HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Larangan Menyukai


__ADS_3

Tante Salina :


Kita sudah sama-sama sepakat, Hanna, jangan terlalu dekat sama Gerald!


Kenapa Kania laporan kalau kalian ... bahkan kissing?


Serius, Hanna?


Bahkan, kalian lakuin itu di depan Kania!


Tante nggak tahu harus bales apa tadi.


Hanna hanya bisa mendesah berat membaca gerutuan dari Salina. Ia tidak berani membalas, karena bingung harus mengetik apa.


Ketika menyadari bahwa sosok penyebab masalah muncul dalam setelan lengkap pakaian kerja, Hanna menatapnya sinis. Pemuda itu tampak santai, bahkan tersenyum tipis yang mengandung keangkuhan ketika melewati Hanna.


Gadis itu seketika tertegun.


Gerald sungguhan tahu rencananya dengan Salina? Bahkan, pemuda itu langsung meninggalkan Hanna usai kepergian Kania, yang entah mengapa terasa jelas bahwa Gerald hanya ingin menunjukkan perbuatannya itu pada si tamu.


"Hanna," panggil Gerald ketika akan melewati pintu rumah. "Kalau kamu nggak suka mubazir, makan makanan yang dikasih tadi. Saya nggak sempet makan, dan nggak tertarik sama menunya."


Hanna hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Selanjutnya, tidak ada lagi obrolan antara mereka karena Gerald sudah keluar melalui pintu utama.


Sekarang, Hanna melirik ponselnya lagi. Mengetikkan balasan untuk tantenya.


^^^Hanna :


^^^


^^^^^^Kayaknya, Gerald beneran tahu rencana kita, Tante. Jadi, dia selalu bikin sesuatu yang berbanding terbalik dari harapan rencana kita.


^^^^^^


Gadis itu sempat bimbang sesaat, sejujurnya merasa sedikit bahagia atas fakta ini. Namun, ia tetap mengetikkan balasan lanjutan.


^^^Hanna :


^^^


^^^^^^Jadi, gimana, Tante?


^^^^^^


Tidak lama setelah pesan terkirim, langsung centang dua warna biru. Keterangan 'sedang mengetik....' di bawah nama kontak Salina juga muncul, membuat Hanna tidak meninggalkan laman percakapan mereka.


Tante Salina :


Ya udah. Kamu jangan terlalu sering di rumah. Jangan sampai Gerald suka sama kamu karena terbiasa lihat kamu.


Kamu sudah dapat pekerjaan?


Nantinya, kamu bisa kerja, dan biarin Kania yang deket sama Gerald. Tante mau saranin Kania buat kerja pura-pura di kantor om-mu.


Gimana menurut kamu, Han?


Jemari Hanna hendak mengetik balasan, tetapi sempat kaku di atas layar. Sejujurnya, ia tidak menyukai ide tantenya ini. Namun, sekali lagi, keinginan Hanna berbanding terbalik dengan apa yang jemarinya ketikkan.


^^^Hanna :

__ADS_1


^^^


^^^Bagus, Tante.


^^^


^^^Aku belum dapat pekerjaan. Susah banget nyari pekerjaan buat lulusan SMA, Tante.


^^^


Tante Salina :


Kamu mau kerja jadi penjaga toko, nggak? Tante punya satu kenalan yang punya toko. Rencana, kalau kamu mau, salah satu karyawannya bakalan Tante pindahin ke perusahaan.


Mau, Hanna?


Gajinya buat kebutuhan kamu aja, kok. Nggak usah peduliin utang segala macem.


Kamu keluarga Tante, dan uang itu nggak usah kamu peduliin ya. Bantu Tante aja buat nikahin Gerald sama Kania, itu sudah lebih berharga daripada utang 250 juta buat mahar kamu.


Membaca pesan terakhir dari Salina yang cukup panjang, Hanna segera menggeleng kasar demi menghapus ketidakrelaan yang selama beberapa hari ini memenuhi dirinya.


Hanna seharusnya sadar ... dia tidak bisa memilih dua hal: membayar utang dan bertahan pada pernikahan ini. Gadis itu harus memilih satu hal, dan opsi pertama menjadi pilihan terbaiknya.


...🥀


...


Entah sudah berapa kali Hanna memberikan anggukan mendengarkan penjelasan dari pria di depannya.


"Buat yang muslim, di sini bisa sholat lima waktu, dan karyawan non-muslim yang akan menjaga selama kalian ibadah. Sebagai gantinya, hari Ahad, mereka saya bebaskan ibadah dan hanya menjaga di jam-jam sholat saja. Alhamdulillah, sampai hari ini semua merasa adil."


"Ada pertanyaan Hanna?"


Segera, gadis itu menggeleng kasar. Ia tidak ingin mengajukan pertanyaan apa pun, karena fokus utamanya adalah mendapatkan pekerjaan sehingga memiliki uang, dan jarang bertemu Gerald—sehingga membuka peluang kedekatan antara sepupunya itu dan Kania.


Bahkan, hanya memikirkan keduanya akan dekat, Hanna langsung menghela napas panjang. Entah mengapa.


"Kamu baik-baik saja, Hanna?" tanya pria itu, penasaran.


"Iya, Pak."


"Oke." Pria itu menyetujui jawaban Hanna. "Sesuai kesepakatan saya sama Bu Salina, kamu bisa kerja mulai hari ini. Bisa, Hanna?"


Gadis itu mengangguk, kemudian memberikan jawaban, "Bisa, Pak."


"Kamu silakan taruh tas dan ponsel kamu di belakang, loker atas nama Regina. Besok, saya akan ganti namanya jadi nama kamu. Setelah itu, ganti pakaian, dan mulai bekerja. Ini kuncinya." Pria itu menyerahkan sebuah kunci untuk Hanna.


"Baik, Pak." Hanna memamerkan senyum terbaiknya sebelum berpamitan pergi pada atasannya yang menjadi kasir itu.


Hanna menuju ke belakang sesuai arahan. Ia membuka loker yang dimaksud. Kemudian memasukkan tas serta ponselnya di dalam sana. Ia juga mengambil seragam dari loker tersebut untuk digunakan.


Setelah selesai, Hanna kembali ke toko. Ia berdiri di kawasan pakaian perempuan bersama satu rekannya yang lain. Melihat bahwa temannya itu sedang sibuk merapikan pakaian, ia turut membantu.


"Hai." Hanna menyapa ramah, sembari memamerkan senyum terbaiknya.


"Hai, gantinya Regina?" tanya perempuan itu balas ramah.


"Iya. Hanna Taklif Derana. Panggil Hanna aja." Hanna penuh semangat mengulurkan tangannya, dengan senyum yang semakin lebar.

__ADS_1


Meski, lawan bicara hanya menampilkan senyum tipis ala kadarnya.


"Keisya Amarta." Perempuan itu balas berjabat tangan, hanya sekadar mempertemukan kulit mereka, lalu kembali melepasnya.


Hanna merasa ada yang salah, tetapi tetap mempertahankan senyumnya. Berpikir, bahwa rekannya ini mungkin terlalu sibuk bekerja, jadi, ia tidak mau tersinggung. Sebaliknya, Hanna segera membantu perempuan itu menyesuaikan jenis pakaian.


"Baru datang hari ini, 'kan?" tanya Keisya tanpa menoleh sedikit pun.


"I—ya." Hanna menjawab tersendat.


"Enak ya, nggak perlu lamaran resmi segala macem, terus nunggu jawaban yang bikin deg-degan."


Hanna mulai tidak nyaman dengan obrolan saat ini, tetapi ia tetap paksakan bersikap ramah.


"Iya." Hanna hanya menjawab seperti itu, karena bingung. Ia menunduk, sembari memilah pakaian di depannya.


Sementara Keisya mulai keluar dari ruangan. Hanna terdiam, memperhatikan kepergian rekan barunya itu. Berpikir bahwa, ia sepertinya gagal menambah teman baru di hari pertama bekerja.


Hanna menghela napas kasar. Ia menunduk dalam, mencoba menenangkan gejolak tidak nyaman dalam dirinya. Kemudian fokus pada pekerjaan saat ini: merapikan pakaian, sekaligus melayani pembeli yang datang.


Semua pekerjaan diatasi Hanna dengan baik, dan ia tidak lagi mencoba untuk mengajak Keisya berbicara saat perempuan itu datang lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sampai, azan Zuhur sudah berkumandang. Hanna sempatkan melirik pada Keisya yang sama sekali tidak beranjak dari pekerjaannya, sehingga membuat gadis itu berpikir bahwa rekannya itu tidak akan keluar bersama.


Jadi, Hanna keluar, dan bertemu dengan seorang perempuan yang langsung tersenyum hangat padanya.


"Mau ke masjid bareng?" tanya perempuan itu, ramah. "Aku Alifah."


Ketika perempuan asing itu mengulurkan tangan, Hanna segera menyambutnya ramah. Mereka berjabat tangan dengan baik.


"Hanna."


"Gantinya Regina, kan?"


Hanna mengangguk tipis, tidak lupa memamerkan senyum terbaiknya.


"Karena aku nggak bisa temenan sama Regina, jadi, mau temenan sama kamu aja." Alifah memeluk salah satu lengan Hanna dan menariknya untuk keluar dari toko.


Hanna merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi semakin lama, ia merasa baik-baik saja.


Seperti ... memiliki seorang adik. Apalagi dengan tubuh Alifah yang lebih pendek darinya.


Ketika keduanya akan melewati bagian kasir, Alifah tiba-tiba menghentikan langkah dan menahan Hanna agar tidak lanjutkan perjalanan. Hal itu jelas membuat Hanna langsung melirik bingung padanya.


Hanna mengikuti arah pandang Alifah, yang memandang lurus pada area kasir di mana pemilik toko dan salah satu karyawan sedang berganti tugas.


"Kenapa?" tanya Hanna penasaran. Ia tidak menemukan sesuatu yang salah atau aneh dari sana.


Namun, Alifah tidak menjawab. Sampai beberapa menit. Barulah ia melirik pada Hanna dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.


"Kamu jangan suka sama Pak Rayhan juga ya! Jangan jadi saingan ke-38 aku, paham?!"


Hanna melirik aneh, kemudian tersenyum geli. Ia menggeleng pelan sebelum menjawab.


"Enggak, lah."


Hanna meredupkan senyum. Ketika pikirannya malah menampilkan bayangan Gerald.


Entah mengapa.

__ADS_1


...🥀...


__ADS_2