HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Teka-Teki Gerald


__ADS_3

"Udah capek?" tanya Gerald setelah mereka keluar dari mall dengan menenteng beberapa paper bag.


Sementara Hanna yang tidak membawa apa pun, malah terlambat muncul di samping pria itu.


"Udah," jawab Hanna dengan senyum lebar di bibirnya. Lelah yang gadis itu rasa, sebanding lurus dengan besarnya kebahagiaan dalam dirinya.


Euforia kebahagiaan membuat perempuan itu secara spontan memeluk lengan Gerald.


"Makasih banyak. Aku sebelumnya mau banget nonton di bioskop, tapi selain karena kendala biaya, aku juga malu nggak tau caranya mesen tiket. Makasih, udah nemenin aku nonton horor. Makasih juga buat ... kepedulian berlebihan kamu sampai beliin aku sebanyak itu, padahal aku belum tentu sempet pakai semua pakaian-pakaian bagus itu. Makasih ... banget ... udah bikin aku bisa penuhi keinginan rahasia aku: belanja bebas tanpa takut atau khawatir tentang apa pun di mall."


Gerald tertawa kecil mendengarnya. "Kenapa makasih kamu kebanyakan?"


"Karena kamu ngasih banyak buat hari ini."


"Masih mau lanjut?"


Hanna menggeleng sembari menyandarkan kepalanya di lengan Gerald. Mereka melanjutkan langkah menuju parkiran.


"Udah capek banget. Ini bentar lagi azan asar juga."


"Nggak papa. Nanti bisa sholat di tempat terdekat, kayak zuhur tadi."


"Nggak deh. Makasih. Udah puas banget hari ini." Hanna menjauhkan dirinya, berniat melanjutkan genggaman tangan mereka—suatu hal yang terlalu sering dilakukan hari ini sampai Hanna merasa kecanduan.


Namun, ia tertegun melihat kondisi tangan Gerald.


"Kamu nggak papa bawa itu semua sendiri?"


Tersisa satu meter lagi mencapai mobil, Gerald menghentikan langkahnya karena ucapan perempuan itu.


"Seriusan, kamu ragukan otot-otot saya ini?"


Hanna mencibir jawaban Gerald. Ia mendengkus geli, lalu memukul pelan lengan pria itu. Sementara Gerald menanggapinya dengan senyum cerah.


"Langsung masuk aja." Gerald memberikan arahan, sementara dirinya berniat ke belakang untuk memasukkan barang-barang ke bagasi. "Kecuali kalau mau dibukain pintu kayak tuan putri. Tunggu saya di situ."


"Dih, enggak usah." Hanna menyahut geli. Ia membuka sendiri pintu untuknya, tetapi mengurungkan niat.


Hanna membiarkan pintu terbuka, lalu berpindah ke pintu bagian kemudi, membukanya penuh hormat, bahkan tersenyum ketika Gerald datang.


"Seriusan?" tanya Gerald, geli dengan perbuatan perempuan itu.

__ADS_1


Manis, sampai perut Gerald terasa tergelitik.


Hanna mengangguk ceria. Lalu mempersilakan Gerald untuk masuk.


Pria itu menuruti kemauan istrinya. Hanna menutup kembali pintu, lalu berpindah ke tempat duduknya.


Mobil mulai berjalan, hanya beberapa menit tenang, sampai suara azan asar terdengar.


"Nanti, sholat asarnya di rumah aja." Hanna memberitahu ketika menyadari bahwa suaminya mulai celingak-celinguk mencari tempat.


"Nggak papa. Sholat aja dulu deket sini. Saya tungguin kok," balas Gerald santai.


Hal ini, jelas membuat Hanna heran.


"Kok kamu bisa nyantai di sini? Emang nggak sibuk kerja?" tanya Hanna, penasaran. "Aku baru masuk kerja tau, Gerald. Gimana kalau nantinya aku dipecat?"


"Saya masih bisa nafkahin kamu."


"Bukan masalah itu, aku ...."


"Kamu keras kepala beneran, Hanna. Dibilangin nggak usah peduli sama uang itu. Itu tuh uang mahar. Mahar buat menikah sama kamu. Nggak usah pikirin uang itu. Paham, Hanna?"


Hanna langsung menciutkan keberanian. Ia memajukan bibirnya, membuat Gerald berhasil menghilangkan kemarahannya pada gadis itu. Ia tersenyum kecil, dan membawa sebelah tangannya berada di atas puncak kepala Hanna.


"Kamu ... nggak ikut turun?" tanya Hanna dengan suara pelan dan hati-hati.


Gerald masih memegang setir mobil ketika memberi gelengan kecil. Ia menoleh pada Hanna, dan memberikan konfirmasi lebih lanjut.


"Enggak."


"Kenapa?" Hanna langsung menimpalinya dengan pertanyaan. Ia merasa penasaran karena satu hal. "Aku inget, kamu rajin banget sholat setiap kita kumpul-kumpul di rumahnya nenek dulu. Dan pas nenek meninggal, aku dengerin suara kamu pas ngaji, fasih banget dan bagus. Kenapa ... sekarang enggak?" Hanna merasa khawatir atas pertanyaannya, sehingga semakin di akhir kalimat, ia kian memelankan suaranya.


Gerald diam, tidak menjawab. Ia sempat membuka mulutnya berniat mengatakan sesuatu—tetapi bibir itu kembali rapat sempurna. Aura Gerald kembali terasa dingin, sehingga Hanna langsung memahami bahwa ini adalah isyarat sebagai penolakan pria itu untuk menjawab.


Hanna turun dari mobil, berakhir dengan sebuah rasa penasaran yang teramat dalam mengenai sikap sepupunya itu.


...🥀...


Tidak lama, Hanna sudah kembali ke mobil. Ia menutup pintu, kemudian mengenakan sabuk pengaman barulah mobil dijalankan oleh Gerald.


"Sekarang, pulang?" tanya Hanna hati-hati, takut jika suaminya masih sedingin sebelum ia pergi tadi.

__ADS_1


Gerald menggeleng kecil, masih terlihat tidak acuh. "Belum." Ia menambahkan sebuah kata, agar terlihat lebih ramah.


"Mau ke mana lagi?" Hanna mulai memberanikan dirinya bertanya. "Jangan jalan-jalan lagi. Aku udah capek banget, seriusan."


"Iya ... iya." Gerald mengulurkan tangannya ke puncak kepala Hanna. Mengusapnya lembut ke sana. "Cuman belanja mingguan aja di supermarket deket rumah nanti. Soalnya bahan makanan sisa dikit di dapur."


Hanna mengangguk mengerti, menyetujui ucapan suaminya.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kok bisa kamu nggak masuk kerja hari ini?"


"Masuk, kok." Gerald menjawab santai. "Cuman sebentar aja, tapi."


"Kok bisa bebas gitu keluar-masuk kerja? Emang nggak dimarahin Om Fauzan?"


"Nggak. Nggak bisa dimarahin, dan nggak saya izinin buat marahin saya."


Hanna diam-diam mencibir sekaligus iri pada pria satu ini. Di saat gadis itu pasrah terhadap semua kezaliman ayahnya, Gerald bahkan bebas bolos kerja dan melawan orang tuanya sendiri. Hanna hanya ... menyayangkan Anton yang selalu saja bersikap semena-mena sebanyak apa pun gadis itu berkorban untuk sang ayah.


"Kamu pikirin apa, Han?" tanya Gerald, saat menyadari perubahan ekspresi istrinya yang secara mendadak.


Hanna buru-buru menggeleng. Ia memaksakan senyum, agar terlihat baik-baik saja.


"Kamu itu terlalu sia-siain kepedulian orang tua kamu tahu, Gerald! Aku kalau punya orang tua kayak Tante Salina dan Om Fauzan, bakalan ngerasa beruntung ... banget. Mereka sepeduli itu sama kamu, dan aku bakalan siap lakuin apa pun buat membahagiakan mereka. Kamu malah ... selalu ngerjain apa yang nggak orang tua kamu suka."


Gerald mengeluarkan dengkusan dengan ekspresi geli, memancing rasa penasaran Hanna. Gadis itu menunggu penjelasan dari sepupunya.


"Mereka alasan kenapa saya kayak gini sama mereka, Hanna."


"A—lasan? Alasan apa?" Hanna hanya tahu, Gerald selalu suka bersikap semaunya. Jadi, seharusnya hal itu bukan karena perbuatan orang tuanya, 'kan?


"Belum waktunya masalah ini jadi urusan kamu." Gerald memberitahu, lalu memalingkan wajah menjauhi Hanna. Hanya sebentar, tetapi itu sudah menjadi isyarat agar Hanna tidak lagi membahas topik yang sama.


Ekspresi tidak nyaman sangat jelas ditunjukkan oleh Gerald, disertai beberapa helaan napas panjang dari pria itu.


Hanna paham, bahwa ada yang salah antara hubungan Gerald dan dua orang tuanya. Entah seserius apa, atau selama apa. Mungkin juga, sejak Gerald mendadak berubah ketika menginjak usia remaja.


Hanna masih sibuk berpikir, ketika sebuah dering ponsel terdengar. Ia segera menoleh ke sumber suara, pada Gerald yang sudah mengangkat panggilan tersebut.


"Halo." Gerald menyapa singkat. Tampak tidak acuh pada awalnya, tetapi seiring waktu, ekspresi pria itu secara cepat berubah menjadi terkejut bercampur tegang dan ketakutan.


"Gerald, kenapa?" tanya Hanna penasaran. Ia memegang lengan Gerald untuk membuat perhatian pria itu beralih padanya.

__ADS_1


Secara perlahan, Gerald mulai menoleh pada Hanna dengan pandangan melotot.



__ADS_2