Hantu Villa

Hantu Villa
Misteri 096 Part 2


__ADS_3

Setelah ibu pergi, mang Yaya langsung mengajaku ke halaman belakang sambil basa-basi dan menjelaskan sedikit soal rumah ini, lebih kepada perkerjaan mang Yaya.


Memang hanya bagian dapur dan halaman belakang yang belum aku ketahui soal rumah ini, yang belum sempat Ibu dan juga Bapak jelaskan. Perlahan berjalan sambil tidak hentinya mang Yaya bercerita, melihat keadaan dapur yang luas, sama halnya dengan kesan pertama depan rumah, bagian tengah rumah dan bagian ruangan lainya, kesan tua masih saja menempel hal yang sama pada ruangan dapur juga.


“Wih keren yah mang masih ala-ala jaman dulu banget,” ucap kak Salsa, saking kagumnya melihat isi ruangan dapur, matanya jelas berkeliling melihat isi dapur, hanya perlengkapanya saja yang terlihat jaman sekarang mungkin mang Yaya juga yang menyiapkanya


“Benar kak, gak ada sama sekali dari bangunan rumah ini yang diubah, nilai sejarah mungkin yang teteh ingin pertahankan atau…,” jawab mang Yaya, tiba-tiba berhenti seperti menahan sesuatu yang hampir saja terlontarakan dari mulutnya begitu saja.


“Atau apa mang?,” tanyaku langsung, sontak kak Salsa melihatku dengan menaikan dua alisnya bersamaan, mungkin kaget dengan nada pertanyaanku yang tiba-tiba memotong.


“Yeh amang belum selesai, Bastian udah motong aja kek potongan kue langsung potong,” jawab mang Yaya dengan nada becanda. Tapi aku yakin seperti ada kalimat yang disembunyikan yang barusan hampir saja mang Yaya keceplosan.


“Ayo lihat halaman belakang, ada hal yang ingin mamang sampaikan,” sahut mang Yaya yang langsung membukakan pintu. Dan memang ada kursi untuk duduk santai mengahdap ke arah tanaman-tanaman yang begitu indah dan enak untuk dipandang, apa lagi malam sedang indah-indahnya dengan gelapnya, menambah kesan sempurna pada warna-warna tumbuhan.


“Aturanya sederhana yah Bas, kakak, jangan sesekali kalian masuk ke rumah sebelah, di sana ada pintu yang terkunci, menghubungkan dengan rumah sebelah. Jangan tanya kenapa atau jadi penasaran apapun, pokonya jangan pernah berusaha menayakan hal ini lagi,” ucap mang Yaya dengan sangat serius dan menunjuk ke arah pintu besi berwarna hijau tua itu, yang tidak lama disusul dengan mengeluarkan rokok dan membakarnya satu batang.


“Baik mang,” ucap kak Salsa dengan tidak ada pertanyaan sama sekali.


“Ini ada 3 kunci lengkap, semuanya lengkap kunci semua ruangan pintu yang ada di rumah ini, Bastian pegang satu dan kakak juga pegang satu, amang pagi, siang dan sore juga malam akan sering berkunjung ke rumah ini, seperti biasanya,” ucap mang Yaya seperti menahan sebuah kesedihan terlihat jelas dari raut wajahnya dan kedua matanya, juga isapan tidak tenang dari cara mang Yaya menikmati rokok yang sedang di jepit oleh dua jarinya itu.


“Iya mang, Bastian mengerti,” jawabku, sambil menatap ke arah gerbang yang sudah sangat tua itu, dan memang tembok yang menghalangi rumah ini dan rumah sebelah cukup menjulang tinggi sampai sejajar dengan genteng rumah.


Tidak lama mang Yaya izin pamit pulang ke rumahnya, dan segera menyuruhku dan kak Salsa untuk beristirahat. Segera aku dan kak Salsa menyalakan televisi di ruangan tengah.


“Akhirnya Bastian jadi kuliah haha,” ucap kak Salsa untuk mencairkan suasana.


“Iya nih kak, eh ada yang aneh gak sih dari rumah sebelah kak?,” tanyaku dengan masih menahan rasa penasaran.


“Kan aturanya tadi mang Yaya sudah bilang Bas, santai aja semua akan baik-baik nurut saja sama kakak, besok kita keliling kampus kamu dan supaya tahu dulu aja, kebetulan jadwal kakak kosong juga bas, oke,” jawab kak Salsa dengan santainya.


Iyah juga aku sedikit setuju apa yang dikatakan kak Salsa, dan mungkin hanya khawatiranku saja, sambil melamun sedikit demi sedikit membuka memori lama di rumah ini, sama sekali aku tidak mengingat satu halpun, karena memang jarak waktu yang begitu lama.


“Bas, nyaman sekali yah rumah ini,” ucap kak Salsa tiba-tiba.


“Iya kak aku juga merasakan hal sama,” jawabku dengan nada datar karna mulai mengantuk.


“Eh diajakin ngobrol malah nguap-nguap, kunci dulu pintu depan kakak kunci pintu belakang, cepet biar santai,” ucap kak Salsa yang langsung segera beridiri.


Segera aku berjalan ke depan dan langsung mengunci pintu, ketika aku perlahan menutup gorden jendela, dan melihat ke arah tembok yang membatasi rumah, tiba-tiba bulu pundaku merinding begitu saja.


“Lah… kok tiba-tiba begini,” ucapku, segera saja aku tutup dengan cepat dan berjalan ke kamar membaringkan badan.


“Kakak ada film bagus-bagus tuh di laptop udah disambungin ke TV kalau susah tidur nonton aja kalau ada apa-apa bangunin aja yah,” ucap kak Salsa, yang sama segera masuk ke kamar tidurnya.


Tidak aku jawab perkataan kak Salsa, karena masih heran dengan perasaan yang barusan datang dengan tiba-tiba begitu saja. “ada apa yah,” ucapku dalam hati sambil memaksakan mata untuk terpejam.


Dalam bayangan mata terpejam hanya hal-hal baru saja yang akan segera aku hadapi aku bayangkan untuk melawan rasa aneh yang baru saja datang itu.


Terdengar olehku suara jendela yang terbuka, pelahan aku bukakan mata dan sinar matahari dari sisi rumah yang belawan, membangunkanku dari tidur yang sangat lelap malam pertama di rumah ini.


“Siap-siap ayo, kakak udah janjian sama temen kakak nanti kita jalan bertiga,” ucap kak Salsa sambil membangunkanku.

__ADS_1


Segera aku dengan semangat baru, berada di kota yang sangat sejuk ini untuk memulai banyak hal baru yang tidak akan lama lagi akan menjadi sebuah pengalaman baru yang akan aku jalani.


Tidak lama melihat jam ternyata sudah lumayan siang, jam 09:00 pagi ini di hari minggu aku berjalan meninggalkan rumah, dan kak Salsa cerita subuh tadi mang Yaya bersih-bersih dan membuat kak Salsa terbangun, mendengar cerita kak Salsa sedikit membuat aku lega.


Segera menaiki angkutan umum dan betemu dengan temanya kak Salsa di salah satu tempat makan, dan benar saja temanya kak Salsa sudah duluan sampai dengan tampilan sama cantiknya dengan kak Salsa.


“Ini nih jagoanku itu Nah… kenalin,” ucap kak Salsa sambil menyapa Nenah.


“Hai… Nenah, Salsa banyak cerita soal kamu, ternyata jauh lebih keren dari cerita bawel Salsa yah,” jawab Nenah, sambil menjulurkan tangan.


“Bastian… ah kak Salsa cerita apa pasti hal-hal aneh,” jawabku sambil berusaha memberikan kesan pertama yang membuat temanya kak Salsa itu merasa nyaman.


Setelah memesan makanan aku, kak Salsa dan Nenah bercerita banyak, tidak jarang aku jadi bahan becandaan kak Salsa dan Nenah karena aku sudah mulai terbiasa becanda dengan kak Salsa jadi hal-hal seperti ini sudah sangat terbiasa.


“Eh Sa, di Jalan itu nomor berapa rumahnya, aku tau kok beberapa kali pernah lewat situ walau yah lumayan jauh lagi kalau menuju rumahku,” tanya Nenah.


Nenah memang asli kota sini, lahir dan sampai seumuran dengan kakaku disini juga, jadi bagi Nenah nama jalan dan berbagi tempat pastinya tau betul, apalagi Nenah teman dekatnya kak Salsa pasti sudah cerita banyak.


“No berapa sih, lupa sih aku Nah, kalau gak salah No. 097, kamu tahu emang?,” tanya kak Salsa.


“Oh, nantilah aku sesekali nginap kalau akhir pekan yah” jawab Nenah


“emang kak Nenah tau jalan itu,” tanyaku, hanya untuk ikut mengobrol saja dengan Nenah.


“Tahu Bas, pas Salsa cerita soal kepindahan denganmu ke rumah bekas nenek, aku sedikit khawatir sih, dulu banget sih melegenda ada satu kejadian di rumah yang berada jalan itu, tapi namanya juga ceritakan yah aku anggapnya hanya sebatas cerita soalnya dulu banget,” ucap kak Nenah dengan serius.


“Cerita melegenda gimana Nah, kamu belum pernah cerita sama aku?,” sahut kak Salsa yang terlihat penasaran.


Aku yang mendengar penjelesan kak Nenah, langsung diam “semoga bukan dekat rumah nenek,” ucapku dalam hati yang mulai khawatir.


“Tapi yah semoga bukan rumah nenek aku, orang nenek aku meninggal karena sakit,” jawab kak Salsa dengan sedikit becanda.


“Yah bukan juga gila lu mah Sa, iya semoga bukan itu, aku lupa sih nanti deh kalau ingat aku tanyakan dulu ke orang tuaku, semoga aja Mamah masih ingat,” jawab kak Nenah.


Karena penasaran masih saja aku rasakan, walau kak Salsa dan kak Nenah dengan antusias saling memberikan informasi tentang bagaimana segala hal yang berkaitan dengan kota ini, dan tentang kampus yang nantinya jika aku keterima tidak akan terlalu kaget dengan dunia baru yang tidak akan lagi aku jalani.


Masih saja aku bertanya tentang cerita, yang pernah terjadi di jalan yang tepatnya berada rumah yang sekarang aku tempati.


“Eh kak, bener kejadian yang kakak cerita sebelumnya itu di jalan dekat rumah yang sekarang aku tempati?,” tanyaku tiba-tiba, sontak membuat kak Salsa juga mentap langsung ke arahku.


“Ceritanya sih aku tahu dari kakak aku Bas, terus mamah juga pernah bahas tapi beneran aku lupa, lagian udah lama banget sih Bas, tapi tenang aja kayanya gak deket-deket banget sama rumah kalian deh, apalagi nomor rumah juga 097,” jawab kak Nenah dengan tenang.


“Lagian Bas, nanti kita tanyakan saja sama mang Yaya yah pasti dia tahu biar kamunya enggak terlalu penasaran begitu,” sahut kak Salsa memberikan saran


“Mang Yaya siapa lagi Sa?,” tanya kak Nenah, begitu saja.


“Ituloh Nah, yang mengurus rumah Nenek aku dulu sampe sekarang,” jawab kak Salsa.


“Ya gila... pasti taulah itumah, bener tanyain aja lagian masalah itu bilang aja emang pengen tahu dan gak ada maksud apa-apa,” ucap Nenah.


Benar juga setelah mendengarkan saran dari kak Salsa sedikit lega, memang benar mang Yaya bakalan bercerita banyak ketika aku tanya tentang kejadian itu. Setelah makan selesai, selanjutnya aku, kak Salsa dan kak Nenah melanjutkan berjalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan dan berkeliling sampai menjelang sore tiba, dan sedikit demi sedikit tentang segala hal kota ini aku pahami dan cukup lumayan membuat aku perlahan merasa nyaman.

__ADS_1


Sampai akhirnya aku, kak Salsa dan kak Nenah berpisah karena berbeda jurusan, sementara kak Salsa menyarankanku untuk tidak dulu bertanya hal-hal seperti itu kepada mang Yaya, takutnya kenapa-kenapa dan membuat aku dan kak Salsa jadi tidak betah tinggal di rumah. Karena sebuah sugesti yang dibangun oleh sebuah rasa penasaran dan ketakutan semata saja.


“Rumah di sebelah yang ada gerbangnya yang mang Yaya larang untuk membukanya kakak tau rumah siapa itu?,” tanyaku, ketika sedang berada di dalam angkutan umum perjalanan menuju rumah dan kak Salsa hanya menggelang kepala berkali-kali.


“Sudah yah ingat pada tujuan saja, dan jangan aneh-aneh, apapun yang seharusnya kita tahu, suatu saat nanti akan tau juga kok Bas. Jangan memaksakan apa yang ada dalam penasaran diri kamu saja dong, kasian Ibu dan Bapak sudah percaya sama kita jangan karena hal-hal aneh nantinya menyebakan hal-hal aneh juga ah yah, pasti baik-baik saja semuanya,” ucap kak Salsa, sambil mengelus kepalaku.


Mendengarkan penjelasan kak Salsa memang ada benarnya, aku sedang berada dalam rasa penasaran yang tinggi saja, akibat rasa khawatir dalam diriku yang berlebihan. Padahal aku bukan tanpa alasan, Ibu dan Ayah sendiri semenjak sebelum kepergianku ke kota ini beberapa kali memberikan jawaban seolah jawaban itu hanya akan membuat aku tenang saja.


Sampai di rumah tepat sekali setelah adzan magrib berkumandang, aku langsung saja bersantai di belakang rumah sambil membuka laptop kak Salsa mengecek situs dan mencari informasi lebih tentang jadwal pasti kapan aku akan melaksanakan tes masuk universitas.


Tidak tahu kenapa, tatapanku fokus pada layar laptop yang menyala akan tetapi seperti ada daya tarik sendiri untuk menatap ke arah rumah samping yang terdapat gerbang itu, untuk memastikan rasa aneh yang sedang aku rasakan. Aku melirik ke arah lain sebelah yang sama menjulang tembok tinggi ke arah rumah sebelah, “biasa saja” ucapku


Kemudian aku melirik ke arah rumah yang terdapat gerbang, dan tiba-tiba bulu pundaku berdiri begitu saja, kejadianya sama seperti malam kemarin ketika aku baru selesai mengunci pintu dan menutup gorden. “kok bisa seperti ini,” ucapku sambil mengusap pundak tengahku berkali-kali.


Aku lanjutkan saja dengan mengabaikan rasa aneh ini, sesekali seperti ada memperhatikan tetap aku abaikan, di antara gerbang besi itu memang ada celah yang sedikit antara besi penyangga dan besi yang sebagai pintu, aku rasakan dari situ perhatian yang aku rasakan, seperti ada mata yang melihatku dengan sangat tajam.


Tidak terasa, terus aku biarkan saja, sampai kak Salsa datang menghampiriku.


“Emang paling nyaman di sini yah Bas tempat untuk santai, nanti kedepanya bakalan jadi tempat teman-teman aku kumpul deh kayanya, gimana Bas?,” tanya kak Salsa.


“Yaudah sih kak bagus malah jadi biar enggak terlalu sepi jadi rame gitu, eh kak akhir pekan ini aku kebagian jadwal tes nya, kakak ambil semester pendeknya jadi?,” tanyaku.


“Jadi dong, biasa Bas nanti juga kamu ngerasain deh haha, baiklah ayo istirahat ah di dalam biar sekalian ngucinya,” ucap kak Salsa.


Segera aku masuk ke dalam dengan kak Salsa mengunci pintu, baru saja suara kunci pintu terdengar “Ceklek… ceklek,” tiba-tiba suara keras, seperti orang yang jatuh terdengar sangat jelas “gebruk!,”


Aku dan kak Salsa saling melihat beberapa detik, entah kenapa tiba-tiba aku refleks dan kembali membuka pintu melihat sekitar.


“Apa ya Bas yang jatuh, suaranya kenceng gitu,” tanya kak Salsa masih heran.


“Enggak ada apa-apa kak,” jawabku sambil melihat sekitar, apalagi di belakang tidak ada pohon besar sama sekali.


“Dari rumah sebelah kali yah,” ucap kak Salsa.


“Sebelah mana?,” tanyaku.


“Sana mungkin, atau sana,” jawab kak Salsa sambil menunjuk dua arah rumah yang terhalangi tembok.


Aku dan kak Salsa kembali masuk ke dalam rumah, di ruang tengah kak Salsa menjelaskan dengan logika dengan suara sekencang itu yang aku dengar dan kak Salsa, seharusnya ada benda atau apa saja yang terjatuh dengan ketinggian di atas 1 meter, karena suara yang dihasilkan benar-benar kencang.


“Aku yakin sih rumah sebelah sana tetangga kita, lagi nurunin apa gitu atau ada yang jatuh apa kan kita gak tau Bas” jawab kak Salsa menunjuk ke rumah yang tidak ada pintu pemisah di temboknya.


Aku hanya mengiyakan saja, walau belum tentu aku setuju dengan penjelasan logis yang kak Salsa ucapkan, karena yang aku rasakan semenjak duduk di halaman belakang sampai kejadian terdengar suara itu, sama sekali berbeda. Malah aku yakin dari rumah sebelah yang terdapat gerbang besi itu.


Hari-hari selanjutnya sudah 4 hari lebih aku berada di rumah sendirian, kak Salsa selalu pamit berangkat menjalankan aktivitasnya, sementara aku hanya berada di rumah bermain game dan sesekali memberikan kabar kepada Ibu.


Mang Yaya sesekali menyapaku ketika bertepatan membersihkan rumah. Hanya obrolan-obrolan ringan tentang tanaman saja yang begitu seru aku obrolan dengan mang Yaya tidak menyingung hal lain, padahal ingin sekali beberapa hal yang sensitif aku tanyakan langsung.


Niat untuk menanyakan hal-hal yang aku dapatkan dari kak Nenah aku urungkan, karena mengikuti saran kak Salsa yang memang ada benarnya, “belum saatnya” ucapku dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2