
Tubuh fit Gerald yang masih muda sama sekali tidak bisa ditandingi oleh kekuatan Anton. Hanya dalam waktu singkat, pria itu sudah jatuh di lantai, dan kesulitan berdiri. Dadanya terus dipegangi, sebab beberapa tentangan Gerald berhasil membuatnya sesak napas.
“Gerald, stop, plis ... Gerald!” Hanna memohon pada suaminya, bahkan meraih tangan Gerald yang akan dilayangkan dalam sebuah pukulan kuat. Ia berlutut di samping pria itu agar membuatnya bersimpati dan menghentikan kegiatan brutal ini. “Stop, Gerald, tolong .... Dia ayah aku, Gerald. Tolong .... Jangan apa-apakan Ayah. Tolong ....”
Hanna tidak bisa berhenti terisak sama sekali. Ia menempelkan punggung tangan Gerald di keningnya sebagai bentuk permohonan yang teramat dalam.
Gerald mulai tenang pada awalnya ketika ia melihat Anton. Namun, saat ia mulai menunduk dan melirik bagaimana tampilan Hanna dibuat oleh lelaki sialan di depannya itu, tangan Gerald kembali mengepal kuat. Ia hanya membutuhkan satu kali empas untuk mendorong Hanna dari jangkauannya.
Pria itu kembali maju dengan pandangan yang berubah nyalang. Langkahnya cepat dan terburu-buru. Di depan Anton, Gerald membungkuk hanya demi bisa meraih kerah pakaian pria tua itu, lalu memaksanya untuk berdiri.
“Setelah menikah, Hanna milik saya! Kamu nggak punya hak apa pun di Hanna lagi kecuali atas izin saya!” Gerald memberikan peringatan dengan suara tegasnya. Rahang-rahang pria itu menegas saat mencoba menahan amarahnya, dengan urat leher menegang sempurna setiap kali Gerald berbicara. “Beraninya kamu ... mau membuat Hanna jadi pelac*r?”
Kepalan tangan Gerald sekali lagi menghantam rahang Anton. Pria itu seharusnya jatuh tersungkur, tetapi berkat penahanan Gerald menggunakan satu tangan di kerah baju Anton, si mertua tidak jadi jatuh.
“Kamu pikir kamu bisa peras saya, hah?” Pukulan selanjutnya diberikan Gerald setelah mengajukan pertanyaan bernada tajam itu. “Kamu pikir semua orang harus patuh sama kamu, hah?!”
“Gerald, tolong .... Berhenti, Gerald! Kamu bisa bunuh ayah kalau gitu terus. Gerald!” Hanna juga terus mengimbangi setiap ucapan penuh peringatan yang Gerald sampaikan dengan permohonannya.
Ia mencoba menahan lengan Gerald yang akan melayangkan pukulan lagi, tetapi gadis itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sang suami. Sehingga Gerald hanya perlu mengentakkan tangannya sekali, dan gangguannya sudah menghilang. Ia sudah bisa memukul Anton lagi semaunya.
Hanna semakin panik ketika melihat mata ayahnya semakin sayu dengan beberapa bagian kulit wajahnya robek mengeluarkan cairan merah kental. Gadis itu gemetar sempurna, ketika melihat pemandangan mencekam di depan sana.
Pada akhirnya, Hanna harus bisa mengambil tindakan tegas. Kondisi ayahnya benar-benar kritis, sementara Gerald masih enggan untuk menghentikan setiap serangannya.
Maka, Hanna mengambil sebuah keputusan tanpa berpikir panjang. Gadis itu maju dengan gerakan kaki yang cepat ketika Gerald mengambil ancang-ancang untuk memukul. Ia mendorong Anton dengan kuat, dan tidak sempat menghindar dari kepalan tangan penuh emosi yang Gerald layangkan sehingga ....
BUGH!!
Hanna jatuh tersungkur dengan lebam kemerahan di tulang pipinya. Ia jatuh menabrak dinding, tanpa bisa membuka matanya lagi.
__ADS_1
“HANNA!”
...🥀...
Hanna terbangun karena sensasi basah di seluruh bagian wajahnya. Sebelum membuka mata, ia sempat melihat bayangan menjijikkan sebagai bentuk perwujudan dari apa yang Anton inginkan: gadis itu akan menjadi alat pemuas bagi para laki-laki.
Sehingga, Hanna melihat dirinya sendiri dikerumuni oleh banyak pria yang menciumi dirinya. Gadis itu segera membuka mata, dan secara refleks mendorong penyebab basah itu dengan keras hingga bunyi keras terdengar.
Segera, Hanna mengubah posisinya menjadi duduk dengan napas yang memburu. Ia melihat sekitar, dan menemukan sesosok pria tengah membungkuk ke lantai mengambil sesuatu. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Hanna untuk mencoba lari, tetapi lengannya ditahan dengan kuat oleh sebuah tangan.
“Jangan ke mana-mana.”
Hanna mengenali suara itu di luar kepala. Sehingga ia segera kembali tenang.
Gerald sudah meninggalkan posisi membungkuknya usai mengambil pecahan-pecahan mangkuk dari lantai serta lapnya.
“Tetap tiduran.” Gerald memberikan perintah lain, yang secara ragu dipatuhi oleh Hanna.
Namun, mengingat tentang bagaimana cara Gerald menyelamatkannya, Hanna tiba-tiba cemas.
“Ayah ... gimana?” tanya Hanna dengan hati-hati. Sebab, baru saja mengucapkan kata pertama, rahang Gerald sudah menegang sempurna. Namun, Hanna tidak bisa berhenti bertanya karena ini menyangkut orang tua satu-satunya. “Ayah baik-baik aja, ‘kan?”
Gerald melepaskan genggamannya pada lengan Hanna. Ia tidak langsung menjawab, malah berdiri menjulang di samping tempat tidur dan menatap Hanna dengan sangat intens.
“Ya.” Gerald baru bersuara dengan singkat, lalu membawa pecahan kaca dan lapnya meninggalkan Hanna seorang diri dalam kamar tersebut.
Hanna mengembuskan napasnya secara perlahan dengan sedikit bergetar. Baru merasakan caranya bernapas dengan normal setelah sebelumnya dibuat tegang oleh keberadaan Gerald di sekitarnya.
Sekarang Hanna setidaknya bisa lega dengan keadaan sang ayah yang baik-baik saja. Namun, masalah selanjutnya sekarang ini adalah ....
__ADS_1
Kemarahan Gerald.
...🥀
...
Hanna bangun pagi-pagi untuk membuatkan sarapan. Setidaknya satu kali selama pernikahan mereka—niat Hanna—sebagai bentuk ucapan terima kasih atas pertolongan Gerald terhadap dirinya.
Namun, ketika Hanna mencoba memanggil pria itu untuk sarapan bersama, Gerald juga sudah menuruni anakan tangga. Sehingga dalam kondisi canggung, Hanna mengundangnya berbelok ke ruang makan.
“Mau sarapan bareng, Gerald?” tanya Hanna, tidak lupa memamerkan senyum terbaiknya untuk pria itu.
Namun, yang Gerald lakukan sangat mengecewakan Hanna. Pria itu hanya melewati keberadaan Hanna seolah perempuan itu tidak ada. Gerald terlihat sangat sibuk dengan dirinya sendiri: pakaian dan tas kerja. Sama sekali tidak membalas sapaan dan ajakan Hanna walau sekadar sebuah senyuman.
Hanna terdiam membatu di tempatnya. Ia menunduk dalam dengan perasaan bersalah. Sama sekali tidak mau melakukan protes atas sikap Gerald, karena pria itu memang berhak melakukannya.
Gadis itu terpaksa memasuki ruang makan seorang diri. Menyantap sarapan dengan lesu tanpa minat. Setelah selesai, membersihkan ruang makan dan dapur.
Usai semua tugasnya selesai, Hanna baru bersiap berangkat. Di kamar, ketika ia bersiap, perempuan itu menemukan suara dering ponsel yang amat dikenali. Bukan milik Gerald, Hanna yakini. Ia mencoba mencari, dan menemukan sumbernya berasal dari nakas.
Ketika Hanna membukanya, ia tersenyum senang menemukan ponselnya dalam kondisi baik di sana. Gerald benar-benar memenuhi ucapannya, dan hal ini membuat Hanna merasa tertampar kenyataan lagi.
Perempuan itu menghela napas panjang, sembari mengeluarkan ponsel dari laci nakas. Ia duduk di pinggir tempat tidur, berniat menerima panggilan. Namun, Hanna tertegun saat menemukan nomor yang tidak asing.
Hanna pernah mengangkat telepon dari nomor ini, kemarin. Sekaligus menjadi penyebab mengapa ponsel Hanna sempat rusak.
Si penelepon adalah ... Gladys.
Hanna sedikit ragu mengangkatnya, tetapi entah bagaimana, jempol gadis itu tetap menggeser ikon hijau sampai sebuah suara terdengar dari ponsel.
__ADS_1
“Hanna? Keluar yuk! Aku mau bicara sama kamu.”