Hantu Villa

Hantu Villa
Dinas Bidan Tamat


__ADS_3

Pagi ini aku tidak masuk kerja karena tiba-tiba badanku demam tinggi. Aku juga sudah minum obat, tapi demamku tidak kunjung reda. Sekarang tubuhku malah menggigil. Wajahku tampak pucat saat kulihat di cermin. Kantung mataku juga mendadak hitam. Segera kubenamkan diri di atas kasur. Semakin lama tubuhku malah menggigil.


"Dinda...," dengan suara serak kupanggil Dinda.


"Iya, Mbak," sahutnya dari luar. Kudengar langkah kakinya mendekat ke kamarku.


"Mbak sakit?" tanya Dinda sambil melongokkan kepala dari balik pintu.


"Iya, Dinda. Kalau kamu nggak keberatan, tolong ambilkan mbak air hangat ya," pintaku sambil menggigil.


"Iya, Mbak. Tunggu ya."


Tak lama kemudian dia muncul kembali dengan membawa segelas air hangat. Aku meraih gelas itu dan menyeruput airnya.


"Mbak sakit apa? Sudah minum obat?" Dinda duduk di sampingku.


"Aku demam, Din. Sudah tadi," kuserahkan kembali gelas itu pada Dinda.


"Semoga lekas sembuh, Mbak," kata Dinda.


Dia lalu keluar dari kamarku. Selang beberapa saat ada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Kudengar itu suara Pak rahmat. Dia pun masuk bersama istrinya, juga Dinda.


"Mbak Maya sakit?"


"Iya, Pak," aku tidak bisa berbicara panjang-lebar. Keadaanku semakin memburuk.


"Kamu demam, Mbak," kata istri Pak Rahmat setelah menyentuh keningku.


"Aku mau ngomong empat mata sama Pak Rahmat," pintaku.


"Ya sudah," jawab Pak Rahmat sembari melirik ke istrinya dan Dinda. Mereka berdua pun keluar dari kamar.


"Tolong aku, Pak. Sepertinya aku terkena pelet," kataku.


Pak Sukra terkejut mendengar pernyataanku.


"Siapa yang melet kamu, Mbak?"


"Pak Sukra."


"Bajingan!" Pak Rahmat geram.


"Tolong aku, Pak, kumohon!"


"Mah...," Pak Rahmat memanggil istrinya.


"Iya, Pak?" wanita itu pun masuk ke kamarku.


"Tolong ambilkan kerisku di rumah. Ada di kolong ranjang kita," pinta Pak Rahmat.


"Iya, Pak."


"Kamu jangan khawatir, aku akan melepaskanmu dari ilmu pelet itu," ujar Pak Rahmat.


"Iya, Pak, tolong aku..," semakin lama tubuhku malah semakin dingin.


Beberapa saat setelah kami menunggu, istri Pak Rahmat muncul kembali dengan membawa keris. Ia menyerahkannya kepada Pak Rahmat.


Keris itu kemudian dikeluarkan dari sarungnya. Pak Rahmat lalu menempelkannya di keningku. Aku memejamkan mata. Kudengar Pak Rahmat berkomat-kamit yang suaranya terdengar tak terlalu jelas. Entah apa yang sedang dia ucapkan.


Tak lama setelah itu, ada susuatu dari dalam perutku yang memaksa memaksa naik untuk keluar dari mulut. Kubuka mulutku lebar-lebar. Kedua mataku sampai berair karena menahan sakit.


Aku merasa seperti ada benda tajam yang menyayat-nyayat isi perutku. Saat itu juga, dari dalam tenggorokanku keluar untaian rambut sebesar telunjuk orang dewasa. Rambut itu berlumur darah. Pelan-pelan Pak Rahmat menarik benda itu.


Panjang rambut itu sekitar satu meter lebih. Aku muntah-muntah setelah benda itu berhasil keluar dari dalam mulutku. Pak Rahmat kembali berkomat-kamit. Aku kembali memuntahkan sesuatu, kali ini cairan. Itu jelas minuman yang diberikan Pak Sukra kemarin.


"Kamu benar-benar terkena pelet si Sukra," Pak Rahmat memasukkan kembali kerisnya.


"Aku mau pulang saja, Pak," kataku sambil menyeka bercak darah di bibir.


"Kapan?" tanyanya lagi.


"Besok saja. Semoga keadaanku sudah membaik besok."


"Yah... kalau Mbak Maya pulang, aku sendirian dong," gerutu Dinda.


"Kamu nggak sendiri kok. Kan ada keluarga Pak Rahmat yang baik hati," ujarku.


Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Mbak Maya...," itu suara Pak Sukra. Mau apa dia?

__ADS_1


Pak Sukra muncul. Dia membawa buah-buahan untukku.


"Mbak Maya sakit ya?" sapa Pak Sukra sambil tersenyum.


"Jangan mendekat kau bajingan!" teriakku sambil melemparkan gelas ke wajahnya.


"Ada apa ini?" Pak Sukra kaget karena tiba-tiba aku marah kepadanya.


"Jangan pura-pura bodoh kau, Sukra! Aku tahu perbuatanmu," kini Pak Rahmat membelaku.


"Maksud kalian apa?" tanya Pak Sukra.


"Kau pelet Mbak Maya kan?" lanjut Pak Rahmat.


"Hei, kau Rahmat, ustaz gadungan jangan fitnah orang sembarangan ya!"


Mereka berdua terlibat adu mulut hingga menimbulkan kegaduhan. Saat itu juga Dinda berteriak sangat keras. Ia mengibaskan tangan kanannya dan seketika Pak Rahmat dan Pak Sukra terpental.


Ada yang merasuki Dinda lagi. Sejak kematian mboknya, aku tahu kalau ada yang selalu mengawasi Dinda.


Pak Rahmat meraih kerisnya. Ia kembali berkomat-kamit sambil mengarahkan keris itu pada Dinda. Namun, tampaknya Dinda masih melakukan perlawanan. Bahkan suara Dinda berubah menjadi mirip sekali dengan suara mboknya."Astaghfirullah..., Mah, lari!" Pak Rahmat meminta istrinya untuk lari, sementara itu Pak Sukra masih terkapar kesakitan.


"Jangan membuat keributan di rumahku!" sekali lagi Dinda mengibaskan lengannya membuat Pak Rahmat terpental kembali.


Keris yang tegeletak di lantai tiba-tiba melayang, Dinda yang mengendalikannya. Ia hendak melesatkan keris itu kepada Pak Rahmat.


"Dinda, jangan!" teriakku.


Keris itu melesat ke arah Pak Rahmat dan untungnya masih dapat dihindari. Pada saat genting seperti itu, Pak Sukra malah kabur. Dia ketakutan melihat Dinda yang kesurupan.


"Wahai iblis! Keluarlah dari tubuh anak ini!" bentak Pak Rahmat lalu ia berkomat-kamit.


Dinda tersenyum dingin. Dia mengangkat kedua tangannya. Seketika saja semua benda di ruangan itu melayang. Dengan kekuatan gaibnya, Dinda melesatkan benda-benda itu ke tubuh Pak Rahmat. Ia pun terjungkal. Kepalanya berdarah terkena benda tumpul.


"Dinda, cukup!" bentakku.


Dinda menoleh ke arahku. Kedua bola matanya hitam pekat. Dia lalu berteriak sangat kencang, membuat telingaku berdengung. Pak Rahmat bangkit kembali. Dia merogoh sesuatu dari kantong celananya. Itu sebuah jimat yang terbuat dari kayu. Ia lemparkan jimat itu pada Dinda.


Saat itu juga Dinda terkapar tak sadarkan diri. Pak Rahmat menyentuh kening Dinda sambil terus bergumam, entah apa yang dibacanya. Lalu terdengar sebuah benda yang bergetar di kamar Mbok Ibah, Pak Rahmat pun pergi menghampiri sumber suara itu.


Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam kamar Mbok Ibah, tubuhku masih lemas dan sulit digerakkan. Sesaat kemudian Pak Rahmat muncul kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Mungkin iblis di dalam benda ini yang membuat Dinda menderita," ujar Pak Rahmat sambil menunjukkan benda itu padaku.


Keesokan paginya, kondisiku sudah pulih. Pagi itu juga aku memutuskan untuk pulang. Pak Rahmat memesankan ojek untukku, sedangkan Dinda tampak sedih. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkannya sendirian. Namun, keputusanku sudah bulat, aku mau minta mutasi dan menjelaskan semua yang kualami di kampung ini.


Sekitar jam 8 pagi, aku dan tukang ojek, yang aku sendiri tak tahu siapa namanya, masih terjebak di jalan yang rusak dan berlumpur. Saat kami sedang susah-payah melintasi jalan itu, tiba-tiba dari kejauhan kulihat seorang lelaki yang mengenakan cupluk hitam berdiri menatap kami. Ia membawa sebuah balok kayu.


"Siapa itu, Pak?" tanyaku pada tukang ojek.


"Nggak tahu, Mbak. Siapa itu ya? Wah jangan-jangan begal," jawab tukang ojek.


Lelaki misterius itu lari menghampiri kami. Ia behasil memukul kepala si tukang ojek hingga terkapar di kubangan lumpur, sedangkan aku lari ke arah hutan pinus.


Lelaki itu mengejarku. Aku menangis sambil berteriak minta tolong. Semakin masuk ke dalam hutan pinus, suasana semakin remang karena cahaya matahari terhalang oleh rindangnya pepohonan.


Sesekali aku menoleh ke belakang. lelaki itu sudah membuka cupluknya. Dia ternyata Pak Sukra. Aku terus berteriak sambil lari sekuat tenaga.


Tak lama kemudian, sebuah balok kayu menghantam kaki kananku. Aku pun terjatuh tepat di bawah akar pohon. Pak Sukra mendekatiku. Kulihat wajah mesum itu sangat bernafsu denganku. Maya, sekarang tidak ada yang bisa menghalangiku!"


"Bangsat, kau! Akan kulaporkan kau ke polisi!" bentakku sambil meludahinya.


Pak Sukra membuka bajunya. Dia lalu merangkulku, tapi aku mengamuk. Dia berusaha melucuti pakaianku. Sialnya dia berhasil membukanya. Aku tak bisa melawan cengkeramannya. Kali ini aku benar-benar pasrah.


Dan..., saat ia sedang menciumi wajahku, tiba-tiba saja Pak Sukra tersentak. Dia mengerang dan berteriak seperti menahan sakit.


Tubuh Pak Sukra lemas. Kuhempaskan tubuhnya. Ternyata ada golok yang menancap tepat di punggung kanan Pak Sukra. Aku juga kaget lantaran ada Dinda yang sedang berdiri di hadapanku. Kedua matanya hitam pekat, wajahnya penuh urat yang menonjol.


"Dinda...," desisku. Napasku terengah-engah.


Tubuh Dinda seketika lunglai. Ia pun jatuh terkapar di tanah.


Sepulangnya dari kampung itu, aku tes keperawanan. Dan, hasilnya keperawananku masih utuh. Pak Sukra tidak sempat menyetubuhiku malam itu. Aku yakin pasti Dinda juga yang menyelamatkanku.


Bertahun-tahun lamanya aku tidak mengunjungi kampung itu lagi. Entah seperti apa Dinda sekarang? Mungkin dia sudah berkeluarga. Atau, bahkan sudah punya anak. Yang jelas aku sangat berutang budi kepadanya. Sebab, dia telah menyelamatkan keperawananku dari si Sukra sialan itu.


SELESAI


\=\=\=\=\=\=\=


Kematian diatas Dendam

__ADS_1


Dosen mengakhiri perkuliahan di hari Rabu siang ini, puluhan mahasiswa dan mahasiswi pun bergegas meninggalkan ruangan dengan deret-deret kursi yang berada di dalamnya.


“Lidya! Tunggu!!!,” suara Bima terdengar cukup keras memanggil seorang gadis yang berada cukup jauh dari hadapannya, langkah kaki Bima pun dipercepat.


Lidya terhenti, lalu ia menoleh ke belakang, dilihat seorang lelaki yang berlari menghampirinya. “Eh, Bima… ada apa?,” tanya Lidya pada Bima yang kini hanya terpaut dua langkah saja. Bima tak langsung menjawab pertanyaan Lidya tersebut, ia mengatur ritme napasnya terlebih dahulu.


“Ada apa Bim?,” Lidya kembali bertanya.


“Begini… aku mau tanya sama kamu, kenapa Maya nggak masuk kuliah hari ini?, dari kemarin juga nggak ada kabar sama sekali.”


“Aku nggak tahu Bim,” ucap Lidya singkat.


“Kamu kan, sahabatnya?,”


“Iya, tapi aku bener-bener nggak tahu Bima. Dari hari kemarin, aku juga nggak ketemu sama Maya,” jelas Lidya meyakinkan.


“Hmm… o, ya, sekarang aku mau ke kosan Maya. Kamu mau ikut?,” ajak Bima pada gadis berambut lurus sebahu itu.


“Aku nggak bisa.”


“Kalau begitu, aku duluan ya… bye!,” seru Bima dan akhirnya melenggang pergi.


“Asal kamu tahu Bim, MAYA UDAH MATI!!!,”Lidya Alexa. Gadis berusia 19 tahun-an ini memiliki wajah oriental, dengan mata sipit, hidung mungil ditambah kuning langsat yang mewarnai kulit mulusnya. Sejak dua tahun yang lalu, Lidya telah terdaftar sebagai mahasiswi jurusan teknik kimia di sebuah Universitas swasta yang ada di kota Bandung.


Masih lekat di ingatannya, saat Maya menggandeng mesra lengan Bima. Ya, sekitar 3 hari yang lalu, lebih tepatnya hari Sabtu; malam Minggu. Kejadian itu tak henti terbayang dalam pikirannya, seperti roll film yang diputar terus menerus.


“Lidya?, ternyata… kamu juga disini?,” tegur Maya.


“Eh, iya May… silahkan duduk!,” jawab Lidya sembari tersenyum—SENYUMAN PALSU!.


“Maaf Lidya… aku dan Bima mau duduk disana!,” balas Maya sambil menunjuk sebuah tempat dan akhirnya berlalu.


Sepenggal malam di Café ini, tak mungkin Lidya lupakan—TAK AKAN PERNAH!!!. Bagaimana tidak, Bima adalah lelaki yang ia cintai, sedang gadis cantik nan anggun itu ialah sahabatnya.


Lidya tak pernah menceritakan tentang perasaannya pada siapa pun, termasuk Maya. Begitu juga sebaliknya, Maya tak pernah bercerita tentang perasaan yang sama dengan Lidya. Tahu-tahu… Maya dan Bima sudah jadian!, ouhhhh hebat!!!.


“Aku nggak akan pernah biarkan kamu hidup bahagia!, dan Bima akan jadi milik ku!, camkan itu!!!,” kata-kata yang selalu memberontak dalam batin Lidya. Api kebencian baru saja membara.


Pada hari Senin, setelah kejadian malam itu. Tepat pukul 20.30 WIB, Lidya pergi ke kosan Maya.


“Tok… tok… tok…” pintu ber-cat cokelat itu Lidya ketuk berulang kali. Sesaat kemudian, pintu pun tersibak.


“Eh… Lidya, mari masuk!,” ajak Maya dengan ramah. Lalu Lidya masuk, kemudian duduk di kursi.


“Sorry, ya… aku telat,” ucap Lidya.


“Iya, gapapa kok, tenang aja lagi… tugas kelompok ini kan dikumpulinnya minggu depan,” jawab Maya.


“Hehehe… iya. Nih, aku bawain kamu juice stroberi!,” seru Lidya, sambil memberikan juice dalam wadah gelas plastik.


“Wii… thank ya,” jawab Maya. Gadis berperawakan bak model ini memang sangat suka dengan juice stroberi. Tanpa waktu lama, Maya pun segera meminum juice tersebut.


Tetapi setelah beberapa teguk, ia meletakan gelas itu ke atas meja. Ia merasa lehernya tercekik begitu kuat, nafasnya pun tersengal-sengal. Akhirnya ia tak bisa bernafas sama sekali dan mata belo itu melotot sempurna.


“Hahaha… ternyata semudah itu melenyapkan kamu dari dunia ini!. MATI SEKARANG KAMU MAY!!!, hahaha…” ucap Lidya penuh kepuasan. Lalu Lidya, menggusur tubuh Maya dan dibiarkan tergeletak di lantai kamarnya. Tak lupa ia memakai sarung tangan yang sangat tipis untuk menghilangkan sidik jarinya. Kemudian, Lidya mengeluarkan sebotol racun yang ada di saku celana jeans-nya dan di letak kan tak jauh dari samping Maya. Sementara juice tadi, ia tumpahkan di dekat lantai dan sebagiannya lagi di atas dada sahabatnya itu, serta wadahnya ia letak kan di lantai juga.


“Huh… beres!!,” seru Lidya dan senyuman manis tersungging lebar di bibir tipisnya.Lidya pun segera bergegas pergi meninggalkan Maya yang sudah tak bernyawa. Hati nurani telah ternoda tinta hitam kebencian. Gelora dendam dalam jiwa, berujung KEMATIAN!!!


Kembali pada Rabu siang,


Langkah Bima terhenti setelah ia melihat kerumunan orang di dekat kosan Maya. “Ada apa ya, pak?, kok banyak orang gini?,”tanya Bima pada seorang bapak berkumis tebal.


“Ada mayat di dalam.”


“Maksud bapak?,” Bima bertanya lagi, ia masih belum mengerti atas perkataan Bapak itu, terlihat dari raut wajah Bima yang sangat kebingungan. Belum sempat bapak berkumis tebal menjawab pertanyaan Bima, beberapa orang polisi membawa sekantung plastik mayat yang berisi, lewat di hadapannya. Bau busuk begitu menusuk hidung, tak heran semua orang yang ada disitu menutup indera penciumannya kuat-kuat, bahkan ada beberapa orang yang muntah-muntah.“Mayat siapa itu pak?,” Bima kembali bertanya.


“Kalau tidak salah, bernama Maya,” Jawab Bapak itu.


“APA? MAYA?” tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas, iya tak percaya kekasih yang sangat dicintainya itu, pergi meninggalkan Bima untuk selama-lamanya.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bima pun pergi ke kantor polisi setempat. Tak lupa, ia juga memberitahu Lidya.


“Menurut hasil autopsi sementara ini, saudari Maya meninggal karena racun sianida. Pada saat di TKP, kami juga menemukan barang bukti berupa botol yang berisi racun tersebut. Kuat dugaan, saudari Maya bunuh diri,” jelas Pak polisi.


“Nggak!! Nggak mungkin!!!.” Bima terlihat sangat terpukul atas kepergian Maya.


“Sudahlah Bim, kita harus terima semua ini!, ucap Lidya berusaha menenangkan.


Hari-hari terus berlalu, kini hanya Lidya-lah yang setia menemani Bima. Perlahan tapi pasti, Bima pun mulai melupakan Maya. Ya, sekarang Bima mencintai Lidya.


Sore yang indah, angin semilir berhembus begitu damai. Rumput taman terhampar hijau.

__ADS_1


“Lidya…” ucap Bima lembut.


“Iya, apa Bim?,” tanya Lidya.


__ADS_2