
Salina memiliki karakter keibuan yang kental, sehingga menjadi ibu kedua bagi Hanna sejak menjadi seorang piatu. Namun kali ini, Hanna merasakan vibes berbeda dari Salina. Tidak seperti sebagai ibu lagi, tetapi benar-benar sebagai mertua dengan banyaknya larangan karena mengkhawatirkan anak lelaki tunggalnya.
Hal itu sangat terasa sejak kemarin, dan kian kuat di hari kedua ini. Hanna yang membantu Salina membuat sarapan, lebih banyak diam mendengarkan. Padahal sebelum pernikahan ini terjadi, ia dengan senang hati selalu menimpali ucapan tantenya.
"Kamu masih selalu pakai jilbab yang rapi banget selama Gerald ada di rumah. Padahal, om-mu lebih jarang di rumah," kata Salina memulai obrolannya. Ia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke samping, mendekat pada Hanna. "Kalian beneran belum berhubungan ya?"
Hanna tidak menjawab, memilih menunduk dalam. Seperti responsnya kemarin.
"Nggak papa, Nak. Tante seneng kalau begitu. Kamu jaga jarak dari Gerald ya. Tante yakin ... banget, dia cuman mau selamatkan kamu. Dia juga segan sendiri kok, sentuh kamu. Makanya, cuman perlu yakinkan kalau kamu itu aman hidup sendiri, supaya dia bisa lepaskan kamu. Tante bakalan usahakan bantu kehidupan kamu mulai hari ini. Tante bisa kasih kamu modal usaha buat sambung hidup."
"Nggak usah, Tante." Hanna dengan cepat mengelak, tetapi sebagai balasannya, ia langsung mendapatkan tatap tidak suka dari Salina, bersama dengan alis wanita itu terangkat naik mempertanyakan jawaban Hanna. "Aku ... nggak mau nambah utang lagi. Ini, yang sama Mas Gerald, aku beneran ada niatan kerja kok buat bayar. Hari ini udah full browsing lamar kerjaan yang sesuai sama kemampuan aku."
"Astaga, Hanna. Ini bukan utang, Sayang. Kamu kan keluarga kami, Hanna," balas Salina dengan lembut, bahkan memamerkan senyum hangatnya. "Tante dukung kamu sebagai anak sendiri, Nak, sebagai keponakan. Tante nggak bakalan biarin kamu hidup menderita, dan ini bukan utang, ya! Kamu silakan usaha cari kerjaan yang sesuai minat kamu, tapi misal sampai tiga hari ke depan nggak ada harapan, bilang sama Tante, oke? Tante yang bakalan ngasih kamu modal usaha—nggak boleh ditolak!" Salina benar-benar memberikan ketegasan sempurna di tiga kata terakhirnya. Menunjukkan betapa enggannya ia menerima penolakan.
Terdengar helaan napas panjang dari sang mertua, membuat Hanna melirik takut. Ia tidak membalas apa pun, karena kebingungan. Beban hatinya hanya satu: enggan berutang lebih banyak pada keluarga ini karena ragu bisa membayarnya.
"Padahal, Tante sama om-mu baru ... saja menemukan perempuan yang cocok buat Gerald." Salina bertukar pandang sejenak pada Hanna, untuk menunjukkan senyum yang tidak bisa gadis itu artikan. "Kamu tahu sendiri, Gerald masih ... ya ... begitulah. Dia itu keras kepala, masih suka main di luar, balapan. Dengan dia menikah dengan wanita sosialita seperti yang kami mau jodohkan sama dia, harapan kami, Gerald bakalan lebih terarah buat makin serius kerja."
Hanna mengangguk kecil, entah mengapa berinisiatif memberikan kesanggupan untuk sedikit membayar utang budinya pada keluarga ini.
"Nanti, aku bantu bujukin, Tante."
"Tante ragu, Hanna." Salina dengan cepat menyepelekan. Bukannya tanpa alasan wanita itu berpikir demikian. "Kamu kan lemah lembut, apalagi kalian keluarga deket. Gerald mana bisa dilembutin, karena kami sampai capek nyoba cara ini. Dia bisa aja pandang kamu remeh, jadi ya nggak bisa dikerasin. Nggak mempan. Kalau sama istrinya yang berkelas kan, dia bisa malu gitu. Insecure, terus perbaiki diri." Sekali lagi, Salina mengembuskan napas kasar dari hidungnya, terasa seperti memiliki beban yang amat besar.
Beban, yang Hanna yakini bahwa itu adalah dirinya sendiri.
"Nanti ...." Hanna sekali lagi memberikan tawarannya. "Aku usahakan supaya Mas Gerald bisa ceraikan aku sesegera mungkin."
"Ah, Tante seneng dengernya, Hanna." Salina langsung tersenyum puas. "Kamu mau dengerin apa aja yang paling Gerald nggak suka biar bisa kamu lakuin? Pasti bakalan percepat perceraian kalian."
__ADS_1
Hanna mengangguk kecil. Menyetujui, tanpa melihat si lawan bicara sama sekali. Pandangannya yang terlihat berat dan penuh kebingungan, hanya bisa diarahkan ke bawah untuk mencegah hilangnya kebahagiaan Salina.
Lagi pula—setelah Hanna pertimbangkan—mengapa ia merasa berat melepaskan Gerald, padahal mereka baru menikah dua hari?
Mustahil langsung ada perasaan yang muncul dalam waktu sesingkat itu.
Seharusnya.
...🥀...
Ekspresi tidak nyaman ditunjukkan dengan jelas oleh Gerald dan Fauzan di meja makan saat keempatnya sarapan sementara Hanna membuat suara-suara nyaring dari mulutnya ketika mengunyah. Salina juga tampak tidak suka, tetapi ia tidak menunjukkan ekspresi atau mengeluarkan kalimat larangan apa pun.
Sebab, ini memang rencana keduanya.
"Memang bukan kamu banget, Hanna, tapi ini cuman sebentar kok, Nak. Tante juga bakalan usahakan supaya Gerald rajin ketemu sama calon istrinya. Tante sudah punya rencana buat deketin mereka berdua, tapi nggak bisa apa-apa buat pisahkan kalian kecuali Gerald sendiri yang mau. Jadi ya ... kamu sendiri yang harus usaha." Begitu ucapan Salina pagi tadi ketika mereka membuat sarapan.
Sebelah kaki Hanna naik ke kursi, tampak begitu tidak sopan dan mengganggu pemandangan. Ketika dilirik tajam, gadis itu tersenyum lebar mengabaikan makanan di mulutnya masih ada.
"Hanna!" tegur Gerald dengan suara tegas.
Detik itu juga berhasil membekukan pergerakan Hanna, dan sempat membuat gadis itu ketakutan. Namun, demi menjalankan rencana, Hanna tetap menjaga image buruknya.
"Kenapa, Gerald?" Ia bahkan menghilangkan embel-embel 'mas' agar terlihat semakin tidak sopan.
"Apa perlu adab makan harus saya ajarin kamu sekarang?" tanya Gerald dengan tegas. Ia melirik tajam pada Hanna, disertai rahang menegas sempurna. Menunjukkan betapa kuat amarah dalam diri pria itu.
"Kenapa sih, Gerald? Aku perasaan biasa aja. Ada yang salah? Capek tau, kalau makannya kaku kayak kamu sekeluarga. Aku sama Ayah selalu makannya gini," kata Hanna, lalu menyendokkan makanan ke mulutnya, mengunyah lagi lebih keras.
Gerald menarik napas panjang, kemudian memejam erat seolah menahan amarah. Ia sempat mengeratkan genggaman di sendok, sampai urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas. Di saat ia mulai tidak tahan, pria itu berdiri, menimbulkan suara nyaring dari gesekan antara kaki kursi dan lantai akibat terdorong ke belakang dengan keras.
Fauzan terlihat cemas, sementara Salina diam-diam tersenyum. Berpikir bahwa rencananya berhasil dengan cepat.
__ADS_1
Namun, Gerald tidak mengatakan apa pun selain berpindah ke samping Hanna. Ia membungkuk ketika kedua tangannya menyentuh masing-masing sisi pipi perempuan itu, lalu tanpa aba-aba memberikan kecupan sesingkat mata berkedip.
Semuanya membeku. Salina hanya bisa melotot lebar dengan mulut terbuka.
"Sekali lagi kamu buka mulut pas ngunyah, saya cium kamu lagi!" ancam Gerald dengan suara dalam penuh penekanan.
Hanna langsung merapatkan bibirnya, seerat mungkin.
"Naikin kaki, saya bikin kamu duduk di pangkuan saya. Mau?"
Hanna juga menurunkan kakinya hingga kembali ke posisi normal.
"Good girl," puji Gerald dengan senyum tipis yang dipaksakan sembari mengusap kecil puncak kepala Hanna. Ia beralih pada dua orang tuanya untuk bertukar pandang, dan menatap lurus lebih lama pada sang mama. "Karena Hanna ternyata punya sikap ajaib yang nggak cocok buat di keluarga kita, jadi, saya putuskan ... buat pindah sama Hanna ke rumah baru."
Salina sontak berdiri cepat, tidak suka dengan keputusan ini. Sementara Hanna melotot lebar, terkejut.
"Gerald!" Salina memperingatkan dengan tegas.
"Mama sama Papa nggak bakalan bisa cocok sama Hanna. Nggak tau kenapa sifatnya ini mendadak kelihatan, dan saya khawatir banget bakalan ganggu hidup tenteram Mama-Papa. Jadi, saya harus amankan istri saya ini ke tempat di mana cuman ada kami berdua." Gerald menunduk pada Hanna dengan senyum misterius tipis tertahan di bibirnya. "Biar saya yang ajarin gadis ini caranya bersikap sama semua orang."
"Gerald, nggak usah ...." Hanna memelas, sembari menggenggam lembut pergelangan tangan Gerald, berharap pria itu berubah pikiran.
"Nggak, Hanna. Kamu masih nggak tau caranya bersikap dan menghadapi orang lain. Jadi, saya yang bakalan latih kamu secara langsung," Gerald membungkuk, demi mendekatkan jarak antara wajah mereka, sehingga Hanna bisa langsung merapatkan bibir dan diam—cara ampuh agar tidak memotong ucapan Gerald. "Supaya kamu nggak perlu dimanfaatkan orang lain lagi, yang bikin kamu harus tinggalin diri asli kamu cuman buat nyenengin mereka."
Hanna masih tertegun, memikirkan. Otaknya mendadak jadi 2G, karena kedekatan Gerald dan aroma pria itu menghambat cara kerjanya.
Sementara Salina semakin melotot dengan tubuh kaku sempurna. Anaknya ... mendengarkan obrolannya tadi bersama Hanna?
Atau—tatap tajam penuh permusuhan diarahkan ke sangat keponakan—Hanna sengaja melaporkannya pada Gerald?
...🥀...
__ADS_1