Hantu Villa

Hantu Villa
Kontrakan Angker Part 1


__ADS_3

Ditinggal Sendirian


Aku Jason. Umurku baru sepuluh tahun. Kedua orang tuaku sudah lama bercerai. Aku tidak tahu pasti alasan mereka berpisah. Ibu sudah punya suami lagi, sedangkan ayahku masih setia merawatku.


Namun, akhir-akhir ini aku marah kepada ayah lantaran kami mau pindah rumah. Padahal, aku sudah nyaman dengan rumah yang sekarang. Aku nggak mau ninggalin teman-temanku di perumahan ini.


Alasan ayah pindah, katanya harga sewa rumah ini semakin naik. Ayah nggak sanggup buat bayar sewanya. Mau-nggak mau, aku harus terima kenyataan ini. Berat sekali rasanya meninggalkan rumah ini. Soalnya banyak sekali kenanganku bersama Ibu di sini.


Pagi-pagi sekali ada sebuah truk sudah terparkir di depan rumah. Pasti ayah yang menyewanya untuk mengangkut perabotan ke rumah yang baru. Kami akan pindah ke pinggiran kota, ke rumah kontrakan yang lebih murah.


Selepas magrib, aku dan ayah tiba di rumah kontrakan baru. Rumah itu tampak usang seperti tidak pernah dihuni selama bertahun-tahun. Di beranda ada dua kursi yang terbuat dari kayu. Juga jendela besar bernuansa betawi.


“Ayah, serius kita mau tinggal di rumah ini?” tanyaku.


“Iya, Nak. Rumah ini harga sewanya murah. Kita akan tinggal di sini untuk setahun ke depan.” Jawab Ayah.


Aku masuk ke dalam rumah itu untuk melihat-lihat. Ternyata di dalamnya tidak seseram yang kubayangkan. Rumah itu sudah ada yang membersihkan. Satu per satu perabotan kami diangkut. Ayah sibuk mengarahkan para pekerja agar hati-hati saat menggotong barang yang mudah pecah.


Sementara mereka sedang sibuk, kujelajahi setiap ruangan di rumah ini. Perhatianku terpikat dengan sebuah kamar dekat dapur. Kamar itu tidak ubahnya seperti sebuah galeri lukisan.


Ada banyak lukisan wajah manusia di kamar itu. Sebagian dipajang di dinding, sebagian lagi tergeletak di lantai. Aku tidak tahu milik siapa semua lukisan itu.


Wajah di lukisan pun berbeda-beda. Ada perempuan dan juga lelaki. Tapi, dapat kupastikan kalau sosok dalam lukisan itu adalah orang Indonesia semua. Sebab, mereka menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah.


Setelah puas melihat-lihat lukisan itu, aku hendak kembali ke Ayah. Tapi, tiba-tiba terdengar suara seseorang bersiul. Segera aku menoleh. Kedua mataku menyoroti lukisan-lukisan itu. Aneh sekali, siapa tadi yang bersiul?


Karena takut, buru-buru aku lari keluar kamar. Di ruang tamu, ayah masih sibuk menata perabotan. Aku memberitahunya kalau ada kamar yang penuh dengan lukisan. Dia bilang itu lukisan si pemilik rumah ini dan aku dilarang menyentuhnya.


“Tadi ada yang bersiul juga, Yah,” kataku.


“Salah denger kali kamu,” jawab ayah sambil sibuk membenarkan posisi lemari.


“Aku nggak salah dengar, Yah.”


“Ya... mungkin aja ada burung lewat,” jawab ayah sekenanya.


“Malam-malam begini mana ada burung, Yah.”


“Jason, daripada kamu ngomongin yang nggak-nggak, lebih baik kamu mandi sana.”


Aku kesal karena ayah tidak menanggapiku dengan serius. Padahal jelas-jelas kudengar ada yang bersiul di kamar itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pun pergi ke kamar mandi.


Air di rumah ini sangat segar. Kuguyurkan ke seluruh tubuhku. Selama mandi, aku masih penasaran dengan kamar yang penuh lukisan itu.


Malam pertama tinggal di rumah baru, aku tidur di kamar yang dekat dengan ruang tamu. Entah kenapa aku nggak bisa tidur. Kunyalakan televisi dan mencari tayangan film warkop DKI. Biasanya film komedi itu tayangnya tengah malam.


Dan, benar saja, film warkop DKI favoritku sedang tayang. Sesekali aku tertawa melihat tingkah Dono yang kocak. Lama-kelamaan kantuk pun datang. Aku tertidur pulas, sedangkan televisi masih dalam keadaan menyala.


Tengah malam, tempat tidurku menyembul ke atas seperti ada yang menendangnya dari bawah. Setelah ku periksa, tidak ada apa-apa di kolong ranjang. Aku lalu turun dari tempat tidur untuk menghampiri ayah.


Kamar Ayah ada di paling ujung dekat dengan pintu utama. Jadi aku harus melewati kamar yang penuh dengan lukisan itu untuk sampai ke sana.


Langkahku terhenti ketika mendengar suara gemuruh orang yang berbicara di kamar misterius itu. Pelan-pelan aku melangkah mendekati pintu dan mengintip dari lubang kunci. Dari lubang kecil itu kulihat penuh orang-orang asing yang sedang mengobrol satu sama lain.


Wajah mereka pucat. Bukan hanya wajahnya, tapi tubuhnya juga terkesan seperti orang mati. Salah satu dari mereka menoleh kepadaku. Buru-buru aku lari ke kamar ayah untuk memberitahunya soal ini.


“Ayah!?” teriakku, tapi aku tidak menemukan ayah. Di mana dia?


Di atas menjanya kutemukan secarik kertas yang berisi sebuah pesan dari Ayah.


‘Jason, ayah ada urusan mendadak. Jangan keluar rumah selama ayah pergi. Ayah akan segera pulang.’


Setelah membaca pesan dari ayah, tiba-tiba lampu kamar berkedap-kedip. Aku menelan ludah sendiri. Keramaian di kamar sebelah masih terdengar jelas. Bergegas kututup pintu kamar dan mengunci diri di dalam.


Aku naik ke atas tempat tidur ayah lalu menutup tubuhku dengan selimut. Tak lama berselang, kudengar suara langkah kaki kerumunan orang di ruang tamu. Mereka masih mengobrol satu sama lain. Siapa orang itu-itu?


Wajahku berkeringat. Kedua tanganku bergetar karena takut. Semoga mereka tidak menemukanku di kamar ini.


Saat aku mencoba untuk tidur kembali, ada yang mengetuk pintu. Aku tidak mau membukakannya sebelum mendengar itu adalah suara ayah.


“Jason? Kamu di dalam ya, Nak?” hatiku lega saat mendengar suara ayah dari luar.


“Iya, Yah,” timpalku. Aku meloncat dari tempat tidur dan langsung membukakan pintu.


“Jason? Kamu di dalam ya, Nak?”


Setelah pintu itu kubuka, aku tidak melihat ayah. Tapi, suara ayah masih dapat kudengar.


“Jason? Kamu di dalam ya, Nak?”

__ADS_1


Suara ayah seakan ada di mana-mana. Aku menoleh ke kanan dan di sana puluhan orang asing menatapku sambil tersenyum lebar. Itu senyum yang aneh. Bibir mereka tersungging sampai ke telinga. Aku menjerit lalu mengunci diri di dalam kamar ayah lagi.


Rahasia Mengerikan Kontrakan Baru


Aku tidak bisa tidur. Ini masih jam satu dini hari, riuh orang yang sedang mengobrol di ruang tamu benar-benar membuatku takut. Apalagi barusan ada sosok menakutkan yang tersenyum ke arahku. Siapa mereka? Apakah rumah ini ada hantunya?


ADVERTISEMENT


Ayah benar-benar tega ningalin aku sendirian di rumah ini. Aku sedang mencari cara untuk menghubungi ayah. Oh ya, aku ingat dulu ayah pernah bilang kalau dia menyimpan ponsel darurat di lacinya. Dia menyuruhku untuk menghubunginya kalau terjadi apa-apa di rumah.


Bergegas kucari ponsel itu di laci ayah. Di laci yang paling atas tidak ada, laci kedua juga tidak ada, dan di laci ketiga tepatnya di samping tumpukan majalah akhirnya ponsel itu kutemukan. Untung saja baterainya belum habis.


Kupijat tombol ponsel itu lalu mencari nomor telepon ayahku. Saat itu juga ada seseorang yang kembali mengetuk pintu kamar. Kali ini ketukannya berjeda dan hanya tiga kali ketukan saja. Tanganku bergetar, nomor telepon ayah susah sekali ditemukan.


ADVERTISEMENT


Setelah susah payah mencari nomornya, segera kutelepon Ayah. Sialnya nomor itu malah tidak aktif. Aku berdecak kesal lalu kembali ke tempat tidur. Ponsel itu masih digenggamanku. Sebelum aku bersembunyi di balik selimut, mataku menangkap sebuah surat di bawah pintu. Surat itu berwarna biru dan tampak mencurigakan. Karena penasaran, kuambil surat itu lalu membacanya.


'Aku di bawah, tolong aku'


Hanya itu yang tertulis dalam surat, tidak ada nama pengirimnya di bagian bawah. Siapa malam-malam begini yang minta tolong? Aku juga tidak paham maksudnya 'di bawah' itu di mana. Setahuku rumah ini tidak memiliki ruang bawah tanah.


Sebelum kulipat surat itu, munculah surat lainnya dari bawah pintu seperti ada yang menyodorkannya. Segera kubuka surat tersebut dan lagi-lagi isinya hanya satu kalimat saja tanpa ada nama pengirimnya. Pesan itu berbeda dari surat sebelumnya.


ADVERTISEMENT


'Aku ada di ruang bawah tanah. Cepat ke sini, ayahmu juga di sini.'


Apa? Ayahku juga ada di sana? Tanpa pikir panjang lagi, kubuka pintu. Orang-orang asing itu sudah menghilang entah kemana, tapi banyak surat yang tergeletak di lantai. Surat-surat tersusun rapi mengarah ke dapur seperti membuat petunjuk jalan.


Dengan penuh penasaran, kuikuti surat-surat itu. Tibalah aku di dapur, surat itu berhenti di dapur dan saat kuinjak lantainya ada sesuatu yang aneh. Lantainya rapuh seperti ada ruang di bawahnya.


Kuangkat satu per satu keramik itu. Tampaklan triplek besar yang seolah menutupi lubang. Triplek itu lumayan berat, aku sampai berkeringat mengangkatnya. Di bawah triplek itu ternyata ada lubang dan dan sebuah tangga. Tidak salah lagi, rumah ini memang punya ruang bawah tanah.


ADVERTISEMENT


Aku ragu antara turun atau tidak. Lalu ponsel berdering, aku senang karena akhirnya ayah meneleponku. Buru-buru kuangkat telepon dari ayah. Untuk beberapa saat terdengar bunyi tuuut tuuut di seberang telepon. Setelah berhasil tersambung, aku langsung mencerocos pada ayah.


"Ayah di mana? Rumah kita ada hantunya Yah. Aku takut, di dapur juga ada ruang bawah tanah."


"Jason tolong ayah. Ayah ada di ruang bawah tanah. Kamu turun sekarang ke sana ya."


"Iya Yah. Ayah jangan khawatir, Jason turun sekarang juga!" kataku dengan napas terengah-engah.


Telepon ditutup, aku langsung turun ke lubang itu. Baru lima tangga kuturuni, dari atas kulihat ada ayah memperhatikanku.


ADVERTISEMENT


"Ayah?" desisku sambil mendongak.


Ayah tidak menjawab dia hanya tersenyum datar dan dari belakangnya muncul lagi sosok yang menyerupai ayahku. Bukan hanya satu, tapi ada dua sosok yang muncul. Kini ada tiga orang yang menyerupai ayah. Mereka menatapku, tatapan itu sekarang terkesan mengerikan.


"Ayah," kataku seketika aku nangis sambil berpegangan erat pada tangga.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Salah satu dari mereka malah menutup kembali lubang itu dengan triplek. Aku menangis sejadi-jadinya sambil berteriak minta tolong ke ayah. Kini aku sendirian di dalam lubang yang gelap dan lembap.


Hantu di Ruang Bawah Tanah


Dengan sekuat tenaga, kudorong triplek yang menutupi lubang. Sayangnya tenagaku tidak cukup kuat untuk membuka triplek itu. Mungkin saja sosok yang menyerupai ayah menahan tripleknya dari atas agar aku tidak bisa keluar.


Tidak ada jalan lain, aku harus turun ke bawah. Siapa tahu di bawah sana ada jalan keluar. Dengan sangat hati-hati kuturuni satu per satu anak tangga. Lubang ini sangat gelap, kakiku harus meraba-raba anak tangga agar tidak jatuh.


Aku melihat sebuah cahaya. Tidak salah lagi, aku pasti hampir tiba di ruang bawah tanah. Dengan susah payah akhirnya aku berhasil menuruni tangga itu. Sekarang aku berada di sebuah ruangan yang lebih layak disebut gudang.


Ruangan ini cukup luas. Banyak tumpukan kardus bekas di mana-mana. Dengan penuh waspada aku mulai menelusuri ruangan ini. Apakah ayah tahu kalau ada ruang bawah tanah di rumah ini?


Di sudut ruangan, kulihat seorang lelaki berdiri membelakangiku. Karena penasaran perlahan aku mendekatinya. Dia mengenakan jaket hitam, topi, dan celana panjang berwarna hitam.


"Jadi kamu penghuni baru rumah ini?" lelaki itu membalikkan badan.


Dari wajahnya, aku dapat menebak kalau dia berumur sekitar 50 tahunan.


"Bapak ini siapa? Kok ada di rumah saya?"


Dia tersenyum sinis.


"Ini rumahku, bukan rumah kamu," lelaki itu mendekat. Aku mundur beberapa langkah.


Kata ayah aku harus selalu hati-hati kalau bertemu dengan orang asing.

__ADS_1


"Jangan takut. Aku bukan orang jahat," dia mengambil kursi lipat yang tergeletak di lantai.


"Duduklah, aku mau ceritakan sesuatu padamu."


"Cerita apa?"


"Tentang rumah ini," jawabnya singkat sambil tersenyum.


Tampaknya lelaki ini memang murah senyum dan ramah. Tidak ada salahnya mendengarkan cerita tentang rumah ini. Sambil terus waspada, aku duduk di hadapannya.


"Bapak kenapa bisa ada di sini?" tanyaku.


"Sudah kubilang aku pemilik rumah ini dan di sinilah aku tinggal."


Aku masih bingung kalau dia tinggal di sini kenapa ayah tidak memberitahuku.


"Rumah ini ada hantunya, Pak," entah kenapa tiba-tiba aku ingin penyampaikannya pada si pemilik rumah.


"Itu roh orang-orang yang mati di rumah ini."


"Mati? Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Mereka semua dibunuh," timpal lelaki itu.


"Salah mereka apa? Dan siapa yang membunuhnya?"


"Aku sendiri yang membunuh mereka karena aku tidak suka pada tingkah mereka."


Mendengar penjelasannya, aku langsung berdiri dan hendak menjauh dari lelaki misterius itu.


"Tanang. Aku hanya membunuh orang-orang jahat. Sudah kubilang kalau aku orang baik. Aku tidak akan menyakitimu, Nak," lelaki itu juga berdiri, ia mencoba untuk menenangkanku.


"Aku harus naik lagi, mungkin ayah sudah pulang," kataku lalu berjalan ke arah tangga.


"Ayahmu belum pulang," katanya.


"Darimana bapak tahu?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya.


"Ayahmu yang memberitahuku," lelaki itu naik ke atas kursi. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya.


"Bapak mau apa?" tanyaku.


Sebuah tali jatuh dari atas kepalanya. Dia mengalungkan tali tersebut ke lehernya.


"Pak jangan Pak!" teriakku.


Aku menjerit melihat lelaki itu tiba-tiba gantung diri di hadapanku. Kedua matanya melotot, kakinya bergerak-gerak, air kencing mengucur dari celananya. Dia sekarat dan mati begitu saja.


Buru-buru aku lari ke arah tangga dan langsung naik ke permukaan. Sambil menangis aku memanggil-manggil ayah, berharap dia dapat menolongku. Setibanya di puncak, triplek itu masih tertutup rapat. Aku tidak bisa membukanya. Sementara itu kudengar ada seseorang yang menaiki tangga, itu pasti hantu!


"Ayah! Tolong!"


"Ayah!"


Teriakku sekuat tenaga. Kucoba mengetuk-ngetuk triplek tersebut dan perlahan ada yang membukanya. Tampaklah seorang lelaki yang wajahnya tidak asing. Ya, aku ingat dia adalah lelaki yang membantu ayahku tadi siang.


"Ayo Nak," dia mengulurkan tangan. Aku menyambut tangannya dan berhasil naik ke permukaan.


"Kamu kenapa bisa masuk ke sini?" tanya lelaki itu.


"Ayah? Mana ayah?" aku tidak menjawab pertanyaan lelaki tersebut dan malah menanyakan ayah.


"Ayah kamu ke mana emangnya? Tadi aku lihat pintu rumah terbuka makanya aku cek ke sini, takutnya ada maling," ujar lelaki itu.


"Rumah ini ada hantunya. Aku takut," kataku.


"Hantu?" dia mengerutkan dahi.


"Iya aku lihat hantu di rumah ini," kataku sambil terus menangis.


"Jangan khawatir sekarang kamu aman. Aku akan menjagamu sampai ayahmu pulang," katanya.


Dia menutup kembali lubang itu lalu membawaku ke ruang tamu. Malam ini terasa sangat panjang. Aku tidak tahu ayahku di mana. Aku khawatir terjadi hal buruk pada ayahku.


Lukisan Orang-Orang Mati


Namanya Pak Heri. Dia salah satu warga sini. Kebetulan Pak Heri sedang ronda. Dia sengaja keliling untuk memastikan tidak ada orang asing yang masuk ke kompleks ini. Untung saja dia melihat pintu rumahku yang terbuka sehingga aku berhasil diselamatkan. Dia menemaniku sampai subuh dan paginya Pak Heri pamit pulang.


Aku semakin khawatir dengan ayah. Sampai pagi ini dia tidak kunjung pulang. Aku berdiri menghadap jendela, memandangi jalan, dan berharap ayah akan muncul di sana. Kata ayah, selama dia pergi aku tidak boleh keluar rumah.

__ADS_1


___


Kisah horor Kontrakan Angker selanjutnya


__ADS_2