Hantu Villa

Hantu Villa
Bekas Rumah Sakit Part 4


__ADS_3

Sarang setan


Angga berteriak ketakutan lalu lari sekuat tenaga menuju ruang IGD. Dengan terengah-engah, ia menjelaskan apa yang barusan dilihatnya pada Dokter Diong. Jelas saja Dokter Diong terkejut mendengar penjelasan Angga, mereka lalu bergegas menuju kamar Mayat. Setibanya di sana, mayat wanita itu sudah terbaring kembali di atas brankar dan tentunya tidak bernyawa.


“Ah, kamu mengada-ngada saja,” Dokter Diong kesal pada Angga.


“Ada apa ya, Dok?” tanya penjaga kamar mayat.


“Sumpah Dok, tadi aku lihat wanita itu hidup lagi,” sergah Angga yang tetap ngotot kalau dia tidak salah lihat.


“Kayaknya kamu kebanyakan nonton film horor,” timpal Dokter Diong.


“Hah? Hidup lagi? Kamunya aja kali yang penakut, hahaha...,” penjaga kamar mayat ketawa mendengar perkataan Angga.


“Ya sudah, ayok kerja lagi,” Dokter Diong beranjak dari sana.


Sedangkan Angga masih berdiri di mulut pintu sambil menatap mayat wanita. Ia merasa ada yang tidak beres dengan rumah sakit ini.


Lewat tengah malam, Angga pergi ke luar rumah sakit untuk beristirahat, kebetulan tepat di depan rumah sakit ada pedagang nasi goreng. Ia menghampiri pedagang itu dan duduk di bangku pelanggan.


“Sudah lama mangkal di sini, Bang?” tanya Angga basa-basi.


“Wah sudah belasan tahun, Mas,” jawab pedagang nasi goreng sambil sibuk memasak.


“Sudah lama juga ya, Bang.”


“Iya Mas. Saya betah mangkal di sini.”


Tidak perlu menunggu lama, nasi goreng pesanan Angga akhirnya siap dihidangkan. Aromanya menggoda, Angga makan dengan lahap sambil sesekali memainkan handphone-nya.


“Bang, nasi gorengnya satu,” terdengar suara lembut seorang wanita memesan nasi goreng.


“Baik, Mbak,” kata pedagangnya.


Angga terlalu fokus dengan makanan dan handphone-nya, ia tidak sempat menoleh pada wanita itu.


“Pedas nggak, Mbak?”


“Nggak, Bang. Saya nggak suka pedas.”


Tidak sengaja, Angga menoleh ke arah wanita itu dan ia terkejut karena ternyata yang sedang memesan nasi goreng adalah pasiennya yang baru saja meninggal akibat kecelakaan. Sontak Angga memuntahkan nasi yang belum selesai ia kunyah.


“Se... setan!” Angga panik, ia tidak melihat keberadaan tukang nasi goreng.


Angga berdiri, hendak kabur. Tapi, tiba-tiba tukang nasi goreng berdiri di hadapannya tanpa kepala.


“Mau ke mana? Bayar dulu, Mas.”


Tukang nasi goreng itu menodongkan tangan kanannya, meminta bayaran. Angga jatuh pingsan melihat kejadian menyeramkan itu. Keesokan paginya, ia sudah terbaring di ruang rawat inap. Semenjak kejadian itu, Angga tidak masuk praktik selama tiga hari. Ia masih trauma dengan apa yang ia alami. Aini sudah membujuknya untuk kembali bertugas, tapi Angga tetap tidak mau. Dia bahkan ingin pindah lokasi praktik.


“Kita harus pindah atau mengundurkan diri. Rumah sakit itu sangat angker, sayang,” kata Angga saat Aini menjenguknya di rumah.


“Aku sudah mengajukannya ke pihak kampus, tapi ditolak. Kita harus tetap menyelesaikan praktik di rumah sakit itu.”


“Nggak, itu terlalu berbahaya. Aku yakin rumah sakit itu sarang setan.”


“Hus! Jangan sembarangan kalau ngomong,” potong Aini.


“Ya sudah, kamu istirahat dulu aja di rumah. Ingat kata-kata aku, jangan mengundurkan diri, ya,” lanjutnya.

__ADS_1


Di lain waktu, giliran Aini yang berjaga malam. Sama seperti Angga, ia juga mengalami kejadian aneh. Malam itu, rumah sakit sepi pengunjung. Aini keluar dari toilet lalu melihat jejak kaki seseorang di lantai. Jejak itu berlumpur, Aini lalu mengikutinya.


Semakin diikuti, jejak itu ternyata mengarah ke kamar mayat yang pintunya terbuka. Lampu ruangannya mati, Aini menyalakan senter handphone-nya. Karena sangat penasaran, ia pun masuk ke dalam kamar mayat. Sambil memanggil Pak Lukman, si penjaga.


“Pak Lukman?”


"Pak?"


Namun di sana tidak ada siapa-siapa. Ia terus mengikuti jejak yang mengarah ke pojok kana ruangan. Dan di sana, Aini menemukan sebuah lubang berbentuk segi empat. Lubang itu cukup dalam, tapi Aini dapat melihat ke dasarnya dengan bantuan senter handphone.


“Mungkin lagi ada perbaikan,” kata Aini pelan.


Namun saat Aini akan keluar dari kamar mayat, terdengar suara tangis seseorang dari dalam lubang tadi. Aini tidak jadi beranjak dari sana, ia perlahan melongokkan kepala ke dalam lubang tersebut lalu mengarahkan cahaya senternya kembali. Di dalam lubang, Aini melihat soerang wanita berbaju putih dengan rambut tergerai sebahu sedang menangisi bayi yang dibungkus kain kafan.


“Tolong anak saya...,” wanita itu mendongak, menatap Aini dari dalam lubang sambil menangis.


Buku Catatan


“I... ibu kok bisa ada di sini?” tanya Aini sambil ketakutan.


“Anak saya, Mbak. Tolong anak saya,” tanpa menjawab pertanyaan Aini, ibu itu terus meminta tolong.


“Anak ibu kenapa?”


“Mati.”


Aini terkejut mendengar jawaban wanita itu. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia seolah hampir tak bisa berkata-kata.


“Sebentar! Saya panggilkan seseorang dulu buat bantu ibu keluar dari lubang ini, ya,” ragu-ragu Aini melangkah hendak keluar dari ruangan itu.


Namun, tiba-tiba lengan wanita yang berada di dalam lubang tersebutmenjulur panjang. Tangan itu menggenggam pergelangan kaki Aini. Sontak saja Aini menjerit minta tolong. Ia tersungkur ke lantai lalu ditarik dengan sangat kuat ke dalam lubang.


Tangan Aini masih bisa berpegangan pada tepi lubang. Ia menangis sambil minta tolong. Anehnya, tidak ada satu pun yang datang untuk menolongnya. Bahkan si penjaga kamar mayat juga tidak kunjung muncul. Entah ke mana lelaki tua itu.


Aini masih bisa bertahan. Namun, entah berapa lama lagi dia mampu berpegangan. Keringat membasahi wajahnya. Berkali-kali lengannya meringsut ke depan mencoba untuk keluar dari lubang.


Aini melongok ke dasar lubang. Ia semakin berteriak ketakutan saat melihat ada puluhan orang yang menjejali lubang tersebut. Mereka semua menatap Aini dengan tatapan dingin serta menyeramkan.


Aini rasanya sudah tidak sanggup lagi bertahan. Satu cengkeramannya lepas. Beberapa detik kemudian, tangan yang satunya lagi ikut lepas. Sebelum Aini jatuh ke dalam lubang, seseorang menggenggam tangan kanannya. Itu dokter Arwani. Ia tersenyum pada Aini.


“Tenang, Nak,” perlahan dokter Arwani mengeluarkannya dari dalam lubang.


Baju Aini basah oleh keringat. Ia tidak mengucapkan terima kasih kepada dokter Arwani melainkan langsung pergi begitu saja sambil menangis ketakutan. Saat sedang berlari di lorong koridor, ia bertemu dengan Pak Lukman, si penjaga kamar mayat.


“Pak, di kamar mayat...,” Aini mengatur pernapasannya.


“Kenapa?” Pak Lukman tampak kebingungan.


“Ada setan, Pak. Bapak jangan ke sana dulu.”


“Setan di mana?”


“Kamar mayat, Pak. Di kamar mayat,” napas Aini masih terengah-engah.


“Tenang, Mbak. Di rumah sakit ini enggak ada setan, kok.”


Tanpa memedulikan penjelasan Pak Lukman, Aini lari begitu saja. Ia hendak memberi tahu para petugas di rumah sakit. Di perjalanan, Aini kembali berpapasan dengan seseorang. Kali ini dengan seorang security.


“Pak Ruslan, tolong Pak! Ada setan di kamar mayat.”

__ADS_1


Pak Ruslan tidak terlihat kaget atau panik. Ia malah santai saja.


“Jangan heran, Mbak. Di rumah sakit ini memang banyak setannya,” jawab Pak Ruslan.


“Yang penting Mbak harus hati-hati saja. Yang sopan dan enggak bicara macam-macam.”


“Ah, bapak ini gimana, sih? Malah nakut-nakutin,” Aini meninggalkan Pak Ruslan dan berlari ke ruang IGD.


Ada pasien yang sedang berobat. Kali ini Aini sebisa mungkin tidak membuat kepanikan. Ia mengatur napasnya lalu membantu dokter untuk menangani pasien. Setelah pasien itu pulang, barulah Aini menceritakan apa yang dialaminya kepada dokter.


Dengan didampingi para perawat lainnya, mereka mendatangi kamar mayat. Anehnya, lubang itu menghilang. Tidak ada apa-apa di kamar mayat itu.


Di lain waktu, sebuah petunjuk tentang teka-teki yang dialami Aini mulai menemukan titik terang. Saat sedang membersihkan kamar ibunya, secara tidak sengaja Aini menemukan sebuah buku catatan di kolong tempat tidur.


Perlahan Aini membukanya. Itu semacam buku diari. Aini kenal gaya tulisan itu. Jelas sekali kalau itu tulisan ibunya sendiri. Ia membaca halaman awal diari tersebut.


Dear Diary


Sudah empat hari aku melihat orang gila itu mondar-mandir di depan rumahku. Aku takut kalau dia berbuat macam-macam. Beberapa kali sudah kuusir, tapi dia selalu datang lagi.


“Aini!” belum selesai Aini baca, ibunya datang lalu merebut paksa buku catatan itu.


“Jangan sembarangan baca buku Ibu. Enggak sopan!”


Ibu Aini marah. Ia lalu membakar buku catatan itu dan memarahi Aini habis-habisan. Beberapa kali Aini minta maaf. Tidak pernah Aini melihat ibunya semarah itu.


Aini heran, kenapa ibunya terlihat panik seperti itu? Kalau memang hanya sekadar catatan harian biasa, seharusnya tidak perlu sampai marah besar seperti itu.


Kisah Arwani


Dulu, Arwani adalah seorang dokter di rumah sakit jalan Kabayan. Dia terkenal sebagai dokter yang sangat ramah. Ia menikahi gadis cantik yang juga seorang dokter, namanya Arini. Setelah menikah, Arwani membeli rumah yang lokasinya tidak jauh dari tempat kerjanya, tak lama kemudian mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga pada suatu malam tragedi memilukan itu terjadi.


Malam itu, hujan turun dengan deras. Arini sedang memasak nasi goreng di dapur, sedangkan Arwani belum pulang dari pekerjaannya. Tiga orang lelaki berbadan besar mengendap masuk, mereka hendak merampok rumah Arwani. Para rampok itu membobol jendela kamar. Mereka melihat ada seorang bayi yang terbaring di tempat tidur.


Dengan cekatan, mereka menjarah lemari dan tempat-tempat yang memungkinkan adanya barang berharga. Saat mereka sedang sibuk menjarah lemari, Arini muncul dari mulut pintu. Ia terkejut bukan main, seorang lelaki yang membawa linggis memukul kepala Arini dengan sangat keras membuatnya jatuh berdebam ke lantai.


Darah mengucur, membasahi lantai. Salah satu dari maling itu memeriksa keadaan Arini. Benturan di kepala Arini sangat keras hingga membuatnya tewas seketika. Untuk lebih memastikannya, lelaki itu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Arini.


“Gawat bro. Dia tewas! Elu sih mukulnya terlalu keras!” ia memarahi rekannya.


“Terus gimana?” tanya salah satu dari mereka.


“Biarkan saja,” jawab lelaki yang sepertinya menjadi pemimpin di komplotan itu.


“Lalu bayinya?”


“Biarkan saja. Si dokter itu pasti masih di rumah sakit.”


Setelah merasa mengantongi barang-barang berharga, mereka bergegas pergi meninggalkan Arini yang terkapar tidak bernyawa. Bayi Arini menangis kencang, tapi tidak ada tetangga yang datang ke rumah itu. Dua jam kemudian, Arwani akhirnya pulang. Ia heran kenapa istrinya tidak kunjung membukakan pintu.


Dilihatnya jendela kamar terbuka. Arwani mulai curiga lalu buru-buru masuk melalui jendela tersebut. Dan, betapa terkejutnya saat ia melihat Arini terkapar tidak bernyawa di lantai. Ia menangis tidak karuan sambil meminta tolong. Tidak pernah terlintas dalam benak Arwani kalau ia akan kehilangan istrinya secepat itu.


Setelah kejadian tragis itu, Arwani sering melamun sendiri hingga akhirnya dia menjadi gila. Ia tidak pernah bekerja kembali, bayinya tidak terurus lalu diadopsi oleh Bu Hani, tetangganya sendiri.


Semakin hari kondisi Arwani semakin parah. Ia pergi dari rumah dan menjadi gelandangan. Tiga tahun Arwani menghilang, saat muncul kembali di depan rumah Bu Hani, tidak ada satu orang pun yang mengenalinya lantaran tubuh Arwani sangat dekil, rambutnya panjang sepunggung juga acak-acakan.


Arwani sering muncul di depan rumah Bu Hani. Terkadang ia ingat akan anaknya lalu melamun sepanjang hari. Warga mengusir orang gila itu karena dianggap meresahkan. Pergi dari kompleks itu, Arwani sering terlihat di depan rumah sakit tempatnya dulu bekerja. Seketika ia juga teringat kembali masa lalunya saat bekerja di rumah sakit itu. Selama berhari-hari, Arwani tidur di emperan belakang rumah sakit. Petugas keamanan sudah mengusirnya, tapi ia malah datang kembali ke rumah sakit itu.


Karena bebal dan tidak mau pergi dari sana, suatu malam saat Arwani sedang tidur, dua orang security mengencingi wajahnya. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Arwani bangun sambil menampakkan wajah ketakutan. Mereka menendangi tubuh Arwani dengan sangat keras, tapi kali ini Arwani tidak mau beranjak dari duduknya sama sekali. Ia memeluk dengkul sambil sesekali menatap wajah kedua security itu dengan tatapan menyedihkan.

__ADS_1


Karena jengkel, mereka berdua menarik paksa lengan Arwani, memaksanya untuk bangun. Arwani melenguh dan berontak, ia tidak mau pergi dari tempat itu. Akhirnya salah satu dari mereka menendang punggung Arwani, ia tersungkur dengan sangat keras, kepalanya membentur batu. Arwani tewas.


Nantikan cerita Bekas Rumah Sakit selanjutnya.


__ADS_2