
Obrolan di ruang tengah, dengan sedikit tenang apalagi melihat kak Salsa sudah tertidur di pangkuan kakek Bambang sedikit lega, walau perkataan “mahluk itu masih ada di sini” tentu membuat aku cemas.“Dengar teh, saya rasa rasa kita sepakat dan paham kalau yang sudah melakukan perjanjian dengan memberikan Salsa kepada mahluk itu tau siapa orangnya dan Bastian saya rasa benar-benar jujur, sesuai apa yang siang tadi kita obrolkan,” jawab kakek Bambang.Ibu dan Bapak hanya mengangguk berkali-kali, sementara aku belum mengetahui apa yang sebelumnya ibu obrolkan.“Tidak apa-apa Bas, sudah waktunya kamu tau juga,” ucap IbuBaru saja Ibu akan menjelaskan panjang, kakek Bambang memotong dengan mengusap kembali wajah kak Salsa, dan terlihat kak Salsa membuka matanya perlahan, sangat pelan. Segera kakek Bambang memberikan minum. Dan kak Salsa sangat sayu seperti sangat kelelahan, sambil meninum air yang disodorkan oleh kakek Bambang.
“Ibu...” ucap kak Salsa.
Segera ibu memeluk kak Salsa dengan sangat lembut sambil menangis aku ikut senang sekali dengan apa yang aku lihat. Karena sebelumnya khawatiran dan pikiran tidak baik silih berganti bergelut dalam perasaanku sendiri.“Lanjutkan teh, apa yang mau teteh ucapkan barusan, biar Bastian juga Salsa dengar dan tau, tidak apa-apa ada saya saksinya, begitukan Pak?,” tanya kakek Bambang.“Iya benar Bu, ada baiknya lagian sudah kejadian apapun yang pernah kita khawatirkan sebelumnya,” jawab Bapak dengan perlahan.Kak Salsa terus menerus menimum air dalam gelas yang barusan diberikan oleh kakek Bambang, sementara aku menunggu dan tidak tau kenapa cukup bagiku informasi-informasi sebelumnya yang sudah aku dapatkan “mungkin tidak akan terlalu kaget” ucapku dalam hati.“Jadi begini Bas, Salsa juga dengarkan baik-baik, Ibu minta maaf memang salah Ibu yang terlalu memaksakan kalian berdua tinggal di rumah bekas Nenek itu. Awalnya Ibu terpengaruh dengan omongan mang Yaya karena ketika mendengar penjelasan mang Yaya; tidak pernah ada gangguan apapun setelah 14 tahun lamanya, Ibu dan kedua kakak Ibu pergi dari rumah itu, kenyataanya sekarang terbukti Ibu salah besar, dan hampir kehilangan Salsa dengan cara yang sama walau waktu yang berbeda. Bastian Ibu tau kamu tidak terima dan semenjak obrolan di rumah yang kamu dengar, pasti kamu juga sudah mikir ada sesuatu yang aneh, dan ini Bas yang selama ini Ibu khawatirkan terjadi,” ucap Ibu sangat perlahan.
Aku hanya mengangguk saja, sementara kakek Bambang tersenyum dengan penjelesan awal dari Ibu.“Lalu masa lalu dan segala kejadian yang sudah Ibu bilang dan juga barusan kakek Bambang jelaskan bagaimana itu Bu?, aku bakalan paham lagian ini harus jelas, sehingga aku juga paham,” ucapku dengan tenang.
“Dulu, ketika Ibu gadis, dan kedua kakak Ibu Haman dan Yadi sudah dewasa, anak pertama Ibu Dirman dan Pak Dirman seumuran dengan Ibu, bermain bersama dan segalanya bersama apalagi kakek kamu yang berbisnis di luar kota dengan kakek Bambang yang sekarang ada di hadapan kamu ini sekarang jarang pulang, dan sekalinya pulang tidak pernah lama, akhirnya kedekatan Nenek dengan Ibu Dirman begitu dekat, karena Ibu dan Nenek hanya tinggal berdua apalagi ketika kedua kakak Ibu sudah berkerja di luar kota juga,” ucap Ibu menjelaskan.“Benar Bas, Salsa kakek ini adalah saksi hidup keluarga kalian,” ucap kakek Bambang sambil tersenyum dan berpindah tempat duduk, kemudian membakar rokoknya.“Waktu itu ibu menikah dengan Bapak, dan satu tahun kemudian lahirlah Salsa, anak Ibu Dirman Maya juga sama, tidak lama menikah, semua baik-baik saja sampai ketika Ibu hamil Salsa, Ibu Dirman tidak sabar menunggu kehamilan anaknya juga sama, namun sampai Salsa lahir, Maya tetap belum hamil dan Ibu Dirman sangat menunggu hal itu, sampai Salsa dianggap seperti cucunya Ibu Dirman sambil menanti kehamilan anaknya, Pintu gerbang itulah yang sengaja di buat oleh Ibu Dirman dari dulu agar semakin dekat dan mudah hubungan kedekatan dengan keluarga nenek,” ucap Ibu, sambil mulai menatap kosong.Aku mulai paham dengan penjelasan Ibu sampai sini, apalagi soal kedekatan dan sampai gerbang yang menghubungkan dua rumah 096 dan 097 menjadi berdekatan.“Lalu bu,” ucapku karena menunggu Ibu tidak melanjutkan omonganya.
“Lalu, sampai di tahun kelahiran Salsa, Bapak Dirman suami Ibu Dirman meninggal, dan Ibu sumpah mendengar omongan ini dari Nenek; meninggalnya Pak Dirman karena besekutu dengan mahluk lain lewat orang pintar, karena tuntutan ingin anaknya segera hamil," jawab Ibu sambil meneteskan kembali air matanya.“Kepergian itulah yang membuat Ibu Dirman bukanya menjadi sadar dan menerima bahwa semua itu adalah urusan pencipta, malah semakin menjadi meminta pertolongan hal-hal lain dan bersekutu dengan mahluk lain, dan karena stres juga pikiran juga tuntutan Ibunya yang mengelola usaha, karena gengsi juga, tekanan pada Maya semakin besar di tahun itu dan hanya Nenek yang menjadi Saksi setiap kejadian itu, dan Ibu adalah tempat di mana nenek bercerita, sampai akhirnya Maya mengakhiri hidupnya ketika Ibu mengandung kamu Bas, dengan cara gantung diri di halaman belakang rumah, kejadian itu yang menjadi saksi utamanya adalah Nenek kamu,” ucap Ibu menjelaskan dengan perlahan.“Sontak kabar hampir satu kota ramai apalagi keluarga Dirman orang terpandang, dan sayangnya Nenek dituduh oleh Ibu Dirman tidak bisa menjaga anaknya Maya, sehingga bunuh diri, sementara memang Maya sangat dekat dengan Nenek kamu Bas. Hari di mana kamu baru lahir 2 hari Nek Dirman meninggal karena kecelakaan fatal, semenatara banyak Saksi melihat memang kejadian itu sangat aneh, dan menjadi cerita ramai sampai satu kota mengetahuinya di tahun itu,” ucap Ibu.Aku hanya terdiam dan kaget sekali, dengan apapun yang barusan aku dengarkan baik-baik walau kenyataanya dulu sampai seperti itu.“Bastian baru tau sekarang Bu kenapa?,” tanyaku penasaran.Kakek Bambang hanya tersenyum dengan apa yang aku tanyakan kepada Ibu, dan Bapak hanya mengangguk berkali-kali.“Di akhir hari meninggalnya kakek, Kakek berpesan, kelak nanti cucunya jangan sampai tau, karna Neneknya tidak salah dan kamu harus tau Kakek meninggal karena kecelakaan, dan karena sudah banyak mengalami hal-hal aneh selama di rumah, padahal dulu kakek kamu yang mengurus rumah itu, karna Kakaknya Ibu Dirman berada di luar kota dan sampai bertahun-tahun kejadian serta gangguan tidak pernah berhenti sampai kamu berusia 3 tahun Bas dan Salsa 5 tahun, sampai Nenek juga meninggal dengan cara yang sama, walau sudah banya orang bisa menyarankan untuk meninggalkan rumah itu termasuk kakek Bambang itulah kenapa Ibu selama ini selalu dihantui kejadian tersebut dan tidak pernah paham maksud semua ini,” jawab Ibu menjelaskan.
Seketika ada perasaan marah pada kejadian perginya Kakek dan Nenek dengan cara seperti itu sementara di sisi lain semuanya sudah terjadi.
Kak salsa hanya tersenyum mendengarkan obrolan Ibu, dan anehnya senyumnya kembali bukan seperti biasa.
“Biarkan dulu saja teh, suruh dia mendengarkan juga,” ucap kakek Bambang.
“Masuk lagi” ucapku dalam hati, Ibu hanya mengangguk saja, seolah mengerti apa yang dikatakan kakek Bambang.
“Kemudian Ibu pergi dari rumah itu dan kakak-kakak ibu juga setuju untuk menjualnya, selama belasan taun itu juga tidak pernah laku dua rumah yang saling berdempetan itu, dan selama itu juga mang Yaya yang dulunya tukang kebun menjaga rumah itu, dan Ibu melarang untuk kembali masuk ke dalam rumah itu,” ucap Ibu.
Tiba-tiba ibu berkata seperti itu, “tidak boleh masuk”.
“Lalu Ibu pergi ke kota Bapak kamu Bas, tinggal di sana dan akhirnya keinginan pada Salsa terjadi lagi, setelah ibu yakin mang Yaya melakukan persekutuan, walau kakek Bambang tetap menyarankan Ibu berbaik sangka dulu,” ucap Ibu.
Dan tidak lama disusul oleh tertawa yang sebelumnya aku dengar ketika di dalam mobil, kembali keluar dari kak Salsa dan jauh menakutkan. Kakek Bambang yang kaget juga, segera merangkul kak Salsa, dan mengelus-ngelus kembali seperti waktu sebelumnya.
“Lanjutkan saja teh,” ucap kakek Bambang.
“Iya setelah sekian lama akhirnya mahluk yang sebelumnya menganggu keluarga besar Ibu kembali dengan tujuan yang sama tapi itu kesalahan ibu sendiri Bas, maafkan Ibu,” ucap Ibu kembali menangis.
__ADS_1
Bapak dan aku tidak kembali bicara, aku yang sudah mengetahui singkatnya penjelasan dari Ibu sedikit tenang kejadian masa lalu itu benar-benar di luar dugaanku, kak Salsa yang kembali terseyum-senyum aneh dengan mata yang tertutup kembali biasa lagi.“Malam sudah larut sekali, ada baiknya kalian istirahat saja dulu di sini teh, besok kita bicarakan lagi baiknya seperti apa,” ucap kakek Bambang.“Kondisi Salsa kek?,” tanya Bapak jelas sangat khawatir.“Nanti besok kita liat yah, sudah kalian istirahat di kamar sana, Wati sudah menyiapkanya,” ucap kakek Bambang sambil menunjuk salah satu kamar.
“Biar kakek sama Salsa, sama Bastian ngobrol dulu yah teh,” ucap kakek Bambang.
Ibu dan Bapak sangat percaya sama kakek Bambang, sehingga mendengarkan saran kakek Bambang dan segera ke kamar untuk istirahat, sementara ayah memarkirkan mobil terlebih dahulu dan kembali kamarnya.Aku melihat jam sudah 02:00 dini hari, kakek Bambang terus saja mengusap-usap rambut kak Salsa seperti sebelumnya sudah dilakukan.“Bas, ngerokok, tuh kalau suka bakar aja,” ucap kakek Bambang.“Iya kek,” ucapku sambil menerima tawaran kakek Bambang.“Bas, kakek tau, umuran kalian inikan sama dengan umuran cucu-cucu kakek, jiwa penasaran dan rasa ingin tau adalah hal yang wajar kamu bisa ambil kesimpulan dari cerita Ibu itukan, memang tidak masuk akal jika logika yang dipakai untuk menafsirkannya, tapi kenyataanya seperti itu Bas,” ucap kakek Bambang.“Iya kek, Bastian paham, tapi apa benar nyawa dan dendam taruhanya kek sampai saat ini?,” tanyaku dengan perlahan.
Karena tidak ada Ibu dan Bapak aku jadi bisa selepas mungkin mengobrol dengan kakek Bambang. Kakek Bambang hanya mengangguk dan tersenyum.
“Telat saja 2 malam, sudah kak Salsa tidak akan tertolong ada orang yang masuk ke rumah itu dan menyetujui, membantu dendam yang selama ini membuatnya gentayangan belasan tahun lamanya, akhirnya seperti ini,” ucap kakek Bambang.
Aku yakin ini mang Yaya dibalik semua ini, apalagi aku pernah melihatnya keluar dari rumah itu, baru saja aku akan menyebutkan nama mang Yaya
“Sudah, kakek juga tau, simpan baik-baik saja apapun yang kamu tau siapanya orang itu, bukan jatah kita untuk berperasangka buruk semoga saja bukan dia,” ucap kakek Bambang.
Tidak lama kak Salsa membukakan matanya lagi, dan kakek Bambang langsung mengusap wajah kak Salsa dengan bacaan ayat-ayat yang aku dengarkan.
“Alhamdulillah,” ucap kakek Bambang.
Segera aku dan kak Salsa berjalan ke kamar, di dalam kamar setelah kak Salsa melepaskan jaketnya dan terbaring tidur, aku masih saja melamun, masih tidak percaya masa lalu terjadi sebuah kejadian yang bisa seperti itu.“Bas, kakak lemas, kakak gak kuat pengen tidur, kakak gak tau apa yang terjadi,” ucap kak Salsa.
“Iya udah kak, tidur aja baca doa sebelum tidurnya,” ucapku.
Aku melihat matanya, sedikit demi sedikit terpejam, segera aku melihat Hp dan melihat pesan masuk dari Silvi 15 menit yang lalu, menanyai kabar, dan aku balas sangat panjang dengan apa yang terjadi.
“Nanti Bas, kabarin lagi besok yah,” jawab pesan dari Silvi dan aku juga kaget dengan balasan itu “apa dia belum tidur,” ucapku.
Lelah dengan segala yang terjadi, dengan segala yang aku ketahui sekarang, aku berpikir, memang dari awal semua pertanda dan informasi mengarah ke rumah itu dengan satu persatu dibukakan dan aku ketahui, walau banyak yang sebelumnya menjadi pertanyaan, hari ini sampai berganti hari semuanya terjawab dengan sendirinya.
Pagi hari aku dibangunkan oleh suara Ibu, dan kak Salsa masih saja tertidur dengan lelapnya, setelah mandi dan makan, kakek Bambang dan bapak sudah ada di depan halaman depan rumah.
“Bas tidak apa-apa, kakek Bambang barusan menyarankan kalian tinggal di sini saja, nanti ayah setuju menyuruh dulu sodara kakek Bambang mengantar jemput kalian ke kampus, sambil kamu belajar nyetir,” ucap Ibu di meja makan, mengobrol denganku.
__ADS_1
“Kakek Bambang memang tinggal sendirian Bu?,” tanyaku.
“Iya, setiap akhir pekan 4 anaknya silih berganti berkunjung ke sini, dan bi Wati yang mengurus semua rumah dan keperluan kakek Bambang,” jawab Ibu
“Selama itu yang terbaik tidak apa-apa Bu, tapi barang-barang dan semuanya gimana, termasuk si kukut?,” tanyaku.“Hari ini Bapak urus semua dan Ibu sudah telepon mang Yaya tapi tidak diangkat, gapapa Ibu suruh datang aja ke rumah langsung,” ucap Ibu.Setelah makan, kakek Bambang yang merasa kasian dengan kondisi sekarang mengatakan hal ini adalah solusi biar sambil kondisi Salsa juga terkontrol sama kakek Bambang, dan lagianya bisa mengisi rumah jadi tidak berdua saja dengan bi Wati.
Seharian penuh aku bercerita dengan kakek Bambang soal bisnis perkayuanya dulu dengan kakeku dan itu sangat seru sekali, sementara Ibu lebih mengurus kondisi kak Salsa, sembari menunggu Bapak kembali dengan sodara kakek Bambang membawa semua barang-barangku dan kak Salsa di rumah Nenek itu.
“Kek apa kejadian yang sama kelak akan menimpa anakku dan kak Salsa jika sudah berumah tangga?,” tanyaku tiba-tiba“Selama masih satu keturunan kemungkinan seperti itu, perjanjian dulu keluarga Dirman, sehidup semati, bukan sepele itu. Apalagi dibangkitkan oleh rasa penasaran dan dendam lengkap sekali Bas, di jualpun rasanya dua rumah itu sulit, kecuali diratakan terlebih dahulu dengan syarat-syarat yang sangat rumit,” jawab kakek Bambang.
Sore datang berbarengan dengan kedatangan dua mobil yang membawa barang-barang dan kembali, merapihkan, aku menempati kamar yang semalam aku tempati dan kak Salsa di tempat semalam Ibu dan Bapak beristirahat.
“Akhirnya suasana rumah tidak akan sepi lagi,” ucap kakek Bambang.
Dan malamnya Bapak dan Ibu diantarkan oleh sodara kakek Bambang pulang dengan menggunakan Bus menuju rumah, Bapak cerita selama mengambil barang di rumah Nenek tidak bertemu dengan mang Yaya sama sekali dan kondisi rumah belum rapih masih sama seperti malam kemarin ditinggalkan.Hari-hari selanjutnya, sudah 3 hari barulah teman-teman kak Salsa datang berkunjung dan saat itu juga aku berjumpa lagi dengan Silvi membicarakan banyak hal yang sudah dilewati. Sementara kabar dari Ibu soal mang Yaya sama sekali tidak bisa dihubungiPada satu malam dimana selesai belajar mengendarai Mobil, aku sudah melihat si Kukut terparkir di halaman depan rumah kakek Bambang, karena sudah diambil oleh sodara kakek Bambang sore tadi.
“Bas, sodara kakek bilang, rumah nenekmu itu seperti tidak ada yang menyapu sama sekali, apa Yaya sudah tidak mengurusnya lagi,” tanya kakek Bambang.
Aku segera memberi tau Ibu soal itu dan Ibu tetap tidak bisa menghungi mang Yaya, satu minggu kemudian setelah kak Salsa dalam kondisi terbaiknya, aku bisa melakukan aktivitas ke kampus dengan selalu mengendarai mobil ayah bareng dengan kak Salsa.
“Bas apa mang Yaya baik-baik saja?,” tanya kak Salsa, ketika sedang berada dalam mobil menuju kampus.
“Tidak tau kak sudah satu minggu tidak ada kabar, kata Ibu sih begitu,” jawabku yang fokus menyetir karna baru saja lancar mengendari mobil.Hari terus berganti, dan segala hal-hal tentang baik-baik saja terus terjadi, apalagi kedekatanku dengan Silvi juga berjalan normal, apalagi setelah kak Salsa mengetahuinya dan setelah aku bicara sama kakek Bambang, mengiyahkan kalau Silvi memang mempunyai kelebihan lain dalam dirinya.Tepat satu bulan kepindahanku ke rumah kakek Bambang, siang hari aku mendapatkan kabar dari Ibu yang sedang di dalam perjalanan dengan Bapak, menuju rumah mang Yaya dan menyuruhku datang dengan kak Salsa menggunakan mobil juga, untungnya aku masih berada di daerah kampus dan sudah bersama kak Salsa.
“Kok tumben bu?,” tanya kak Salsa setelah Hp aku berikan pada kak Salsa.
Kak Salsa hanya mengangguk saja dan tidak bicara apapun lagi dan memberikan hp yang sudah tertutup teleponya kepadaku.
“Ibu 15 menit lagi sampai rumah mang Yaya, ayo segera kesana Bas,” ucap kak Salsa.
Aku dan kak Salsa selama perjalanan hanya diam tanpa obrolan sama sekali.
__ADS_1
“Bas, mang Yaya meninggal,” ucap kak Salsa.“Inalillahi,” jawabku kaget dan tidak lama sampai dirumah mang Yaya dan sudah banyak orang.