
"Ini pertama kalinya ada pengantin modal kaus polos, jaket, celana robek-robek, sambilin tenteng helm! Kamu waras, Gerald?" Salina menyambut dengan kemarahan kedatangan putra tunggalnya yang lebih lambat tiba karena naik motor sendiri. Wanita itu menempelkan punggung di sandaran kursi, terlihat sangat lemah sekaligus bercampur frustrasi atas apa yang baru saja putranya lakukan.
"Kamu juga katanya nggak mau datang tadi? Kenapa mendadak nyusul?" Fauzan yang mencoba bantu memijat bahu sang istri demi menenangkan, turut menambahkan komentar lain.
Gerald tampak santai pada awalnya, menjatuhkan diri di salah sofa single yang kebetulan berhadapan langsung dengan posisi duduk Hanna. Ia hanya melirik sekilas pada gadis yang tampak khawatir dan kebingungan itu, lalu fokus pada orang tuanya. Tubuhnya agak condong ke depan, dengan masing-masing lengan bertumpu pada lutut.
"Saya sudah duga bakalan gini akhirnya, Ma," jawab Gerald disusul helaan napas panjang keluar dari hidungnya. "Pertama, saya yakin Paman nggak bakalan lepasin Hanna yang jadi tulang punggung keluarga hanya dengan mahar 25 juta, karena saya tahu total utangnya lebih dari 78 juta rupiah."
Hanna mendongak cepat usai mendengar nominal yang sepupunya sebutkan, karena sang ayah sendiri tidak pernah mengucapkan jumlah tersebut.
"Tapi, Gerald, Ayah nggak pernah—"
"Kamu memang yakin ayah kamu jujur?" balas Gerald tajam, langsung memotong suara lembut Hanna sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. "Saya tahu semua yang nggak kamu ketahui, Hanna."
Gadis itu seketika bungkam, dan kembali menunduk sembari meremasi ujung jilbab putihnya. Ia benar-benar gelisah, mengingat nominal yang sepupunya ajukan untuk mahar tadi, belum lagi mengenai kesanggupan Gerald dalam ganti rugi pada Hasan—mantan calon suaminya.
Hanna ... bingung harus membayar utangnya bagaimana.
"Kedua, alasan saya kenapa nyusul—bukannya ikut barengan sama Mama-Papa—karena saya terlambat tahu, kalau calon suaminya Hanna ... ternyata sudah pernah menikah." Sekali lagi, Gerald beralih pada sepupunya. "Kamu tahu tentang info ini, Hanna?"
Gerald sudah tahu jawaban dari pertanyaannya, tetapi tetap mengajukannya pada sang sepupu. Ia sama sekali tidak kaget ketika Hanna menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Kami ...." Dengan suara gemetar bercampur ragu, Hanna mulai menjelaskan, "Baru kenalan kurang sebulan. Dia baik, dan nggak pakai cincin, jadi ya, aku nggak tanya statusnya lagi. Dia mau bawa aku keluar dari tekanan ayah, makanya aku nggak mikir panjang buat terima lamarannya." Di akhir penjelasan, Hanna menundukkan kepalanya lebih dalam dari sebelumnya. "Maaf, Om, Tante ... kalau aku bikin keluarga Om-Tante jadi kacau gara-gara pernikahan aku."
"Bukan salah kamu kok, Hanna." Salina segera bersuara agar sang keponakan tidak cemas, walau dirinya sendiri masih sulit untuk tenang. "Bukannya Tante nggak suka kamu jadi menantu Tante, Hanna, Tante cuman ... mempermasalahkan tentang hubungan kalian sebelumnya. Kalian sepupuan, yang walaupun halal menikah, tetap banyak hal negatifnya. Pertama, bakalan susah diterima masyarakat. Kedua ... anak kalian—naudzu billah—bisa cacat karena kekurangan variasi gen. Tante nggak paham ilmu kedokteran secara rinci, tapi kedekatan jarak hubungan dalam suatu pernikahan: kayak sepupuan gini, rentan bikin anak yang lahir jadi kekurangan fisik."
__ADS_1
Hanna menunduk terlalu dalam, sejujurnya tidak pernah berpikir lebih panjang tentang urusan anak dalam pernikahan dadakan ini. Ia jelas tahu, bahwa sepupunya hanya ingin menyelamatkan Hanna dari rasa malu seumur hidup.
"Selain itu," Fauzan ikut angkat bicara, "Gerald ini belum meyakinkan kesiapannya jadi seorang suami. Modal jabat tangan—akad saja, nggak cukup karena ini tentang komitmen seumur hidup. Mengingat dia seperti ini ... Papa jadi ragu sama kualitas Gerald sebagai suami, apalagi dimulai dari pernikahan dadakan tanpa sedikit pun persiapan, Papa ragu Gerald bisa jadi suami berkualitas."
"Papa bener," kata Gerald. Ia yang semula memajukan tubuh ke depan akibat keseriusan dalam pembahasan, kini mulai rileks dengan menempelkan punggung di sandaran sofa. "Saya belum terlalu siap jadi suami."
"Jadi, Gerald, kamu mau bebasin Hanna dari pernikahan ini? Nanti Papa sama Mama yang bakalan cari calon—"
"Nggak." Gerald tanpa beban memotong ucapan sang ayah, dengan lirikan tanpa bisa dibaca mengarah pada Hanna. "Nggak ada kata bebasin Hanna di sini. Dia ... istri saya sekarang." Ia mengatakannya dengan suara rendah, penuh kemisteriusan.
"Gerald, tolong ...." Salina yang memelas, ketika Hanna hanya bisa memperdalam lagi tundukan kepalanya dalam kondisi pasrah. "Kamu nikahi Hanna buat bantu dia, 'kan? Tolong, Nak ... jangan permainkan Hanna. Dia nggak seperti mantan-mantan kamu itu, Gerald. Kamu ... apa nggak kasihan sama sepupu kamu ini yang dari kecil sudah ditekan dan disiksa ayah sendiri? Kamu ... tolong ... jangan jadi neraka kedua untuk Hanna, Nak."
Namun, meski sebanyak apa pun Salina memohon, Gerald tetap tidak mengalihkan pandangan dinginnya pada sang sepupu. Ketika Hanna merasa pegal dan mulai mendongak, tatap mereka bertemu. Saat itulah, gadis itu seketika merinding ketika menemukan bahwa Gerald menarik sudut bibir kanannya membentuk seringai ... yang terlihat sangat mengancam.
...🥀
...
Entah mengapa, melihat pria itu sangat sibuk, Hana tergerak untuk membantu. Nalurinya memerintah demikian, sebagai ucapan terima kasih karena sepupunya sudah membantu tadi.
"Mas cari apa, biar aku bantu cariin," kata Hanna dengan lembut. Ia hanya melepaskan rok sembahyang karena masih ada rok panjang hitam di dalamnya, sementara mukena tetap menutupi kepala.
"Nggak perlu." Gerald menjawab singkat, sekadar memberitahu. Ia lanjutkan mengobrak-abrik isi lemari yang memang tidak berbentuk itu, sampai menemukan sesuatu dari celah pakaian yang terlipat.
Sebuah KTP dan entah surat-surat apa, dikeluarkan dari sana.
__ADS_1
"Mas mau pergi?"
"Hm." Gerald hanya menjawab dengan gumaman, bahkan tampak tidak tertarik melirik Hanna sebentar pun. "KTP sama surat-surat identitas, kamu bawa, 'kan? Siniin, saya mau daftarin pernikahan kita supaya resmi."
Hanna tidak langsung menjawab, melainkan tertegun sesaat mendengar keseriusan sepupunya.
"M—Mas?" Hanna memanggil ragu. "Aku pikir, kita nggak bakalan lanjutin pernikahan? Mas bisa ceraikan aku, dan aku janji—seriusan beneran—janji, bakalan ganti uang Mas. Tinggal kasih tahu aku jumlah nominal yang harus aku ganti rugi—"
"Dua ratus sembilan puluh empat juta, total keseluruhan." Gerald menyebutkan angka fantastis itu, sembari melirik tajam pada Hanna. Double kill untuk gadis itu. "Sanggup?" Pria itu menantang.
Hanna meneguk ludah secara kasar. Tentu ... dirinya tidak yakin kapan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu untuk membayar Gerald.
"Nggak, 'kan? Jadi, mana KTP sama KK kamu?" tuntut Gerald lagi.
Sekarang, Hanna hanya bisa mengangguk kaku, lalu bergerak dengan berjalan sempoyongan beberapa langkah sampai ia tiba di sebuah tas berwarna biru besar. Ia berlutut untuk mengobrak-abrik isinya, dan mengeluarkan apa yang sepupunya tadi minta.
"Kamu siap-siap," kata Gerald. Ia melirik sebentar pada jam tangannya, lalu mengarahkan pandangan tajam pada Hanna. "Kamu istri saya sekarang, dan saya nggak suka buang-buang kesempatan emas kayak gini. Kamu ... paham maksud saya, 'kan?"
Tentu, Hanna tahu, bahwa pria itu sedang membahas secara samar mengenai 'hak'nya sebagai seorang suami, dan sebagai seorang istri, gadis itu hanya bisa mengangguk kaku—sangat terpaksa.
Gerald seakan belum cukup mengganggu sepupunya. Ia turut melangkah maju, sampai ujung kakinya bertemu dengan ujung mata kaki Hanna. Ketika gadis itu mencoba menunduk untuk menghindar, Gerald sudah lebih dulu menggunakan telunjuk kanannya yang ditekuk ke bawah dagu Hanna, membantu gadis itu mendongak.
Lalu, tanpa aba-aba, mendaratkan bibirnya di atas bibir selembut jelly milik Hanna. Tidak ada pergerakan dari Gerald, apalagi Hanna yang sudah membatu dengan mata melotot. Keduanya diam selama sepersekian detik, sampai sesak dalam dada Hanna memicu perih dan panas di mata, kemudian menghasilkan cairan asin yang bergulir jatuh membasahi pipi.
Barulah saat itu, Gerald mundur. Menjauh.
__ADS_1
...🥀...