HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Tekad yang Berbeda


__ADS_3

Suasana dalam ruang tamu terasa sangat tegang. Terlihat jelas dari wajah ketiga wanita yang sedang berkumpul malam ini. Masing-masing berpencar di tiga sofa berbeda, menampilkan ekspresi yang tidak sama.


“Anak ini bisa apa?” Kania mengajukan pertanyaan dengan tangan terlipat di depan dada untuk memperjelas betapa angkuhnya ia saat ini. “Kalau orang tua Gerald saja tidak bisa membuat Gerald tunduk, apalagi kalau cuman anak kecil? Dia bisa apa? Jangan sampai rencana ini juga cuman berakhir sia-sia kayak sebelumnya.”


Gladys mengembuskan napas d3ngan kasar, tampak tidak suka pada perempuan asing itu. Namun, hanya karena melihat Salina begitu menghormati si gadis angkuh, Gladys terpaksa harus menimpali ucapan Kania.


“Aku punya satu hal,” kata Gladys yakin, sembari menatap lurus pada Kania demi membalas keangkuhan gadis itu. “Yang bisa membuat Gerald langsung patuh sama apa pun yang aku perintahkan.”


“Oh ya?” Kania mengangkat sebelah alisnya, antara tertarik dan juga meremehkan. “Hal apa itu?”


“Cuman aku yang bisa pakai, sorry. Jadi, nggak bisa kasih tahu orang lain.” Gladys menolak santai, tidak lupa memamerkan senyum tipisnya yang terlihat mengejek di mata Kania.


“Apa pun itu, semua saya serahkan ke kalian.” Kania berdiri dari sofa, sembari mengusap roknya demi menghilangkan kerutan di sana. “Karena kesepakatan kita hanya akan bisa dilanjutkan kalau Gerald mau menikahi saya. Jadi, jangan terlalu lama bertindaknya.”


Ucapan Kania sontak membuat Salina langsung mendongak dengan pandangan nanar, tetapi perempuan 25 tahun itu tidak mau peduli. Ia pergi dengan ekspresi angkuh yang sama sekali tidak pernah berkurang.


“Apa yang bisa kamu pakai buat bikin Gerald patuh sama kamu, Gladys?” Kini, Salina beralih pada putri bungsunya. “Mama baru perhatiin, akhir-akhir ini, semua permintaan kamu selalu dikabulin sama Gerald. Apa alasannya, Gladys?”


Gladys tersenyum tipis, penuh arti. “Alasannya ... tentang malam setelah kematian ibunya Hanna.”


...🥀...


Gerald sudah angkat tangan terhadap Hanna, dan memang gadis itu memaklumi hal tersebut.


Hanna sudah mengabaikan perintah Gerald, dan tetap keras kepala di sini. Jadi, sangat wajar jika Gerald sangat marah.


Gadis itu tertunduk dalam memperhatikan bayangannya sendiri di depan cermin sana. Ia melihat sisi menakutkan dari dirinya, meski tubuh gadis itu sebenarnya sedang dibalut pakaian yang amat indah. Hanna berusaha menyembunyikan diri sendiri dengan menggunakan lengan, menutup dada dan bagian bawah. Namun, tidak banyak membantu.


Pakaian merah menyala yang sedang ia kenakan, sejatinya tidak bisa menutup apa pun.

__ADS_1


Isakan Hanna sesekali terdengar, sementara air matanya tidak pernah lelah terus berjatuhan membanjiri wajah memerahnya. Ia hanya bisa memandang nanar pada bayangan diri sendiri, tanpa bisa mengharapkan apa pun.


“Hanna, kamu sudah siap?” Pertanyaan itu terdengar dari luar pintu.


‘Tidak. Tidak pernah siap.’ Hanna hanya bisa menjawab dalam hati, karena bibirnya gemetar sempurna, tidak bisa bersuara.


Tidak lama, pintu sudah dibuka. Hanna memandang ke sana dengan mata memerahnya yang sudah membengkak sempurna.


“Wah ... wah.” Anton mendekat sembari berdecak takjub pada putrinya. Ia tidak lupa mengunci pintu, dan mengantonginya.


Hal itu diperhatikan oleh Hanna dengan saksama, walau pandangannya buram. Ia mulai meneguk ludah secara kasar, menunjukkan sebuah tekad dalam dirinya.


Hanna tidak lagi bisa mengharapkan bantuan dari luar kecuali dirinya sendiri. Ia mencoba menenangkan diri dan mengusap air mata untuk menjernihkan pandangan.


“Persis ibu kamu, Hanna.” Anton memberikan komentar ketika ia sudah berdiri tepat di belakang punggung Hanna untuk menilai tampilan fisik sang putri melalui bayangan di cermin. “Ayah sekarang berpikir biar nambah harga dari yang sebelumnya, setelah melihat kamu lebih cantik dari perkiraan.”


Hanna menunduk dalam, menyembunyikan kesedihannya dari bayangan di cermin.


Hanna sama sekali tidak pernah memedulikan setiap ucapan sang ayah. Dalam posisi menunduk ini, matanya semakin fokus pada kunci yang ada di saku Anton. Ia mengepalkan tangan di samping tubuh, mencoba meyakinkan diri sendiri untuk berani bertindak.


Diam-diam, gadis itu mulai mengatur napas agar tenang. Lalu membaca bismillah dalam hati, kemudian ....


Hanna bergerak cepat mengambil kunci dari saku sang ayah. Lalu mendorong tubuh Anton dengan sangat kuat sampai menabrak dinding di sudut ruangan. Hanna tidak sempat berpikir panjang. Ia mengambil pakaiannya secara asal dari lantai, kemudian berlari secepat yang ia bisa menuju pintu.


Tangan gemetar Hanna sulit mempertemukan anak kunci di lubangnya. Ia menatap panik pada pergerakan sang ayah yang mencoba untuk bangkit sembari menahan rasa sakit di tubuhnya.


Hanna memekik ketakutan ketika menemukan Anton sudah bisa berdiri, sementara ia belum bisa memasukkan kunci. Ia meraba menggunakan tangannya yang lain untuk mencari lubang kunci, lalu memasukkannya. Ia memutar dengan sangat buru-buru sampai terdengar suara ‘klik’. Hanna menarik pintu secara panik, keluar dari ruangan dengan berlari.


Sambil berlari ingin keluar rumah, Hanna sesekali melihat Anton yang terus mengejar. Ia tidak fokus pada jalan di depan, sampai ....

__ADS_1


BRAK!


Hanna menabrak dengan keras, terpental mundur dan hampir jatuh. Namun, sebelah lengannya ditarik kuat sampai bisa berdiri sempurna. Ia ditarik dan didorong tanpa bisa Hanna pikirkan. Tahu-tahu, ia sudah berdiri di belakang sebuah punggung yang dibalut jaket kulit hitam.


Gadis itu berpikir untuk kabur, karena ia berurusan dengan seorang pria dalam pakaian yang terbuka. Namun, lengannya ditahan kuat, sehingga Hanna tidak mencoba berontak agar bisa terlepas. Apalagi, ia menghirup aroma yang tidak asing dari tubuh di depannya.


Jiwa Hanna terasa tiba-tiba bergetar. Ia meneguk saliva dengan kasar, sembari memandang rambut yang terpotong rapi di depannya.


“Gerald?” Anton menyapa dengan suara tenang. Ia tidak lagi mengejar, malah tersenyum memandangi kedatangan menantunya. “Kamu mau bawa pulang Hanna? Silakan, asalkan kamu bawa apa yang saya minta siang tadi.”


Hanna menunduk dalam. Ini berarti, ia menambah utang pada Gerald. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat.


“Nggak.” Gerald mengatakannya dengan suara dingin. “Nggak ada uang seperti yang kamu minta.”


Hanna sekali lagi mendongak, memandang tengkuk Gerald dengan ekspresi kebingungan. Ia diam-diam bertanya, apakah Gerald datang hanya untuk mengejek kondisi Hanna saat ini tanpa mau mencoba menyelamatkan dirinya?


Gadis itu mulai bersiap untuk patah hati akibat berharap pada Gerald. Pria itu bahkan mulai maju, membuat Hanna kehilangan pelindung. Hanna kebingungan, menatap dua pria yang saling berhadapan itu.


“Saya ke sini, untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sejak dulu.” Gerald berbicara dengan suara rendah dan tenang.


Membuat Anton dan Hanna semakin kebingungan dengan maksud pria itu.


Sampai ....


Bugh!


Gerald sudah melayangkan kakinya ke dagu Anton. Membuat pria itu sulit menjaga keseimbangan dan jatuh ke samping.


Hanna membekap mulut sendiri dengan kuat, terkejut dengan apa yang Gerald lakukan pada ayahnya.

__ADS_1


“Membunuh Paman,” lanjut Gerald.


...🥀...


__ADS_2