
Kualat
“Ibu tahu kalau di kamar mayat ada lubang?” saat jam istirahat, Aini sengaja menghampiri Bu Ruslah, petugas kebersihan di rumah sakit.
Mereka duduk di bawah pohon. Saat itu Aini sedang shift pagi.
“Iya, Mbak, ada. Memangnya kenapa, ya?”
“Itu lubang apa, Bu?”
“Oalah... Mbak belum tahu?”
Aini menggelengkan kepala.
“Mbak Aini harus tahu, ya...,” katanya sambil melirik ke papan nama Aini.
“Setiap gedung itu pasti ada penghuninya,” sambungnya.
Aini mengernyitkan dahi. Ia masih belum paham arah pembicaraan Bu Ruslah.
“Penghuni bagaimana maksudnya, Bu?”
Bu Ruslah meletakkan sapu lidi. Kali ini ia terlihat serius, bersiap menerangkan sesuatu pada Aini.
“Nih, kita di dunia ini enggak hidup sendirian. Selain manusia, ada juga jin dan roh jahat yang selalu berkeliaran. Mereka tidak kasat mata. Siapa tahu sekarang makhluk itu ada di samping Mbak Aini. Atau bisa jadi malah lagi bergelayutan di pundakmu, Mbak.”
“Ah... Bu Ruslah! Jangan bikin takut, dong,” Aini meringsut mendekati Bu Ruslah.
“Hahaha... penakut juga, ya.”
“Terus gimana? Tadi terusin ceritanya.”
“Kalau di kampung saya ya, Mbak, setiap gedung baru itu wajib diruwat.”
“Diruwat?” Aini semakin tidak paham.
“Iya diadakan selametan. Biar jin dan roh jahatnya pergi. Nah, kalau di kota ya gedung sebesar apa pun sangat jarang ada acara selametan. Jadi, pasti banyak setannya.”
“Hubungannya sama lubang di kamar mayat itu apa, Bu?”
“Itu lubang setan. Saya udah lama kerja di sini, Mbak. Jadi saya tahu seluk-beluk rumah sakit ini. Dulu, saat rumah sakit ini pertama kali diresmikan, tiba-tiba muncul lubang itu di kamar mayat. Pihak rumah sakit heran, kenapa tiba-tiba ada lubang di sana.”
Aini terlihat serius. Ia berusaha menyimak penjelasan Bu Ruslah dengan benar-benar.
“Terus, Bu?”
“Sudah berkali-kali lubang itu ditimbun dan lantainya dibetulkan. Tapi, keesokan harinya lubang itu menganga kembali seperti ada yang menggalinya.”
Aini mengecek jam tangannya. Masih ada waktu untuk menyimak Bu Ruslah.
“Nah, pihak rumah sakit akhirnya membayar dukun agar lubang itu bisa ditimbun. Anehnya tidak ada satu dukun pun yang bisa menimbun lubang itu. Setiap kali ditimbun pasti besoknya muncul lagi."
“Kenapa lubang itu bisa ada di rumah sakit ini ya, Bu?”
“Sudah saya bilang kalau lubang itu sarang setan. Yang jelas lubang itu memang bukan lubang sembarangan. Jangan sesekali kamu masuk ke dalam lubang itu.”
“Hampir, Bu.”
“Jadi, kamu pernah hampir masuk ke dalam lubang itu?” Bu Ruslah terkejut bukan main.
Aini mengangguk.
“Untung kamu bisa selamat. Kalau seandainya kamu masuk ke dalam lubang itu... wah, jangan harap bisa kembali lagi. Katanya, kamu bakalan dijadikan stok makanan untuk para makhluk halus di rumah sakit ini.”
“Gila! Stok makanan? Setannya kayak beruang kutub, ya.”
“Jangan bercanda. Ini serius, Mbak.”
“Iya, Bu. Terusin ceritanya.”
“Intinya jangan macam-macam di rumah sakit ini. Banyak setannya.”
Bu Ruslah memasang wajah menakutkan.
“Oh ya, kenal dokter Arwani?” Aini kembali melongok ke jam tangan, masih ada waktu.
“Wah, jelas kenal. Dulu dia dokter di sini. Orangnya baik banget, tapi...,” Bu Ruslah menahan kata-katanya.
“Tapi kenapa, Bu?”
“Dia sudah jadi salah satu setan penghuni rumah sakit ini.”
“Dia mati kenapa?” tanya Aini.
“Wah, katanya sih dibunuh.”
__ADS_1
"Dibunuh siapa?"
"Wah, kalau itu saya enggak tahu."
“Oke deh, Bu. Saya masuk kerja lagi ya. Nanti kalau ada waktu kita ngobrol lagi.”
Aini bangkit dari duduk. Ia lalu meninggalkan Bu Ruslah.
"Mbak!" panggil Bu Ruslah sebelum Aini melangkah lebih jauh.
"Iya, Bu."
"Ingat, jangan macam-macam nanti kualat!"
Aini mengangguk ragu. Ia lalu melanjutkan langkahnya.
Kematian Massal
Sore hari, Pak Lukman si penjaga kamar mayat sedang sibuk menerangkan prosedur bekerja pada Mamat, seorang karyawan baru. Minggu kemarin, salah satu rekan kerja Pak Lukman mengundurkan diri, alasannya sederhana; dia tidak kuat diganggu oleh setan di kamar mayat itu. Tenaga penjaga kamar mayat semakin berkurang, untuk itu Pak Lukman meminta pihak rumah sakit agar merekrut karyawan baru.
Mamat ini umurnya masih muda, baru 23 tahun. Dia memperhatikan penjelasan Pak Lukman dengan serius. Selang beberapa menit, seorang mayat korban pembunuhan masuk ke dalam ruangan. Pak Lukman tersenyum lantaran ia bisa mencontohkan tata cara bekerja di kamar mayat pada Mamat secara langsung.
“Nanti malam kamu yang berjaga di sini, ya. Ingat harus sesuai prosedur,” kata Pak Lukman setelah selesai mencontohkan cara kerja pada Mamat.
“Siap, Pak.”
“Saya harap kamu betah kerja di sini. Intinya jangan penakut kalau ada apa-apa cuekin aja.”
“Beres, Pak.”
Mamat tahu menjadi penjaga kamar mayat bukanlah pekerjaan yang mudah. Pasti ada saja gangguan makhluk gaib yang akan ia alami, tapi Mamat bukan pribadi yang penakut. Dia malah suka dengan pekerjaan yang menantang seperti ini.
Malamnya, ia berjaga seorang diri. Balum ada mayat lagi yang datang, semua mayat sudah dimasukkan ke dalam kulkas. Mamat bersantai di meja kerjanya sambil main gim di hp-nya. Tidak lama kemudian, ia ingin buang air kecil.
“Sialan,” Mamat berdecak kesal lantaran malas beranjak dari tempat duduknya.
Toilet di kamar mayat itu sedang rusak jadi dia harus menggunakan toilet gedung seberang yang jaraknya cukup jauh.
Dengan malas ia berdiri dari duduknya, tapi sesaat sebelum pergi dia melihat sesuatu yang aneh di lantai. Sebuah triplek berbentuk segi empat tergeletak di lantai, tampak mencurigakan. Mamat mengangkat triplek itu lalu menemukan sebuah lubang misterius.
“Lubang apa, nih?”
Mamat menyalakan senter hp-nya, mengarahkannya ke dalam lubang.
“Ah, bodo amat. Meningan gua kencing di sini aja. Udah kebelet banget.”
Tapi tunggu dulu, setelah Mamat kencing ke dalam lubang, besoknya ia tidak terlihat bekerja lagi. Kabarnya Mamat sakit parah, penyakitnya aneh mungkin tidak pernah dialami oleh manusia di belahan dunia mana pun. Bayangkan saja, kelamin Mamat bengkak sebesar buah semangka.
Semua orang yakin kalau Mamat ini pasti diguna-guna atau bisa jadi kualat. Dua hari kemudian ia tewas dengan mengenaskan, kelaminnya pecah. Darah bercampur nanah membanjiri tempat tidurnya.
Tidak sampai di situ, akibat perbuatan Mamat, semua makhluk halus di rumah sakit itu marah besar. Banyak petugas rumah sakit yang kesurupan, pasien satu persatu mati secara tiba-tiba.
“Kita harus segera pergi dari rumah sakit ini, sayang.”
“Nggak, kita harus selesaikan tugas ini,” Aini jelas menolak.
“Ada yang nggak beres sama rumah sakit ini. Banyak kematian yang nggak wajar. Aku harus cari tahu,” sambung Aini.
Saat jam istirahat, mereka berdua duduk di kursi panjang di depan ruang rawat inap. Kebetulan malam itu Angga dan Aini sedang shift malam.
“Sayang, dengarkan aku. Kita ini cuma mahasiswa yang lagi tugas praktik. Jadi jangan sesekali ambil risiko buat ngelakuin hal yang bukan tugas kita,” Angga menatap wajah pacarnya.
“Bagiku ini bukan hanya sakadar tugas kuliah, tapi ini juga tentang nyawa manusia,” Aini tetap keras kepala.
Angga menyerah, ia mengembuskan napas berat lalu tertunduk.
“Kamu jangan khawatir. Kita pasti baik-baik aja, kok," Aini menyentuh pundak Angga.
“Dok! Dokter tolong suami saya, Dok!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari dalam ruang rawat inap.
Aini dan Angga buru-buru masuk ke ruangan itu untuk memeriksa. Di dalam sana, seorang lelaki paruh baya sedang kejang-kejang, matanya melotot ke atas, tubuhnya kaku dan bergetar, istrinya panik sambil menangis.
“Dok anak saya juga!” belum selesai sang dokter memeriksa pasien, sudah ada lagi yang kejang-kejang.
“Angga tolong panggilkan dokter lainnya, ya,” pinta dokter pada Angga.
“Dok! Tolong Ibu saya juga, Dok! Ini kenapa?” tiga pasien kejang-kejang secara misterius.
“Dok! Tolong Bapak saya juga!”
Semakin lama semua pasien yang sedang di rawat di ruangan itu mengalami kejang-kejang. Hanya ada tujuh dokter dan beberapa orang perawat yang bertugas malam itu, mereka semua kewalahan menangani pasien. Selang beberapa menit, tidak ada satu pun pasien yang selamat. Ada 25 pasien di sana dan semuanya mati.
Hilangnya Angga
Ruang rawat inap seketika mencekam.Tangis kerabat pasien memenuhi ruangan. Mereka tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi, keluarga mereka meninggal secara mendadak dalam waktu yang bersamaan. Bukan hanya itu saja, Angga yang tadi disuruh untuk memanggilkan dokter malah tidak muncul lagi.
__ADS_1
Aini panik. Ia coba menghubungi Angga, tapi tidak diangkat. Sudah Aini cari ke semua ruangan rumah sakit, tapi tetap tidak ada. Seketika Aini teringat pada lubang di dalam kamar mayat. Ia segera lari ke sana dan anehnya lubang itu menghilang.
“Lubangnya ke mana, Pak?”
“Lubang apa?” Pak Lukman malah balik tanya.
“Lubang di kamar mayat ini. Masa bapak nggak tahu.”
Wajah Pak Lukman terlihat ketakutan.
“Di mana, Pak?!” bentak Aini.
“Saya nggak tahu,” Pak Lukman malah melepas bajunya lalu melemparkannya ke sudut ruangan.
“Jangan tanya ke saya, mulai malam ini saya berhenti kerja,” Pak Lukman pergi begitu saja dari hadapan Aini.
“Pak! Tunggu, Pak!” Aini meraih lengan Pak Lukman.
“Bapak tahu di mana Angga?”
Pak Lukman tertunduk.
“Pak, apa yang terjadi sama dia, Pak?”
Tanpa menjawab pertanyaan Aini, Pak Lukman mengibaskan genggaman wanita itu dan lari ketakutan. Tidak seperti biasanya, Pak Lukman yang terkenal pemberani, sekarang malah seperti anak kecil yang ketakutan. Entah apa yang dilihat Pak Lukman dan kenapa lubang itu hilang.
Aini tidak menyelesaikan pekerjaannya, ia langsung bergegas pulang menuju rumah Angga. Tengah malah ia menggedor pintu rumah pacarnya dan menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“Kamu tenang dulu. Jangan panik, siapa tahu Angga pergi sama temannya,” ujar bapaknya Angga.
“Nggak mungkin, Pak. Soalnya dia lagi kerja sama aku,” bantah Aini.
“Iya Pak lebih baik kita lapor polisi saja,” saran ibunya Angga dengan wajah cemas.
Malam itu juga mereka melapor ke polisi.
Dua minggu kemudian, Aini mendapat kabar kalau rumah sakit tempatnya praktik ditutup secara mendadak lantaran semakin banyak pasien yang mati mendadak. Sementara itu, polisi belum juga menemukan Angga. Aini semakin yakin kalau Angga diculik oleh setan di rumah sakit itu. Tapi, kenapa harus Angga? Apa yang sudah ia perbuat?
Aini tahu siapa yang bisa menjawab pertanyaan itu. Dia adalah Pak Lukman. Aini curiga karena dia terlihat ketakutan saat Aini menanyakan keberadaan Angga. Pak Lukman pasti tahu persis apa yang terjadi. Setelah mencari tahu alamat rumahnya melalui rekan kerja Pak Lukman, Aini langsung berangkat ke sana.
Ternyata Pak Lukman tinggal di sebuah kontrakan sempit di kawasan kumuh. Aini tidak ke sana seorang diri, ia membawa dua orang teman lelakinya dengan maksud untuk mengancam Pak Lukman agar mau menceritakan apa yang dilihatnya malam itu.
“Tunggu dulu, Pak!” baru saja Pak Lukman membuka pintu, ia langsung menutupnya kembali karena melihat Aini di luar.
Dua orang teman Aini menendang pintu kontrakan Pak Lukman.
“Apa-apaan ini?!” jelas saja Pak Lukman marah.
“Pak, kami bisa lapor polisi kalau bapak tidak mau jujur!” bentak Aini.
“Jujur apa lagi?!”
“Malam itu, Pak. Apa yang bapak lihat? Ke mana Angga?”
“Saya nggak tahu dan saya nggak lihat apa pun.”
Aini melirik dua orang kawannya. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pisau replika lalu menyodorkannya ke leher Pak Lukman.
“Ba... baik. Saya akan caritakan. Ampun jangan bunuh saya,” lelaki tua itu ketakutan.
“Oke, silakan cerita, Pak. Kami hanya butuh informasi dari bapak saja.”
Pak Lukman memasang wajah kesal, ia merapikan kerah bajunya.
“Pacarmu itu,” ia membuka pembicaraan sambil menunjuk Aini.
“Dia memang digondol setan,” sambungnya.
“Kenapa harus dia, Pak?”
“Karena dia berani melawan penghuni rumah sakit. Saya lihat malam itu si Angga melempar kemenyan dan jimat ke dalam lubang.”
“Lalu?” tanya Aini.
“Saya melihat dia ditarik oleh sebuah tangan berwarna hitam legam lalu diseret masuk ke dalam lubang itu.”
“Lubang tersebut kemudian mengeluarkan asap kental dan menghilang begitu saja.”
“Saya sangat ketakutan dan nggak sanggup lagi kerja di sana,” Pak Lukman tertunduk.
“Kenapa bapak nggak mau cerita ke saya dari awal?” Aini marah.
“Pamali. Orang bilang kalau kita melihat setan, nggak boleh diceritakan ke orang lain.”
“Sudah, hanya itu yang saya lihat. Sekarang tolong pergi dari kontrakan saya.”
__ADS_1
Nantikan akkhir cerita Bekas Rumah Sakit