
"Datang ke rumah hari ini sama Gerald, Hanna. Ayah ada perlu."
Itu adalah satu perintah—dan satu-satunya kalimat—yang diutarakan oleh Anton saat menghubunginya melalui telepon rumah satu jam yang lalu. Namun, Hanna belum memberikan jawaban sama sekali.
Karena Hanna tahu pasti, keperluan apa yang sang ayah maksud.
Uangnya pasti habis. Apa pun akhirnya—jika Hanna memaksakan diri untuk datang ke sana—pasti selalu tidak baik.
Maka, Hanna mengamankan ponselnya di salah satu laci nakas.
Namun, ketika ia akan berangkat bekerja dan menemukan bahwa Gerald punya rencana siang nanti, Hanna jadi berpikir panjang.
"Saya sibuk siang ini. Hanna mau ajak saya keluar, jadi nggak bisa ketemu sama keluarga."
Gerald mengatakan hal itu sembari melirik Hanna dengan senyuman tipis di bibirnya.
Hanna segera memalingkan wajah, lalu melanjutkan perjalanan untuk meninggalkan rumah. Ia berniat semakin mempertegas atmosfer dingin dalam pernikahan mereka. Sesuai arahan Salina. Walau, hatinya sangat berat melakukan hal ini.
Gerald sudah mengambil posisi di dalam sudut hati Hanna, dan menjadi salah satu sumber bahagia dan ketenangannya.
Sangat sulit untuk membuat keputusan ini.
Gadis itu berjalan sembari terus berpikir. Ia baru berhenti setelah tiba di pinggir jalan raya, menunggu angkutan umum untuk lewat. Ia menemukan bahwa kendaraan yang sudah ia tunggu sudah terlihat di ujung jalan, jadi, Hanna bersiap. Namun, baru saja ingin melambaikan tangan, sebuah mobil sudah berhenti di depan Hanna dari belokan dari dalam pekarangan rumah.
"Ayo naik, Hanna," ajak Gerald setelah menurunkan kaca jendela mobil.
"Aku mau naik angkot-"
"Kenapa harus angkot kalau mobil suami kamu sudah ada di depan mata, Hanna? Jangan mempersulit diri sendiri, Hanna. Ayo masuk. Lagian, ini sejalan ke kantor kok." Gerald menjelaskan secara panjang, tetapi Hanna masih terlihat mau membantah. Sehingga ia segera melanjutkan ucapannya sebelum gadis itu. "Ini perintah suami kamu."
Hanna mendengkus geli. Gerald selalu menemukan mantra ampuh untuk membuat Hanna tidak bisa berkutik.
Entah ciuman.
Entah aturan.
Gadis itu memasuki mobil, dan duduk sembari melipat tangan depan dada. Ia memandang lurus ke depan, seolah tidak peduli dengan keberadaan Gerald di sampingnya.
Dan pria itu juga sama tidak pedulinya dengan sikap Hanna. Malah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis, terdengar geli.
__ADS_1
Penyakit sok dingin Hanna kambuh lagi.
Mobil mulai berangkat, dengan suasana sunyi di dalamnya. Tampak, tidak ada yang mau memulai pembicaraan sama sekali.
Sampai, beberapa puluh menit kemudian. Gerald berinisiatif karena dirinya yang salah di sini.
"Ponsel kamu bakalan saya perbaiki. Seharusnya siang ini, saya bisa antar ponsel ke kamu. Kamu di tempat kerja kan, nanti?" tanya Gerald.
"Nggak kayaknya," jawab Hanna. Ia mengusap hidungnya yang mendadak gatal, karena memikirkan sesuatu. Ia merasa berat dengan pilihannya sendiri, tetapi ia merasa tidak punya opsi lain. "Aku mau ketemu ayah siang ini. Ayah tadi telepon—"
"Bohong lagi. Gimana ayah kamu bisa telepon kalau hape kamu rusak?"
"Telepon rumah, Gerald."
"Kenapa dia bisa tahu nomor telepon rumah?"
"Ya ... aku yang kasih tahu sebelumnya."
"Kenapa kamu kasih tahu?"
Hanna balas menatap sinis pada pria itu. "Ya karena dia ayah aku."
"Aku nggak bisa putusin hubungan darah antara kami, Gerald. Bahkan walaupun aku sudah nikah sama kamu. Darah yang ngalir dalam diri aku, itu dari ayah. Aku ... nggak bisa langsung nggak peduli gitu aja sama ayah."
Gerald tampak tidak suka, dan ia tidak menyembunyikan hal itu sama sekali. Sengaja membuat Hanna sadar bahwa pria itu tidak mau memenuhi hal ini. Termasuk Hanna juga sebenarnya, tetapi apa boleh buat? Demi Salina.
"Aku mau pergi," balas Hanna dengan suara tegas. "Aku mau ketemu sama Ayah. Kamu nggak bisa hentikan aku. Jangan pakai alasan status kamu sebagai suami aku buat atur-atur hidup aku!"
"Han—"
"Turunin aku kalau kamu masih mau larang aku!"
Mobil direm oleh Gerald di pinggir jalan. Membuat Hanna tertegun sejenak.
"Turun." Gerald memberikan perintah bernada dingin.
Hanna masih syok pada awalnya, tetapi setelah ia meneguk ludah secara kasar, gadis itu akhirnya memilih turun.
Setelah membanting pintu mobil dengan kasar, ia mulai berjalan demi menghindar sekaligus menunggu Gerald menjauh. Namun, mobil pria itu terus mengikuti arah langkah Hanna.
__ADS_1
"Gerald, stop ikutin aku! Sana, pergi." Hanna memberitahu dengan suara tegas, tetapi tetap dalam batas normal.
"Ayo naik," ajak Gerald lagi. "Tadi kan cuman minta turunin kalau saya mau larang kamu lagi. Ya saya larang kamu lagi, makanya saya turunin kamu. Tapi, nggak ada larangan buat antar kamu berangkat kerja lagi, kan? Makanya, ayo naik. Kamu nggak bisa jalan kaki sampai toko, 'kan? Plus, makin siang, makin macet. Setelah bolos kemarin, kamu bisa makin kelihatan buruk di mata bos. Kamu kalau kamu telat juga hari ini." Gerald menjelaskan semuanya secara detail, berhasil membuat Hanna membenarkan semua 0enjelasan pria itu secara diam-diam.
"Jadi, Hanna ... ayo naik." Gerald sekali lagi mengajak. Ia juga membukakan pintu untuk gadis itu, dan ... ditolak.
Tepat setelah pintu ditutup, Gerald mengusap puncak kepala Hanna, lalu lanjutkan perjalanan.
"Jangan pergi ke sana ya, Sayang?" minta Gerald.
...🥀
...
Namun, Hanna tetap pergi. Demi membuat Gerald menemui keluarganya sendiri, dan mendekatkan Gerald dan juga Kania.
Semua menyakitkan bagi Hanna sebenarnya. Pilihan ini memberatkan, tetapi tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Hanna.
Gadis itu pergi di siang hari. Rencana, hanya menemui ayahnya sebentar, untuk memperingatkannya agar tidak mengganggu Gerald: mengingat sang ayah menghubungi lewat telepon rumah—berarti ia memiliki niatan untuk meminta pada Gerald secara langsung.
Hanna harus memberi penegasan pada ayahnya.
Ketika baru datang, Hanna disambut dengan senang oleh sang ayah. Namun, Anton tiba-tiba menggerakkan kepalanya mencari sosok lain di belakang Hanna.
"Gerald di mana?" tanya Anton penasaran. "Ayah mau bicara sama suami kamu."
"Nggak datang, dan emang nggak aku ajak ke sini." Hanna mengatakannya dengan suara dingin agar bisa mengendalikan sikap tegasnya—berharap mirip Gerald sehingga bisa menyadarkan sang ayah.
"Kan Ayah sudah minta kamu ajak dia!" Anton segera berdiri dari kursinya dengan. "Uang Ayah sudah habis! Dia pastinya punya uang banyak! Atau, kamu bawa uang buat Ayah?"
"Nggak ada." Hanna mempertahankan sikap dinginnya.
"Dasar anak ...." Anton bergerak cepat ke arah Hanna dengan lengan terangkat mengambil ancang-ancang berniat memukul Hanna.
Gadis itu tampak sangat ketakutan. Ia memejam kuat, dan mencoba menghindar. Namun, tamparan itu tidak terasa sama sekali. Malah berubah menjadi cengkeraman kuat di salah satu lengannya.
"Kalau begitu, kamu harus hasilkan uang lagi untuk Ayah." Anton memberikan ultimatum tegas. "Kamu akan Ayah jual!"
__ADS_1