
Tante Salina :
Setiap jadwal sarapan dan makan malam, Kania yang akan antar makanan.
Usahakan supaya Gerald yang bukakan pintu, ya.
Kamu nggak usah masak-masak dulu, kecuali buat diri kamu sendiri.
Hanna menghela napas berat tanpa sengaja saat membaca pesan tersebut. Ia sejujurnya ragu untuk melanjutkan rencana, karena ada sebuah rasa keengganan tanpa sadar dalam dirinya.
Namun, gadis itu tetap mengetikan dua kata sebagai balasan.
^^^Hanna :
^^^
^^^Iya, Tante.
^^^
Setelahnya, Hanna meletakkan ponsel tersebut di atas nakas. Dengan enggan, ia turun dari tempat tidur, berdiri tegap. Sebelum melangkah, ia sempatkan tertunduk dalam menatap ubin putih, sibuk berpikir.
Hanna merasa berat untuk membiarkan Gerald dan Kania bersama, sehingga dirinya akan tersingkirkan. Namun, mengingat bahwa pemuda itu sama sekali tidak menuntut haknya, enggan tidur bersama, bahkan tidak peduli jika Hanna memakai jilbab secara sempurna selama di rumah—membuat gadis itu langsung yakin jika Gerald hanya ingin membantu Hanna.
Tidak ada perasaan lebih, seperti yang gadis itu sempat pikirkan walau sekilas. Sehingga sekarang, Hanna harus fokus pada tujuan utamanya.
Gadis itu memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, selama lebih dari dua puluh menit. Setelah selesai, Hanna mengenakan kimono mandi dan juga jilbab instannya sebelum keluar. Baru saja membuka pintu, ia tertegun di ambang kamar mandi saat menemukan sosok Gerald muncul secara tiba-tiba dan tengah terduduk di pinggir ranjang.
Pemuda itu balas menatap Hanna tanpa ekspresi, hanya memperhatikan gadis yang sedang membuka lemari itu dengan bibir terkatup rapat.
“Kamu kenapa nggak bilang-bilang kalau masuk kamar?” tanya Hanna dengan nada datar. “Aku nggak masak. Kamu mendingan beli makanan di luar,” lanjut gadis itu, memulai rencana mereka.
Gerald tidak membalas ucapan Hanna sedikit pun. Ia tetap pada posisinya tanpa berubah sama sekali.
“Keluar dari sini, Gerald.” Hanna memerintah dengan suara tegas. Ia bahkan membanting pintu lemari dengan cukup keras, lalu balas menatap tajam suaminya.
Ini demi rencananya dengan Salina.
Hanna terus merapalkan kalimat itu dalam hati.
“Kamu kayaknya lupa ini rumah siapa, Hanna.” Gerald membalas tajam dan menohok, tetapi pemuda itu tetap bergerak menuruni tempat tidur. “Jangan lama ganti bajunya. Saya mau mandi.”
Hanna tidak lagi membalas. Ia diam memperhatikan kepergian suaminya, dan tanpa sadar meneguk ludah dengan kasar. Hanna gegas berpakaian, dan tidak secara sempurna mengeringkan rambutnya. Hal ini dilakukan agar Gerald tidak lagi menemukannya sampai pemuda itu berangkat bekerja.
Tujuan utama Hanna adalah ruang keluarga, tetapi baru saja tiba di pertengahan tangga, gadis itu harus menghentikan langkah ketika niatannya tidak berlangsung sempurna. Gerald berada di ujung tangga, dan bersiap untuk naik. Mereka berpapasan.
Namun, langkah Gerald tidak bisa berlanjut juga karena ketukan di daun pintu. Keduanya menoleh ke sumber suara secara bersamaan, tetapi Hanna bisa lebih cepat mengerti kondisi. Ia memandang Gerald, sembari yakin bahwa pengetuk pintu adalah Kania.
Seperti rencana.
“Hanna, buka—“
“Males,” jawab Hanna tidak acuh. Gadis itu sejujurnya berdebar terlalu keras di dalam dadanya, tetapi ia berusaha alihkan dengan melirik ke tangga. Memberanikan diri untuk lanjut melangkah turun, mengabaikan bahwa kedua kakinya mulai gemetar hebat.
__ADS_1
Hanna memarahi diri sendiri dalam hati, sembari merutuk ketidaksopanannya pada Gerald. Padahal, sepupunya yang baik ini sudah menyelamatkan Hanna dari ayah dan kegagalan pernikahan. Namun, jangankan berterima kasih, Hanna bahkan ... menyakiti Gerald secara sengaja.
Maaf .... Maaf ....
Hanna terus merapalkan dua kata itu ketika melewati sepupunya turun. Ia berjanji pada diri sendiri untuk meminta maaf sembari berlutut di depan Gerald usai pernikahan ini bubar.
Hanna sangat bersungguh-sungguh.
Gadis itu bisa mendengarkan suara langkah kaki Gerald ikut turun ke lantai dasar. Ia tidak mau peduli, dan meneruskan perjalanan menuju ruang keluarga.
Namun, sedikit rasa penasaran berhasil menghambat langkahnya hingga memendek ketika akan melewati ruang tengah. Ia mempertajam indra pendengaran, tanpa menoleh ke pintu sedikit pun ketika Gerald sudah bertemu tatap dengan si tamu.
Tebakan Hanna benar.
“Hai. Aku mau antar makanan buat ... Hanna. Dia ada?” Kania yang menjadi tamu, bertanya dengan nada ramahnya yang khas.
“Ada.” Gerald menjawab tidak acuh. “Terima kasih. Tunggu, saya cucikan piringnya—“
“Nggak usah.” Kania menolak tawaran Gerald secara paksa. “Kalau kamu—ah, sama Hanna suka, aku bakalan sering bawa-bawa makanan ke sini. Aku suka nyoba resep baru, jadi suka banget bagi-bagi makanan baru ke tetangga lain. Semoga, kalian nggak bosen ya.”
Gerald tidak langsung menjawab, dan selama keheningan itu, Hanna memejam erat demi meminimalisir kuatnya debar dalam dadanya akibat perkiraan jawaban dari sang suami. Dan setelah jawaban diutarakan, Hanna seketika berhenti mengambil napas dua detik.
“Ya. Masakan kamu enak. Besok, datang bawa lagi ya.”
Hanna bergetar ketakutan mendengarnya.
...🥀
...
Sofa ruang tamu menjadi pilihan Hanna untuk duduk angkuh. Ia mencoba tidak peduli dengan kehadiran Gerald yang mulai memasuki rumah. Gadis itu mencoba mengalihkan semua gugupnya dengan fokus pada ponsel yang memang tergeletak di atas meja.
‘Tumben, pulang cepet.’ Hanna berbisik lirih dalam hati. Ia sejujurnya merasa segan, karena ia tidak menyiapkan apa pun untuk menyambut sepupunya itu.
Sementara Hanna tidak punya nomor Kania untuk meminta perempuan itu mengantar makanan.
Gerald jelas sudah sangat lapar setelah pulang bekerja.
“Hanna, kamu nggak masak?” Gerald datang dari arah dapur, bertanya dengan suara keheranan.
“Nggak,” jawab Hanna tidak acuh.
“Makanan tadi pagi juga nggak berkurang sama sekali.” Gerald terdengar mendekat, memicu kekhawatiran dalam diri Hanna. Gadis itu bergerak gelisah, tetapi tidak bisa menghindar saat Gerald sudah duduk di sampingnya. “Kamu nggak makan seharian ini?”
“Makan,” jawab Hanna datar.
Kaki Hanna terus mengetuk secara teratur di ubin putih, mengusir gugup. Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa pemuda itu sedang memperhatikannya secara intens, jadi sulit bagi Hanna untuk tetap bersikap biasa saja.
“Makan apa? Jangan bilang mie instan doang.”
“Bukan urusan kamu, Gerald.”
Pemuda itu langsung bungkam sejenak setelah mendengar balasan Hanna. Membuat gadis itu meneguk saliva secara kasar. Ia menghentikan pergerakan jemarinya di atas layar hanya demi menunggu jawaban sang suami.
__ADS_1
“Kamu beda sekarang, Hanna.” Gerald memberitahu.
‘Memang, sengaja.’ Hanna menjawab dalam hati. Ia memperdalam tundukan kepalanya ketika merasakan Gerald meninggalkan tempat duduknya.
Jemari Hanna segera mengaktifkan pergerakan jemarinya di atas layar.
^^^Hanna :
^^^
^^^Tante, Gerald udah pulang. Kania bisa bawa makanan sekarang? Soalnya dia laper sekarang.
^^^
Pesan tersebut hanya mendapatkan dua centang abu-abu, cukup lama. Hanna menunggu gelisah dalam dilema. Ia sangat merasa bersalah karena membiarkan suaminya kelaparan, tetapi ... ini juga demi masa depan Gerald sendiri.
Di tengah kebingungan itu, centang abu-abu sudah berubah biru, tetapi Hanna tidak bisa fokus pada balasan Salina. Sebab, ia menemukan Gerald yang sudah berganti pakaian—dalam setelan jaket kulit hitam, dalaman berupa kaus senada, serta celana jeans dengan warna sama—muncul. Pemuda itu berjalan terburu-buru, hendak menuju pintu. Memicu kekhawatiran Hanna tanpa bisa dicegah.
“Kamu mau ke mana?” tanya Hanna, sembari ia berdiri dari sofa.
“Saya mau ikut lomba balap, terus ke kelab. Nggak usah tunggu saya. Saya punya kunci cadangan.” Gerald menjelaskan, membuat Hanna langsung membeku khawatir.
Bibir Hanna sudah terbuka hendak membalas, tetapi kepergian buru-buru Gerald mencegahnya untuk bersuara.
Setelah Gerald melewati pintu, Hanna buru-buru mengambil ponselnya. Balasan Salina tidak sempat ia baca, demi melapor mengenai kepergian Gerald pada sang mertua.
^^^Hanna :
^^^
^^^Gerald mau balapan, Tante. Sama mau pergi ke kelab katanya.
^^^
^^^^^^Aku harus gimana?
^^^^^^
Segera, muncul balasan.
Tante Salina :
Bagus kalau gitu, Hanna.
Tante bakalan pertemukan Gerald sama Kania lagi di kelab.
Hanna meneguk ludah secara kasar. Ia sudah terguncang membaca pesan Salina, tetapi itu belum selesai.
Tante Salina :
Kalau berhasil, Gerald kemungkinan nggak pulang ke rumah kalian, Hanna.
...🥀...
__ADS_1