HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Perintah dan Pertentangan


__ADS_3

Tampaknya, tidak ada yang hendak memulai obrolan lebih dahulu di dalam mobil. Masing-masing fokus pada kegiatan sendiri: Gerald dengan fokusnya ke jalanan secara penuh. Sementara Hanna tidak bisa mengalihkan perhatian dari cincin yang tersemat pas di jemarinya.


Berbagai pertanyaan yang hendak diutarakan Hanna pada Gerald, hanya bisa tertahan di mulut tanpa bisa diutarakan. Perempuan itu sesekali melirik pada Gerald dengan mulut setengah terbuka. Namun, tidak ada suara yang berhasil dikeluarkan. Perempuan itu bingung memulai obrolan setelah apa yang dilihat Gerald tadi: kedekatan Hanna dan Rayhan.


Meski Gerald tidak mengatakan apa pun, Hanna tahu sendiri dari sikap dingin kuadrat dari sang suami, pria ini jelas marah. Jadi, tidak ada keberanian untuk berbicara.


Hanna memilih menunduk lebih dalam, demi memperhatikan cincinnya lagi. Ia diam-diam tersenyum, tanpa Gerald sadari. Ia paling syok karena Gerald bisa mengetahui ukuran jemarinya dengan sangat pas.


“Jadi, kamu masih mau berurusan sama atasan kamu itu?” tanya Gerald, memecah keheningan. “Jelas, dia nawarin kamu secara pribadi buat diantar. Itu mustahil, kecuali kalau dia punya rasa sama kamu.”


“Gerald, jangan berlebihan deh. Aku nunggu di pinggir jalan udah lumayan lama, makanya dia mungkin cemas dan khawatir sama aku. Jadi dianterin pulang. Yang lain udah duluan pergi tadi, sisa aku doang.”


“Kamu udah nunggu berapa jam, emang?” balas Gerald dengan sinis. “Ini belum isya, Hanna. Belum larut malam. Nggak ada keadaan urgensi yang mengharuskan dia wajib buat anter kamu pulang.”


“Gerald, anter seseorang nggak perlu keadaan urgensi. Cuman perlu rasa kemanusiaan aja.”


“Jadi, kamu mau gitu naik ke setiap mobil yang nawarin kamu pulang gitu aja?”


“Ya, enggak juga.” Hanna balas dengan lebih tegas kali ini. Ia merasa disudutkan oleh setiap pertanyaan yang Gerald ajukan. “Lagian, aku juga nggak nerima tawaran Rayhan. Aku masih pengen nolak dia, pas kamu mendadak muncul, dan ... ngasih cincin.”


“Jangan pernah lepas cincin itu!” pinta Gerald dengan tegas. “Kamu hampir nggak pernah dengerin apa yang saya bilang, tapi terserah. Cuman untuk cincin itu, jangan ... pernah lepas! Ini peringatan tegas buat kamu, Hanna!”


Gadis itu langsung diam. Ia menunduk dengan sangat dalam. Tidak berani menjawab.


“Btw,” kata Gerald dengan suara rendah yang membuat suasana tegang beberapa saat lalu, kini mulai tenang. “Kamu pas sama cincin itu?”


Hanna melirik pada cincinnya. Ia kemudian mengangguk antusias, karena hal ini memang menjadi pertanyaannya sejak dipasangkan cincin ini.


“Iya, pas.” Hanna memperjelas jawabannya. “Kok bisa? Terus, kapan kamu beliin ini?”

__ADS_1


“Kemarin, pas di mall. Kamu ke kamar mandi.” Gerald menjawab tenang. “Syukur deh, kalau pas. Soalnya pilih itu cuman karena feeling doang.”


“Ini, pas banget.” Hanna diam-diam terharu dengan setiap kebaikan Gerald terhadap dirinya. Ia menatap pria itu dengan sendu, sembari mengeluarkan satu kata yang bersumber langsung dari hatinya, “Makasih, Mas.”


...🥀...


Hanna terbangun oleh rasa haus yang mendera dirinya. Ia sempat bergerak untuk mengecek jam saat ini, tetapi langsung berhenti kaku ketika menemukan sesosok tubuh sedang duduk membelakanginya. Hanna mempertahankan posisi tidurannya sembari memperhatikan apa yang dilakukan pria itu.


Namun, Hanna tidak bisa melihat dengan jelas karena posisi Gerald benar-benar membelakanginya secara sempurna. Perempuan itu tidak punya pilihan lain kecuali tetap bertahan di posisi tidurnya saat ini, memejam pura-pura, dengan membiarkan sedikit celah di antara bulu matanya untuk mengintip kegiatan pria itu.


Setelah beberapa menit berlalu, Hanna menemukan Gerald sudah memutar arah tubuhnya. Ia terlihat mematikan sebuah ponsel, lalu meletakkannya di atas nakas.


Hanna merasa sangat penasaran, urusan penting apa yang dilakukan pria itu tengah malam begini? Pekerjaan? Tampaknya tidak. Karena Gerald masih terlihat santai bergerak.


Hanna tidak sabar untuk mengecek ponsel yang baru saja diletakkan oleh Gerald tadi, tetapi pria itu belum juga beranjak dari posisi duduknya. Jadi, Hanna mencoba untuk pura-pura memejam rapat, sembari menunggu kasurnya bergerak.


Setelah terjadi: kasur Hanna bergerak, perempuan itu mencoba membuka matanya untuk mengintip. Namun, ia seketika diam membeku saat mendapati wajah Gerald tepat di depannya, dan perasaan kenyal nan basah terasa hangat menyentuh keningnya.


Kening Hanna baru saja dikecup lembut.


Gadis itu benar-benar tidak bergerak—bahkan sekadar untuk bernapas—sampai Gerald menyingkir dari hadapannya. Pria itu sudah berpindah posisi, ke samping Hanna untuk berbaring telentang.


Barulah, Hanna bisa mengatur napasnya secara perlahan. Ia masih belum berani bergerak, sampai beberapa menit kemudian, Hanna mendengarkan suara napas Gerald sangat teratur. Pria itu sudah terlelap sempurna. Sehingga Hanna bisa mulai bergerak.


Perempuan itu setengah bangun, mengecek sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ia mengintip Gerald lebih dahulu, memastikan pria itu sudah tidur sempurna, lalu mulai menyalakan ponsel.


Hanna sempat cemas, berpikir bahwa apa yang ia lakukan ini salah. Namun, gadis itu tidak bisa menahan rasa penasaran, kekhawatiran, serta sedikit cemburu.


Untuk apa Gerald memainkan ponselnya tengah malam, jika bukan melakukan sesuatu secara tersembunyi-sembunyi.

__ADS_1


Jadi, jelas, Hanna tidak bisa menahan kecemasannya.


Ia menyalakan ponsel. Keinginannya untuk membuka kunci layar seketika terhenti ketika menemukan wallpaper dengan gambar siluet masjid di saat senja.


Hanna menelengkan kepalanya, bingung.


Ini kan ... ponsel Hanna sendiri.


...🥀


...


“Gladys masih sering ngajak kamu ketemu?” tanya Gerald saat ia sedang mengenakan dasinya, dan Hanna sibuk memilah pakaian di lemari.


Hanna sempat menoleh sebentar pada Gerald. Bibirnya menipis kesal, karena Gerald tahu semua pesan yang ada di ponselnya, sehingga tahu bahwa Gladys sering mengajaknya keluar.


“Iya.” Hanna menjawab singkat, to the point. Ia melanjutkan kegiatannya mencari pakaian untuk dikenakan hari ini.


“Jangan pernah ketemu sama dia.” Gerald memberikan ultimatum serupa seperti sebelum-sebelumnya, memicu rasa penasaran Hanna semakin tinggi. “Kamu nggak ada urusan apa pun sama dia. Plus, karena kesenjangan pendidikan antara kalian berdua, saya takutnya kamu nggak paham sama pembahasan yang Gladys bakalan bicarakan. Jadi, nggak usah.”


Hanna yakin, bukan masalah kesenjangan pendidikan yang membuat pria ini dengan sangat tegas mempertemukan dirinya dan Gladys.


Gadis itu tidak menjawab setiap ucapan Gerald. Ia mengambil setelan gamis dari lemari, kemudian masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


“Hanna, kamu denger saya?” tanya Gerald, setelah ia selesai mengenakan dasinya. Ia tidak menoleh sama sekali, hanya melirik bayangan Hanna melalui cermin.


“Ya. Aku denger.” Hanna menjawab jujur. Ia memang mendengarkan semua arahan Gerald.


Namun, Hanna tidak berniat menurutinya. Gadis itu memilih untuk mengikuti rasa penasarannya.

__ADS_1



__ADS_2