HANNA : Menikahi Sepupu Dingin

HANNA : Menikahi Sepupu Dingin
Hari Pertama Sebagai Istri


__ADS_3

Untuk pertama kalinya sejak remaja—selain di masa datang bulan—Hanna tidak melaksanakan salat tahajud akibat tidur terlalu larut. Ia bahkan terlambat melaksanakan salat subuh.


Bukan karena sengaja menunggu Gerald. Gadis itu nyatanya sangat ketakutan dan gelisah sehingga sepanjang malam sulit menghilangkan kesadaran. Bagaimanapun ia memaksa, memejam, atau mengubah posisi tidur—tidak ada yang bisa membuatnya tenang sama sekali.


Namun, pagi ini, Hanna bisa mengembuskan napas lega walau agak penasaran karena sepupunya tidak datang. Pria itu entah ke mana, dan tampaknya tidak pernah menempatkan diri di samping Hanna. Sebab, tempat kosong di sisi Hanna masih rapi.


Gadis itu bergegas melaksanakan salat wajib dua rakaat, lalu dilanjutkan membaca beberapa halaman ayat Alquran sembari menunggu matahari terbit, niatnya.


Namun, baru saja ia memulai, pintu kamar tiba-tiba dibuka secara kasar. Memaksanya untuk menoleh cepat dalam kepanikan. Ia terkejut menemukan bahwa Gerald yang masuk, tetapi dalam kondisi kacau: pakaian berantakan, cara jalan limbung, dan mata yang tampak sayu. Aroma aneh juga menguar dari tubuh pemuda itu, membuat Hanna gegas mendekat untuk bantu memapah sepupunya setelah menutup Alquran.


“Mas kenapa?” Hanna bertanya cemas. Ia tidak mendapatkan jawaban, jadi hanya bisa membantu Gerald mendekat ke tempat tidur, dan membiarkan pria itu menjatuhkan diri dalam posisi tengkurap di sana.


Sedetik berikutnya, tidak ada lagi pergerakan dari Gerald. Membuat Hanna ragu, apakah pria ini sudah tertidur?


Tampaknya iya, karena mata Gerald sudah tertutup statis dalam kondisi tenang. Hanna berinisiatif untuk membantu melepaskan sepatu pria itu, juga kaus kakinya. Secara hati-hati, melepaskan juga jaket kulit Gerald yang seharusnya sakral karena telah menjadi salah satu bukti pernikahan mereka.


Namun, Gerald tampaknya tidak peduli apa pun. Pakaian yang sama, yang pria ini gunakan dalam mengikat Hanna, dipakai juga untuk keluar dan berakhir mabuk seperti sekarang ini.


Hanna merasa ... tidak nyaman, tetapi di sisi lain ia juga berutang budi pada sepupunya, sehingga ia tidak akan melakukan protes. Sebagai gantinya, Hanna berniat untuk semakin gencar membujuk Gerald agar melepaskannya.


Hanna lanjut mandi, membersihkan tubuh serta merapikan kamar. Ia memilih gamis polos berwarna pastel yang dipadupadankan dengan jilbab instan berwarna hitam. Gadis itu sudah siap keluar dari kamar.


Gadis itu merasa bahwa dirinya datang pagi-pagi, tetapi ternyata Salina juga sudah ada di dapur lebih awal. Jelas, Hanna merasa bersalah karena terlambat tiba. Ia segera berinisiatif untuk ikut andil dalam membuat sarapan sesuai arahan Tante sekaligus mertuanya itu.


Semua instruksi Salina didengarkan dengan baik oleh Hanna. Ia membersihkan cucian, lalu dipotong-potong. Dalam kondisi hanya ada mereka berdua, Salina tiba-tiba mendekat ke arah Hanna untuk berbisik.


“Semalam, kalian melakukan hubungan, Hanna?”


Gadis itu seketika membeku ditanyai seperti itu. Gerakan pisaunya mendadak kaku, dan Hanna kebingungan menjawab. Bahwa suaminya tidak pernah pulang semalaman, dan baru tiba subuh tadi dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


“Tidak perlu jawab kalau malu,” kata Salina. “Tante masih berharap, kalian bisa cerai secepat mungkin. Tapi, Gerald nggak bisa Tante tebak isi kepalanya. Tante juga takut kalau kamu hamil dan punya anak, karena berpotensi besar buat terlahir cacat. Tante beneran ... takut, Hanna.”


Gadis itu menunduk lebih dalam mendengarkan setiap kalimat dari mertuanya. Ia meneruskan kegiatan memotong sayuran walau dalam gerakan lebih lambat dari sebelumnya.


“Ini.” Salina tiba-tiba menyodorkan sebuah kaplet obat dua jenis pada Hanna. “Kalau kamu sudah berhubungan, kamu minum itu supaya kamu nggak hamil.” Ia menunjuk salah satu, lalu berpindah ke tablet lainnya. “Ini, setiap malam sebelum kamu berhubungan. Usahakan jangan lupa supaya kamu nggak hamil, ya?”


Hanna tampak ragu, sejujurnya tidak yakin jika Gerald akan menyentuhnya nanti. Namun, demi menghargai Salina, ia mengangguk hati-hati. Lalu memasukkannya ke dalam saku gamisnya.


“Iya, Tante.” Hanna menjawab lirih, pelan. Ia bahkan tidak terlalu ingat petunjuk pemakaian obat itu, karena seyakin itu bahwa Gerald tidak tertarik padanya.


Namun, Hanna juga teringat kejadian semalam. Ketika Gerald menciumnya tanpa permisi. Hanna mendadak ragu, dan semakin kaku dalam menggerakkan pisaunya.


“T—Tan, yang mana tadi yang diminum setiap malam?” tanya Hanna ketika kembali mengeluarkan dua jenis kaplet itu.


Ini hanya antisipasi. Entah Gerald mau melakukannya atau tidak, Hanna hanya perlu menjaga diri.


...🥀...


“Kamu yakin berangkat, Mas?” Aku masih ragu pada pria itu, tetapi melihat bagaimana bugarnya ia pagi ini, aku semakin yakin.


Gerald hanya memberikan gumaman bernada rendah sebagai jawaban. Sepenuhnya tidak peduli pada keberadaan Hanna, dan gadis itu tampak tidak terlalu peduli.


Hanna berinisiatif, agak ragu sebenarnya, datang mendekat ke arah Gerald.


“Boleh ... aku bantu, Mas?” Hanna bertanya hati-hati, sembari menunjuk lemah pada dasi yang tersampir di pundak lelaki itu.


Gerald yang sibuk menyisir rambutnya terdiam sejenak, memandang tajam ke arah Hanna. Membuat nyali gadis itu menciut, sehingga ia menurunkan kemari jemarinya yang tadi mengacung lemah.


Tanpa mengatakan apa pun, Gerald berbalik ke arah Hanna. Mempertemukan ujung sepatunya dengan kakinya yang dibalut kaus dengan ujung kaki Hanna. Membuat gadis itu tertegun sesaat, dan mulai mencerna maksudnya.

__ADS_1


Gerald memberikan izin tanpa bicara.


Sepertinya, Hanna harus belajar bahasa isyarat selama berbicara dengan pria ini, karena Gerald tidak memaksimalkan kemampuan bicaranya.


Dengan jemari gemetar, Hanna mengalungkan dasi terbit di leher Gerald. Perbedaan tinggi antara mereka baru terasa signifikan ketika Hanna beberapa kali harus berjinjit. Ia berusaha fokus pada kaitan dasi di pertengahan kerah kemeja Gerald, sementara jantungnya berdegup terlalu keras.


Sulit baginya untuk tidak peduli pada Gerald yang selalu meliriknya lurus hampir tanpa jeda. Hanna berulang kali meneguk ludah secara kasar, dan sesekali melirik Gerald ketakutan.


Setelah selesai, Hanna dengan cepat mundur selangkah, tetapi tidak diizinkan. Terbukti dengan kecepatan tangan Gerald yang menahan pinggang gadis itu hingga Hanna bukan hanya kembali ke tempat semula, tetapi juga merapat sempurna di tubuh suaminya.


Gerald mendekatkan wajahnya, secara otomatis mengingatkan Hanna dengan kejadian semalam. Ia menelan saliva secara kasar, lalu memejam erat seolah sangat ketakutan dengan apa yang akan pria itu lakukan.


Namun, kekenyalan bibir Gerald tidak terasa di permukaan bibir Hanna. Melainkan di kening gadis itu, mengirimkan suasana hangat yang sampai menyentuh sudut jantung Hanna. Menambahkan kekuatan dan kekerasan detak segumpal daging di sana—tercipta khusus dan pertama kalinya untuk pria ini.


“Terima kasih,” kata Gerald dengan suara rendah hampir tanpa intonasi berarti. Pemuda itu melepaskan pelukannya, membuat Hanna secara spontan mundur dengan lemas karena hilang topangan. Sekali lagi, Gerald merasa ... ini sesuatu yang ... menggemaskan. Jadi, ia menarik sedikit sudut bibir kanannya membentuk seringai, “Sayang.”


Gerald suka ini: tatapan melotot Hanna dan keterkejutan gadis itu.


Atau, tidak. Bukan hanya itu.


Gerald menyukai semua tentang gadis ini.


Karena ... sesuatu hal.


Namun, tidak ada kata manis lagi yang terucap setelah itu. Gerald pergi, membawa sebuah tas laptop dan sepasang sepatunya melewati tubuh mungil gadis itu. Meninggalkan Hanna dalam kebekuan dan detak jantung keras, serta perasaan asing yang meluap hebat.


Lalu, setelah pintu ditutup oleh Gerald, Hanna mundur teratur dengan lemas, lalu terduduk pasrah di pinggir tempat tidur. Meletakkan telapak tangannya di atas dada kiri, merasai detak keras di dalam sana.


Ini nyata—Hanna menyadarinya. Ia berdebar sangat kuat, untuk sepupunya ... yang kini adalah suaminya.

__ADS_1


...🥀...


__ADS_2