HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Ajakan Bulan Madu


__ADS_3

Hanna terbangun oleh rasa pengap, gerah, dan ... panas. Memunculkan sebuah bayangan dalam memori otaknya ....


“Gerald ... plis .... Sentuh aku ....”


Hanna secara spontan membuka kedua matanya selebar mungkin. Deru napasnya memburu cepat, ketika ia membuka mata sembari bangun dari posisi tidurnya dengan gerakan kilat.


Gadis itu panik, melirik kanan-kirinya. Ia mengembuskan napas lega, saat tidak menemukan keberadaan Gerald di sampingnya.


Hanna seharusnya bisa tenang sekarang.


Seharusnya.


Namun, ketika gadis itu tertunduk dalam setelah diserang panik dadakan, Hanna menemukan hal lain yang lebih mengejutkan.


Apa itu yang menonjol maju di kedua sisi dadanya?


Hanna menyentuh bagian itu, dan seketika matanya melotot mengetahui betapa kenyal bagian sana—bahwa tidak ada lapisan penutup apa pun di balik gamis cokelatnya.


Bahkan ... bagian bawah sekalipun.


Hanna membatu di tempat, dengan mata memandang kosong ke depan sembari mengingat-ingat. Seberapa bobrok dirinya sampai berani tidak menggunakan dua hal penting itu sebagai seorang perempuan?


Kebingungan perempuan itu belum terhenti saat itu juga. Ketika sebuah bayangan terus muncul di pelupuk matanya.


“Gerald ... sentuh aku. Plis ... di sini ... sentuh ... di sini.” Suara menjijikkan Hanna terus muncul, menjadi siksaan bagai perempuan itu.


Hanna ingin menolak semua suara-suara itu, sehingga ia menutupi telinganya dengan dua telapak tangan. Ia membungkuk, mengelak dari ingatan-ingatan tersebut. Hanna tidak mau, semua bayangan tentang bagaimana murahan dirinya adalah kenyataan—bahwa ia menawarkan diri pada Gerald dan buruknya adalah ... Hanna ditolak.


Namun, jika ditolak—Hanna tertegun lagi—kenapa pakaiannya terganti?


Gadis itu segera membekap mulut sendiri dengan dua telapak tangannya yang membulat sempurna—senada dengan bagaimana matanya saat ini.


Gerald ... benar-benar menerima undangan menjijikkan Hanna?


Gadis itu menggeleng kasar, menolak opini tersebut. Hanna tidak mau hal itu adalah kenyataan, tidak ....


“Hanna?”


Panggilan dari suara bariton di ambang pintu kamar mandi menghentikan perdebatan batin Hanna. Gadis itu terpaku pada sosok suaminya yang baru saja mandi, dan keluar dari sana sembari mengusap wajah.


“Kamu belum waras sampai sekarang?” Gerald lanjut bertanya dengan nada menyindir. Ia tidak memedulikan ekspresi syok Hanna. “Semoga kamu nggak amnesia setelah membuat saya mandi empat kali dalam semalam.”


Hanna meneguk ludah secara kasar. Ia bertanya-tanya ... apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam.


Ketika gadis itu hendak bertanya, Gerald sudah menutup lemari dan meluruskan pandangan mereka.


“Kamu kenapa diam terus di situ? Masih sakit? Mau saya gendong ke kamar mandi?”

__ADS_1


Hanna tidak paham arah pertanyaan Gerald, sungguh. Namun, ia meneguk ludah karena gugup.


“Saya maklum kalau masih sakit. Kamu ... terlalu buas, semalam.” Gerald mengakhiri ucapan penuh makna itu dengan sebuah seringai tipis di bibirnya.


Bukan hanya sekadar itu, Gerald juga mulai melangkah dengan gerakan yang terlihat sangat hati-hati—memberikan kesan intimidasi kuat. Tatap pria itu berubah tajam, tanpa mengurangi kadar senyum misteriusnya.


Jiwa waspada Hanna segera meminta gadis itu untuk segera berlindung dari ancaman si predator. Ia mencoba mundur dengan ketakutan, tetapi tidak banyak yang ia lakukan ketika tubuhnya sudah berada di pinggiran ranjang.


“G—Gerald, kamu mau ngapain?” Hanna bertanya dengan suara terbata.


“Ulang kejadian semalam.” Gerald menjawab sembari membungkuk dan mulai merangkak menaiki tempat tidur.


Hanna semakin menyudutkan dirinya hingga benar-benar di ujung kasur.


“Gerald ....” Gadis itu memanggil dengan suara gemetar cemas.


“Hanna ....” Gerald balas memanggil, tetapi dengan suara rendah yang terdengar berat.


Pria itu semakin mendekat, mengikis jarak, hingga ia sudah berada di depan tubuh Hanna. Kepala Gerald semakin direndahkan untuk mengejar wajah Hanna, sampai perempuan itu memejam kuat sebagai bentuk persiapan untuk apa yang akan Gerald lakukan nantinya.


Aroma mint menyegarkan menghampiri hidung Hanna, diyakini gadis itu berasal dari mulut Gerald. Ia semakin ketakutan, tetapi ....


“Sayangnya, saya sudah terlambat ke kantor. Lanjut kapan-kapan.” Gerald segera mundur, bahkan gerakannya lebih cepat dari lamanya proses kerja otak Hanna yang sempat membeku.


Apa itu tadi? Hanna mengerjap kebingungan. Napasnya yang tidak sengaja ia tahan, kini diembuskan secara perlahan.


Ketika Gerald mengambil ancang-ancang untuk membuka handuk, Hanna bergerak secepat kilat untuk menghindar. Bahkan lupa posisinya di ujung kasur. Sehingga hanya dengan satu gerakan lengah, suara pertemuan pinggul Hanna dan lantai, sudah terdengar nyaring.


“Han—na?” Gerald memanggil khawatir pada awalnya, tetapi setelah Hanna mencoba berdiri, pria itu menahan tawanya.


Hanna sekarang punya dua alasan untuk meninggalkan kamar. Ia memasang wajah marah saat melewati Gerald, tetapi pria balas dengan pandangan jenaka.


Tepat setelah Hanna sudah di luar, dan sedang menarik pintu untuk ditutup, seruan menyebalkan Gerald kembali terdengar.


“Hanna, kamu lupa bawa pakaian dalam. Mau saya pakaikan?”


Pintu ditutup rapat, disusul suara keras perpaduan tendangan Hanna di daun pintu.


BRAK!


“Aw ....” Hanna lupa ia tidak mengenakan alas kaki.


Sial.


...🥀


...

__ADS_1


Khusus hari ini, Hanna memperbanyak jalannya dibandingkan hari biasa. Ia menjadi karyawan paling aktif di toko, hingga mendapat beberapa tatapan sinis dan juga kalimat takjub bercampur geli dari rekan lainnya.


“Nggak usah terlalu aktif, Han. Pak Rayhan belum lihat. Nanti aktifnya kalau beliau lagi inspeksi karyawan.”


Hanna yang mendengar itu, segera terkejut. Ia sempat loading mencerna maksud rekannya, hingga menemukan maksud: mereka mengira Hanna hanya ingin mencari perhatian.


Padahal, sebenarnya tidak. Ada tujuan lain, yang didasarkan oleh ucapan Gerald pagi tadi.


Bahwa ... tubuh Hanna akan sakit jika mereka memang melakukan sesuatu yang ‘panas’ semalam. Orang-orang juga mengatakan hal sama, jika seorang gadis baru pertama kali melepaskan segelnya.


Namun, Hanna hingga setengah hari ini, Hanna tidak merasakan nyeri sedikit pun di inti tubuhnya. Meyakinkan gadis itu, bahwa tidak ada hal lain yang terjadi antara dirinya dan Gerald semalam.


Hanna yakin hal itu, sehingga ia memilih untuk duduk di samping rekannya yang bertanya tadi: Alifah.


“Nggak kok. Bukan buat itu.” Hanna menjawab tebakan Alifah setelah menghela napas panjang. “Ada alasan lain. Sekarang, udah nemu jawabannya.”


“Apa emangnya?” tanya Alifah penasaran.


Hanna hanya mengangkat sebelah bahunya tidak acuh. Ia merasa pegal setelah kegiatannya setengah harian ini, tetapi ketika pembeli datang, Hanna harus kembali berdiri melayani orang-orang yang masuk kawasan pakaian.


Namun, belum sempat ia mengikuti pelanggan baru tersebut, gadis itu tiba-tiba terpanggil.


“Hanna.”


Segera, Hanna berbalik, menemukan salah seorang rekannya di bagian lain datang.


“Ada yang nyariin.”


Hanna merasa penasaran dengan pencarinya itu. Ia memberikan isyarat pada Keisya sekaligus meminta izin untuk pergi. Belum sempat melihat tatap tajam dari Keisya sebagai bentuk penolakan, Hanna segera meninggalkan tempat itu karena dorongan penasaran.


Sedikit terbesit, bahwa orang itu adalah Anton. Jika iya, maka keributan yang akan muncul. Sebab, ayahnya hanya akan muncul jika uangnya sudah habis.


Hanna sangat takut hal itu terjadi.


Gadis itu berharap-harap cemas ketika berlari menuju kursi tunggu depan kasir. Semakin dekat, Hanna mulai memperlambat larinya, berubah menjadi jalan biasa, jalan pelan, bahkan berhenti bergerak—ketika mengetahui orang yang mencarinya.


“Kamu kerja di sini?” tanya orang itu sembari berdiri dan melepaskan jas kerjanya. “Tanpa memberitahu saya?” Kali ini, orang itu—Gerald—mengajukan pertanyaan dengan suara penuh penekanan.


Hanna meneguk saliva secara kasar, dan perlahan berjalan ke arah Gerald demi mencegah amarah pada pria itu. Namun, ia belum sempat mengatakan apa pun, ketika di dekat sang suami, Gerald malah menggenggam tangannya dengan lembut.


“Ayo, bolos kerja bareng!” ajak Gerald santai, sembari menuntun Hanna keluar dari tempat itu. Ia sempat melambaikan tangan pada Rayhan yang berniat mencegah. “Saya pinjam Hanna sebentar.”


Si arogan bahkan tidak mau peduli dengan penolakan Hanna atau panggilan dari atasan istrinya. Ia bahkan menyerahkan jasnya secara semena-mena pada Hanna, tetapi sebagai ganti, ia membukakan pintu di samping kemudi untuk gadis itu.


“Gerald, ini belum jam istirahat!’ Hanna mencoba memberitahu dengan suara tegas, tetapi suaminya tetap terlihat santai.


“Mau bulan madu, Hanna?”

__ADS_1


...🥀...


__ADS_2