di depannya itu. “Sebagai permintaan maaf karena sudah mengganggu jam pulang dan istirahat Anda, saya membawakan ... minuman untuk Anda.”
Kania memamerkan dua buah botol Tumbler plastik berisi minuman di tangannya, dengan senyum cerah. Lalu menyerahkan salah satu botol pada Gerald, dan diterima tanpa ragu oleh pemuda itu.
“Oke.” Gerald melirik jam tangannya sebentar. “Saya mungkin punya waktu sebentar untuk membahas ini.”
__ADS_1
Gerald mundur, masuk lagi ke dalam ruangan baja, disusul oleh Kania yang meredupkan senyum hingga menyisakan smirk tipis penuh arti.
...🥀...