
Kania hampir tidak pernah berhenti memperhatikan pria di hadapannya ini. Hanya sesekali melarikan pandangan ke layar monitor ketika Gerald secara kebetulan melirik padanya. Semua penjelasan pria itu tidak bisa ditangkap dengan baik, karena pikiran Kania hanya sibuk terhadap satu hal: terpesona pada Gerald.
Namun, pada saat tertentu, Kania memandangi botol minumannya yang hanya diletakkan di atas meja di samping laptop. Ada ketidakpuasan ketika ia melihat benda itu bahkan tidak pernah tersentuh sejak diletakkan oleh Gerald di sana. Sementara pesan dari Salina, ia harus memastikan Gerald meminumnya, dan tetap berada di sisi pria itu untuk memastikan bahwa efek obat bisa bereaksi.
Salina tidak memberitahu apa pun mengenai obat yang dimaksud, tetapi Kania dengan mudah mengidentifikasi jenis obat tersebut hanya dari bentuknya.
Jadi, Kania sangat paham maksud—calon—mertuanya.
“Gerald, minum dulu?” tawar Kania, sembari mengambil botol minuman tersebut, dan berniat membukanya.
Namun, sebelum sempat ia lakukan, Gerald sudah mencegahnya. Pria itu segera mengambil botol itu, dan meletakkan kembali di tempatnya.
“Saya nggak bisa buang waktu lebih banyak cuman buat minum minuman. Saya bakalan minum kalau luang. Kamu nggak perlu atur-atur kapan saya mau minum.” Gerald membalas dingin, dengan rahang menegas sempurna.
Pria itu melanjutkan lagi penjelasannya, hampir tidak lagi melirik Kania. Mengabaikan entah perempuan itu memperhatikannya atau tidak. Gerald hanya perlu menjalankan tugasnya.
“Paham, Kania?” tanya Gerald, di akhir sesi penjelasan. “Data pekan kedua belum masuk ke kamu. Kayaknya, karyawan lama lupa kirimkan. Datanya lengkap dan benar di saya, sesuai sama yang di map.” Gerald memberikan kesimpulan singkat, sembari berdiri dan menutup laptopnya.
Di saat Gerald mulai merapikan lagi laptopnya ke dalam tas kerja, Kania tampak sedikit panik.
“Mau minum bentar, Pak? Bapak pasti capek abis jelasin masalah ini ke saya.” Kania mencoba negosiasi lain, penuh harap.
Senyum Kania perlahan terbit ketika Gerald menghentikan pergerakannya sebentar. Di saat Kania berniat memberikan botol minuman pada pria itu, Gerald hanya sekadar berbalik demi memandangnya dalam penuh ancaman.
“Saya nggak suka, orang yang terlalu sok tahu sama kehidupan orang lain.” Gerald memberikan informasi dengan suara bernada rendah dan penuh ancaman. “Ingat itu selama berurusan sama saya. Paham, Kania?”
Kania mengangguk dua kali dengan gerakan yang teramat pelan, karena ia merasakan sensasi merinding ketika Gerald menyebut namanya dengan penuh penekanan.
Setelah itu, Gerald langsung mengubah posisinya: kembali merapikan semua peralatan kerjanya. Terakhir, minuman yang tampak ragu ia ambil, tetap dibawa pulang oleh Gerald.
Tidak peduli dengan keberadaan Kania, Gerald segera melewati perempuan itu. Meninggalkan ruang kerjanya, demi pulang ke rumah secepat dan seawal yang ia bisa.
Demi menemui perempuan bernama Hanna.
...🥀...
Ketika pertama kali tiba di rumah biar masih duduk di kursi kemudi ketika menemukan sosok Hana sedang menyapu halaman tanpa mengetahui keberadaan pria tersebut.
Diam-diam Gerald memperhatikan bagaimana perempuan itu tampak sangat menikmati kegiatannya saat ini sembari mendengarkan musik—khas Hanna yang dulu sebelum dirinya mendadak berubah menjadi sosok lain—sampai menarik sudut bibir Gerald membentuk sebuah senyum tipis.
Pemuda itu enggan turun pada awalnya dari mobil, demi terus memperhatikan sosok Hanna sampai dirinya merasa bosan, tetapi rencana tersebut tidak dapat diwujudkan ketika gadis itu tiba-tiba melirik padanya.
Gerald secara spontan memalingkan wajah ke arah lain, padahal ia tahu betul bahwa Hanna tidak akan pernah bisa melihatnya di dalam mobil.
Namun, memang hanya Hanna yang bisa membuat Gerald segugup ini, dan memberikan reaksi berlebihan di dalam tubuhnya.
Ketika Gerald sudah bisa mengendalikan diri sendiri dan kembali mengarahkan pandangan ke halaman samping rumah, gadis itu sudah menjatuhkan sapunya secara sembarangan, bahkan menendang sekop sampah.
__ADS_1
Gerald sama sekali tidak merasa marah bahkan tersinggung. Sebaliknya, senyum tipis tadi kini berubah menjadi lebih lebar karena merasa geli atas tindakan gadis menggemaskan dalam balutan gamis hijau tua dan jilbab senada itu.
Karena objek pengintaiannya sudah masuk ke dalam rumah, Gerald akhirnya turun dari mobil juga. Setelah mengamankan mobilnya, Gerald membawa serta tas kerja dan juga botol minuman pemberian Kania masuk ke rumah.
Gerald tidak kesulitan menemukan keberadaan sang istri setelah memasuki rumah, karena hampir setiap kali ia berniat berangkat atau pulang bekerja, gadis itu akan berada di satu tempat menampilkan kesan angkuh dan cuek: di sofa ruang tengah.
Pria itu hanya melirik tanpa mengatakan apa pun. Ia menuju ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian, kemudian membawa serta laptop dan minumannya ke ruang tengah.
Di pertengahan tangga, pria itu sempat memperhatikan botol, dan bertanya-tanya, untuk apa ia membawa benda ini ke mana pun? Gerald menggeleng heran terhadap diri sendiri, tetapi tetap melanjutkan langkahnya.
Tanpa memberi aba-aba, Gerald langsung duduk di samping Hanna, dan membawa kedua kakinya untuk bertumpu di atas paha gadis itu sebagai bentuk penahanan agar Hanna tidak beranjak dari posisinya saat ini. Gerald mengabaikan pandangan tidak suka dari gadis itu, dan sibuk pada laptop yang ada di pangkuan.
“Gerald ....” Hanna memanggil dengan suara penuh penekanan. Namun, pria itu sama sekali tidak peduli.
Ketika Hanna mencoba mengangkat kedua kaki pria itu, Gerald tiba-tiba memandangnya dengan tajam.
“Angkat satu senti dari paha kamu, sama dengan satu ciuman. Lakukan kalau kamu memang nggak percaya sama ucapan saya.” Gerald memberitahu dengan santai tetapi penuh ancaman.
Hanna langsung memasang wajah marah, tetapi kemudian ... gadis itu meneguk ludah—terlihat jelas oleh Gerald bahwa istrinya itu juga gugup.
Pada akhirnya Hanna hanya bisa mengembuskan napas secara kasar sembari membanding punggungnya di sandaran sofa. Sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, sampai seruan azan magrib terdengar.
Gerald secara spontan menurunkan kedua kakinya, sebelum Hanna meminta. Ia berlagak seperti pegal, dan merenggangkan otot tubuh, dan kesempatan itu digunakan oleh Hanna untuk segera kabur dari sana.
Sementara Gerald, hanya bisa memandangi punggung gadis itu sampai ia menghilang dari pandangan. Ia diam-diam menghela napas panjang, dengan arah tatap yang mengandung arti ke lantai.
Sampai pada akhirnya, Gerald memutuskan satu hal.
Memang bukan tugasnya, tetapi Gerald memang mau melakukannya: memasak nasi goreng untuk dua porsi. Setelah selesai meletakkan dua piring berisi nasi goreng di atas meja makan, Gerald duduk sembari mengetukkan jemari di atas meja. Menunggu sebentar, kapan kira-kira Hanna akan selesai melakukan ibadahnya.
Hingga beberapa menit kemudian, Gerald akhirnya berdiri. Memutuskan ke kamar untuk menjemput perempuan itu.
Di saat Gerald baru saja mendorong pintu untuk terbuka, suara ketukan dan pekikan ringan terdengar dari balik pintu. Ia segera memasukkan kepalanya lewat celah untuk mengecek, dan menemukan Hanna berjalan mundur secara sempoyongan sembari mengusap kening.
Gerald menemukan fakta bahwa gadis itu tengah menggantung mukenanya di balik pintu, sehingga kecelakaan kecil ini terjadi. Setelah mendapatkan banyak ruang untuk masuk, Gerald segera mendatangi Hanna demi mengecek kondisi perempuan itu.
Namun, seperti biasa, Hanna menjauh. Gerald mendengkus geli melihatnya, sehingga pria itu harus meninggalkan rasa ibanya sesaat.
“Saya belum pernah lihat kamu makan, Hanna,” kata Gerald sembari meraih tangan Hanna yang masih bebas secara paksa untuk digenggam lembut. “Nggak ada penolakan. Makan sama saya malam ini!”
“Ge—“
Arogansi Gerald lebih kuat dan cepat dibanding cara bicara Hanna. Gadis itu hanya bisa pasrah ketika diseret setengah paksa keluar dari kamar. Hanna tidak pernah dibiarkan melakukan protes atau pemberontakan selama perjalanan, dan hanya dilepaskan setelah didudukkan secara paksa di salah satu kursi makan.
Hanna sempat mencoba untuk berdiri, tetapi Gerald segera menahan kedua bahunya agar kembali ke posisi semula. Usaha itu dilakukan Hanna beberapa kali, sampai Gerald memberikan ultimatumnya.
“Sebelum makanan habis, kamu dilarang meninggalkan kursi makan dan ruangan ini. Atau—“
__ADS_1
“Cium?” Hanna langsung memotong dengan wajah menantang, sangat paham aturan sepupunya yang semena-mena.
“Nah, pintar!” puji Gerald dengan nada sarkas. “Sekarang, duduk, makan! Nggak ada penolakan!”
Seperti sebelum-sebelumnya, gadis itu tidak bisa melakukan bantahan apa pun. Sebab, Gerald tahu betul apa yang bisa membuat Hanna tidak bisa berkutik, sementara gadis itu juga tidak tahu kelemahan suaminya.
Hanna mulai menyantap malas, sebelum Gerald duduk di tempatnya. Ketika itulah, di suapan pertama, gadis itu tiba-tiba terbatuk keras.
“P—pedas ....” Hanna terbata, karena rasa panas menyengat di mulutnya. Ia mengipasi bibir sendiri yang terbuka karena siksaan tersebut. “G—Gerald ....” Ia memohon bantuan pada sepupunya.
Gerald seketika panik. Ia tidak tahu bahwa Hanna tidak terlalu menyukai pedas, sehingga Gerald secara spontan memberikan minuman di botol pada Hanna untuk diminum gadis itu.
Hanna juga tidak melakukan protes apa pun ketika menerimanya. Ia langsung menegak isi botol secara rakus, hampir tanpa berhenti, sampai Gerald melotot panik dan menarik botol secara spontan.
“Astaga, saya tadi mau buang ini.” Gerald langsung membawa botol dan setengah isinya ke tempat sampah.
Gerald kembali ke tempat semula, sembari menyisiri rambut dengan kuat—penuh penyesalan. Ia tidak bisa menghilangkan curiga setelah melihat bagaimana Kania sangat memaksa Gerald agar minum minuman tersebut, menandakan ada sesuatu yang salah di sana. Namun, ia selalu lupa membuangnya ke tempat sampah, dan dibawa ke sini. Hingga secara teledor diberikan pada Hanna.
“Aku, nggak suka masakan kamu!” kata Hanna dengan tegas. “Aku nggak suka makanan pedas.”
Gadis itu berdiri, dan Gerald tidak lagi berani untuk menahan. Namun, ia tetap menghentikan sejenak Hanna dengan penahanan lemah.
“Kamu ... jangan ke mana-mana. Saya takut ....” Terjadi sesuatu yang buruk. Namun, kalimat itu tidak dapat terucap oleh bibir Gerald. Ia hanya memandang cemas pada Hanna.
Sehingga, Gerald tidak lagi mampu mencegah ketika Hanna mengelak darinya. Ia hanya bisa berdiri bingung, seiring kepergian Hanna.
Gerald amat syok dan cemas, tidak bisa berpikir jernih sehingga ia hanya bisa duduk lemas di tempat Hanna tadi. Menyayangkan tindakan gegabahnya. Gerald mengusap wajah dan rambutnya secara kasar penuh penyesalan.
Hingga beberapa puluh menit berikutnya, pria tiba-tiba tersentak.
Bagaimana jika Hanna kenapa-napa di kamar?
Gerald harus menjawab pertanyaan itu, dan sehingga berlari menemui Hanna di kamar. Terlalu cepat memacu kaki, sampai pria itu membuka kamar dengan deru napas yang sedikit memburu.
Kecemasan Gerald tidak bisa digambarkan saat menemukan Hanna duduk di lantai tanpa alas dalam kondisi bersila, tetapi tubuhnya membungkuk ke depan sampai kening bertumpu di ubin dingin.
Gerald melangkah dengan tertatih dan lemah. Ia tidak lagi sekadar cemas atau khawatir. Pria itu sepenuhnya ketakutan. Ia terus berjalan, dengan mata yang memandang nanar ke arah punggung Hanna karena gadis itu tidak bergerak sama sekali dalam posisinya.
Gerald ... sangat takut.
Pria itu bahkan menahan napas ketika ia sudah berdiri di belakang Hanna. Ia berniat menjulurkan tangan gemetarnya ke arah gadis itu, demi mengecek kondisinya. Namun, geraknya begitu lemah dan sulit.
“H—Hanna ....” Gerald hanya bisa memanggil terbata, dengan suara yang teramat lirih—panggilan yang ia yakini berasal dari hatinya secara langsung. Suara pria itu bahkan hanya menyerupai bisikan lemah.
Namun, Gerald tiba-tiba tersentak di tempatnya ketika melihat Hanna bergerak. Ia berniat membungkuk untuk bantu gadis itu berdiri sembari mengecek kondisinya, tetapi Gerald kalah cepat oleh gerakan Hanna.
Gadis itu sudah berbalik, dan mengubah posisinya menjadi lesehan di lantai. Ia berpegangan pada kedua kaki Gerald, dan menatap pria itu dengan pandangan berbeda dari biasanya: tampak tersiksa dan tidak berdaya.
__ADS_1
“Gerald ... plis .....” Hanna memohon dengan suara yang terdengar frustrasi. Ia menatap mengiba pada sepupunya itu. “Sentuh aku .....”