
“Kenapa sih, Gerald?” tanya Hanna penasaran. Ia mengguncang ringan tubuh Gerald ketika ia tidak menemukan jawaban dari pria itu.
Gerald memelankan kecepatan mobilnya agar menghindarkan mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak ada lagi yang pria itu katakan ketika mematikan panggilan selain sapaan di awal telepon tadi.
“Kenapa? Siapa yang nelpon? Kamu dimarahin sama Om Fauzan karena nggak masuk kerja, ‘kan?” tebak Hanna, berniat bercanda, tetapi ekspresi tegang suaminya tidak juga berkurang.
“Gladys.” Gerald menyebut sebuah nama yang tidak asing di telinga Hanna. “Dia sudah balik ke Indonesia.”
Jelas, jawaban itu membuat kebingungan Hanna semakin besar. Kening gadis itu bahkan berkerut sangat dalam saat ini, menunjukkan sulitnya ia menemukan tebakan mengenai alasan dari sikap aneh Gerald saat ini.
“Gladys? Adik kamu kan? Kenapa kamu kayak kaget banget?” tanya Hanna keheranan. “Ah ... kalian marahan? Atau apa? Kamu takut kalau Gladys bisa bikin orang tua kamu sayang dia daripada kamu?” Hanna memberikan tebak-tebakan ringan dan bercanda, tetapi sekali lagi, tidak ada yang membuat ekspresi Gerald berubah.
Hanna masih belum menemukan jawaban dari masalah ini. Gadis itu jadi sangat kebingungan. Ia sampai harus mengusap lengan Gerald secara hati-hati untuk membuat pria itu tenang dari ketegangannya.
Selama beberapa menit, keduanya tidak lagi bersuara. Hanna mengerti bahwa ia harus memberikan waktu untuk Gerald berpikir tentang apa yang sedang ia takutkan saat ini. Sekarang, Hanna hanya perlu mendukung suaminya.
Sampai, Gerald mulai menghela napas dengan panjang. Menunjukkan bahwa dirinya sedang membuang sesuatu yang buruk dari pikirannya. Laju mobil juga perlahan meningkat ke tahap normal, tidak selambat sebelumnya.
“Kita nggak perlu datang ke sana.” Gerald memberitahu. “Kamu nggak usah ketemu Gladys.”
“Loh? Kenapa?” Hanna langsung bertanya keheranan. “Aku udah jarang banget ketemu Gladys sejak kematian Ibu. Aku ... cuman punya temen baik satu, cuman Gladys. Aku nggak bisa kalau nggak ketemu Gladys, Gerald.”
“Nggak.” Gerald tetap menolak dengan suara tegas, yang membuat Hanna semakin sulit menahan penasaran. “Kita pulang. Kamu nggak perlu berkunjung ke rumah Mama.”
“Gerald ....” Hanna memelas dengan suara lirih, berharap pria itu iba dan memberitahukan alasannya.
“DIAM!”
Hanna langsung tersentak kaget dan mundur sampai menabrak jendela mobil akibat suara Gerald yang meninggi. Ia menahan napas sejenak, dan mengembuskannya dengan sedikit gemetar.
Gerald tampak sangat frustrasi, entah untuk alasan apa. Ia mengusap wajah sendiri dengan sangat kasar, lalu meremas setir mobil sampai urat-urat lehernya menonjol.
Hanna bertanya-tanya. Seburuk apa hubungan dua bersaudara ini? Tampaknya ... lebih buruk dari pada hubungan Gerald dan orang tuanya.
Bukan keluarga Hanna, tetapi gadis itu yang berdebar ketakutan atas apa yang terjadi saat ini.
...🥀...
Hanna berharap, bahwa ia akan menemukan jawaban atas permasalahan yang terjadi di keluarga sepupunya dengan datangnya telepon dari Salina. Namun, jangankan mencari tahu, gadis itu bahkan hampir tidak pernah dibiarkan bertanya oleh tantenya.
“Jadi kamu nggak ngelawan gitu pas diajakin Gerald buat pergi di jam kerja? Kamu harusnya ngelawan, biar dia punya malu, terus tinggalin kamu di situ. Dengan kamu turutin dia, dia bakalan sering bikin kamu makin sering ninggalin kerjaan cuman buat berdua-duaan.”
__ADS_1
Ucapan Salina membuat Hanna merasa tidak nyaman. Namun, ia tetap memberikan balasan hormat pada mertuanya tersebut. “Maaf, Tante.”
“Kamu juga bisa ceramahin dia kalau dia ngelakuin sesuatu yang nggak baik. Dia gampang muak kalau diceramahin. Jadi, kamu harus selalu recoki hidup dia, supaya dia lebih cepet nggak nyaman sama kamu.”
Hanna mengangguk lemas, walau sebenarnya ia tidak terlalu ingin menuruti keinginan sang mertua.
“Terus, Hanna, jangan larang Gerald buat datang ke rumah sini ya. Gladys rencananya bakalan bantu buat deketin Gerald sama Kania. Kamu masih tetap harus berjuang di situ, ya.”
“Iya, Tante.”
“Makasih ya, Sayang.” Salina berujar dengan suara lembut. “Kamu masih bisa kerja besok ya. Rayhan mungkin cuman protes besok dan kamu tetap bakalan dibiarkan kerja karena dia nggak punya cadangan lain.”
“Oke, Tante.”
Sambungan telepon dimatikan. Hanna menjauhkan ponsel dari telinga, dan menatap sendu pada layar. Ia sedang mempertimbangkan hal apa yang harus dilakukan selanjutnya, sebab baru tadi ia merasakan kebahagiaan saat bersama Gerald. Hanna sekarang merasa sangat berat jika harus memenuhi permintaan mertuanya.
Ponsel tersebut tiba-tiba berpindah tangan. Sebelum memproses apa yang terjadi, paha Hanna sudah ditindih oleh sebuah kepala dengan wajah yang tersenyum tipis padanya.
“Gerald?” Hanna memanggil dengan suara terkejut. Ia menemukan ponselnya sudah berada di tangan pria itu. “Balikin!”
“Mama tadi bilang apa?” tanya Gerald penasaran saat menemukan riwayat teleponnya menunjukkan nama ‘Tante Salina’.
“Minta kamu ketemu sama Gladys lah. Kamu kenapa nggak temuin dia?”
“Lah?” Hanna semakin kebingungan. “Kamu aneh. Adek datang dari jauh setelah bertahun-tahun, kamu malah nggak mau temuin. Kenapa emangnya? Aku makin penasaran kalau gini, Gerald.”
“Kamu nggak usah tahu.” Gerald tetap menjawab seperti sebelumnya. Ia mengembalikan ponsel Hanna, tetapi oleh gadis itu diletakkan di atas meja.
Hanna terdiam sejenak, mengingat ucapan Salina. Bahwa Gerald sangat tidak suka diceramahi, dan tugas Hanna adalah melakukan apa pun yang tidak disukai oleh pria itu.
Gadis itu menghela napas panjang, lalu mulai mencoba.
“Gerald, kamu nggak boleh kayak gini. Kamu mutusin hubungan keluarga namanya, dan itu dosa tahu. Kamu udah nggak sholat, nggak ngaji, nggak ibadah apa-apa. Minimal ya, perbaiki hubungan sama keluarga. Apalagi keluarga kamu juga baik-baik semua. Aku heran sama kamu yang nggak menghargai mereka sama sekali, padahal—“
Hanna terdiam sejenak ketika Gerald malah tersenyum sembari memperbaiki posisi kepalanya di paha gadis itu.
Ini sudah benar, ‘kan?
“Kenapa berhenti?” tanya Gerald keheranan. “Lanjut, Hanna. Saya mau tidur.” Pria itu memejamkan mata, dengan senyum masih tersedia di bibirnya.
Hanna mendengkus geli, menghentikan usahanya untuk membuat Gerald tidak menyukainya. Ia memilih menyandarkan punggung di sofa, sembari melipat tangan depan dada. Menunjukkan betapa malasnya ia berurusan dengan Gerald.
__ADS_1
“Kamu nggak usah masuk kerja bes—“
“Nggak.” Hanna menolak tegas. “Aku mau masuk kerja. Aku suka kerja.”
“Kerja aja di rumah, Hanna.”
“Nggak, bosenin.”
Gerald menghela napas panjang, dan Hanna diam-diam tersenyum bangga sebab sudah membuat pria itu merasa frustrasi. “Ya sudah. Kamu jaga jarak dari si kasir.”
“Dia atasan aku, Gerald. Yang sopan panggilnya. Lagian, aku di bagian dalam, jarang interaksi sama Pak Rayhan kecuali kalau ada perlunya.”
“Cih, panggil ‘pak’. Kamu aja berhenti panggil saya ‘mas’ sekarang.”
Hanna sedang kebingungan mencari jawaban ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia gegas mengambilnya agar tidak perlu memberikan balasan untuk sindiran Gerald.
“Halo?” sapa Hanna.
“Hanna, ini aku, Gladys.”
Hanna langsung tersenyum cerah mendengarnya.
“Coba loud speaker, Han.” Gladys memberikan perintah.
Hanna kebingungan, tetapi langsung memenuhi arahan tersebut.
“Hanna, kamu mau aku kasih tahu rahasia Gerald, nggak?” tanya Gladys.
Hanna dengan penuh semangat ingin menjawab, tetapi ia belum mengatakan apa pun ketika ponselnya hilang dari tangan, lalu ....
BRAK!
Benda itu sudah terpecah-belah ketika beradu keras dengan lantai. Sementara pelakunya sama sekali tidak menunjukkan perasaan bersalah. Malah tampak sangat marah.
“Jangan, pernah, bicara, sama, Gladys!” pinta Gerald penuh penekanan.
Meninggalkan Hanna yang masih belum bisa menstabilkan detak jantungnya karena kaget, sekaligus rasa herannya terhadap sikap Gerald saat ini.
Ada sesuatu yang terjadi ... hal buruk.
Melihat betapa kerasnya Gerald menentang Hanna menemui Gladys, ini bisa saja berarti bahwa ... masalah buruk itu memiliki hubungan atau kaitan dengan Hanna.
__ADS_1
Gadis itu jadi sangat penasaran, dan tergugah untuk mengetahuinya.