
Hampir sepanjang perjalanan, tidak ada yang memulai obrolan lebih dahulu. Hanna hanya memalingkan pandangan ke arah lain, sebagai bentuk protes atas sikap semena-mena sepupunya. Pun Gerald, tampaknya enggan bersuara juga karena marah tidak diberitahu mengenai pekerjaan sang istri.
Jadilah, keduanya diam membisu.
Sampai, belasan puluh menit kemudian, Gerald mulai mencuri pandang pada Hanna beberapa detik sekali.
“Saya nggak bakalan tanya siapa yang suruh kamu kerja di sana, karena saya sudah tahu jawabannya,” kata Gerald, memecah kesunyian di antara mereka, sekaligus mengundang wajah kebingungan Hanna mengarah padanya. “Saya cuman mau tanya, kenapa kamu lebih patuh sama mertua-tante kamu dibandingkan sama suami kamu? Kamu lupa, kalau sekarang, kalau suami ada di nomor dua yang harus kamu patuhi?”
Hanna kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu harus menjawab apa kalimat sekakmat dari Gerald barusan. Sehingga, ia merasa harus mengalihkan pembicaraan.
“Kamu ... bikin aku dalam masalah, Gerald! Bos aku bakalan marah besar nantinya—“
“Lah, kamu lebih patuh sama bos daripada suami kamu, Hanna? Saya pikir, kamu paling paham sama aturan agama.”
Hanna langsung merapatkan bibir. Ia kembali dibungkam oleh suaminya—walau hanya sebentar.
“Dih, kamu aja belajar agama cuman buat tahu hak-hak suami doang! Belajar agama yang paling utama tuh, sholat. Kamu sendiri, emang punya spesifikasi imam yang harus aku ikutin? Sholat aja enggak, ngaji juga nggak tau. Malah sering mabuk-mabukan. Kamu nggak punya spek imam yang harus aku patuhi.”
Sekarang, Gerald tampaknya sudah berhasil dibungkam oleh balasan tersebut. Terbukti dari sikap Gerald yang langsung memalingkan wajah ke arah lain sebentar, dan tidak lagi mengatakan apa pun.
Hanna pikir, semua selesai. Gerald kehabisan kata-kata, sehingga tidak akan melanjutkan perjalanan entah ke mana ini.
“Turunin aku, Gerald.” Hanna memerintah dengan suara tegas. “Aku mau balik kerja.”
Bukannya dipenuhi, kecepatan mobil malah semakin bertambah. Hanna bahkan langsung tegang-takut, sebab jalanan masih sangat ramai dengan mobil-mobil lainnya.
“Gerald!” pekik Hanna dengan suara meninggi. “Kalau kamu mau ketemu Allah, jangan ajak aku sekarang! Aku masih banyak dosa! Aku masih harus tobat! Gerald!
“Perbanyak istigfar aja, Hanna.” Gerald menyahut santai, tampak tidak terlalu peduli dengan kepanikan gadis itu. Matanya menyorot fokus pada jalanan, jelas bahwa ia tidak akan membiarkan mereka berdua berakhir di ambulans atau kuburan.
Hanna merapatkan punggungnya pada sandaran kursi, sembari memejam kuat. Bibirnya bergerak komat-kamit membaca doa dan istigfar, yang memancing senyum Gerald muncul ketika melirik sekilas pada gadis itu.
Sampai, mobil tiba-tiba mengerem mendadak. Tubuh keduanya terdorong maju, tetapi Gerald bisa mengendalikan diri. Namun, Hanna yang tidak tahu rencana suaminya, hampir memukul dashboard dengan keningnya. Beruntung, sebelah tangan Gerald menempel cepat di kening gadis itu, mencegah hal buruk tadi terjadi.
Hanna dengan hati-hati membuka mata. Ia menegakkan posisi duduk sembari melirik sekitar. Kawasan ramai dengan bangunan hingga beberapa lantai ini sangat ia kenali. Sontak, ia berbalik pada Gerald yang mulai membuka sabuk pengaman.
__ADS_1
“Kamu ngapain ajak aku ke sini?” tanya Hanna, menuntut.
Gerald menghentikan pergerakannya, dan menatap serius gadis itu.
“Nggak suka?” tanyanya.
Hanna mengangguk, sebab, ia hanya ingin kembali ke toko saat ini.
“Ya udah, ayo ke hotel.”
“GERALD!”
Hanna terlalu syok, hingga tidak sadar matanya melotot sempurna dan memekik terlalu keras memanggil suaminya.
Namun, bukannya marah. Gerald malah semakin menarik sudut bibirnya. Ia berhasil melepaskan jeratan sabuk pengaman, sehingga bisa maju ke arah Hanna untuk mengancam gadis itu.
Berhasil, keberanian Hanna segera menciut di sudut kursinya.
“Nggak papa. Latihan aja teriaki nama saya. Karena nanti—“ Gerald membawa sebelah tangannya menyentuh sisi wajah Hanna, hingga bertengger di dagu perempuan itu sebelum melanjutkan, “—saya akan buat kamu lebih sering berteriak menggunakan nama saya, ketika saya membuat kamu berbaring di ranjang, di bawah saya, di bawah selimut yang sama, tanpa pakaian penghalang, demi mencegah kepunahan umat manusia.”
“Gerald ....” Hanna memanggil lagi, dengan suara lirih bercampur gemetar. Ia tidak bisa bernapas bahkan berkata-kata atas ucapan pria itu.
Hanna merasa lega, sehingga menurunkan tangannya. Berniat keluar juga.
Namun, itu adalah kesalahan Hanna untuk lengah, sebab Gerald malah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk segera melepaskan kancing seragam Hanna yang melapisi gamisnya.
“Gerald!” Entah ke berapa kalinya, Hanna sekali lagi memekikkan nama sang suami saking terkejutnya atas tindakan dadakan itu.
“Kamu mau masuk ke mall pakai seragam toko gitu? Lepas!” pinta Gerald dengan tegas. Ia hanya bisa melepaskan satu kancing saja.
“Kamu kan tinggal bilang, Gerald! Nggak usah bikin aku serangan jantung pake langsung lepasin kancingnya!” Hanna menggerutu kesal, lalu mulai melanjutkan pelepasan kancing pakaiannya.
“Oh gitu ya?” tanya Gerald mengangguk-angguk. “Hanna, buka semua baju kamu.”
Bugh!
__ADS_1
Tidak lagi memekik meneriakkan nama Gerald, kini Hanna memberikan pukulan ke lengan atas sepupunya sebagai bentuk peringatan.
“Dih, marah, dih. Padahal kemarin—“
Bugh!
Pukulan selanjutnya, kali ini disertai pelototan Hanna sebagai peringatan agar pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya.
“Ampun ... ampun, Hanna. Kalau tangan saya patah karena kamu pukulin terus, gimana saya bisa gendong kamu lagi nanti?”
“Aku masih punya kaki, nggak perlu digendong.” Hanna membalas sengit, kemudian melepaskan seragamnya dengan kasar ke arah Gerald.
Tidak mau mendengar protes pria itu, Hanna buru-buru turun dari mobil. Ia tidak menunggu Gerald, dan langsung memasuki mall dengan langkah cepat.
Namun, meski dengan semua usaha, Hanna masih bisa disusul oleh Gerald. Pria itu menahan tangannya, hingga ia harus berbalik pada sang suami.
“Belum pernah ke mall, ‘kan?” tebak Gerald. “Jadi, jangan coba-coba jauh dari saya. Nanti kamu tersesat.” Ia mengubah genggamannya, menyelipkan jemarinya di sela jemari Hanna.
“Dih, sok tahu. Aku udah sering kalau cuman ke mall.”
“Oh ya? Cuman buat cuci mata doang, ‘kan?” Kali ini, tebakan Gerald sempat membuat Hanna tidak berkutik, karena memang benar.
Hanna mencoba membalas lagi, tetapi sebelum sempat melakukan itu, ia kalah cepat oleh Gerald.
“Nggak usah ngelak. Saya tahu semuanya tentang istri saya.” Gerald tersenyum sendu. “Jangankan belanja buat kesenangan diri sendiri, saya juga tahu, kamu bahkan kesulitan buat penuhi kebutuhan utama kamu karena ayah kamu hobi judi.”
Hanna tidak lagi melawan. Gerald benar, sangat. Hal itu membuat Hanna tertunduk dalam.
“Udah, sini.” Gerald menenangkan Hanna, dengan menguatkan genggaman tangan mereka. “Hari ini, kita full pacaran aja. Oke?”
Hanna mendongak, dengan pandangan sendu. Terhipnotis oleh mata Gerald yang tidak lagi tajam-menusuk keberanian. Sehingga secara perlahan, Hanna mulai mengangguk mengiyakan.
Ia diam-diam mengeratkan jemarinya juga, lalu mulai berjalan berdampingan dengan Gerald.
Mencoba merasai ... kencan pertamanya bersama seorang pria, yang merupakan sepupunya sendiri, tetapi kini ... sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
Sekaligus ... pria yang sudah mendapatkan hatinya.
...🥀...