HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Calon Istri Sebenarnya


__ADS_3

Usai keputusan mutlak yang Gerald katakan saat sarapan tadi, dan keinginan pria itu untuk pindah saat ia pulang bekerja nanti sore, Hanna langsung didatangi oleh Salina di kamarnya. Wanita itu tidak lagi menyembunyikan ekspresi jengkel di wajahnya, dan jelas membuat Hanna seketika menunduk penuh rasa bersalah.


“Jadi, kamu bilang sama Gerald rencana kita?” tanya Salina, yang lebih tepatnya langsung menuduh sang keponakan.


Sontak, Hanna segera menggeleng kasar sebagai jawaban. Menolak tuduhan tersebut. Ia memberanikan diri menatap sang tante untuk membuat si lawan bicara yakin pada kejujurannya.


“Nggak, Tante. Aku beneran nggak cerita apa-apa sama Mas Gerald. Aku dari sejak bikin sarapan sampai selesai sarapan belum pernah bicara tatap muka sama Mas Gerald, Tante.”


Salina mengingat-ingat kembali, bahwa Gerald memang datang sendiri ke ruang makan pagi tadi. Bukan karena Hanna yang memanggilnya. Di saat itu juga, Hanna sama sibuknya dengan Salina dalam mengatur sarapan di meja makan.


Jadi, memang sebenarnya mereka tidak pernah saling berbicara, apalagi Hanna melapor pada Gerald.


“Tapi, gimana bisa Gerald tahu rencana kita, Nak?” Salina kini melunak. Ia meninggalkan pintu yang semula menjadi tempatnya mendominasi suasana, sehingga Hanna sempat merasa seolah terintimidasi.


Salina memasuki kamar, dan melihat bagaimana Hanna mulai mengatur pakaian Gerald ke dalam koper, persis seperti arahan putranya tadi. Secara malas, ia turut membantu walau dengan menggunakan gerakan yang serba berat sehingga sudah empat pakaian dilipat oleh Hanna, Salina baru satu.


“Aku juga kurang tahu, Tante,” jawab Hanna, jujur. Suaranya sangat lirih, takut salah bicara.


“Dia juga nggak punya kemampuan baca pikiran orang, jadi ... gimana bisa dia tahu rencana kita?” Salina terus berdiskusi, mempertanyakan hal membingungkan ini.


“Atau, Mas Gerald sebenarnya sudah lama di ruang makan, Tante, pas kita masih bikin sarapan. Jadi, dia bisa denger semuanya?” Hanna bertanya dengan suara ragu di akhir kalimat, membuat Salina mulai mengangguk pelan dan teratur, seolah mempertimbangkan opini sang keponakan.


Ini jawaban paling masuk akal.


“Kayaknya,” jawab Salina lesu. Ia tidak lagi bersemangat dalam melipat pakaian untuk membantu menantunya. “Jadi, gimana ya, Hanna?”


Gadis itu turut diam usai ditanya demikian. Pergerakannya pun terhenti. Hanya mata Hanna yang bergerak ke kanan-kiri seolah mencari ide.


“Nanti, aku usahakan buat coba terus tips-tips dari Tante buat bikin Mas Gerald nggak nyaman sama aku.” Hanna meyakinkan dengan penuh tekad. “Dengan nggak adanya bantuan dari Tante dan Om, dan aku yang super nyebelin buat Mas Gerald, aku yakin banget dia bakalan cepet marah dan muak, dan aku yakin, Mas Gerald bisa kelepasan bicara mau ceraikan aku, karena dia nggak sungguh-sungguh sama pernikahan ini.”


Salina mengangguk-angguk selama mendengarkan rencana Hanna.


“Bagus juga. Tante dukung kamu, Hanna.” Salina tersenyum sendu, sekali lagi bantu Hanna merapikan pakaian. Kali ini lebih bersemangat daripada sebelumnya. “Nanti Tante bakalan coba juga buat minta calonnya Gerald buat mampir sesekali ke rumah kalian, supaya Gerald bisa merasa nyaman dengan lebih cepat sama calonnya itu.”


Hanna yang semula terlihat biasa saja, kini membeku sesaat dengan tatap tidak nyaman mengarah ke pakaian dalam koper. Ia berusaha tidak menunjukkan perubahan ekspresinya, dan memaksa tangan gemetar gadis itu untuk terus mengoper isi lemari ke koper.


“Namanya Kania. Nanti, kamu kenalan dan temenan, ya? Dia bakalan jadi keluarga kamu juga kalau dia bisa nikah sama sepupu kamu,” lanjut Salina. “Kalian bisa tukar informasi mengenai posisi dan keadaan Gerald selama di rumah, dan Kania bisa manfaatkan situasi buat PDKT. Ide yang bagus ‘kan, Hanna?”


Gadis itu menggerakkan kepalanya naik-turun dengan sangat kaku.


...🥀...


Proses pindah rumah mereka berjalan lancar, tepat setelah Gerald pulang bekerja. Pria itu bahkan hanya sekadar berpamitan pada Salina, lalu mengajak Hanna berangkat ke rumah baru.

__ADS_1


“Mas,” kata Hanna ketika mereka sudah berada setengah perjalanan menuju perumahan tempat kediaman baru mereka berada. “Mas kok mendadak ajak aku pindah? Maksud aku, kok bisa secepat itu? Bahkan, udah beli rumahnya. Mas emang rencanakan ini?”


Hanna mendadak ragu dengan opininya tadi pagi, bahwa Gerald mendengarkan obrolan mereka. Bisa saja, pria ini memang sudah dari awal merencanakan kepindahan mereka.


“Iya.” Gerald menjawab tidak acuh, sembari terus fokus ke jalanan sementara Hanna berusaha membaca setiap ekspresi pria itu.


Namun, selalu gagal. Gerald hampir tidak bisa terbaca.


“Sudah nabung beli rumahnya dari lama?” tanya Hanna lagi.


“Hu’um.”


“Berencana tinggal di sana sama istrinya Mas, ya?” Dan Hanna yakin, sejujurnya bukan ia yang seharusnya berada di tempat itu.


“Hm.”


Hanna sekarang mengalihkan pandangannya ke jalanan. Sibuk memikirkan apa rencananya mulai malam ini.


Ia akan tetap meneruskan pencarian kerjanya, agar bisa membayar utang pada Gerald walau menggunakan jalur cicil. Hanna juga akan terus memberikan kesempatan lebar untuk perempuan—yang entah bagaimana wujudnya—bernama Kania untuk mendekati suaminya.


Namun, mengapa memikirkan hal terakhir itu membuat Hanna tiba-tiba merasa sesak?


Gadis itu kebingungan, membuatnya berulang kali menghela napas panjang demi mengurangi beban tekanan dalam dadanya.


Membuat Hanna segera menoleh kaget sekaligus kebingungan.


Gerald tidak mengatakan apa pun, dan Hanna juga segan untuk menolak perlakuan suaminya. Walau gadis itu masih belum terbiasa dengan sentuhan pria asing serta detak keras aneh dalam jantungnya, Hanna tetap bungkam. Diam-diam menunduk dalam, dan melihat jemarinya yang lain sibuk memainkan kancing hiasan dari gamisnya.


Tampak sangat gugup. Sesekali, tampilan itu menarik perhatian Gerald untuk melirik istrinya sedetik-dua detik. Lalu, diam-diam menarik sudut bibir membentuk senyum samar.


Dalam situasi sunyi dan intens seperti ini, Hanna hampir lupa status sepupu antara mereka. Hatinya terus meyakinkan diri sendiri, bahwa pria itu adalah suaminya—dan memang begitu adanya. Namun, Hanna terus menguatkan kesadarannya, bahwa pria ini sepupunya. Hanya sepupu—yang bahkan sudah memiliki calon untuk dinikahi.


Hanna harus sadar diri. Jangan sampai mengembangbiakkan perasaan di sudut hatinya. Jadi, ia secara perlahan melepaskan genggaman nyaman Gerald dari tangannya.


“Aku nggak nyaman.” Hanna mengatakan hal itu dengan suara bergetar, sangat kentara berbohong.


Gerald tampak tidak keberatan atas penolakan itu. Fokus pada jalanan, dan membiarkan suasana di antara mereka berakhir sepi. Sampai akhirnya mereka tiba di rumah.


Hanna membawa tas berisi pakaiannya sendiri yang lebih kecil, sementara Gerald yang mengangkat koper dan beberapa tas lainnya.


“Hanna.” Gerald memanggil. “Kunci rumah ada di kantong saya. Ambil.” Ia menyampingkan tubuh, seolah menyodorkan salah satu saku celananya.


“A—ambil sendiri, Mas—eh, Gerald.” Hanna menjawab gugup. Tangannya secara spontan mengepal, ketika ia menatap arah yang dimaksud sepupunya.

__ADS_1


“Saya males lepas tangan. Tangan saya dua-duanya penuh. Ambil, atau kita tidur di teras malam ini?” balas Gerald, kali ini lebih tegas dari sebelumnya. Ketika ia melihat Hanna hendak membantah lagi, ia melayangkan pandangan tajam pada gadis itu, menciutkan keberanian Hanna, sehingga tidak ada pilihan lain.


Tangan Hanna mulai maju dengan ragu. Masuk secara perlahan dan hati-hati ke saku celana suaminya, dan mulai mencari kunci di sana.


“Nggak ada, Mas.” Hanna melaporkan, dan buru-buru menarik tangan.


“Coba di sebelah sini.” Gerald menyodorkan sisinya yang lain, dan Hanna semakin keberatan.


Namun, sekali lagi, gadis itu tidak punya pilihan. Hanna bahkan sampai harus menahan napas ketika mulai memasukkan tangannya ke dalam saku pria itu, dan seketika melotot lebar ketika tidak sengaja menyenggol sesuatu.


Hanna membeku sedetik. Ia secara singkat melihat senyum tipis samar Gerald ketika itu, dan buru-buru menarik kunci dari sana.


“U—udah!” kata Hanna tegas bercampur gugup.


“Buka pintunya.” Gerald memerintah lagi, dan kali ini bisa dituruti oleh Hanna dengan mudah.


Keduanya masuk, tidak lupa menutup pintu lagi.


“Kamu coba periksa seisi rumah dulu, biar tahu kondisinya gimana. Tas kamu taruh di atas koper ini, biar saya bawa naik ke atas.” Gerald memberikan arahan, dan sekali lagi dipatuhi oleh Hanna.


Gadis itu mulai bergerak ke dalam bagian rumah, sementara Gerald menaiki tangga dengan banyak tas berisi penuh pakaian.


Semua furnitur dan kondisi rumah diperiksa teliti oleh Hanna. Ia menemukan bahwa kondisi rumah ini bagus, tetapi perlu dibersihkan lebih ekstra lagi agar tidak ada debu yang tersisa. Jadi, ia berinisiatif untuk melakukan hal itu.


Namun, baru saja menyentuh gagang sapu yang memang berada di dapur, Hanna dikejutkan oleh ketukan di pintu utama. Ia gegas berlari-lari ke sana, dan berpapasan dengan Gerald yang akan turun dari lantai dua. Hanna yang mempercepat langkah untuk membukakan pintu, sementara Gerald hanya menyimak dari tangga.


Pintu utama ditarik oleh Hanna, dan tampillah seorang wanita dalam setelan elegan berupa blus soft violet dan celana jeans hitam polos. Rambutnya yang terurai bergelombang anggun, menunjukkan betapa tinggi status sosialnya.


“Iya, cari siapa?” tanya Hanna penasaran setelah menilai tampilan wanita itu.


“Nggak cari siapa-siapa. Saya tetangga rumah kamu, selamat datang.” Perempuan itu tersenyum hangat pada Hanna, lalu pada Gerald yang tidak menimpali sama sekali. Ia menyodorkan sebuah mangkuk berisi makanan yang tertutup pada Hanna. “Sambutan biasa, sebagai tetangga baru.”


Hanna menerimanya segan, tidak lupa memberikan senyum terbaiknya. “Astaga, nggak usah repot-repot padahal, tapi ... terima kasih.”


“Sama-sama.” Wanita itu menjawab dengan senyum hangatnya. “Oh iya,” ia menyodorkan tangan pada Hanna untuk perkenalan, “Saya Erkania Putri Sanjaya.”


Senyum Hanna memudar, ketika ia mendengar satu kata nama tidak asing dari perkenalan perempuan itu. Dan semakin diperjelas ketika si perempuan menambahkan kalimat perkenalannya.


“Biasa dipanggil Kania.”


Ya. Hanna tidak salah lagi. Perempuan ini yang dimaksud Salina, sebagai calon istri Gerald.


...🥀...

__ADS_1


__ADS_2