
Hanna baru saja menyelesaikan salat tahajud ketika pintu kamarnya didorong keras dan paksa dari luar. Ia tersentak kaget, dan segera melirik ke sumber suara, menemukan sosok pemuda tengah berjalan sempoyongan memasuki ruangan hingga tiba di samping tempat tidur.
Tanpa mengatakan apa pun, tubuh pemuda itu langsung jatuh ke atas kasur empuk, dan pergerakannya langsung terhenti.
Hanna masih duduk di atas sajadahnya dalam kebingungan, ketika ia melihat Gerald sudah tidak bergerak di atas tempat tidur. Sedikit ragu, gadis itu mulai berdiri. Menghampiri tempat tidur. Memperhatikan betapa lelapnya Gerald tertidur saat ini.
Tangan Hanna secara perlahan terulur ke arah Gerald, tetapi saat jaraknya tersisa kurang lima senti, gadis itu mengepalkan jemarinya. Ia menipiskan bibir, selama berpikir. Bahwa Gerald sedang mabuk, dan aroma alkohol menguar dari tubuh suaminya.
Hanna tidak bisa menyentuh pemuda itu begitu saja. Ia melepaskan mukena dan roknya, diletakkan di atas sajadah begitu saja, kemudian kembali lagi ke tempat berdiri tadi untuk mengecek suaminya.
Punggung tangan Hanna menempel di sisi wajah Gerald, merasakan lengket di sana. Ia baru teringat bahwa pemuda ini bersiap terlalu cepat, sehingga dapat dipastikan bahwa ia bahkan belum mandi sebelum pergi.
Decakan kecil berulang kali terdengar dari mulut Hanna. Ia meninggalkan suaminya sejenak, menuju ke kamar mandi untuk mengambil air dalam baskom kecil, serta mengambil handuk kecil. Hanna duduk di pinggir tempat tidur, usai meletakkan baskom di atas nakas.
Handuk yang direndam sesaat, diperas untuk kemudian ditempelkan di wajah Gerald. Diusap dengan sangat lembut, turun ke dagu pemuda itu, lalu lehernya.
Hal sederhana ini, ternyata berhasil memicu sudut bibir Hanna untuk tertarik. Gadis itu ... menyukai sensasi debar keras dalam dada kirinya selama melakukan kegiatan ini.
Handuk basah mulai menuruni leher Gerald, tetapi terhenti sejenak ketika pergerakan Hanna terbatasi oleh jaket kulit di tubuh pemuda itu.
Susah payah, Hanna membalik tubuh tengkurap Gerald, kemudian membantu melepaskan jaket pemuda itu. Berhasil, tetapi masih ada kaus hitam setelahnya.
Gadis itu seketika bimbang, apakah harus lanjut membuka kausnya atau tidak.
Namun, Hanna yakin, bahwa pemuda ini tidak akan bisa tidur nyenyak selama tubuhnya tidak dibersihkan. Gerald baru pulang bekerja, dan berangkat lagi untuk kegiatan aktif. Jelas, ia menghasilkan sangat banyak keringat untuk seharian ini.
Dan itu harus dibersihkan.
Hanna mulai mengulurkan jemari gemetarnya ke ujung kaus Gerald. Ia mengembuskan napas dengan sangat kasar, juga meneguk ludah dengan kasar ketika ia mulai memberanikan diri sendiri untuk mengangkat kaus tersebut.
Butuh banyak usaha bagi Hanna untuk bisa membebaskan suaminya dari kaus ketat itu. Ia harus mengangkat tangan Gerald satu-persatu, memutar-balikkan tubuh pemuda itu, lalu mengangkat kepalanya sehingga kaus bisa ditarik hingga lepas sempurna.
Hanna mengembuskan napas kasarnya yang bercampur kepuasan.
Namun, ia tidak sepenuhnya bisa lega, sebab, ada masalah yang lebih besar sekarang ini.
Bagaimana ia bisa menghadapi tubuh sepupunya ... yang sangat sempurna ini?
__ADS_1
Hanna memaksakan lehernya agar tidak menoleh dan memperhatikan pahatan tubuh sempurna Gerald. Ia menempelkan lap basah di tubuh itu, dan mulai mengusap lembut. Setiap kali ia tidak sengaja bersinggungan kulit dengan Gerald, Hanna akan langsung menghentikan napasnya sejenak.
Gadis itu menggeleng kasar, mencoba mengembalikan fokus dan kewarasannya. Ia melanjutkan kegiatannya, sampai separuh tubuh Gerald berhasil dilap dengan baik.
Hanna memasukkan handuk ke dalam baskom, kemudian berdiri. Ia membungkuk, membantu melepaskan sepatu pemuda itu, dan menaikkan selimut sampai menutupi sampai dada.
Selesai.
Hanna mengembuskan napas lega. Tubuh Gerald sudah bersih, dan mata gadis itu sudah terlindungi. Hanna sekarang berniat mengembalikan baskom dan handuk, sekaligus merapikan sajadahnya.
Namun, ia baru saja berbalik ketika ujung pakaiannya ditarik. Hanna menoleh, berpikir ingin melepaskan kaitan pakaiannya. Namun, ia belum sempat melakukan apa yang ingin dilakukan ketika tarikan tadi berpindah ke pergelangan tangannya. Terlalu kuat, menarik Hanna sampai jatuh limbung ke atas tempat tidur—tepat menimpa tubuh Gerald.
Hanna belum sempat bereaksi ketika Gerald tiba-tuba bergerak memeluk dengan erat, membuat gadis itu terjerat selimut. Ia dibawa menyamping, ketika Hanna berusaha untuk terlepas. Pelukan di pinggangnya kian mengerat, membatasi pergerakannya. Namun, ia masih enggan menyerah berusaha terlepas. Sampai, desisan bernada rendah tepat di samping telinganya menghentikan setiap pergerakan gadis itu.
“Sst .... Hanna. Tidur sama saya malam ini.”
...🥀...
Suara asing menjadi penyebab Hanna membuka mata secara perlahan. Hal pertama yang ia dapati adalah sebuah wajah damai dengan mata terpejam rapat, serta mulut yang sedikit terbuka—menjadi sumber suara dengkuran penyebab dirinya terbangun.
Hanna masih enggan bergerak pada awalnya. Ia terus fokus pada sepupunya, sampai beberapa menit. Sampai, ia menyadari bahwa tangannya mulai kurang ajar: merayap di dada Gerald yang terbuka dan berhenti tepat di atas jantung pemuda itu.
Hanna bersiap untuk bangun. Ia menyadari bahwa tangan Gerald juga melingkar erat di pinggangnya. Hati-hati, ia melepaskan lengan tersebut, lalu mundur secara perlahan.
Turun dari tempat tidur, Hanna langsung menuju kamar mandi. Membersihkan tubuh, dan bersiap untuk melaksanakan salat subuh.
Gerald belum terbangun, bahkan berubah posisi ketika Hanna menyelesaikan ibadahnya. Gadis itu tidak mau peduli. Ia segera merapikan semua peralatan sembahyangnya, lalu keluar dari kamar menuju ke lantai dasar.
Hanna menyambut pagi dengan sibuk membersihkan lantai dasar dan halaman dengan menyapu, lalu duduk di ruang tengah ketika matahari mulai terbit. Ia mencoba terlihat sibuk dan tidak acuh dengan memainkan ponselnya.
Setelah beberapa puluh menit terduduk di sana, ketika ekor matanya menemukan Gerald sedang turun dengan langkah lemas ke lantai dasar. Hanna segera menundukkan kepalanya lebih dalam, agar pemuda itu tidak peduli dengan keberadaannya.
Namun, keinginan Hanna tidak dipenuhi dengan mulus. Gadis itu menemukan bahwa Gerald malah terduduk di sampingnya, dengan posisi bersandar malas, mata terpejam saat wajahnya menghadap ke atas. Terlihat sangat lemah.
Hanna mau bertanya, apa yang dirasakan suaminya. Mungkin sakit kepala, pusing, dan lainnya. Gadis itu ingin sekali menawarkan pijatan atau sekadar minuman dan makanan.
Namun, Hanna tidak bisa melakukan itu. Sebagai seorang istri, ia tidak bisa.
__ADS_1
“Hanna,” panggil Gerald dengan suara rendah, memancing Hanna untuk segera menoleh.
Gerald sama sekali belum mengubah posisinya saat memanggil nama sepupunya.
“Saya kaget, kamu nggak tahu sama sekali caranya berterima kasih setelah dibantu terlepas dari ayah yang buruk, dan membantu menyelamatkan kamu dari rasa malu setelah hampir ditinggalkan pengantin laki-laki di hari pernikahan,” kata Gerald dengan panjang.
Hanna membenarkan semua ucapan Gerald dalam hati, dan diam-diam meneguk saliva secara kasar.
“Tapi nggak masalah,” lanjut Gerald sembari membuka matanya lalu melirik Hanna dengan tajam. Ia meninggalkan tempat bersandarnya, demi bisa mencondongkan tubuh pada gadis itu. “Saya nggak suka usaha saya berakhir sia-sia. Kalau nggak sesuai dengan bayaran yang saya mau, saya bakalan tagih sampai sesuai dengan bayaran seharusnya.”
Hanna semakin gugup, dan berusaha memundurkan kepalanya ketika pemuda itu semakin maju mengikis jarak. Sayangnya, usaha Hanna harus terhenti ketika Gerald tiba-tiba menahan tengkuknya hingga tidak bisa menjauh lagi.
“Andai kamu mau bayar dengan masakan dan melayani saya dengan baik, saya nggak bakalan nuntut lebih.” Gerald melanjutkan, menghentikan napas Hanna sejenak. “Tapi karena kamu nggak paham sama sekali caranya bayar utang budi, jadi, saya yang bakalan ajarin kamu caranya.”
Hanna melotot, meneguk ludah secara kasar—dua hal yang sempat ia lakukan sebelum Gerald berhasil mempertemukan bibir mereka.
Tidak ada pergerakan selama dua menit awal, membuat Hanna harus mengelak demi bisa melepaskan tautan bibir mereka untuk mengambil oksigen. Gerald mengabulkan, menjauh—sejenak—hanya untuk membiarkan gadis itu menghirup udara, sebelum kembali menciumnya.
Bahkan, kali ini ia memberikan beberapa penekanan khusus, dan lum-atan kecil di bibir bawah Hanna. Ia sempat tersenyum ketika menemukan gadis itu melotot sempurna karena kegiatan mereka.
Semakin lama, Gerald semakin mempererat remasannya di tengkuk Hanna. Ia juga membawa sebelah tangannya yang lain di bawah dagu perempuan itu, mencegah menunduk.
Hanna merasakan hampir seluruh tubuhnya lemas tanpa tenaga hanya karena tindakan Gerald saat ini. Ia ingin memohon agar sepupunya berhenti, tetapi Gerald sama sekali tidak memberikan celah sama sekali.
Hanya berhenti untuk menarik napas. Lalu kurang sedetik, Gerald langsung maju lagi.
Hanna semakin lemah, baik tenaga ataupun pendirian. Gadis itu merasakan debar kuat di dalam dadanya akibat kegiatan mereka ini.
Gerald masih sibuk ******* bibir atas-bawah Hanna secara bergantian ketika pemuda itu tiba-tiba berhenti mencium kurang sedetik hanya untuk mengatakan satu kata.
“Masuk!”
Hanna kebingungan maksud Gerald, tetapi sepupunya ini tidak membiarkan Hanna berpikir dengan baik. Ia kembali *******, tetapi hanya sebentar. Gerald menjauhkan jarak antara mereka dengan senyuman misterius di bibirnya.
“Gerald, kamu ....” Hanna berusaha berbicara, merutuk tindakan sepupunya yang memorak-porandakan perasaan dan pikirannya. Namun, ketika ia tidak sengaja menoleh ke pintu, Hanna segera membeku.
Di ambang pintu yang terbuka, ada sosok lain yang tengah berdiri. Perempuan, dengan mangkuk tertutup di tangannya.
__ADS_1
Kania. Tamu itu melihat semua perbuatan Gerald pada Hanna, dan ikut membatu di tempat.
...🥀...