
Sampai di pangkas aku melihat Daud sedang duduk saja sore ini, melamun malah.
“Heh! Malah melamun, tuh bentar lagi ada yang mau dicukur anak-anak banyak,” ucapku sambil duduk di samping Daud.
“Ah aa bisa aja, tau dari mana coba,” jawab Daud sambil becanda.
“Eh dikasih tau ini mah anak malah gak percaya 5 menit lagi, serius ini mah,” jawabku sambil becanda juga.
Daud hanya tersenyum dan tetap tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
“Eh eh a tuh hampir lupa, pak Budi barusan abis asar ke sini mampir, katanya mau dipangkas sama aa tapi rambutnya masih pendek, aneh,” ucap Daud.
“U kan yang mau dipangkas pak Budi kenapa yang jadi aneh kamu,” jawabku sambil becanda, juga mengundang tawa Daud.
“A mau dipangkas,” ucap satu anak di depan pangkas.Daud hanya menggelengkan kepala sambil melihat ke arah jam dinding yang terpasang di dinding pangkas.
“Kurang dari lima menit a,” ucapnya sambil mempersilahkan 4 orang anak yang datang ke pangkas untuk masuk dan antri menunggu.
“Ya gimana gak tau, orang anak-anak ini jalan aku lalui duluan U, pas di jalan sana aku liat rambutnya panjang-panjang ya mau apalagi pasti ke sini,” jawabku sambil tersenyum.
Daud hanya senyum dan pasti berpikiran aneh padaku, apalagi dengan tebakan barusan.
“U gak becanda pak Budi ke sini?,” tanyaku, yang mulai kembali terpikiran kejadian malam sebelum tidur.
“Iya cuma nanyain aa doang, udah itu pergi lagi,” jawab Daud sambil kembali memangkas.
Tidak lama adzan magrib hari ini berkumandang, setelah selesai menunaikan kewajiban segera aku berkerja dan itu juga tandanya Daud sudah harus pulang.
Seperti biasa prinsip sebuah pekerjaan seperti yang sedang aku jalani seperti ini, sekalinya ramai, ramai sekali. Sekalinya sepi, sepi sekali, kadang apa yang kita butuhkan akan kalah dengan apa yang kita inginkan.
Hanya baru beberapa orang saja sampai jam 22:00 malam ini, yang silih berganti duduk di kursi pangkasku yang sudah lumayan berumur ini.
Baru saja selesai memangkas seorang remaja, tiba-tiba sebuah mobil bisa dikatakan tidak biasa berhenti tepat di depan pangkas rambutku ini.
“Assalmualaikum Ndi,” pas aku lihat benar saja apa yang sebelumnya dikatakan oleh Daud, soal kedatangan pak Budi.
Benar saja sekarang pak Budi sudah berada tepat di pintu masuk pangkas
“walaikumsalam, pak Budi, silahkan pak masuk,” ucapku langsung bersalaman mencium tangan pak Budi dan langsung mengelap kursi yang sudah tidak bagus lagi, apalagi yang datang bukan orang biasa.
“Ndi, tidak usah seperti kedatangan siapa saja, segala harus dilap,” jawab pak Budi dan supirnya yang langsung aku lihat duduk di tempat kopi Yayan.
“Hehe… tidak apa-apa pak, lagian kursinya sudah kotor, maklum pak, pangkas saya hanya segini adanya,” jawabku sambil duduk.
“Pangkasnya biasa, tapi pangkas ini sudah terkenal kemana-mana kan Ndi, pasti Andi dan Hijau pangkas sudah akrab banget kalau udah urusan mencukur rambut, saya ini mau dirapihkan saja Ndi,” ucap pak Budi sambil mengelus kepalanya sendiri.
“Baik pak silahkan, langsung saja dulu pak, biar nanti ngobrolnya enak,” ucapku sambil mempersilahkan duduk di kursi pangkas yang sama tuanya dan tidak enak dipandang untuk orang seperti pak Budi.
“Mohon maaf pak sebelumnya, ya beginilah pangkas ini, acak-acakan dan tidak ada rapih-rapihnya,” ucapku perlahan, segera mulai menyiapkan perlatan memangkas.
“Tidak usah begitulah Ndi, yang datang ke sini kan saya, berati yah memang saya ingin ke sini saja tau saja saya kesini ada obrolan,” jawab pak Budi.
Segera aku mulai memangkas dan merapihkan rambut pak Budi yang seharusnya mungkin satu dua bulan lagi baru layak untuk dipangkas, karena memang belum panjang dan terkesan sangat pendek.
Belum ada obrolan sama sekali yang aku ucapkan begitu juga dengan pak Budi, terkesan seperti mengantuk, memang itu sebuah kebiasaan yang wajar ketika orang dipangkas, entah suara mesin atau memang merasa nyaman.
Perlahan aku merasakan suasana yang berbeda, sangat berbeda dengan pertama kedatangan pak Budi barusan “ohhh…” ucapku dalam hati tanpa tidak mau berperasangka buruk dan menahan arahan ***** agar aku tidak berlaga so tau.Perlahan proses mencukur yang tidak lama itu selesai, di luar suara petir mulai datang dan disusul oleh gerimis perlahan.
__ADS_1
“Bagaimana pak kabar Sely?” tanyaku, karena menang pas ketika proses mencukur selesai dan pak Budi melihat ke arah luar dengan tatapan yang tidak biasa, matanya mulai turun, kelopak matanya mulai melemah.
“Semakin memburuk Ndi, kerasukanya tidak terjadi lagi setelah kedatangan Andi, tapi badanya mulai semakin mengecil, dan sekarang kelihatan melamun seperti memikirkan hal lain dan sekarang kalau saya datang ke kamarnya teriak-teriak suruh saya keluar,” ucap pak Budi dengan mata berlinang.
Andai pak Budi adalah perempuan, aku yakin tangis bersamanya air mata akan perlahan turun membasahi pipinya, karena aku paham sekali, di balik setiap kesalahan apapun pada manusia sisanya pasti ada sedikit nurani yang tersisa dan sekarang pak Budi sedang menikmati rasa nuraninya, walau setiap rasa selalu punya caranya masing-masing untuk manusia nikmati.
Aku diam mematung dan merasa sangat berdosa tidak mampir barusan sebelum ke pangkas, sampai harus ada orang tua dengan perasaan bersalahnya datang ke pangkasku dan bicara seperti itu, walau akibat selalu bersama sebab berjalan beriringan.
“Baik pak, silahkan sudah selesai, kita bicaranya di sana saja sambil duduk yah pak,” ucapku, sambil melepaskan kain cukur, dan mempersilahkan pak Budi duduk.Segera aku menyuruh Yayan untuk segera membawakan air mineral dan membuatkan aku kopi, walau aku juga tau Yayan pasti banyak pertanyaan dengan kedatangan pak Budi ke pangkasku, apalagi sebelumnya Yayan pernah membicarakan soal sakitnya non Sely yang beredar adalah tumbal dari orang tuanya.
Tidak lama Yayan datang, memberikan air mineral untuk pak Budi dan tentunya Kopi untukku.“Maaf pak, hanya ini yang ada di sini, silahkan diminum,” ucapku dengan perlahan.
“Terimakasih Ndi,” jawab pak Budi dengan tatapan kosong.
“Mohon maaf pak, rasanya jika tidak ada yang memulai tidak akan ada obrolan yang berujung pada solusi, mohon maaf juga saya hanya anak kecil yang berusaha menjadi paling tau dan paling paham padahal saya tau ini adalah kesalahan saya untuk bicara seperti ini,” ucapku dengan gemeteran dan merasa sangat malu berbicara hal ini kepada pak Budi.
“Maksudnya Ndi, saya tidak paham,” ucap pak Budi menatap ke arahku perlahan.
Untungnya hujan yang semakin turun, memperkuat suasana dan seperti mendukung untuk sesuatu hal yang harus aku bicarakan kepada pak Budi dan tidak ada lagi orang yang datang untuk memangkas.
Walau ada beberapa orang, aku lihat berteduh dan memesan kopi ke warung Yayan apalagi jika melihat ke dalam ada satu orang tua yang berbeda tampilanya rapih dan terparkir mobil mewah pasti menyangka bapak tua ini (pak budi) adalah tamuku.
“Perjanjian apa yang sudah bapak sepakati pak?,” ucapku, sambil menuduk dan memohon maaf atas kelancanganya pertanyaanku.
“Bukan saya yang buat Ndi, perjanjian keluarga ini. Saya tau Andi bukan orang biasa dan Andi juga saya sudah yakin sebelumnya melihat hal-hal aneh di rumah saya,” jawab pak Budi.
“Tidak usah merasa bersalah, datangnya saya ke sini minta bantuan Ndi, baiknya seperti apa, apalagi kondisi Sely semakin seperti ini,” ucap pak Budi.
Aku diam beberapa detik, dan perasaan yang datang pada diriku semakin aku rasakan berbeda, ketika sedikit menunduk, lalu melihat ke arah pak Budi.
Di matanya aku melihat kesepakatan untuk urusan dunia yang sudah sangat lama dijalani dan sekarang waktu yang tepat, tradisi itu kembali menagih janjinya.
Tiba-tiba mataku diajak untuk melihat ke arah jendela pangkas, benar saja “pantas perasaan itu tidak enak” ucapku dalam hati, ketika melihat ke arah jendela sudah duduk wanita cantik yang sebelumnya sudah aku temui di kamar Sely.
“Biasanya kesalahan pasti ada bayaranya Ndi, dulu adik saya dan sekarang anak saya, saya ikhlas ini kesalahan keluarga Ndi, tapi tolong apakah tidak cara lain Ndi?” ucap pak Budi sangat pasrah dan sudah mengetahui apa itu sebuah resiko.
Suasana pangkas semakin tidak enak, walau hal ini bukan yang pertama buatku, tapi setidaknya bangunan dan segala benda yang ada di pangkas ini menjadi perekam percakapan, mungkin jika benda-benda mati ini mempunyai perasaan yang sama dengan manusia sama akan menangis.
Ketika melihat seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi, sedang patah dan merasa bersalah ketika nuraninya berkata soal tanggungjawab dan rasa putus asa dari seorang lelaki yang bisa dikatakan apapun yang diinginkan dalam hidupnya bisa ada.
“Ada pak,” jawabku dengan pelahan.
“Apa itu Ndi, caranya apa saya akan mati-matian melakukan cara itu dan percaya dengan apa yang dikatakan Andi, kashian ini anak saya Ndi darah saya dan tanggung jawab saya,” ucap Pak Budi benar-benar dalam masa patahnya.
“Taubat dan meminta bukan ke saya, meminta kepada gusti Allah SWT, curhatkan apa yang bapa inginkan dengan menggunakan ini jangan menggunakan ini,” ucapku sambil menujuk hati dan ke arah kepalaku.
“Baginya pak dunia ini apa? Tempat sementara, tapi bagi kita termasuk aku kadang segala tipu daya setan atas perjanjian dulu dengan pencipta ini adalah panggung agar semakin banyak pengikutnya,” ucapku dengan perlahan dan berusaha tidak menggurui hanya sekedar mengingatkan, dengan caraku yang seperti biasanya aku lakukan kepada siapapun.
“Untuk orang berdosa sekalipun seperti saya?” jawab pak Budi, memperlihatkan wajah tidak yakin.
Wanita cantik itu semakin menunjukan muka amarah padaku, seolah tidak setuju dengan apa yang aku katakan kepada pak Budi, energi yang dikirim wanita itu padaku sangat kuat, semakin menjadi dan menujukan yang awalnya wajahnya terlihat sangar cantik olehku, sekarang menunjukan aslinya semakin hancur mukanya dan rambutnya awalnya indah semakin berantakan.
Tidak henti-hentinya aku terus berdoa dalam hati dan meminta pertolongan kepada yang menciptkan segala makhluk di alam ini, aku terus berdoa agar pak Budi ada dalam jangakauan omonganku dan tidak mengikuti rasa bersalahnya lalu kembali pada perjanjian itu, walau hasil akhirnya aku hanya berusaha, bukan yang mentukan.“Siapa orang yang tidak berdosa yang hidup? Kemauan yang berbeda dan kesungguhan yang berbeda hanya itu yang membedaakan,” jawabku perlahan.
Tiba-tiba di luar hujan yang semakin deras malam ini pak Budi diam tatapanya jauh lebih kosong dari apa yang aku lihat, perempuan yang berada di luar jendela itu terus mengirimkan hal-hal yang bisa membuat pak Budi lupa akan hal-hal yang sudah aku katakan.
Karena semakin kuat dan semakin badanku merespon energi itu, segera aku lihat tajam ke arah wanita itu dengan terus berdoa dengan sekali tatapan wanita itu berteriak sangat kencang sampai gendang telingaku kesakitan, andai semua orang mendengarkan mungkin sama dengan petir yang sedari tadi selalu ada sesekali menyapa bumi dengan caranya dan cahanya itu.
__ADS_1
Terlihat badan pak Budi lemas sama dengan badanku, aku menyruh pak Budi meminum air yang sebelumnya sudah aku buka, karena bagiku semua ada aturanya dan membukaan air minum kepada tamu adalah sedikit banyaknya yang aku pelajari tantang bagaimana memperlakukan tamu.
Aku melihat pak Budi meminum semuanya sampai habis untuk ukuran air mineral 1,5 lt itu tidak mudah, jika sedang dalam keadaan normal, aku dan pak Budi masih diam.
“Kenapa tiba-tiba lemas sekali barusan,” ucap pak Budi refleks.
“Perempuan itu barusan ada di sana pak, dan saya coba untuk melakukan cara yang seharusnya saya lakukan pak,” ucapku dengan tenang dan berusaha tetap tidak terlihat apapun.
“Baik Ndi saya percaya, saya lakukan yang Andi barusan katakan, saya tidak menyangka sampai sejauh ini kemampuan Andi dan alhamdulillah saya betemu dengan orang yang tepat,” ucap pak Budi.
“Bukan saya pak, atas izin yang kuasa saya sama meminta pertolonganya, alhamdulillah, pesan saya; lakukan secepatnya pak,” jawabku dengan tenang.
Hujan semakin reda sebagaimana mestinya, dan pak Budi tidak menyangka melihat ke arahku dengan baju dan badan yang sudah penuh keringat, aku melihat jam sudah hampir tengah malam, kemudian aku melihat ketenangan dari raut wajah pak Budi.
Ada optimis dan rasa baru mungkin yang pak Budi rasakan, walau sisanya pak Budi sendiri yang tau dan yang bisa merasakan.
“Terimakasih Ndi, kemarin amplop saya tidak diterima, dan saya lakukan kemauan Andi memberikanya kepada anak Yatim karena sekarang saya sudah dipangkas dan harus membayar jasa Andi, tolong terima Ndi,” ucap pak Budi kembali menyodorkan amplop.
“Aturan disini pak, dewasa itu 15.000 kalau membayar dengan amplop seperti ini bapak bisa satu bahkan dua tahun lebih memangkas kesini tidak bayar lagi,” ucapku sambil becanda.
“Ndi, tolonglah saya, terima ini, tidak ada harganya dibanding ketenagan yang Andi berikan barusan, tolong terima,” jawab pak Budi sambil memelas.
Segera aku terima dan meniatkan dalam hati “ada hak orang lain dalam setiap rezeki yang aku terima”
“Baik baik pak, hujan sudah reda, sehingga bapak menuju mobil tidak akan kehujanan walau masih gerimis sedikit,” ucapku sambil tersenyum.
Akhirnya pak Budi pamit dan kembali aku mencium tangan pak Budi sebagai hormat kepada siapapun yang jauh lebih tua dariku, itu sudah menjadi aturan dalam hidupku yang paling dasar.
Baru saja melangkah, hujan semakin besar dan tidak tau kenapa habis satu petir menghujam suaranya sangat keras, jauh lebih keras dari sebelumnya hujan malam ini.
“Sebentar pak,” ucapku tiba-tiba pada pak Budi.
“Ada apalagi Ndi,” jawab pak Budi.
Segera aku mengeluarkan payung di lemari pangkas dan mengantarkan jalan pak Budi, walau pak Budi menolak, tapi rasa hormat tetap aku paksakan mengantarkan pak Budi menuju mobilnya dengan keadaan pak Budi yang telindungi dari Hujan.
Dalam pamit pak Budi, melihat wajahnya tersenyum ada hal lain benar-benar aku rasakan tidak enak, jauh tidak enak dari hal sebelumnya aku rasakan dari kedatangan pak Budi ke pangkasku ini.
Baru saja masuk ke dalam pangkas dan membakar rokok juga tidak lupa meminum kopi yang sudah dingin aku melihat ke arah cermin sebelah yang biasa Daud gunakan pecah begitu saja sangat besar pecahanya seperti bekas di lempar benda keras!
“Bisa-bisanya,” ucapku dalam hati, sambil langsung berdiri dan memperhatikan dengan jelas dan sangat dekat dengan kaca.
Tiba-tiba Yayan masuk kembali membawa kopi untuku yang anehnya tidak aku pesan juga dia paham sekali.
“Lah a ko bisa pecah begitu?” tanya Yayan sama anehnya denganku
“Minta diganti ini usianya sudah tua Yan, kebayang sudah sangat banyak orang yang masuk dalam kaca ini hehehe,” jawabku sambil becanda.
“Bisa ajalah ditanya serius juga,” jawab Yayan terlihat kesal.
Yayan langsung kembali ke warungnya karena memang terlihat ada yang membeli dan aku kembali duduk sambil menatap ke arah kaca “Alhamdulillah yang kena kaca kalau sampai ke yang lain pasti seperti itu mengerikan sekali,” ucapku dalam hati.
Segera aku membuka isi amplop yang sebelumnya pak Budi berikan, dan yang membuat aku sangat kaget sekali dengan amplop yang sangat tebal, isinya tidak main-main aku lihat dan aku keluarkan masih ada cap dari bank tertentu dengan nominal yang sangat besar.
“Alhamdulilah” ucapku segera memishkan untuk membeli kaca besok hari, dan memisahkan untuk membayar jasaku memangkas, dan sisanya akan aku berikan kepada anak-anak yatim yang biasa menerimanya dariku tiap hari jumaat, untuk kelancaran hidup, keberkahan dan segalanya tentang kebaikan apalagi yang memberikan dalam keadaan cobaan. Aku selalu ingat rezeki itu ada yang titipan dan cobaan.
Bersambung...
__ADS_1