HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Ketidakberdayaan Dua Manusia


__ADS_3

Dua tubuh tanpa sehelai benang penghalang saling menekan. Gerald berada di atas penuh dominasi, mengendalikan irama entakkannya di bawah sana agar perempuan yang tengah ia tindih tidak mengalami kesulitan apa pun. Ia merasa gila oleh perasaan hangat dari pelukan tubuh istrinya: entah dari pertemuan kulit mereka atau juga jeratan surgawi Hanna pada dirinya.


Di saat dada bertemu dada, perut saling menekan, dan inti tubuh tengah bersatu, Gerald juga enggan membuat jarak antara bibirnya dan Hanna. Hanya berhenti tanpa memisahkan pertemuan kulit bibir mereka demi mendapatkan napas, lalu lanjut meraup daging kenyal istrinya yang sangat menggugah, penuh kerakusan.


Gerald berniat menanggalkan semua kewarasannya demi kenikmatan ini, tetapi tidak bisa.


Tidak.


Pria itu menggeleng kasar, hingga bayangan erotis barusan segera menghilang dari benaknya. Ia masih berdiri dalam pakaian lengkap, begitu pun Hanna. Namun, undangan gadis itu tidak mau berhenti.


Hanna dalam kegelisahannya, tampak kebingungan. Ia terlihat segan ketika mengatakan hal mengundang tadi, tetapi matanya menyiratkan keinginan yang sulit diabaikan. Gadis itu bahkan berpegangan pada kedua kaki Gerald, lalu perlahan berusaha berdiri, dan memeluk leher Gerald.


“Nggak tahu kenapa, rasanya ... aneh.” Hanna mengadu frustrasi pada Gerald yang masih membatu. “Aku ... nggak paham. Aku nggak tau .... Aku cuman mau ... di—sentuh?”


Gerald meneguk ludah secara kasar. Tatapnya begitu dalam jatuh pada kedua mata hitam pekat milik Hanna. Di dalam kepalanya, muncul dua pertentangan berbeda, dan didominasi oleh keinginan untuk mewujudkan bayangan tadi.


“Oke.” Gerald memutuskan. Ia membawa kedua tangannya di bawah pinggul Hanna untuk digendong.


Hanya perlu beberapa langkah, gadis itu sudah dibaringkan di tengah-tengah ranjang. Hanna sedang sibuk bergerak gelisah di sana, bahkan mulai mengangkati pakaiannya, tetapi Gerald malah menyingkir dari atas tubuhnya.


Terlihat sangat berat untuk dilakukan, tetapi Gerald memaksa tumitnya berputar sehingga ia sudah membelakangi Hanna saat ini. Ia memejam kuat untuk meyakinkan diri sendiri, lalu mengangkat kedua kakinya susah payah meninggalkan ruangan ini. Tidak lupa menutup pintu, lalu lanjut berjalan dengan buru-buru menuju lantai bawah.


Sesekali, m3ngusap wajah secara kasar, atau menyugar rambut. Gerald tidak bisa memahami perasaannya merupakan amarah yang mendalam, atau gair4h yang sulit terpadam.


Dua hal itu menjadi pendorong kepergian pria itu menggunakan mobil, dengan pandangan tajam, menuju rumah orang tuanya.


...🥀


...


Tiba di rumah orang tuanya, Gerald buru-buru turun dari mobil tanpa melepaskan kunci lebih dahulu. Ia tidak mengingat apa pun selain harus memberikan peringatan tegas untuk orang tuanya. Bahkan, Gerald tidak sempat memastikan pintu mobilnya sempat ditutup atau belum.


Pintu rumah didorong kasar oleh Gerald. Ia meneruskan langkah ke ruang makan, tempat di mana pria itu meyakini orang tuanya sedang berada.


“Mama!” teriak Gerald dengan keras, setibanya ia di ambang pintu dapur. Ia sempat berhenti sejenak di sana, beradu pandang dengan dua orang tuanya. Lalu, kembali berjalan dengan langkah yang lebih lambat, penuh perhitungan dan memperkuat aura mengintimidasi dari dirinya.


“Kenapa, Gerald?” Salina meninggalkan kursi makannya demi memenuhi panggilan Gerald. “Kamu nggak ngabarin apa-apa kalau mau ke sini? Mau makan malam?”


Gerald baru berhenti di dekat meja makan. Menatap dua orang tuanya dengan intens, lalu ....


BRAK!

__ADS_1


Meja dipukul dengan kuat menggunakan dua telapak tangan Gerald, berhasil membuat dua orang tuanya tersentak kaget.


“Mama yang suruh Kania taruh sesuatu ke minuman yang dia kasih ke saya?” Gerald mengajukan pertanyaan dengan nada menuduh. Gigi-giginya saling menekan ketika mengatakan itu, menunjukkan betapa besar amarah yang berusaha ia tahan dalam dirinya saat ini.


“M—minuman apa? Mama nggak pernah suruh Kania ngasih kamu minuman.” Salina menjawab gugup dan terbata. Ia langsung menenggak ludah sendiri setelah memberikan jawaban meragukan tersebut.


“Ma—“ Gerald menghentikan arah pandang penuh intimidasinya dari sang mama, dan beralih mewawancarai Fauzan. “Ini alasan Papa kenapa mendadak paksa saya buat lembut di kantor?”


“Enggak, Gerald.” Fauzan menjawab lebih lugas kali ini, walau, ia masih gagal menyembunyikan gugup secara sempurna. “Papa murni mau selesaikan pekerjaan dengan lebih cepat—“


“Kalian pikir, kalian lagi bohongi anak usia lima tahun?” tanya Gerald, menantang. Ia melirik keduanya secara bergantian dengan pandangan meremehkan. “Ini pertama, dan terakhir kalinya kalian ngelakuin hal seburuk ini ke saya! Selanjutnya, saya nggak bakalan pernah toleransi lagi kalau hal semacam ini terjadi lagi. Persetan ... kalau kalian orang tua saya!”


“Gerald!” Fauzan memanggil dengan suara yang meninggi penuh peringatan, tetapi putranya malah balas menantang. Namun, Fauzan tetap meladeni sikap keras sang anak. “Jangan lupa dengan siapa kamu bicara sekarang ini!”


“Saya hampir lupa hal itu, karena kalian juga kayaknya lupa, siapa yang coba kalian celakai!” balas Gerald, tegas. Pria itu menegakkan punggungnya yang semula. “Sama terakhir, jangan berharap sama Kania. Saya ... nggak bakalan pernah—Demi Tuhan—dekat apalagi sampai tertarik dengan perempuan itu. Nggak ... bakalan ... pernah.” Gerald mengatakan tiga kata terakhirnya penuh penekanan dan penegasan.


Setelah itu, Gerald memberikan tatap penuh peringatan pada dua orang tuanya secara bergantian, lalu meninggalkan ruang makan serta rumah orang tuanya. Ia mengendarai mobil untuk pulang, dengan kecepatan lebih pelan dari sebelumnya.


Hal ini dilakukan untuk menjernihkan pikirannya. Gerald berulang kali memijit pelipis atau pangkal hidung demi mengurangi denyut sakit di kepalanya atas kejadian ini. Sedikit membantu untuk mengurangi amarah dalam dirinya, walau tidak berguna untuk meredam dorongan hasr4t dalam dirinya karena pancingan Hanna.


Gerald tidak menyadari dirinya sudah tiba di depan rumah. Ia membawa mobilnya menuju garasi, lalu lanjut masuk ke rumah. Semua pintu sudah diamankan, ketika Gerald menjatuhkan tubuh lemasnya di atas sofa.


Padahal, tidak ada hal berat yang sudah dilakukan oleh pria itu, tetapi ... Hanna berhasil membuat Gerald frustrasi. Pria itu memejam lemah, dengan kesadaran yang hilang-timbul.


Mudah, karena ia bukan orang baik.


Mudah, karena memang Gerald sudah menginginkan Hanna sejak lama.


Mudah, apalagi mereka sudah menikah. Tidak ada larangan yang bisa membuat Gerald merasa bersalah jika ia meniduri istrinya sendiri.


Seharusnya mudah, ‘kan?


Namun, tidak. Hanya karena satu alasan, Gerald memberikan penahanan besar dalam dirinya.


Pria itu menghentikan pikirannya ketika ia teringat sesuatu. Bahwa Hanna belum tentu tertidur saat ini. Ia melirik sekilas pada jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam—efek terlalu lama ia berpikir hingga hampir tertidur.


Gerald tidak tahu pasti mengenai efek dari minuman tersebut, tetapi ... siapa yang bisa menjamin bahwa Hanna baik-baik saja sementara kewarasannya tersisa sedikit akibat terjangan gair4h di luar kendalinya.


Gerald buru-buru berdiri. Kekuatannya terkumpul lagi ketika menuju ke kamar. Ia dengan cepat membuka kunci kamar, dan seketika berhenti bernapas sejenak saat mengetahui bahwa ruangan ini sudah kosong.


Pria itu buru-buru masuk, mencari keberadaan sang istri.

__ADS_1


“Hanna? Han—na!” Gerald tengah memanggil-manggil saat ia hendak mencari di kamar mandi, dan seketika tersendat saat melihat wajah perempuan itu sudah pucat.


Kecuali leher ke atas, seluruh tubuh Hanna terendam air bathub.


Gerald tidak berpikir panjang, langsung mengangkat perempuan dalam pakaian basah sempurna itu, dan meletakkannya di lantai yang tidak terlalu banyak terkena air, untuk memastikan kondisi sang istri.


Gerald menyentuh pipi Hanna yang dingin, lalu menepuknya beberapa kali dengan pelan.


“Hanna? Han ... kamu masih sadar?”


Hanna bergerak gelisah, tetapi matanya tidak terbuka. Perempuan ini masih sadar, tetapi terlalu lemah.


Gerald langsung merutuk diri sendiri yang terlalu lama menghabiskan waktu di perjalanan, dan sibuk berpikir di ruang tamu tadi. Sekarang, Hanna entah terendam berapa jam di bathub.


“Hanna?” Gerald memanggil lagi dengan suara gemetar karena khawatir.


Ia memaksa otak ya bekerja cepat untuk menemukan solusi.


Pakaian Hanna yang basah kuyup, bisa memperparah masalah jika tidak segera diganti.


Sementara di sini, Gerald tidak bisa meminta bantuan siapapun.


Dan Hanna tidak bisa dibiarkan terlalu lama dalam kondisi seperti ini.


Maka, hanya ada satu solusi.


“Sorry, Hanna.” Gerald berbicara sembari memandang mata tertutup Hanna. Ia mengalihkan arah lirikannya ke pakaian Hanna yang basah, lalu meneguk ludah secara kasar. Ragu, jika pertahanannya bisa tetap kukuh sementara matanya disuguhkan pemandangan—


Gerald menggeleng kasar. Ia secara perlahan menarik jilbab Hanna sembari menahan napas hingga kain tersebut lepas. Selanjutnya, tubuh lemah itu diubah menjadi menyamping sehingga Gerald bisa mengakses bagian punggung istrinya. Menarik retsleting di sana, disertai debar keras di dada Gerald.


“Saya izin buka baju kamu, ya?” bisik Gerald.


Pria itu susah payah memusatkan fokus pada kegiatannya dan keselamatan Hanna, mengabaikan gejolak perasaan dalam dirinya, dan tuntutan tubuhnya yang sudah menegang sempurna.


Seharusnya, mudah bagi Gerald untuk mengeksplorasi tubuh perempuan ini sampai ia merasa puas. Namun, tidak. Hanya karena satu alasan, Gerald memberikan penahanan besar dalam dirinya.


Karena Hanna belum mencintainya, dan Gerald ... terlalu dalam mencintai perempuan ini sampai ia merasa takut jika Hanna tersiksa sedikit saja. Termasuk jika ia sendiri yang melukai perempuan ini.


Sementara Gerald berpikir ... menghabiskan malam panas dengan pria yang tidak diinginkan apalagi atas pengaruh obat adalah luka, mimpi buruk, bahkan kutukan untuk masa depan Hanna.


Gerald tidak mau hal itu terjadi ... pada perempuan yang sudah ia cintai belasan tahun.

__ADS_1



__ADS_2